
Kenyataan Angel yang masih bisa update status di akun pribadi, membuat khalayak apalagi Azzura geram.
“S-sayang, biarkan. Biar dunia yang menilai,” lembut Excel benar-benar sabar.
Excel merasa, kesempatan hidup yang kembali ia dapatkan dari Sang Pemilik Kehidupan, harus ia manfaatkan sebaik mungkin. Ia harus menjadi orang yang lebih baik agar Alloh tidak marah dan bisa jadi mengakhiri kesempatan hidup yang ia dapat.
“Biarkan masyarakat yang menilai. Bahkan andai hukum ini masih akan mereka permainkan, siap-siap saja apa yang akan terjadi. Mereka akan kehilangan kepercayaan dari rakyat seperti kasus yang sebelumnya sempat meledak. Lihat saja, mau sampai kapan mereka selalu merasa di atas segalanya. Mau sampai kapan mereka merasa suci?” lembut Excel lagi.
Azzura merasa tertampar sebab setelah mengalami bertubi-tubi masalah, suaminya menjadi pribadi yang makin sabar. “Aku makin sayang Mas.” Azzura mendekap erat tubuh suaminya.
“Kita sudah menang walau putusan belum dibuat dan mereka belum dihukum. Percayalah, hukum sosial dampaknya jauh lebih berat bahkan dari hukuman mati sekalipun. Rasa malu dan terus dihakimi, tidak bisa dilupakan apalagi jika yang dihakimi masih hidup. Sampai di titik ini saja, sampai semua orang akhirnya bisa tahu ... sampai di titik ini sudah membuat ayah tenang!” lembut Excel berkaca-kaca menatap Azzura.
Di teras depan ruang penyidikan keberadaan mereka, Excel memeluk erat Azzura. Mereka masih ditemani mas Aidan yang begitu menyayangi mereka. Pria itu tak hanya menjadi kakak sekaligus pengacara, sebab mas Aidan sudah seperti orang tua mereka. Tentu, Azzura dan Excel tidak akan pernah melupakan jasa-jasa mas Aidan.
“Jadi jenguk Rere? Ayo jenguk dulu, takutnya jam besuknya keburu habis,” ucap mas Aidan sambil melongok waktu yang berlangsung di arloji hitam yang menghiasi pergelangan tangan kirinya.
Azzura dan Excel berangsur mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Mas mau ikut?”
“Tentu,” balas mas Aidan yang sudah langsung tersenyum kemudian mengangguk.
Setelah mengarungi perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di rutan Rere ditahan. Tak disangka, begitu banyak perubahan dari seorang Rere. Rere yang awalnya bengis, tak sedikit pun berani mengangkat tatapannya.
__ADS_1
Tak ada rias tebal apalagi kemewahan. Rere bahkan seolah tidak memiliki semangat hidup. Perutnya yang memang sudah makin besar membuat setiap mata yang melihatnya langsung kasihan. Ditambah lagi, Rere seolah kehilangan banyak berat badan.
“Aku benar-benar minta maaf,” lirih Rere yang membiarkan air matanya lolos membasahi pipi. Ia masih menunduk dan memang tidak berani menatap ketiga wajah di hadapannya.
Azzura yang menyaksikan itu, menjadi makin tidak tega. Hatinya tergerak, dan ia meraih satu kotak makanan yang sengaja bawa. Ia bermaksud menyuapi Rere, tapi wanita itu segera menggeleng.
“Aku enggak lapar. Aku kehilangan selera makan, ... aku kehilangan selera hidup, apalagi setelah tahu Cikho sudah sampai ditahan. Dua belas tahun, dia harus dipenjara selama itu.” Rere terisak sekaligus tersedu-sedu.
“Dua belas tahun tetap tidak sebanding dengan kejahatannya,” ucap Excel angkat bicara. Ia masih berucap lirih dan tatapannya juga masih sendu khas orang sakit.
Rere berangsur menatap sang kakak. “Aku akan menunggunya!”
Azzura baru ingat, dirinya membawa tas kerja dan isinya ada vitamin hamil juga karena itu sudah bagian dari pekerjaannya sebagai seorang bidan. Karenanya, ia segera bergerak, mengambil vitamin dan juga keperluan medisnya. Ia memeriksa tensi darah dan juga keadaan janin Rere.
“Kamu boleh saja jadi anak yang gagal. Kamu boleh jadi adik bahkan istri yang gagal. Namun, jangan pernah membuat dirimu makin tidak berguna dengan menjadi orang tua tidak berguna,” ucap Azzura.
“Jalani hukumanmu dengan sebaik mungkin. Karena semakin baik kamu bersikap, semakin besar juga peluang kamu meninggalkan tempat ini,” ucap mas Aidan. “Mulailah berpikir untuk menjalani lembaran baru bersama anakmu. Cukup di masa lalu kamu bobr*ok, jangan diperpanjang!”
Apa yang mas Aidan katakan membuat Rere makin tersedu-sedu. Dan Azzura yang menenangkan Rere, merangkulnya menggunakan kedua tangan, juga langsung terkejut lantaran di hadapannya, suaminya yang menunduk ia pergoki berlinang air mata.
Azzura berangsur menunduk sambil menghela napas dalam.
__ADS_1
“Aku benar-benar minta maaf ... aku minta maaf ke kalian. Aku juga minta maaf ke semua orang yang sudah aku rugikan. Mamah, Lena, ... aku juga minta maaf ke diriku, ke calon anakku!” ucap Rere kian tersedu-sedu. “Bodohnya aku, di saat seperti ini, aku masih mencemaskannya, padahal dia saja sudah menceraikanku. Namun aku benar-benar khawatir karena dia akan menghabiskan dua belas tahun waktunya di penjara. Padahal aku saja tidak tahu nasibku,” ucap Rere yang lagi-lagi menunduk frustrasi.
Tak ada lagi sikap arogan dari seorang Rere. Yang ada hanyalah kesulitan. Bukan hanya tampang dan juga fisik, melainkan juga dengan cara pikir. Karena tampaknya, kabar Cikho yang dipenjara, menjadi pukulan tersendiri untuk Rere.
Setelah mengelap air matanya menggunakan jemari tangan kanannya, Excel berangsur berdiri. Ia meraih kotak makanan yang awalnya sempat akan Azzura suapkan kepada Rere. Awalnya Rere menolak, tapi melalui diam sekaligus tatapan tajamnya, Excel memaksa.
Azzura yang masih berdiri di pinggir Rere, ia bahkan masih merangkul Rere, jadi tidak tega. Ia tak sanggup menyaksikan kebersamaan mengharukan antara Rere dan Excel. Azzura menjadi kerap melirik mas Aidan yang akan selalu mengedipkan sendu kedua matanya di setiap tatapan mereka bertemu.
“Jangan cabut laporan kalian. Biarkan hukum tetap berjalan,” tegas Excel ketika mereka selesai mengunjungi Rere.
Di tempat parkir mobil Excel berada, Azzura dan mas Aidan refleks bertukar tatapan menuangkan rasa tidak nyaman yang mereka rasakan.
“Biarkan dia belajar dari kesalahannya walau ini memang sangat menyakitkan,” ucap Excel. Tatapannya kosong, dan ia membiarkan air matanya lolos membasahi pipi. Namun tak lama setelah itu, kedua tangannya merengkuh, mendekap tubuh sang istri yang ada di sebelahnya sangat erat. Excel melepas kesedihannya melalui setiap air mata yang mengalir dari kedua ujung matanya. Yang mana, keputusannya memeluk erat Azzura, menjadi alasan ia mendapatkan ketenangan. Ketenangan yang perlahan membuat beban hidupnya agak berkurang.
“Bisa diatur, Cel. Dua atau tiga tahun cukup. Selebihnya jadikan tahanan kota saja,” ucap mas Aidan yang memang tidak tega.
“Kalau memang dia terus berubah jadi baik, oke Mas. Namun kalau enggak—” Excel tak kuasa melanjutkan ucapannya.
“Feelingku, dia beneran sudah mulai menyadari kesalahannya. Meski kalau aku lihat, dia beneran sudah cinta ke Cikho. Mungkin karena selain memang dasarnya dia cinta, setelah dipikir-pikir dia yakin, janin di perutnya memang anak Cikho. Apalagi dia sedang hamil, otomatis emosinya gampang naik turun, Cel,” jelas mas Aidan.
Lantas, benarkah Rere sudah berubah walau itu baru sedikit?
__ADS_1