Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
99 : Keluarga yang Hangat


__ADS_3

Keluar dari kamar, Excel yang menggandeng Azzura, langsung disambut hangat oleh keluarga mereka yang memang sudah menunggu. Walau Azzura hanya memakai jilbab ala kadarnya lengkap dengan cadar, pakaian pengantin yang mereka coba membuat penampilan mereka menjadi sangat menawan.


“Mas Akala, foto ... foto!” ujar ibu Arum langsung heboh. Bahagia rasanya melihat putri semata wayang memakai gaun pengantin mewah yang memang dibuat khusus oleh salah satu desainer ternama di Jakarta.


“Bagus banget ya. Padahal waktu penggarapannya sebentar, tapi hasilnya bisa sebagus ini!” ucap ibu Arum kembali mendekati sang putri. Kedua matanya tak bisa berhenti menatap kagum gaun pengantin berekor panjang milik Azzura. “Mas Aidan, besok buat nikahan Mas mending bikin di butik yang sama saja. Lihat nih, sebagus ini. Punya Mas Excel juga beneran enggak mengecewakan!”


“Itu kekuatan duit, Mah! Kalau duit sudah ngomong, apa pun jadi! Dan hasilnya mengecewakan, tukang yang kerja pasti Excel kutuk jadi Ojan!” ucap Azzam.


Azzam menjadi orang paling santuy di sana. “Sudah biasa lihat mereka yang bisa bikin diabetes. Lain kalau lihat sebelah, garis bawah mas Aidan sama si Didi. Duh, bawaannya kalau Didi lagi tantrum, rasanya pingin bikin dia jadi seblak coet!” batinnya.


Akala yang memang berbakat memotret, datang sembari membawa kameranya. Ia siap mengabadikan momen bahagia kali ini. Kakak perempuan dan sang suami tengah bersuka-cita mencoba pakaian pengantin. Semuanya juga ikut bahagia menyaksikannya. Terlebih sejauh ini, keduanya selalu romantis. Excel dan Azzura begitu memegang janji setia mereka, menjalani segala sesuatunya bersama-sama dalam suka maupun duka.


“Adem banget lihat mereka,” bisik ibu Arum yang sudah berdiri di sebelah sang suami. Ia melirik sang suami, menahan senyum haru yang juga sudah membuat kedua matanya berembun, dan pada akhirnya, ia justru mendekap erat sang suami.


“Tahan, Mah ... jangan nangis di depan anak-anak!” bisik pak Kalandra sambil merangkul sebelah tangan sang istri yang masih mendekap tubuhnya.


Ibu Arum yang telanjur berlinang air mata, mengangguk-angguk sambil terus membenamkan wajahnya di bahu sang suami. Perasaannya telanjur campur aduk. Tak semata kisah cinta Azzura yang sebelumnya dan sempat membuat sang putri terlempar ke titik nadir. Melainkan karena beberapa hari terakhir, Excel sempat koma. Ibu Arum sudah sangat takut Excel tidak bangun lagi dan membuat Azzura kembali terlempar ke titik nadir. Beruntung, ketakutan ibu Arum tersebut tidak terbukti. Sebab kini, Excel tampak sangat sehat. Excel sampai menuruti permintaan Azzura yang minta diangkat, poto romantis ala-ala foto prewedding pada kebanyakan.


“Allllaaah!” cibir Azzam merasa iri pada keromantisan Excel dan Azzura.


Ibu Arum yang sudah menyeka air matanya, refleks menertawakan Azzam. Ia mencubit gemas pipi Azzam. “Makanya Mas juga cari calon!”


“Jangan samakan aku sama Ojan, yah, Mah. Aku enggak pacaran-pacaran lagi karena aku milih. Aku bukan Ojan yang kasihan lah kalau dijelaskan. Hahahaha—” Azzam teramat bahagia jika mulutnya memiliki kesempatan untuk menghina orang.

__ADS_1


Pak Kalandra hanya bisa geleng-geleng, dan perlahan tertawa ketika nenek Kalsum mendekap erat kepala Azzam dari bekalang.


“Kamu yah, paling lemes kalau meledek orang!” ujar nenek Kalsum geregetan, tapi yang dipeluk erat hanya terbahak-bahak mirip orang tak berdosa.


“Kalian bilang, mau foto prewedding?” tanya mas Aidan yang baru saja menyimpan ponselnya di saku sisi sebelah kanan celana panjangnya.


“Lusa, Mas. Inu masih siap-siap sambil rehat dulu,” balas Excel.


Mas Aidan yang menyimak berangsur mengangguk-angguk. “Jadi sama Akala, dan Miss Messi, kan?” tanyanya.


“Jadi, Mas. Jadi! Besok yang urus orang-orang sendiri saja. Fotonya pun di pantai Pangandaran saja lah ya. Ambil sunset sama momen pagi. Kalau kurang nanti foto di sawah juga!” ucap Azzura bersemangat. Ini menjadi semangat barunya setelah ia sempat merasa kembali berad di titik nadir gara-gara tragedi yang membuat Excel berakhir koma.


“Oke, oke. Acaranya dua hari, kan? Jadi, dua hari besok, Mas bakalan ambil cuti biar bisa fokus bantu kalian!” ucap mas Aidan.


Mas Aidan langsung menahan tawanya. Ia meraih kedua jempol tangan Azzura. “Mulai sekarang, kamu enggak boleh ngomong gitu lagi, Mbak. Kamu sudah punya suami. Takut suami kamu cemburu!”


“Nah, bener, Mas! Kalau aku lagi peluk mbak Azzura, mas Excel lihatnya lirik-lirik gimanaaaaa gitu. Jadi merasa serem sendiri akunya! Hahahaha!” ujar Azzam yang menjadi sumber berisik di sana.


Azzura yang sadar sang suami menjadi tersipu malu, sengaja memeluknya. Karena melalui pelukan tersebut juga, ia berusaha menenangkan sekaligus melindungi sang suami dari kejahilan Azzam.


“Ini baru satu, nanti kalau semuanya sudah punya pasangan, pasti bakalan lebih seru!” ucap kakek Sana tetap santai menikmati teh hijaunya sambil duduk di kursi kayu yang ada di dekat pintu.


“Papah penasaran sama jodohnya Mas Azzam!” ucap pak Kalandra.

__ADS_1


“Mbah Kakung penasaran sama jodohnya mas Akala!” sergah kakek Sana yang sampai tak jadi menyesap tehnya.


Apa yang kakek Sana katakan membuat semuanya setuju. Karena mereka juga penasaran dengan jodoh Akala.


“Dek, kamu sudah punya pacar belum, sih? Mbak penasaran loh!” ucap Azzura langsung kepo.


Tanpa siapa pun ketahui, Akala yang terus didesak refleks melirik Excel. Detik yang sama, Excel juga meliriknya. Lirikan yang mengandung rahasia besar di antara mereka, dan itu merupakan hubungan Akala dan Cinta.


“Jadi, apa yang bikin dia enggak mau dikenalkan ke keluarga kita, padahal kita kan sudah mengenal satu sama lain. Sudah seperti keluarga,” ucap Excel ketika di malamnya, ia sengaja mendatangi Akala ke kamar.


“Masalah mas Cikho, Mas.” Akala menatap khawatir sang kakak ipar.


Excel yang sengaja duduk di kursi kerja Akala dan keberadaannya tidak begitu jauh dari tempat tidur Akala duduk, berangsur menggeleng. “Itu bukan alasan.” Apalagi Excel tahu, Cinta mau-mau saja diajak jalan oleh Helios.


“Kamu siap menanggung risiko sekaligus konsekuensi dari hubungan kalian, kan?” sergah Excel sambil terus bersedekap.


“Siap, Mas! Apalagi aku juga pengin banget jalani hubungan kami secara nyata. Enggak harus ngumpet terus!” balas Akala sungguh-sungguh.


“Kasus Cikho bukan alasan buat hubungan kalian karena keluarga kalian sudah ikhlas. Itu kasus ibaratnya sudah beres, enggak sepantasnya jadi alasan. Orang tua kalian juga beneran sudah biasa saja,” ucap Excel yang kemudian meminta Akala untuk menemukannya dengan Cinta. “Nanti biar Mas yang ngomong ke dia. Takutnya dia memang sungkan ke keluarga kamu. Namun andai dia masih tetap enggak mau ungkap hubungan kalian, ... kamu wajib mikir ulang. Dia serius senggak ke hubungan kamu. Kamu juga sudah lihat hubungan mas Aidan dan mbak Didi, kan? Mereka pacaran sudah lama. Mas Aidan sudah siap lahir batin, tapi mbak Didi tetap belum mau menikah.”


“Intinya, carilah jodoh yang bikin kita dekat dengan orang tua kita. Cari jodoh yang bisa membuat hubungan kita lebih baik dengan keluarga kita. Terlebih jika orang tua kita baik-baik saja, dan hubungan kita harmonis. Kenapa calon kita masih saja berusaha memisahkan diri, padahal keluarga kita saja welcome banget?” ucap Excel lembut.


Andai tidak memikirkan hati Akala yang begitu lembut, Excel pasti jujur mengenai hubungan Cinta dan Helios. Meski setelah memikirkan itu, Excel jadi memiliki rencana untuk menemui Cinta secara pribadi. Tanpa Akala maupun Helios. Benar-benar pertemuan empat mata antara dirinya dan Cinta.

__ADS_1


__ADS_2