
Excel jadi makin rajin beribadah. Termasuk ibadah sunnah. Hari ini saja, Excel memulai menjalani puasa hari Senin.
“S-sayang, ada yang salah enggak sih? Kok mendadak spontan begini?” tanya Azzura berbisik-bisik lantaran takut ada yang mendengar. Ia takut Excel jadi gugup atau parahnya minder.
Excel menggeleng sambil menyantap menu makan yang disiapkan oleh sang istri. “Pengin jadi lebih baik saja. Baik buruknya kita juga akan balik ke kita, kan?” lembutnya yang juga sengaja berbicara lirih.
“Habis ini kita pemotretan prewedding, Mas kuat?” balas Azzura, tapi suaminya justru menahan tawa.
“Mmmm, puasa pertama tapi bukan di bulan ramadan. Jadi pengin cepat-cepat ramadan. Aku ikut puasa saja yah, Mas. Biar Mas enggak puasa sendirian,” manja Azzura sambil mendekap Excel.
“Jangan ih, kamu lagi radang. Nanti enggak sembuh-sembuh. Radang itu sering tuman, diobati tetap enggak mau pergi,” ucap Excel sambil tetap makan.
“Malah jadi betah yah, Mas!” ucap Azzura yang kemudian tertawa karena Excel yang rutin menatapnya juga langsung tertawa.
Hari ini menjadi hari pemotretan prewedding mereka. Akala akan turun langsung menjadi tukang foto, sementara Azzam berdalih akan menjadi pengarah gaya sekaligus tukang marah-marah. Lain dengan mas Aidan yang akan jadi apa pun demi memberikan yang terbaik untuk adik-adiknya.
Sekitar pukul setengah enam, rombongan mereka pergi menggunakan mobil. Namun mas Aidan sengaja membonceng Azzam menggunakan motor lantaran mobil sudah penuh. Seperti biasa, acara mereka selalu rasa pawai lantaran para orang tua tidak mau ketinggalan. Kendati demikian, karena keadaan tersebut pula kebersamaan mereka jadi hidup.
“Nanti kata Akala, Cinta bakalan datang. Tapi Cinta belum mau tampil di depan semuanya,” batin Excel yang mengemudikan mobilnya. Di sebelahnya ada Azzura, sementara di belakang mereka ada ibu Mira dan juga Elena.
Di mobil belakang Excel, ada Akala yang memboyong pak Kalandra sekeluarga.
“Mas, hari ini Mas kelihatan semangat banget?” heran pak Kalandra tersenyum menatap sang putra yang tengah mengemudi di sebelahnya.
“Iya, semangatnya beda loh!” ujar ibu Arum yang duduk persis di belakang pak Kalandra.
“Sudah punya pacar kayaknya!” tebak nenek Kalsum sengaja menggoda bungsu mereka.
Pak Kalandra dan ibu Arum langsung tertawa. Lain dengan pak Sana yang duduk di tempat duduk paling belakang. Pak Sana sudah langsung memberikan wejangan, agar Akala tak salah pilih.
“Pilih yang kayak Uti, cerewet tapi penyayang. Soalnya Mas itu diemnya lebih parah dari Mbah Kakung!” ucap nenek Kalsum.
“Iya, ini enggak tahu mirip siapa, kok diemnya melebihi putri malu,” ucap pak Kalandra masih belum bisa menyudahi senyumnya. Ia menatap Akala penuh terka.
Namun, apa yang pak Kalandra pertanyakan barusan justru membuat ibu Arum berpikir lain. Ibu Arum langsung menyikapi dengan serius. “Mas Akala enggak ada yang dirahasiakan, kan? Takutnya, Mas punya beban dan ini yang jadi alasan Mas diam. Soalnya diamnya Mas beneran beda!”
__ADS_1
“Jangan yah, Mas. Kalau ada apa-apa wajib cerita. Kalau memang Mas malu buat cerita ke papah mamah apalagi Uti, cerita ke Mbah Kakung. Mbah Kakung siap jadi teman curhat!” ucap pak Sana penuh pengertian.
Di tempat berbeda, Excel yang masih mengemudikan mobilnya yakin, serapat apa pun hubungan Akala dan Cinta disembunyikan, pada akhirnya pasti tetap akan terbongkar.
“Mamah takut kenapa-kenapa. Soalnya makin lama, Akala makin diem begitu.”
“Enggak, Mah. Kalau sama aku, Akala enggak pernah cerita yang aneh. Apa aku salah, yah, aku enggak pernah tanya. Aku paling tanya biasa saja. Sekadar sudah makan, sudah mandi, mau makan apa? Duh, aku jadi khawatir sebenarnya aku salah apalagi sejauh ini memang aku yang sibuk curhat deh Mah.”
Obrolan lirih Azzura dan ibu Arum barusan membuat Excel mengambil kesimpulan. Hubungan Akala dan Cinta yang serba rahasia memang mempengaruhi sikap Akala.
Azzura yang sedang menjalani rias di kamar hotel mereka akan menginap, tak sengaja memergoki Excel tengah terdiam merenung tak jauh dari pintu.
“Mas sini coba. Mas Excel ke sini, aku mau ngobrol,” ucap Azzura memperjelas maksudnya memanggil sang suami. Terlebih yang ia tahu, hubungan Excel dan Akala terbilang baik. Tidak menutup kemungkinan, Akala akan curhat ke Excel.
Sementara itu, di luar, tak jauh dari bibir pantai, Akala yang sedang mencoba kameranya, sudah langsung tersenyum ceria ketika seorang wanita berkerudung merah menyapanya melalui senyuman. Akala masih mengarahkan lensa kameranya, tapi jauh di pinggir pantai sana, si wanita sudah melambaikan tangan. Itu Cinta.
Cinta mantap memakai jilbab semenjak Akala berkata, wanita itu jauh lebih cantik jika menutup auratnya. Dengan kata lain, Akala juga yang menjadi alasan Cinta berhijrah.
Padahal tanpa Akala ketahui, sosok tegap berpakaian serba hitam yang juga tengah mengawasi Cinta dari kejauhan, merupakan Helios—laki-laki yang bersumpah tidak akan pernah melepaskan Cinta.
“Astaga! Ngapain Helios jadi satelitnya Cinta sih?! Baru juga mau berbicara empat mata dengan Cinta!” batin Excel yang sudah langsung menyadari keberadaan Helios.
Yang memusingkan Excel, Azzura sekeluarga sudah mulai mengkhawatirkan sekaligus mencurigai diamnya Akala. Nekat, Excel hang awalnya ada di belakang Akala, sengaja menghampiri Akala. Excel mengajak adik iparnya menghampiri Helios.
Detik itu juga Cinta yang menyadari ulah Excel sudah langsung gelisah. Cinta sempat melangkah maju, bermaksud menghentikan ulah Excel, tapi nyali Cinta tak sebesar keinginannya. Karena yang ada, kedua kaki Cinta yang memakai sandal jepit, justru perlahan mundur bahkan, ... lari. Cinta memutuskan untuk pergi dari sana sambil sesekali memperhatikan kebersamaan ketiga lelaki di dekat bibir pantai, yang baru saja ia tinggalkan.
“Akala, perkenalkan, ini teman Mas. Namanya Mas Helios,” ucap Excel santun.
Helios sudah langsung menahan napas, menyikapi kebersamaan mereka dengan dingin. Terlebih berbeda dengan Akala yang belum mengenal Helios, Helios sudah mengenal Akala. Iya, Akala—kekasih Cinta. Alasan utama Cinta belum bisa sepenuhnya menerima Helios.
“Salam kenal Mas Helios. Saya Akala, adiknya Mas Excel!” ucap Akala ramah.
Helios kaget lantaran setelah lebih dulu menyapa, Akala juga dengan sangat santun menyalami tangan kanannya. Akala sampai menciu*m punggung tangan kanannya dengan takzim.
“Laki-laki yang sangat lembut,” batin Helios yang menganggap Akala sebagai laki-laki sangat lembut, sangat bertolak belakang dengan sifat bahkan watak seorang Helios.
__ADS_1
Helios masih tidak menyangka, Akala yang masa kecilnya ia ketahui sangat santun, sampai detik ini masih bahkan makin santun. Helios bisa menilai demikian lantaran di masa lalu, Helios pernah sangat dekat dengan Azzura. Helios pernah beberapa kali berinteraksi dengan keluarga Azzura, termasuk juga dengan Akala yang dari dulu menjadi kesayangan. Malahan Helios berpikir, alasan Akala memiliki tubuh gendut, karena pemuda yang hobi makan itu juga terlalu dimanja. Kendati demikian, kemanjaan yang Akala dapatkan tak membuat pemuda itu bersikap kurang*ajar.
“Tolong jujur!” lirih Excel memohon pada Helios.
Helios yang memakai kacamata hitam sekaligus menutupi sebagian besar wajahnya menggunakan masker hitam, langsung menggeleng tidak nyaman. “Dia bilang mau menjalani. Salahku di mana?”
Excel paham maksud Helios. Tentu saja Cinta.
“Dia menerima aku dengan kekuranganku. Dan aku juga menerima dia dengan kekurangannya termasuk,” ucap Helios yang kemudian melirik Akala. Di hadapannya, Akala yang jelas tidak tahu-menahu langsung tersenyum santun kemudian menunduk.
“Aku enggak apa-apa, nunggu dia putus dari pacarnya!” ucap Helios pasrah. Tak beda dengan Akala, kali ini ia juga menunduk.
“Wah, Mas Helios mencintai wanita yang sudah punya pacar, tapi wanitanya siap memilih Mas Helios karena si wanita akan memutuskan pacarnya. Kok kasihan, ya? Yang kasihan itu Mas Heliosnya, atau malah pacarnya si wanita? Terus si pacarnya memangnya salah apa? Kok mau diputusin ... benar-benar hubungan yang rumit,” batin Akala.
“Dek, fotoin Mas! Mas mau surfing!” teriak Azzam dari belakang sana.
Di antara sinar matahari yang tidak begitu terik di pagi menuju siang kali ini, Azzam sudah siap beraksi. Azzam sampai memakai pelampung khusus. Sementara di sebelahnya, mas Aidan tampak akan mengawasi, menjadi pengasuh sang adik agar tidak tenggelam.
Setelah Akala pergi, Excel langsung menyikapi Helios dengan serius. Ia marah, bukan hanya kepada Helios, tapi juga kepada Cinta.
“Ulangi sekali lagi!” kesal Excel. Ia mendesak Helios, membuat pria itu mengakui bahwa apa yang Helios katakan hanya bagian dari cara Helios untuk merus*ak hubungan Akala dengan Cinta.
Namun, .....
“Jangan karena aku mencintai Cinta dan aku menjadi orang ketiga di hubungan mereka, kamu kira aku sengaja berdusta!” kesal Helios.
Rekaman suara yang Helios putar di ponsel canggih miliknya, mematahkan tudingan Excel. Karena di rekaman tersebut, itu memang suara Cinta. Cinta menyanggupi lamaran Helios. Cinta meminta waktu karena Cinta masih ada ikatan dengan Akala. Namun Cinta menjanjikan, dirinya akan memutuskan Akala. Cinta memilih Helios, tapi Cinta masih butuh waktu untuk memutuskan Akala. Cinta tidak tega lantaran Akala terlalu baik.
“Cinta akan berurusan denganku!” tegas Excel walau ia berucap dengan suara lirih. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, sementara tatapan tajamnya sudah menatap murka Helios.
“Berani kamu menyentuhnya, ... AKU TAK SEGAN MENGHABIS*I AKALA!” balas Helios.
Excel langsung mundur mirip orang linglung. Ia menatap tak percaya Helios yang masih menatapnya dengan bengis walau pria itu memakai kacamata hitam dan mata kanannya juga buta.
“Tunggu saja, biarkan Cinta memutuskan Akala secara baik-baik. Agar Akala juga tidak gilla. Dan kamu cukup diam tanpa mengabarkan ini kepadanya. Biarkan waktu sekaligus Cinta yang mengakhirinya!” tegas Helios.
__ADS_1
“Kalian JAHAT! BIADAAAB!” kesal Excel memilih pergi dari sana setelah ia berkata, “Jangan pernah mencariku lagi!”