
Excel terbangun dengan ingatan yang berantakan. Kejadian di masa lampau silih berganti terputar di ingatannya khususnya kejadian yang menyedihkan. Membuat air matanya tak hentinya berlinang.
Excel menangisi masa lalunya yang tidak punya apa-apa bahkan itu sekadar keberanian. Di masa lalunya, Excel sering membiarkan dirinya disalahkan. Ia merupakan potret anak lugu, penurut, dan akan berakhir menangis jika sesuatu yang fatal sampai menimpa. Beda dengan Excel yang sekarang. Hanya saja, melihat mayat sang bapak dalam keadaan remuk dan keluarganya tak hentinya diintimidasi oleh beberapa orang, Excel bangkit. Excel membunu*h dirinya sendiri kemudian terlahir kembali menjadi sosok pemberani.
“M-Mas ....” Azzura takut suaminya sampai gegar otak. Karena luka tembak di kepala Excel sangat fatal. Terlebih, sadarnya Excel juga sudah langsung dibarengi dengan keadaan yang emosional. Suaminya menangis, seolah ada pikiran mengganggu yang sulit pria itu redam hingga Excel tak kuasa mengontrol emosi bahkan diri.
Azzura yang sudah langsung berlinang air mata segera memanggil perawat dan dokter yang berjaga di luar ruangan. Detik itu juga kebersamaan di sana heboh. Helios yang awalnya sengaja bersembunyi demi menjaga jarak dari Chole, sudah langsung datang kemudian melongok.
Namun, keadaan Excel yang belum stabil membuat pria itu belum boleh dikunjungi oleh banyak orang.
“Aku jadi ikut deg-degan. Mas, masuk sana. Temani Kak Azzura,” ucap Chole masih setia menemani, mengambil alih posisi Didi yang harusnya memberikan ketenangan untuk Azzura maupun mas Aidan. Karena memang begitu harusnya sosok yang menjadi pasangan mas Aidan.
Mas Aidan segera masuk. Ia meninggalkan Chole hanya berdua dengan Helios. Kini memang masih dini hari, hingga sadarnya Excel membuat mereka bangun dengan agak linglung.
Ketika akhirnya Chole menyadari dirinya hanya berdua dengan Helios dan mereka berdiri bersebelahan, sedangkan di waktu yang sama saat ia melirik Helios, pria itu juga menoleh kepadanya, Chole sudah langsung terlonjak dan berakhir terduduk.
“Apaan sih? Kesuru*pan apa bagaimana?” cibir Helios.
“Takut ih!” rengek Chole berangsur memunggungi Helios walau ia masih duduk tak jauh dari pria itu.
Helios menatap sinis wanita berpiama pink dengan aksen kucing di sana, kemudian buru-buru menerobos masuk. Ia ingin memastikan keadaan Excel secara langsung. Tak tahan, dan memang penasaran.
“Kalau Excel sampai gegar otak apalagi cac*at, aku sendiri yang bakalan menghabisi jendrall keparatt itu!” batinnya. Namun melihat sebelah tangan Excel yang sudah menggenggam sebelah tangan Azzura padahal sang sahabat tengah menjalani pemeriksaan, Helios sudah langsung menarik kesimpulan.
__ADS_1
Helios yakin, ingatan Excel masih aman. Masalahnya, bagaimana dengan tubuh Excel? Tangan dan kaki Excel masih bisa bergerak dengan leluasa, kan?
“Coba gerakan tangan dan kaki kamu pelan-pelan, Cel,” ucap dokter Frans yang memang sudah akrab dengan para mafia apalagi dengan Excel.
“Aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut dengan ingatan-ingatan masa lalu yang sangat mengganggu,” yakin Excel sembari menggerakkan tangan dan kedua kakinya secara perlahan.
Azzura langsung tersenyum haru menyaksikan semua itu. Walau kenyataan Excel yang masih lemas sekaligus lemah, ia yakini karena efek koma yang suaminya alami.
“Kamu berbicara begitu jangan-jangan karena kamu lupa, alasan kamu seperti sekarang.” Helios berucap lantang.
“Alasanku seperti sekarang?” pikir Excel bingung. Ia mengerling, menatap bingung sang istri yang seketika mencemaskannya, kemudian berganti menatap wajah-wajah yang ada di sana dan sangat ia kenali.
Ada wajah mas Aidan kakak Azzura, wajah dokter Frans selaku dokter bedah terbaik di markas, ada dua perawat dokter Frans, dan terakhir itu ada Helios yang membuat Excel memikirkan alasan kenapa ia berakhir seperti sekarang. Semuanya terlihat begitu mengkhawatirkannya. Terlebih Azzura yang biasanya tangguh juga sampai kesulitan mengakhiri air mata sekaligus kesedihannya.
“Iya, aku lupa. Hal yang terakhir kali aku ingat, harusnya aku pulang. Aku bertemu dengan Chole dan Chalvin, lalu ibu Angel ... datang,” ucap Excel meraba-raba ingatannya.
Melihat kesetiaan seorang Azzura kepada Excel, Chole langsung berkomentar betapa beruntungnya Excel dan betapa ruginya Cikho.
“Kalau jodoh ibarat cerminan diri, kok Mas Aidan dapat bayi yang bentar-bentar marah dan malah bikin beban hidup Mas bertambah, Mas?” ucap Chole masih mengawasi kebersamaan Excel dan Azzura di dalam sana.
Di dalam ruang rawat, Excel dan Azzura benar-benar hanya berdua. Semuanya termasuk dokter dan perawat sudah keluar.
Mas Aidan menunduk loyo. “Aku masih berharap keajaiban, Dek. Apalagi keluarga khususnya orang tuanya baik baik. Hubungan kita juga sudah sepertu keluarga.”
__ADS_1
“Aku doakan, Didi bisa segera jadi cerminan dari Mas Aidan yang beneran penyabar, baik, ... sempurna lah ya,” ucap Chole.
“Si boneka hidup lagi nggombalin mas Aidan?” pikir Helios sambil melirik ngeri Chole yang membuatnya buru-buru pergi dari sana.
“Ya sudah, kamu balik ke kamar kamu. Mbak Azzura dan Mas Excel pasti lebih nyaman kalau mereka hanya berdua,” ujar mas Aidan.
“Oh iya, Mas. Besok pagi-pagi, habis beres salat subuh, bisa anterin aku ke pasar? Mau masak buat semuanya sih. Buat Mas Excel sama Kak Azzura khususnya. Mbak Azzura kan enggak mungkin biar dia bisa fokus temenin mas Excel,” ucap Chole.
Mas Aidan langsung mengangguk-angguk sanggup.
Di tempat berbeda, di ruang kerjanya, Helios yang mendengar suara langkah Chole dan mas Aidan, menjadi terusik dengan penuturan Chole. Mengenai jodoh yang merupakan cerminan dari diri.
“Jika jodoh ibarat cerminan diri, apakah jodohku juga buta? Apakah jodohku juga buruk rupa? Apakah dia juga belum bisa berdamai dengan masa lalunya?” pikir Helios.
Sementara itu, di ruang rawat, Azzura yang awalnya duduk di sebelah tempat tidur berangsur merebahkan sebagian kepalanya di bahu Excel.
“Aku sudah bikin kamu menunggu lama,” lirih Excel masih harus memakai selang oksigen untuk bernapasnya.
Azzura mengangguk-angguk. “Aku sampai kangen banget. Mas kangen enggak ke aku?”
Mendengar itu, Excel sudah langsung menempelkan bibirnya yang masih kering, ke sebelah wajah Azzura. “Banget!” lirihnya dengan suara yang masih berat.
Azzura refleks menangis karena biar bagaimanapun, tumbangnya Excel kali ini benar-benar membuatnya sedih.
__ADS_1
“Sini tidur di sebelah saja, jangan duduk di situ,” lirih Excel sudah langsung meraih tangan sang istri menggunakan kedua tangannya yang jujur saja masih kebas. “Efek komanya fatal ya. Tangan dan tubuhku serasa mati.”
“Pelan-pelan juga pulih, Mas. Sabar, ya ....” Azzura berangsur naik kemudian meringkuk di sebelah Excel dengan hati-hati. Kemudian, ia izin untuk menceritakan semua yang terjadi kepada Excel. Mengenai alasan Excel hingga suaminya itu berakhir koma.