Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
77 : Masa Depan yang Sudah Disiapkan


__ADS_3

Hati Azzura tak hentinya berbunga-bunga lantaran detik-detik menuju pulang kampung, ada di depan mata. Setelah beres salat subuh, wanita itu segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan sebelum mereka berangkat.bSementara yang sang suami lakukan adalah menyiapkan mobil.


Excel tak hanya membersihkan mobil. Karena segala mesin termasuk bensin, juga tak luput dari perhatiannya. Ia sengaja menggunakan mobil pemberian Helios untuk perjalanan mereka ke kampung halaman orang tua Azzura. Karena selain memiliki ukuran jauh lebih besar, mobilnya juga jauh lebih nyaman. Keluarga kecil berikut barang-barang mereka pasti akan tertampung jauh lebih leluasa. Terlebih sekelas Alphard andai di jalanan menanjak sekalipun, rasanya tetap seperti sedang di jalan datar, sama sekali tanpa terjal.


“Tapi di kampung aku hanya dua hari, ya. Karena memang ada pekerjaan yang enggak bisa ditinggal,” ucap Excel ketika menghampiri Azzura ke dapur.


Azzura yang tengah menyiapkan mi ayam sudah langsung bengong. “Kok gitu? Terus, aku gimana? Elena sama mamah?”


“Ya terserah kalian mau ikut apa tetap tinggal. Mau di rumah orang tua kamu apa hotel. Semuanya beneran terserah kalian, senyaman kalian,” balas Excel.


Azzura yang menjadi merenung serius, bertanya, “Berarti kita memang bakalan sering LDR, ya? Soalnya Mas juga kerjanya di sini.”


“Iya ... ini punyaku mana? Aku lapar,” tanya Excel. Dua hari terakhir selalu sarapan awal dan perutnya benar-benar kenyang, kini ia sudah merasa sangat lapar karena mungkin sudah terbiasa.


“Bentar, ... bentar dulu, Mas. Minya aku aduk lagi dulu takutnya kurang enak,” ucap Azzura buru-buru mengambil sumpit dari wadah khusus di tengah meja.


“Kamu bilang, kamu enggak pinter masak, tapi ini dari aroma dan penampilan mi ayamnya saja, kelihatan sangat menarik?” tanya Excel sambil duduk di sebelah Azzura. Ia curiga, Azzura hanya pura-pura tidak pintar masak.


“Ini pun sebenarnya proses belajar. Belajar, belajar, belajar, terus begitu. Yang awalnya enggak pinter kalau mau belajar kan jadi bisa.” Setelah berucap demikian, Azzura yang memberi toping mi ayamnya dengan rebusan sawi hijau, irisan daun bawang, juga potongan ayam dan jamur yang diracik dengan bumbu khusus, berkata, “Sebenarnya semua orang bisa sih, asal ada kemauan terus praktik. Terus kapan-kapan, aku juga pengin bikin dimsum, kimci ....”


“Jangan bikin yang aneh-aneh, soalnya pas Lena beli kimci, aku pingsan. Enggak kuat dengan aromanya. Awalnya kan pusing aromanya menusuk hidung sampai kena ke jantung. Duh!” keluh Excel tapi sang istri melah menertawakannya.


“Masa separah itu sih, Mas? Padahal aslinya aku suka banget. Buat camilan atau buat campur makanan juga enak banget!” yakin Azzura, tapi Excel tetap menolak.

__ADS_1


“Makan yang lain saja. Soalnya walau disimpannya diumpetin rapat, aku beneran enggak bisa menoleransi. Langsung pusing, mual dan parahnya pingsan. Yang ada nanti aku dikira mengidam!” mohon Excel yang langsung antusias mencoba mi ayam buatan sang istri.


“Gimana rasanya, Mas?” tanya Azzura penasaran.


“Enak. Enak banget!” balas Excel yang mau-mau saja membentuk kedua jemari tangannya membentuk hati sesuai tuntunan sang istri.


Azzura masih tertawa bahagia meski pikirannya masih berkelana membayangkan andai mereka LDR. Ia yang masih mendekap Excel dari samping meski sang suami masih makan mi ayam buatannya dengan lahap, juga sesekali mengecup pipi kiri Excel.


“Kalau kita LDR, Mas bakalan sering pulang, kan?” tanya Azzura.


“Ya pasti. Kalau yang lain butuh waktu seharian, aku cukup setengah hari kalau buat ke kampung kamu,” balas Excel yang nyaris menghabiskan mi ayamnya.


“Kamu mau di kampung atau malah di sini?” tanya Excel lantaran Azzura hanya diam.


“Nanti sambil lihat-lihat lokasi rumah terdekat di kampung. Terserah kamu enaknya bagaimana? Aku terima bayar saja,” balas Excel yang kemudian mengecup pipi kanan Azzura yang memang ada di sebelah kirinya. “Aku tahu kamu paling enggak bisa jauh-jauh dari orang tua kamu. Apalagi selain kamu merupakan satu-satunya anak perempuan, hubungan kamu dengan orang tua sekaligus saudara kamu juga sangat baik. Aku mana tega membiarkan kamu jauh-jauh dari mereka. Jadi, walau di sini kita punya rumah, enggak ada salahnya kita punya rumah pribadi juga di kampung. Nanti kalaupun kita beli rumah lagi juga di Jakarta, ya semuanya jadi rumah. Sana sini rumah. Enggak ada ruginya punya banyak rumah buat investasi. Malahan kalau bisa, nanti aku maunya setiap anak kita siapin rumah atau seenggaknya tanah.”


Ucapan dari Excel benar-benar membuat hati sekaligus pikiran Azzura adem. Senyum kebahagiaan itu dengan sendirinya merekah, menjadi warna sekaligus keindahan sendiri yang terpancar dari kedua matanya karena kali ini, ia memakai cadar.


“Mas sudah mikir sejauh itu?” ucap Azzura.


“Wajib. Karena aku tahu gimana rasanya hidup susah. Jadi sebisa mungkin anak-anakku juga jangan sampai merasakannya. Semuanya beneran wajib disiapkan dari sekarang,” ucap Excel. “Aku pun wanti-wanti ke Lena, jangan sampai dia seperti Rere. Dia harus jadi orang berguna. Kalau dia mau jadi dokter, atau apa pun, oke. Aku sanggup biayain asal dia juga tanggung jawab ke setiap pilihan yang dia pilih,” ucap Excel.


“Beruntungnya aku punya Mas. Pantes Alloh enggak rela aku sama yang lain,” ucap Azzura tak mau merahasiakannya dari Excel. Ia sungguh ingin Excel tahu bahwa dirinya sangat mencintai suaminya itu.

__ADS_1


Lihatlah, Excel sudah langsung tersipu kemudian memberikan mangkuk yang sudah kosong.


“Ih, abis?” kaget Azzura. Apalagi memang belum ada lima menit. Satu mangkuk penuh sudah habis. “Doyan, enak, apa memang kelaparan?”


Excel tertawa. “Masih ada buat bekal, enggak? Nanti kamu duduk di sebelah aku karena aku bakalan nyetir sendiri. Nanti kamu sambil suapi aku!” ucap Excel bersemangat.


Azzura tak kalah bersemangat sambil mengangguk-angguk. “Berarti totalnya kan Mas makan dua porsi. Nah nanti yang satu porsi sampai disuapin, berarti ....”


“Ini sarapannya bertarif?” Excel benar-benar syok, tapi Azzura malah menertawakannya.


Azzura menggeleng.


“Serius?” tanya Excel masih memastikan.


“Enggak, Mas. Enggak. Aku hanya bercanda. Aku siap-siap yang buat bekal dulu,” ucap Azzura.


“Kamu juga jangan lupa sarapan. Sudah sarapan dulu, ini nanti biar Mbak saja yang beresin. Ini Lena sama mamah juga belum keluar. Aku jemput mamah dulu, ya. Biar kalian sarapan bareng-bareng,” ucap Excel benar-benar pergi dari sana meninggalkan Azzura sendirian.


Seperti niat Excel, pria itu membuat sang istri sarapan bersama adik dan mamahnya. Membuat kinerja keras sang istri kali ini kembali mendapat pujian selangit dari Elena maupun ibu Mira.


“Kita buka kuliner online gitu saja yuk, Kak! Pasti laku!” ajak Elena benar-benar bersemangat sambil menghabiskan mi ayam di mangkuknya.


Azzura hanya tersipu sambil mengangguk-angguk. Walau Excel juga langsung menegur bahwa mereka tak selamanya di Jakarta. Karena bisa jadi, Azzura lebih betah di kampung.

__ADS_1


__ADS_2