
“Berani kamu melakukannya, aku pastikan aku akan lebih dulu melakukannya kepadamu. Karena andai kamu berani melukainya sedikit saja, detik itu juga akan otomatis menjadi ajalmu!” tegas Excel benar-benar marah atas rencana mengerikan seorang Helios dan pria itu ucapkan beberapa saat lalu.
Helios menatap bingung sekaligus heran lawan bicaranya.
“Akala. Pacar Cinta itu Akala, bungsu di keluarga istriku. Dan aku yakin, harusnya kamu lebih tahu!” tegas Excel dan langsung membuat lawan bicaranya terlihat sangat terkejut.
“Akala ...?” batin Helios dan detik itu juga langsung mendapati sosok yang dimaksud. Karena tak lama setelah Excel mengabarkannya, Akala datang membawa tiga gelas besar berisi es teh manis.
Sangat santun, Akala yang sampai memakai celemek selaku seragam karyawan di sana, menyuguhkan es teh manisnya. Detik itu juga Helios yang masih diam, mencoba mencocokkan sosok Akala dengan sosok yang membonceng Cinta, kemarin malam. Benar, keduanya sama-sama bertubuh gendut, meski Helios memang tidak paham dengan wajah si pembonceng Cinta.
“Silakan diminum,” ucap Akala yang memang sedang bantu-bantu di sana, menjadi pramusaji di rumah makan keluarganya sendiri.
Helios masih bungkam. Jangankan menjawab hangat yaitu mengucapakan terima kasih sambil tersenyum hangat layaknya yang Excel lakukan. Sekadar melirik Akala saja, Helios tampak tidak sudi. Helios telanjur marah karena cemburu.
“Mas Excel, tadi Mbak Azzura titip pesan, bakalan agak lama soalnya lagi antre rujak bebek di luar,” ucap Akala lagi.
“Oh ... oke, oke!” ucap Excel langsung mengangguk-angguk paham kemudian memberikan dompetnya kepada Akala. “Tadi mbak Azzura enggak bawa dompet. Tuh, tasnya saja masih di kursi,” lanjutnya, tapi dari cara Akala menyikapinya, iparnya itu tampak enggan melakukannya.
“Sudah pakai uang aku, Mas. Soalnya tadi kebetulan aku memang sudah lebih dulu pesan,” yakin Akala tetap menolak pemberian uang Excel. “Aku pamit buat siapin makanan dulu, Mas. Soalnya jam segini memang lagi ramai-ramainya. Permisi!”
Excel memastikan sang adik ipar benar-benar pergi dari sana sebelum akhirnya ia kembali fokus kepada Helios.
“Kamu boleh saja mengambil Cinta dari Akala, tapi andai kamu sampai melukai Akala, ... aku benar-benar tidak akan memaafkan kamu!” tegas Excel yang sampai meminta Helios mencari wanita lain saja.
__ADS_1
“Enggak bisa sih, Cel! Bagiku Cinta sangat beda dan aku enggak mungkin bisa melepaskannya!” tegas Helios seyakin-yakinnya.
Sambil terus menatap tajam Helios, Excel berkata, “Jangan pernah menyentuh Akala. Apa pun yang terjadi!”
Wanti-wanti dari Excel belum bisa Helios sanggupi. Namun karena tangan kanan Excel tak segan terulur kemudian mencengker*am kerah kemeja hitam Helios dengan keji, Helios tak memiliki pilihan lain selain menyetujui.
Dalam diamnya, walau belum sepenuhnya yakin, Excel tetap berharap Helios akan mendekati Cinta apalagi merebutnya dari Akala, tanpa melakukan kekera*san fisik kepada Akala. Cukup Cinta saja yang Helios ambil, tidak dengan fisik apalagi nyawa Akala.
***
Hari ini menjadi hari terakhir Excel ada di kampung halaman sang istri karena besoknya, pria itu sudah harus kembali ke Jakarta. Besok pagi, Excel akan berangkat sendiri karena Elena dan ibu Mira masih betah di sana. Ditambah lagi, selain Elena masih libur sekolah, kenyataan Azzura yang sudah terbiasa merawat sakitnya ibu Mira, juga membuat ibu Mira jauh lebih terurus.
“Beneran enggak ada rumah apalagi tanah di sekitar sini yang akan dijual. Paling kalau mau ya di sekitar rumah ibu Septi,” ucap pak Kalandra masih melangkah santai memimpin perjalanan mereka.
Bersama sang istri, pak Kalandra membawa Azzura dan Excel keliling kompleks perumahan rumah mereka berada.
“Kalau belum nemu ya di rumah saja dulu. Enggak pun, di rumah masih luas,” ucap ibu Arum memang tidak mau jauh-jauh apalagi pisah dari putri semata wayang.
Yang mencuri perhatian Azzura, bukan karena mereka belum menemukan rumah maupun tanah. Melainkan, kenyataan Excel yang jadi cenderung pendiam bahkan serius. Terhitung semenjak pertemuan mereka dengan Helios, kenyataan tersebut terjadi. Excel seolah sengaja menyembunyikan masalah atau malah beban pelik dari Azzura.
“Kita pulang saja, ya. Mau hujan tuh langitnya gelap banget sebelah sana. Bentar lagi hujannya pasti sampai sini,” ucap ibu Arum sambil menunjuk langit di ufuk barat yang memang sudah sangat gelap.
Semilir angin mengiringi setiap langkah mereka yang menjadi buru-buru. Nuansa yang begitu dingin sekaligus basah, menjadi alasan mereka untuk segera sampai rumah. Terlebih baru sampai depan rumah, hujan besar-besar sudah berjatuhan.
__ADS_1
Excel sudah langsung melepas jaket bahannya untuk menutupi kepala juga tubuh Azzura. Azzura sudah langsung tersenyum kepada suaminya, walau tanggapan sang suami yang masih super serius, kembali membuat Azzura tidak baik-baik saja.
“Wah ... pak Ojan sudah di sini!” ujar pak Kalandra lantaran di tempat duduk yang ada di teras rumahnya, pria berseragam serba pink yang ia maksud, ada di sana.
“Cari janda, Mas Kalandra!” balas pak Haji Ojan dengan santainya.
Pak Kalandra sudah langsung tertawa. Namun, pria itu cukup terusik pada interaksi pak Haji Ojan dengan Elena. Karena saat bersama Elena, pak Haji Ojan benar-benar tenang.
Di sana, pak Haji Ojan tidak hanya bersama Elena. Karena di sana juga ada Akala dan juga ibu Mira. Keempatnya sedang mengobrol sambil menikmati satu mangkuk bumbu rujak dan satu kotak besar berisi aneka buah yang sudah dipotong-potong. Dan Azzura mendapati sang suami diam-diam menatap serius Akala.
“Mas Excel sebenarnya kenapa? Ada masalah yang berkaitan dengan Akala, apa bagaimana?” pikir Azzura yang akhirnya menanyakannya.
Azzura dan Excel memang sudah langsung masuk kamar. Keduanya hanya menjadi bagian dari kebersamaan sebentar.
“Enggak ada apa-apa. Aku hanya sedang cukup banyak pikiran. Ditambah lagi, tiga hari ke depan, kita LDR,” yakin Excel sambil menatap kedua mata Azzura penuh keseriusan.
“Mas, yakin? Sampai detik ini, hatiku merasa, ... bukan itu alasan Mas yang sebenarnya,” ucap Azzura masih menatap sang suami dengan sendu sekaligus sangat peduli.
Walau pada akhirnya Azzura mau menerima alasan Excel, kenyataan tersebut malah membuat Excel merasa sangat bersalah.
“Ya sudah, kalau gitu, aku mandi,” pamit Azzura setengah hati karena masih mengkhawatirkan sang suami.
Excel menatap berat kepergian Azzura. “Semoga Helios nggak macam-macam ke Akala. Semoga dia yakin bahwa aku enggak sekadar mengancam!” batin Excel yang menjadi merasa tam enak sendiri karena telah membohongi sang istri.
__ADS_1
Excel sengaja menyusul ke kamar mandi. Di depan cermin wastafel, Azzura yang sudah melemas cadar, ia pergoki tengah melamun. “S-sayang, nanti jalan-jalan bentar ya. Cari suasana di luar biar enggak jenuh.”
Azzura yang sudah langsung menatap sang suami berangsur mengangguk sekaligus memasang senyum. Senyum yang juga masih menahan tanda tanya besar atas perubahan sang suami yang tiba-tiba saja menjadi sangat serius dan Azzura yakini bukan karen urusan pekerjaan. Melainkan hal pelik yang berkaitan dengan Helios atau malah Akala.