
Butuh keberanian ekstra bagi Azzura untuk melawan keterpurukan akibat keguguran yang ia alami. Karena statusnya yang merupakan seorang bidan, seolah membuat Azzura gagal bertubi-tubi. Namun demi Excel, demi orang-orang yang menyayanginya tanpa jeda, Azzura bangkit. Walau ketika melihat wanita hamil atau anak kecil, kesedihan itu akan Azzura rasa sangat kuat, lagi dan lagi.
Hari ini menjadi putusan akhir dari sidang kasus kematian ayah Excel. Setelah semua yang terlibat, baik dari pihak kepolisian maupun pihak rumah sakit mendapat sanksi kode etik, khusus untuk sang jendral, dia dipecat dengan tidak hormat. Kariernya langsung hancur meski ia maupun sang putri tak sampai dihukum mati. Akan tetapi, hukum dari masyarakat luas jauh lebih berat daripada hukuman kurungan yang harus keduanya jalani. Belum lagi, kasus yang menyeret mereka telah mencetak sejarah tersendiri, tak mungkin terlupakan walau pergantian zaman.
Excel sekeluarga sudah ikhlas. Kini mereka fokus pada pemulihan mental Azzura yang mereka yakini terluka dalam akibat keguguran yang dialami.
“Yang disuruh pacaran dulu, sebelum punya baby,” ucap Excel sengaja menggoda sang istri. Ia baru pulang dari Jakarta dan langsung menemui Azzura. Buket mawar putih berukuran besar ia letakan di meja nakas sebelah Azzura.
Di kamar Azzura yang ada di kediaman pak Kalandra, Azzura baru bangun. Senyum indah langsung merekah seiring tatapan Azzura yang mengawasi wajah Excel maupun bunga di sebelahnya, silih berganti.
“Sudah enggak usah bangun. Ini masih dini hari. Aku mandi bentar,” ucap Excel masih bersemangat.
“Peluk dulu, kangen ...,” rengek Azzura yang sudah berhasil duduk.
Excel yang tengah melepas setiap kancing kemeja putihnya langsung tersipu. “Aku kutuk kamu biar selalu kangen ke aku!” ucapnya yang kemudian memeluk Azzura. Ia duduk tepat di sebelah sang istri duduk selonjor.
“Kutukan Mas ampuh banget. Jadi tambah kangen padahal lagi bareng!” balas Azzura sambil mengeratkan dekapannya.
“Aku paling suka kalau Mas peluk aku begini. Erat, hangat, seolah kita memang akan selalu begini sampai kakek nenek,” lanjut Azzura benar-benar manja.
“Kalau aku suka semuanya. Semua yang berkaitan dengan kamu termasuk itu ketika kamu sedang marah-marah, aku beneran suka!” sergah Excel sembari tersenyum ceria.
Mendengar itu, Azzura yang masih memeluk sekaligus dipeluk Excel pun bertanya, “Terus, yang enggak Mas suka dari aku, apa?”
__ADS_1
“Pas kamu nangis, itu rasanya beneran sakit. Sebenarnya bukan enggak suka. Karena semua yang berkaitan dengan kamu, aku beneran suka. Hanya saja, saat kamu nangis, ... aku beneran merasa gagal!” ucap Excel.
“Bismilah, aku enggak akan nangis lagi. Aku bakalan makin manja saja ke Mas karena kalau kita punya anak, pasti sudah dibagi-bagi!” Azzura tertawa pasrah.
“Dibagi-bagi pun kalau buat kamu sama anak-anak, enggak akan ada batasnya!” balas Excel
“Amin!” lembut Azzura yang kemudian tersenyum lembut.
Azzura dan Excel selalu memiliki cara agar kebersamaan mereka menjadi lebih berwarna. Hingga untuk mengobati luka, mereka juga memiliki cara khusus.
“Kalau papah mamahnya sudah damai begini, di Surga sana, Kaka pasti juga bahagia! Apalagi kalau kita terus kirim doa. Karena kalau sudah begini, doa menjadi satu-satunya yang bisa menyatukan kita!” ucap Excel mulai ikhlas.
Begitupun dengan Azzura, wanita itu juga sudah mulai ikhlas. Azzura percaya, apa yang ia miliki dalam dunia ini hanya titipan. Titipan yang wajib ia jaga selama ia memilikinya, tapi wajib ia ikhlaskan ketika Alloh kembali mengambilnya.
“Mas, mulai sekarang ... tolong kalau bisa jangan melukai apalagi membunuh orang lagi karena dampaknya pasti akan kembali ke kita. Sekesal apa pun, sesakit apa pun, tolong selesaikan dengan baik-baik saja. Cukup anak pertama kita yang pergi, enggak dengan adik-adiknya. Aku mohon berjanjilah. Berjanjilah kepadaku Mas akan mengabulkan permintaanku yang kali ini!” ucap Azzura dan detik itu juga Excel merasa sangat tertampar.
Empat Belas Bulan Kemudian .....
“Cucunya sudah mau lahir, baru dibeliin pohon mangga, kedondong sama jambu, Pah,” rengek Azzura dengan perutnya yang sangat. Karena setelah boleh hamil lagi, Azzura sudah langsung hamil. Sementara alasan perutnya jauh lebih besar dari kehamilan normal pada umumnya, lantaran kehamilan kali ini, ia dikaruniai janin kembar.
Azzura mematahkan tradisi atau turun-temurun dari sang mamah. Karena walau dulu ibu Arum pernah keguguran sebanyak tiga kali sebelum akhirnya ibu Arum hamil mas Aidan, kenyataan tersebut tidak terjadi pada Azzura.
“Ini memang sengaja Papah tanam buat cucu-cucu Papah, biar mereka panjat-panjat pohon sambil makan buah, Sayang. Bukan buat rujakan, bukan!” ucap pak Kalandra tertawa.
__ADS_1
“Kalau mau rujak ya enggak apa-apa. Caranya cukup petik buahnya, terus disambelin ambil tuh di kulkas banyak stok sambel rujak soalnya di rumah ini memang panen bumil!” oceh Azzam yang baru keluar dari rumah. Ia sengaja memetik setiap buah kedondong kemudian memberikannya kepada Azzura maupun istri mas Aidan yang juga sedang hamil.
“Emang ini sudah layak makan, Mas? Ini kedondong masih di bawah umur, Mas!” ucap Azzura penasaran.
Azzam sudah langsung tertawa. “Bukan hanya buahnya yang masih di bawah umur, Mbak! Lihat, pohonnya masih sekucret gitu sudah buah! Hahaha!”
“Mana buahnya mana? Ini Mas bawain sambal!” ucap mas Aidan yang baru datang dan sudah membawa satu kotak sambal rujak. Ia juga sengaja berseru, meminta Excel yang masih di dapur untuk membawa jambu air yang baru iparnya itu beli.
“Lah, katanya masih di bawah umur kok sudah ludes.” Pak Kalandra makin sibuk tertawa. “Eh, daun kedondong yang muda, enak loh buat rujak!” ceritanya langsung praktik.
“Kita kan bukan kambing, Pah!” protes Azzam yang kemudian berkata, “Loh, kok aku jadi ikut-ikutan rujak? Berasa hamil juga mirip Ojan! Hahahah!”
“Itu cangkok ya? Masih kecil sudah berbuah. Lihat, buah jambu airnya sudah bunga. Bentar lagi buah ini. Bisa buat rujakan Mbak!” heboh mas Aidan sambil tersenyum semringah kepada sang istri yang memilih tetap duduk di sebelah ibu Arum.
Kebersamaan di teras depan rumah kediaman pak Kalandra menjadi terasa makin hangat akibat rujak dadakan yang mereka lakukan. Semuanya duduk lesehan di teras sambil sesekali memetik buah kedondong berikut daunnya.
“Pah, itu enggak ditanam dipendam saja? Besok, cucu keluar langsung empat loh! Belum punya Akala, sudah mau lima, Pah!” tegur ibu Arum yang terbahak walau tidak bisa ikut makan rujak gara-gara sedang sakit gigi. Jadi, yang ia lakukan hanya duduk sambil mengelus-elus perut sang menantu yang tak kalah besar dari perut Azzura. Meski tentu saja, air liurnya nyaris menetes di setiap ia melihat mereka yang tengah rujak, menggigit sekaligus mengunyah mangga dan kedondongnya.
“Iya, itu wajib ditanam pendam. Kalau enggak yang ada dijungkirin potnya sama cucu-cucu kamu. Apalagi bocah sekarang cerdas dan jailnya mengalahkan Azzam!” ujar nenek Kalsum yang baru saja keluar dari rumah.
Azzam yang namanya disebut sudah langsung cekikikan. “Besok aku yang memimpin pasukan. Buat mengobrak-abrik rumah ini biar enggak pernah rapi. Secara langsung ada lima personel, asli berasa tawuran! Hahaha!”
“Ini dengan kata lain, Uncle Azzam siap jadi pengasuh cuma-cuma ya?” todong Azzura sengaja menggoda kembarannya.
__ADS_1
Semuanya langsung menertawakan Azzam dan menjadi satu-satunya anak ibu Arum yang belum berumah tangga. Azzam masih menunggu sang kekasih yang masih harus menyelesaikan pendidikan kedokterannya.
Beberapa menit kemudian, Excel dan mas Aidan bekerja sama menggali tanah di depan teras. Akala yang kebetulan baru datang bersama sang istri segera membantu. Membuat Azzam yang dari awal tidak membantu, buru-buru memijat kaki pak Kalandra agar tidak dirujak oleh saudara-saudaranya.