
Baru membuka pintu, Azzura sudah dikejutkan oleh sosok pria berjaket kulit hitam layaknya Excel, dan sudah langsung meno*dongnya dengan pistol.
Deru napas yang memburu diantara buih keringat yang perlahan berjatuhan, menjadi pemandangan mencolok dari pria tersebut.
“Ra ...?”
“Mas Syam?”
Azzura dan pria itu berucap lirih. Buru-buru Syam membawa Azzura keluar.
“Pergi! Ini bukan tempat kamu! Terus, si Excel mana?” Syam masih berbisik-bisik.
“Aman, Mas. Aman. Sini, aku obati Mas dulu!” Azzura mendapati, pinggir leher sebelah kanan Syam yang sobek tapi mirip karena tertembus peluru. Darah segar terus mengalir dari sana.
Syam sudah langsung mundur, menolak bantuan Azzura. Seperti awal ia mengenali wanita itu, ia kembali menyuruh Azzura pergi.
“Enggak, enggak. Mas Excel sudah ada di atas. Sebentar,” sergah Azzura segera membuka ransel gendongnya. Ia mengeluarkan banyak alat sun*tik kemudian mengisinya dengan cairan khusus.
“Bius?” tebak Syam yang memang paham.
Azzura sudah langsung mengangguk-angguk. “Buat jaga-jaga, Mas!” sergahnya memberikan tiga sunt*ikkan berisi sekaligus kepada Syam.
“Ya sudah sana pergi!” lagi-lagi Syam mengusir Azzura.
“Apaan sih! Dari dulu saja, ketimbang Mas, aku lebih unggul dalam urusan bela diri!” lirih Azzura kali ini sewot. Ia segera membereskan ranselnya kemudian menyimpan sunt*ikannya di saku sisi kedua gamis hitamnya.
Syam yang ditinggalkan Azzura, susah langsung geleng-geleng. Segera ia menyusul Azzura dan siaga mengawasi sekitar sambil terus memegang pist0lnya menggunakan kedua tangan.
__ADS_1
“Azzura enggak ada takut-takutnya. Dia malah lepas jaket gitu,” batin Syam kembali geleng-geleng. Ia sengaja mendahului Azzura karena ia yakin, Azzura belum paham tata letak ruangan di sana termasuk keberadaan Helios disekap.
Tak banyak protes, Azzura sudah langsung mengikuti Syam. Betapa terkejutnya Azzura ketika mendengar keramaian di lantai atas.
“Anggota kalian sudah kumpul?” tanya Azzura berbisik-bisik.
“Boro-boro. Ada tiga, tapi semuanya terluka parah dan ikut disekap di atas. Rombongan lawan yang tiba-tiba datang, jumlahnya ada dua puluh lima orang lebih!” sergah Syam.
“Bantuannya kapan datang?” sergah Azzura.
Kali ini Syam tak langsung menjawab dan memang tidak bisa menjawab.
“Mas ...?” tagih Azzura.
“Enggak yakin ....” Ia menatap Azzura dengan tatapan putus Azzura.
“Mas ...?!”
“Disita juga, di ruang kerja Ketua. Ketua akan dibakar hidup-hidup andai Excel enggak menyerahkan diri!” ucap Syam berat dan sudah langsung menangis.
“Berarti mas Excel? Suamiku berjuang sendiri?!” sergah Azzura merasa putus assa. Buru-buru ia naik ke lantai atas, tapi ia sengaja kembali dan mengambil pistol Syam.
“Ra!” lirih Syam yang sebenarnya sudah ingin berteriak. “Lebih dari dua puluh lima lawan, sedangkan stok senja*ta juga sudah sampai disita?! Suamiku bisa apa?” uring Azura dalam hatinya. Ia sampai mengomel kepada Syam agar pria itu segera ikut. “Kamu enggak akan mati asal kamu geraknya cepat! Seenggaknya walau enggak bisa nye-rang, adanya kamu bisa membantu mengecoh konsentrasi mereka. Syukur-syukur kamu bisa meny*untikkan cairan tadi ke ketua mereka. Incar ketuanya, apa pun yang terjadi!”
Syam yang lagi-lagi menangis, mengangguk-angguk. Azzura tahu, mental Syam memang sepayah itu. Bahkan Azzura yakin, alasan Syam ikut-ikutan jadi mafi*a karena pria itu hanya ingin mengabdi kepada Helios.
Mengendap-endap mereka menuju lantai atas. Lantai yang masih cenderung sunyi dan sesekali dihiasi suara bentakan sekaligus mak*ian. Sosok tersebut membentak-bentak Helios, menyebutnya si buta atau malah si buru*k rupa.
__ADS_1
“Ketuanya yang mana?” bisik Azzura masih mengawasi dari anak tangga menuju lantai Helios berikut stok senja*ta diamankan.
Tak beda dengan mafi*a Excel, mafi*a lawan juga memakai jaket kulit hitam. Nyaris tidak ada yang bisa dibedakan karena topi yang melindungi kepala sekaligus sebagian wajah mafi*a lawan juga masih serba hitam.
“Polet merah, itu seragam mereka. Punya mereka ada merah-merahnya. Sementara pimpinannya, itu ... yang gondrong, yang bangun ...,” ucap Syam menjelaskan tapi tak kuasa melanjutkan.
Namun yang Azzura tangkap, di sana hanya ada satu pria gondrong, dikuncir dan awalnya duduk di kursi megah dan Azzura yakini itu kursi Helios. Namun kini, sosok tersebut sudah langsung mengin*jak kepala Helios yang masih diperban. Pantas Syam langsung emosi dan tak segan maju setelah merebut pist0lnya dari Azzura.
Syam sudah langsung melesatkan pelurunya ke sosok pria gondrong dan Azzura yakini sebagai ketua dari lawan. Namun, pria gondrong itu lebih dulu menyadari dan berhasil menghindar. Kali ini, giliran Syam yang sudah langsung diincar. Azzura yang menyadari itu langsung menyusul Syam, menjadi bagian dari sosok yang diincar moncong pist0l oleh dua puluh lima mafi*a lebih yang ada di sana.
“Jangan serang tubuh bagian atas mereka karena mereka memakai pakaian anti peluru!” bisik Syam. Syam yakin, meski Azzura tetap diam, Azzura yang berdiri di belakang punggungnya sudah langsung paham.
Azzura dapati, ketiga sandera dalam keadaan terluka parah, dan ketiganya sudah tak sadarkan diri tak jauh dari Helios terkapar. Kedua tangan Helios diikat ke belakang, begitupun dengan kedua kakinya. “Mas Excel di mana?” batin Azzura yang menatap siaga ke sekitar.
“Aaaaahhh!” teriak si pria gondrong kesakitan setelah sebuah belati tertancap di lehernya. Kedua tangannya sudah langsung memegangi belati, tanpa berani mencabutnya. Darah segar terus keluar dari sana.
Detik itu juga semua pist0l yang awalnya diarahkan kepada Syam dan Azzura, berganti arah dan langsung ditembakkan ke langit-langit sumber belati melesat. Suasana sudah langsung ramai, pecah oleh suara pertem*puran.
Azzura yakin pelakunya Excel. Karenanya, ia sengaja memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghampiri ketua lawan. Ada yang sudah langsung menolong ketuanya. Ada dua mafi*a dan tak segan menemb*aki Azzura. Namun Azzura menghalau setiap temb*akkan menggunakan jaket kulit yang sempat ia pakai.
Azzura melakukan segala sesuatunya dengan sangat cekatan dan benar-benar gesit. Helios yang menyaksikannya, nyaris jantungan. Susah payan Helios mencoba bangkit dan bermaksud melindungi Azzura, tapi Helios yang sudah berdarah-darah sungguh tak berdaya. Karena sekadar mengangkat kepala saja, Helios tak bisa.
Karena setiap peluru berhasil Azzura tepis, dua mafi*a yang berusaha melindungi sang ketua dan menjadi lawan Azzura, sengaja mengeluarkan belati, pisau, bahkan celurit. Jantung Azzura nyaris loncat mendapati semua itu bersama rasa takut yang tiba-tiba hadir dan sudah langsung membuat nyalinya menciut.
Azzura tahu dirinya harus melindungi dirinya sendiri. Karena selain semuanya sibuk menyelamatkan diri dengan pertahanan ala kadarnya, adanya ia di sana juga masih karena ia yang mau.
“Raaaaaaa!” Helios meraung-raung lantaran Azzura yang awalnya cekatan, mendadak mirip patung. Padahal dua buah celurit, dan juga dua buah belati, sudah mengarah ke Azzura.
__ADS_1