Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
81 : Rencana Mengerikan Seorang Helios


__ADS_3

“Mas, habis nabrak ...? Penyok mobil depan terlihat kalau mobil Mas yang nabrak.” Azzura berbicara sekaligus menatap suaminya dengan sangat hati-hati.


Excel memang baru menjemput sang istri di klinik. Kini hampir pukul tujuh malam dan Azzura baru beres membantu pasien menjalani persalinan.


“Mobil jeep hitam tadi, itu si Jay dan Cobra. Biarkan saja, biarkan mereka tahu rasa!” balas Excel dengan santainya sambil tetap menggandeng tangan kanan Azzura.


“Oke, ... bikin mereka tahu rasa memang akan jauh lebih membuat Mas bahagia. Mas bahkan enggak merasa rugi walau harus mengeluarkan uang belasan atau malah puluhan juta, buat renovasi mobil mahal Mas!” ucap Azzura terdengar mengomel, tapi Excel hanya menertawakannya. Walau tentu saja, Excel begitu menjaga tawanya.


“Ini Akala ke mana, ya? Akala kan paling suka satai kambing. Lama enggak makan bareng dia yang selalu bikin aku doyan lapar, kangen.” Tanpa Azzura sadari, kerinduannya kepada Akala membuatnya melongok sekaligus mencari-cari Akala.


Namun hingga sampai dapur yang biasanya menjadi tempat Akala sibuk makan, Azzura tetap menemukan Akala. Bertanya kepada Azzam pun, justru Azzam yang heran dan malah balik bertanya.


“Aku pikir, Akala diutus ke mana sama Mbak. Makanya pas lihat kamarnya kosong, ya enggak ada kepikiran lain. Ini malah mendadak pergi tanpa pamit, mau jadi Akala toyib kayaknya. Tuh kan, ... makanan di dapur jadi utuh karena yang biasa menampung entah ke mana,” ucap Azzam.


Ketika Azzura langsung mencubit gemas bibir Azzam menggunakan kedua tangan, tidak dengan Excel yang sudah langsung menyikapinya dengan sangat serius. Excel masih ingat, tadi saat membeli satai, di depan tempat menjual satai dan itu sebuah mini market, ia memergoki Akala dan Cinta yang masuk ke sana. Keduanya yang terlihat sangat bahagia, terus bergandengan tanpa peduli pada apa pun, seolah dunia hanya milik berdua.


Hanya saja, kenyataan Cinta yang justru datang ke kampung dengan Helios, juga menjadi pertanyaan tersendiri untuk Excel. Excel bahkan merasa kecolongan, kenapa dirinya tidak curiga apalagi langsung bertanya, apa yang menjadi penyebab Helios sampai mengantar Cinta dari Jakarta ke kampung halaman?

__ADS_1


“Diantar berarti baik-baik. Bukan lagi tawanan apalagi ajang Helios balas dendam seperti apa yang harusnya Helios lakukan setelah semua yang terjadi dan itu karena Cikho,” pikir Excel.


Petang benar-benar sudah digantikan dengan malam, tapi Helios tak kunjung menemukan Cinta. Helios mirip orang hilang, mengemudi ke sana kemari tanpa tahu tujuan. Helios belum tahu alamat orang tua Cinta yang di kampung. Hingga akhirnya, ia baru ingat bahwa Excel pasti tahu walau sahabatnya itu harus mencari tahu kepada Azzura dulu.


Helios yang sudah kembali ke jalan depan pemakaman, langsung menelepon Excel. Dari balik kemudinya, ia yang langsung mendapatkan balasan Excel juga langsung bertanya. Di waktu yang sama, Akala yang masih membonceng Cinta menggunakan motor, lewat. Helios yang masih menempelkan ponsel ke telinga kanan sempat mengenali pakaian Cinta. Hanya saja, kenyataan Cinta yang tak sedikit pun menoleh kepada Helios, dan juga Cinta yang menjadi tetap memakai kerudung dengan rapi, membuat Helios tak sampai curiga. Helios berpikir itu hanya kebetulan dan memang orang lain.


Hingga tak berselang lama, akhirnya Helios sampai di kediaman almarhumah ibu Resty yang berdiri megah. Karena dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya, rumah orang tua Cinta mirip rumah orang kaya di kota-kota, pada umumnya. Dan Helios menemukan Cinta di sana dalam keadaan masih memakai pakaian sekaligus jilbab yang sama.


“Berarti benar, tadi memang dia? Dia ngojek apa gimana?” pikir Helios langsung menolak kenyataan. Karena baginya, tak mungkin Cinta ngojek karena saat dibonceng saja, Cinta sampai mendekap erat tubuh yang membonceng dan itu merupakan seorang pria bertubuh besar.


Namun lagi-lagi, Helios yang telanjur tertarik kepada Cinta, juga merasakan kecemburuan yang tak kuasa Helios akhiri. “Bagaimana jika itu memang benar? Bahwa itu memang kekasihnya Cinta?” pikir Helios yang juga mengecap Cinta sempurna lantaran Cinta tak pernah memandang seseorang dari fisik. Buktinya, kepadanya saja, Cinta biasa. Seolah semuanya baik-baik saja. Beda dengan Chole yang masih saja pingsan di setiap mereka di temat yang sama apalagi dekat.


***


“Aku tertarik kepadanya,” ucap Helios ketika Excel memberanikan diri untuk bertanya, di keesokan harinya, mengenai alasan Helios datang ke kampung bersama Cinta.


Excel sengaja mengajak Helios bertemu di rumah makan orang tua Azzura, di keesokan harinya ketika jam makan siang. Azzura juga ikut serta bersama mereka. Hanya saja, Excel sengaja bertanya ketika sang istri sedang pergi ke dalam, untuk memesan pesanan mereka secara langsung.

__ADS_1


Excel sadar, dirinya tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan Cinta dan Helios. Masalahnya, Excel tahu Cinta merupakan kekasih Akala. Kedua sejoli itu sedang memperjuangkan cinta dengan cara mereka. Selain Excel yang juga sampai dengan sengaja merahasiakannya sesuai permintaan Akala.


“Aku butuh dia, dan aku akan menikahinya!” tegas Helios walau sampai detik ini, Excel masih diam. Jangankan bertanya, merespons balasannya yang sebelumnya saja, Excel belum melakukannya. Yang ada, Excel terlihat sangat terkejut.


“Kenapa tanggapan kamu sedatar itu? Jangan lupa, kamu juga yang meninta aku untuk menikah. Sekarang giliran aku mau, kamu seolah tidak mau memberi restu,” sebal Helios yang walau sudah membuka masker, tetap memakai kacamata hitam tebalnya.


Mereka makan di rumah makan orang tua Azzura, ruang vip dan keberadaannya ada di lantai dua. Di ruangan khusus tersebut benar-benar hanya dihuni mereka tanpa orang lain hingga obrolan di sana terasa sangat rahasia.


“Karena yang aku tahu, dia sudah punya kekasih bahkan calon suami!” yakin Excel berusaha sesantai mungkin.


“Aku enggak peduli,” ucap Helios tak kalah santai sembari menggeleng. Ia langsung mendapatkan tatapan tidak setuju dari seorang Excel. Alis tebal Excel menjadi nyaris bertautan.


“Cari yang lain saja karena aku enggak mau kamu sakit hati. Dia dan kekasihnya saling mencintai, dan kamu paham apa yang harus kamu lakukan sekarang!” lirih Excel wanti-wanti.


“Aku akan melakukan segala cara. Aku akan memberikan semuanya. Aku akan menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan!” yakin Helios seyakin-yakinnya walau ia masih berucap lirih. Di hadapannya, Excel masih menatapnya lurus dengan tatapan sangat tajam. Iya, Helios menyadari tatapan Excel kepadanya menjadi makin emosional setelah apa yang baru saja ia katakan.


“Bila perlu, aku juga akan membu*nuh kekasihnya agar tidak ada batu penghalang dalam hubunganku dan Cinta!” lanjut Helios dan langsung membuat seorang Excel ketar-ketir. Excel mendadak menjadi terlihat sangat emosional, berdiri dengan spontan, seolah-olah pria itu akan mener*kamnya hidup-hidup detik itu juga.

__ADS_1


__ADS_2