Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
73 : Masakan Perdana Azzura


__ADS_3

“Tadi siang, Akala minta nomor ponsel Mas.”


Bertepatan dengan apa yang baru saja Azzura sampaikan, Excel tengah membaca WA dari kontak baru dan itu mengaku sebagai Akala.


“Yang belakangnya 1991, bukan?” ucap Excel memastikan.


Azzura yang baru menyuguhkan satu mangkuk sup ayam dan masih berdiri di sebelah Excel, segera melongok layar ponsel sang suami. “Bener. Yang foto profilnya pantai.” Ia sengaja memastikan apa yang tengah suaminya maksud dan itu tengah menghiasi layar ponsel canggih milik Excel.


Herannya Azzura, sang suami langsung membuat layar ponsel gelap kemudian menatapnya.


“Ini rahasia dan kamu enggak boleh tahu,” ucap Excel sembari menahan senyum dan masih menatap Azzura.


“Ih, kok gitu? Aku ingin tahu.” Azzura merengek.


“Enggak boleh. Ini urusan laki-laki,” balas Excel.


“Aku istri Mas!” Kali ini Azzura protes.


“Iya, tapi Akala beneran minta WA-nya dirahasiakan bahkan itu dari kamu soalnya ini beneran urusan laki-laki.” Excel masih menjelaskan dengan sabar.


“Astaga ... kalian ini!” Azzura terpaksa menerima keputusan sang suami yang tetap menjaga rahasia Akala ketimbang membaginya kepadanya. “Rahasia apaan, sih? Aku jadi curiga!” ucapnya sambil melirik sang suami yang detik itu juga menatapnya. Namun, Excel malah tertawa ringan dan jelas ditujukan kepadanya.


“Sambil makan. Ini perdana aku masak secara ekslusif karena biasanya mamah yang masak. Ini saja aku enggak berani kasih ke mamah Mira apalagi Elena. Makanya aku sengaja masak setelah mereka beres makan. Sadar diri, masakanku di bawah standar. Takutnya selain enggak enak, mereka juga sampai keracunaan!” ucap Azzura.


Bertepatan dengan Azzura selesai bicara, Excel baru saja melahap satu sendok sup dan refleks menelannya. Excel melakukannya terlalu terkejut kemudian melirik sang istri sambil berucap lembut, “Memangnya kamu enggak takut aku sampai keracunan gara-gara makan sup ini?”


Azzura terdiam sejenak, tapi sambil menatap sang suami, ia berkata, “Mas kan kebal! Malahan racunnya takut ke Mas!”

__ADS_1


Selain refleks tertawa, balasan Azzura juga membuat Excel tak hentinya tersipu. “Ini rasanya datar, kurang garam.”


“Ouh ...? Berarti selera asin Mas tinggi. Sebentar aku ambilkan garam.” Azzura bergegas berdiri dan bersiap pergi. “Sambil nunggu aku ambil garam, coba dicek keseluruhannya. Wortel, kentang, ayam, semuanya sudah matang dengan baik belum? Kasih saran biar masakan selanjutnya jadi lebih baik.” Setelah berucap demikian, tanpa menunggu balasan Excel lebih dulu, Azzura buru-buru mengambil garam yang keberadaannya entah di mana lantaran ia lupa.


“Berarti aku jadi bahan eksperimen kamu, ya?” tanya Excel lembut dan lagi-lagi tertawa.


Azzura yang tengah membuka setiap lemari dinding bagian atas juga ikut tertawa tapi sebisa mungkin Azzura menahannya.


“Kamu cari apa? Garam enggak ada di situ. Ada di dekat kompor, di rak bumbu warna biru,” ujar Excel menegur. Merasa maklum Azzura belum hafal tata letak di sana lantaran ini menjadi hari pertama Azzura turun ke dapur.


“Ya ampun, aku enggak lihat,” ujar Azzura menyesalkan keadaannya yang terlalu gugup terlebih dari dulu, masak menjadi hal paling sulit untuk ia lakukan.


Mendengar itu, Excel sengaja menekan sakelar lampu hingga suasana di sana menjadi terang benderang. Lampu di bawah lemari dinding bagian atas yang awalnya belum menyala, kini menyala semua. Dan Azzura sudah langsung menatapnya sambil tersenyum. Istrinya itu terlihat jelas menyampaikan terima kasih, tapi juga menyesali keadaan Azzura sendiri yang belum bisa cekatan untuk urusan dapur.


“Santai saja jangan dipaksa,” ucap Excel yang kembali duduk.


“Innalilahi!” refleks Azzura lirih menatap tak percaya pemandangan di mangkuk sup untuk suaminya.


Diam-diam, Excel yang tidak tega dan langsung tak sanggup menatap satu mangkuk sup miliknya, menahan tawanya. Tawa yang seketika pecah ketika Azzura memeluknya sambil meminta maaf.


“Maaf banget yah, Sayang. Aku beneran enggak sengaja. Duh, gimana dong. Masa aku kasih suamiku sup rasa air samudra?” rengek Azzura tapi Excel malah terus saja tertawa pasrah.


“Duh, sudah menyatu beneran semua garamnya dengan supnya,” rengek Azzura sulit untuk baik-baik saja.


“Memangnya kamu cuma masak segini?” tanya Excel.


“Ada itu, tapi beneran tinggal dikit. Namanya saja masak perdana, ya enggak berani banyak-banyak,” balas Azzura benar-benar merasa bersalah. “Padahal aku niatnya kasih yang spesial.” Ia menatap sedih sang suami. Bibirnya manyun hingga menutupi lubang hidung karena kini, ia memang tidak sampai memakai cadar.

__ADS_1


Sudah malam dan Excel pun baru pulang sekitar pukul setengah sepuluh lebih. Kemudian pukul sepuluh kurang sedikit, pria itu baru masuk dapur setelah menjawab sederet telepon. Namun kini setelah tragedi garam membuat semangkuk sup spesial buatan Azzura menjadi rasa samudera, Excel dengan sabar mengambil sayur dan ayamnya dari mangkuk. Semua isi sup di mangkuk, diambil dengan hati-hati, kemudian dimasukkan ke panci sisa sup yang memang benar-benar sedikit.


“Rasanya jadi manusiawi,” ucap Azzura setelah mencicipi supnya yang diracik ulang oleh sang suami. Lagi, Excel langsung sibuk menahan tawa.


“Ya sudah, ayo makan!” ucap Excel tak hanya manis, tapi juga sangat bersemangat.


Azzura mengangguk-angguk, mengikuti langkah sang suami yang sudah membawa semangkuk sup dengan racikan sekaligus rasa terbaru, dan memang jauh lebih manusiawi.


“Aku rasa, Mas jauh lebih paham masakan ketimbang aku,” ucap Azzura sambil duduk di sebelah Excel.


“Dulunya orang tuaku penjual bakso keliling dan aku sudah terbiasa bantu racik bumbu. Alasan ayahku meninggal saja karena ditabrak orang pas sedang jualan.” Excel mengambil piringnya yang sudah dihiasi nasi dan beberapa potong rendang daging.


Cerita dari Excel barusan sudah langsung membuat Azzura iba. Kedua tangannya refleks mendekap lengan kiri Excel yang ada di sebelahnya. Kendati demikian, sang suami tetap dengan cekatan bersiap makan. Malah kini, Excel sudah langsung menyuapinya dengan nasi dan irisan rendang dagingnya.


Sambil mengunyah pelan suapan pertama sang suami yang diberikan kepadanya, Azzura bertanya, “Yang nabrak siapa?”


“Anak orang kaya masih di bawah umur mabu*k malam-malam dan bawa mobilnya ugal-ugalan. Jangankan dihukum, malah ayahku yang dijadikan tersangka. Polisi bisa dibungkam dengan uang. Itulah kenapa aku harus punya banyak uang!”


“Dunia ini akan sangat kejam ketika kita tidak punya uang dan kita bukan siapa-siapa.” Excel menutup ceritanya dengan dendam yang berkobar-kobar jauh di dalam dadanya. Juga, ia yang ternyata sampai menangis karena Azzura tengah sibuk menggunakan tisu dari tengah meja, untuk menyeka sekitar mata Excel.


“Kan ayah yang ditabrak. Bisa kasih keterangan juga, ditambah pasti ada saksi mata,” ucap Azzura berat lantaran cerita dari Excel juga sudah langsung membuat dadanya sesak. Kedua matanya sampai berembun.


“Ayahku terluka parah. Tubuh dan gerobak baksonya sampai terlempar jauh. Gerobak dan kepala ayah sama-sama remuk. Aku tidak punya uang untuk membayar pengobatan ayah. Sementara saksi, mereka yang awalnya sempat bersuara mendadak tidak mau bersaksi. Masih karena kekuatan uang. Namun andai Tuhan memberiku kesempatan bertemu lagi dengan orang kaya itu, ... aku pastikan mereka akan merasakan apa yang aku dan keluargaku rasakan!”


“Jika mereka bisa membungkam orang-orang bahkan pihak rumah sakit, ... berarti mereka bukan orang kaya biasa. Mereka pasti punya kedudukan penting!” tegas Azzura sambil mengelus punggung Excel yang sengaja ia rangkul guna meredam kesedihan yang tengah melanda.


Meski paham dampaknya tidak terlalu besar, paling tidak Azzura ingin memberikan dukungannya kepada sang suami. Azzura berharap, Tuhan mempertemukan Excel dengan pelaku penabrak sang ayah lengkap dengan keluarga pelaku yang sudah membungkam semua saksi bahkan polisi. Karena jika sekelas polisi tidak dapat memberikan keadilan, biarkan Excel sendiri yang memberikan keadilan untuk almarhum ayah sekaligus keluarga besarnya. Biar Excel yang memberikan keadilan versinya.

__ADS_1


__ADS_2