Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
51 : Kesetiaan Dan Perjuangan


__ADS_3

“Gara-gara kamu, mata kanan mas Heri buta, Mas Cikho. Sanggup kamu jika jadi dia? Buta seumur hidup?” lirih Azzura kebas. Ia masih membiarkan tubuhnya didekap oleh sang kakak sekaligus papah mereka.


“Kejahatan di atas kejahatan, mungkin itu sebutan dari apa yang kamu lakukan kepada mas Heri sekeluarga,” ucap Azzura lagi masih kebas. “Dan sampai kapan pun, tidak ada hukuman yang setimpal walau kamu juga mengalami semua yang kamu lakukan kepada mas Heri.”


“Sekarang aku tanya, hukuman apa yang pantas buat kamu, jika kamu saja enggak bisa bikin orang yang buta permanen gara-gara ulah kamu, kembali memiliki haknya? Hak bisa melihat!” kesal Azzura.


Cikho yang masih meringkuk membelakangi kebersamaan setelah mendapat bogem mentah dari Excel, menjadi bungkam. Air matanya pun mulai berlinang, dan jantungnya berdegup kencang. Bingung, benar-benar bingung, itulah yang ia rasakan sekarang. Tak menyangka dan masih sulit untuk percaya, maksud hatinya bersenang-senang, memberi Heri peringatan agar pria itu tak lagi berani mendekati Azzura, malah berakhir fatal.


Waktu terus berjalan, dan mereka masih tetap di sana nyaris tanpa perubahan. Mereka masih memikirkan, hukuman apa yang pantas untuk Cikho? Juga, bagaimana kabar Heri setelah pria itu menjalani operasi di kepalanya? Namun tadi, sebelum pria itu tak sadarkan diri, Excel masih mendapat sera*ngan balik. Menandakan harusnya Heri tak sampai mengalami amnesia.


Tiba-tiba saja mas Aidan ingat pernikahan Azzura dan Excel yang akan digelar besok. Walau hanya ijab kabul, sekadar cincin untuk emas kawin pun belum mereka siapkan.


“Besok Mbak dan Excel menikah, tapi kita belum siapkan apa-apa,” ucap mas Aidan.


Mendengar itu, Shine atau itu Syam langsung berdiri, menatap tidak terima Excel. “Bagaimana mungkin kamu tetap menikah dengan Mbak Azzura padahal kamu tahu, di masa lalu, Mbak Azzura masih memiliki hubungan dengan ketua?!” lantangnya dan ia sadari telah menjadi sumber ketegangan di sana.


“Jangan pernah menjadi masa lalu jika kita ingin menjadi masa depan seseorang. Karena seberapa pun berharganya kita, jika kita hanya masa lalu, kita enggak akan lebih berharga dari apa yang sudah ada dan memang sudah semestinya dijaga!” tegas Azzura sambil berdiri dan menatap Shine penuh peringatan. “Aku memang peduli, aku simpati kepada apa yang menimpa kalian khususnya apa yang menimpa mas Heri. Namun, bukan berarti aku membenarkan semua yang kalian lakukan dalam melakukan balas dendam.”

__ADS_1


“Karena sama halnya dengan Mas Cikho yang sampai membakar pondok, ... keputusan kalian membuat orang tua Mas Cikho bangkrut, ... ini beneran enggak dibenarkan. Kalian tahu, sama halnya penghuni pondok yang memiliki keluarga, ribuan karyawan yang bergantung pada usaha orang tua Mas Cikho juga otomatis terancam.” Azzura menangis, sangat sedih rasanya membayangkan PHK masal yang otomatis akan dialami karyawan perusahaan orang tua Cikho. “Kerugian sebanyak itu, ... negara saja belum tentu sanggup menanggungnya!”


Shine sudah langsung tidak menjawab. Dan ia terusik atas raihan sebelah tangan Heri yang diam-diam menggenggam sebelah tangannya. Ia melirik genggaman tangan mereka, walau itu hanya berlangsung sesaat lantaran ia kembali fokus menatap Azzura yang kembali berbicara.


“Alasanku tetap memilih Mas Excel dan tetap akan melanjutkan hubungan kami, murni karena sebelum kejadian ini terjadi, kami sudah berkomitmen dengan keluarga kami. Sudah sewajarnya aku memilih hubungan yang sedang aku jalani. Hubungan yang jelas sama-sama diperjuangkan oleh aku maupun Mas Excel. Bukan hubungan yang mengharuskan aku berjuang sendiri seperti ketika Mas Heri memilih dianggap mati, ketimbang memperjuangkan hubungan kami,” lanjut Azzura.


Seorang Excel sampai menangis mendengar sekaligus menyaksikan itu secara langsung. “Wanita tangguhku. Aku pastikan, aku akan selalu membahagiakanmu,” ucapnya walau ia hanya bisa melakukannya lirih lantaran ia merasa terlalu nelangsa.


Azzura yang sempat kikuk juga menjadi menangis menatap pedih Excel. Yang membuatnya terusik, ketika ia tak sengaja melihat tangan kanan Heri yang menggenggam tangan Syam. “Mas Heri sudah siuman?” sergahnya memastikan.


Detik itu juga semua perhatian langsung tertuju kepada Heri alias Helios. Termasuk juga Cikho yang walau tetap meringkuk, masih diam-diam menyimak.


“Ketua baru menjalani operasi besar, jadi alangkah baiknya Ketua wajib istirahat dulu!” sergah Shine berusaha menghalang-halangi. Ia sangat tidak tega jika harus membiarkan Heri makin terluka.


Apa yang Shine katakan memang beralasan bahkan benar, walau Shine juga terkesan berusaha memperpanjang hubungan Azzura dan Heri. Azzura yang awalnya akan menyelesaikan hubungannya dan Heri agar tidak terjadi salah paham lagi khususnya antara Heri dan Syam kepada Excel, tak memiliki pilihan lain selain diam.


“M-maaf ....” Barusan suara Heri yang terdengar lirih berat, gemetaran khas orang sakit.

__ADS_1


Mereka yang baru saja diam, sudah langsung kembali menjadikan Heri sebagai fokus perhatian. “Maafkan aku, Ra. Maaf untuk semua kesalahanku.”


Azzura dapati, butiran bening terus mengalir dari kedua mata Heri yang sampai detik ini masih ditutupi topeng. Jujur, hatinya seperti diiris hanya karena menyaksikan itu, juga apa yang sebelumnya telah Heri katakan.


Sayangnya, rasa sayang Azzura kepada Heri bukan lagi rasa sayang menggebu-gebu seperti ketika mereka masih bersama-sama. Karena semenjak Heri lebih memilih dianggap mati dan Azzura memutuskan membuka hati kepada Cikho dan sempat Azzura kira sebagai malaikat yang tulus mencintainya, rasa sayang Azzura kepada Heri sudah menjadi rasa sayang sebatas peduli. Begitulah prinsip Azzura, lebih mengutamakan pasangan yang sedang berjuang bersamanya ketimbang pasangan di masa lalu apalagi mantan. Azzura hanya berpegang teguh pada prinsip kesetiaannya.


“Semua yang kamu katakan, tidak ada yang salah. Dan aku benar-benar meminta maaf. Namun untuk urusanku dengan Cikho, sampai dia jadi cacaaat sepertiku pun, aku tidak akan pernah memaafkannya. Aku tidak mungkin melepaskannya!” lanjut Helois masih berbaring dan menutupi wajahnya menggunakan topeng.


Azzura berangsur menghela napas pelan. “Apa pun keputusan Mas, itu hak Mas. Namun aku sangat berharap, Mas mampu mengambil hikmah, belajar dari apa yang sudah Mas alami. Sementara untuk hubungan kita, semuanya sudah jelas. Karena siapa pun kita di masa lalu, jika keadaannya aku merupakan calon istri orang dan calon suamiku juga memperjuangkan aku, ... Mas tahu jawabannya.”


“Dalam hubungan kita tidak ada yang selingkuh. Tidak juga ada yang merebut atau direbut. Karena semenjak Mas lebih dianggap sudah mati, otomatis aku juga menganggap Mas begitu.”


“Jika ditanya rasa sayangku ke Mas, aku masih sayang. Namun rasa sayangku sudah bukan yang rasa sayang pasangan. Kini, rasa sayangku ke Mas hanya wujud dari penghargaan karena di masa lalu, Mas pernah menyayangiku dengan tulus. Malahan sekarang, jika diizinkan, aku ingin menjadi adik Mas saja.” Azzura mengakhiri ucapannya dengan tersenyum haru. Kedua jemari tangannya sibuk menyeka sekitar matanya.


“Sekalian, ... aku juga mau izin, ... aku dan Mas Excel akan menikah, Mas. Besok. Jika Mas bisa, jika Mas berkenan, ... datanglah. Waktu dan tempatnya nanti kami kabarkan,” lanjut Azzura, yang kali ini menjadi terisak pedih, tak sanggup menatap Heri walau jelas wajah pria itu tertutup topeng. Ia membiarkan sang papah mendekapnya, membenamkan wajahnya dan membuatnya menumpahkan air mata di dada bidang yang sejak awal selalu menjadi tempat paling nyaman setelah pangkuan sang mamah.


Apa yang Azzura katakan sudah menjadi akhir dari hubungan Azzura dan Heri sebagai pasangan. Selanjutnya, urusan Heri dan Cikho menjadi urusan keduanya dan Azzura tak berniat ikut campur apalagi menjadi bagian dari keduanya.

__ADS_1


Azzura pamit, begitu juga dengan Excel. Namun karena berat dan tak tega kepada Tuan Maheza maupun ibu Aleya, mereka tetap ada di sana.


__ADS_2