Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
58 : Ibadah


__ADS_3

“Bukan Ojan namanya kalau enggak bikin masalah dan bikin yang lain susah!” ucap Sepri benar-benar kesal.


Sepri berangsur melepas kepergian Excel dan Azzura hingga depan pintu ia dan Ojan menginap. Di dalam kamar juga ada dokter Andri dan ibu Septi yang langsung berdatangan setelah mengetahui kabar terbaru pak Haji Ojan. Excel terus tersenyum ramah kepadanya sembari menenteng tas kerja Azzura.


“Aku Ojan, kan?” tanya pak Haji Ojan merasa linglung.


“Ya iya, kamu Ojan, memang siapa lagi?” ibu Septi nyaris kehilangan kesabaran. Andai sang suami tak ada di sana, sudah ia lipat tubuh pak Haji Ojan kemudian memasukkannya ke dalam koper sebelum akhirnya ia buang ke sungai. Hanya saja, dokter Andri begitu sabar menghadapi pak Haji Ojan.


“Aku bukan Ojan, ih!” yakin pak Haji Ojan lagi sambil meraba-raba kepalanya yang masih terbungkus perban, menggunakan kedua tangan.


“Kalau bukan Ojan, memangnya kamu siapa?” tanya dokter Andri sangat sabar, dan sampai jongkok di hadapan pak Haji Ojan yang duduk di pinggir tempat tidur.


“Nicolas Saputra!” balas pak Haji Ojan dengan santainya.


Dokter Andri sudah langsung mesem. Lain dengan ibu Septi yang langsung berkata, “Nicolas Saputri, iya!”


Sadar sang istri sudah sangat sewot karena terlalu lelah, dokter Andri mengelus-elus sebelah lengan ibu Septi. Namun perlahan ia juga berdiri, mendekap tubuh istrinya itu penuh sayang, sambil sesekali berbisik, memintanya untuk kembali bersabar.


Awal keluar dari kamar hotel Sepri dan Ojan menginap, Azzura dan Excel tak bergandengan. Namun setelah Excel mendengar suara pintu kamar yang baru mereka tinggalkan akhirnya ditutup, di tengah suasana lorong hotel yang benar-benar sunyi, Excel mengulurkan tangan kirinya kepada Azzura yang melangkah di sebelahnya. Meski Azzura kembali terlihat gugup, wanita itu tersenyum kemudian balas mengulurkan tangan kanan yang juga langsung ia genggam.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, Excel merapatkan tubuhnya pada Azzura. Mereka memasuki lift, dan di dalam lift, ia sengaja menyandarkan kepalanya kepada Azzura. Azzura tersenyum dan menjadi tersipu dengan ulah Excel yang baginya benar-benar manis.


“Mau mandi dulu apa bagaimana?” tanya Excel sambil melirik Azzura. Tanpa menatapnya, Azzura mengangguk-angguk dan mereka langsung keluar dari lift karena pintu lift sudah terbuka.


“Mandi, salat dulu, takut bablas.” Kali ini, Azzura yang bertutur lirih, sampai menatap Excel yang tak lagi menyandarkan kepala, ke kepalanya.


Excel langsung mengangguk-angguk setuju, meski ketika Azzura meminta ia menjadi imam, ia langsung bingung.


“Asli aku belum pernah. Nanti kalau aku salah, gimana?” Excel benar-benar gugup bahkan takut.


Azzura yang tak mau Excel makin terpuruk, terus merasa tak pantas, sengaja memeluk Excel. “Nanti belajar pelan-pelan. Banyak panduan belajar gr*atis kok di internet. Nanti aku bantu. Oh iya, luka-luka Mas kan masih basah. Kau seka saja, ya?” Azzura mengakhiri ucapannya dengan tersenyum manis.


Excel tidak bisa menjawab. Pesona Azzura terlalu menggoyahkan kehidupannya. Malahan tiba-tiba saja, ia takut melukai, atau malah menoda*i keindahan Azzura andai ia menyentuh bahkan lebih kepada Azzura. Walau pada kenyataannya, bibirnya begitu sulit ia kontrol agar diam. Bibirnya begitu sibuk mengabsen kening dan juga kepala Azzura.


Beberapa saat kemudian, Azzura sudah langsung menyeka Excel. Hanya tubuh bagian atas, sisanya Excel membersihkannya sendiri di kamar mandi, meski Azzura wanti-wanti agar Excel tidak mengguyurnya terlebih dulu.


“Luka Mas beneran masih basah. Nanti wajib rehat ya. Harus sabar karena kita enggak mungkin bawa itu ke rumah sakit umum. Kalau sampai iya, pasti mereka curiga macam-macam. Oh, iya ... nanti kita minta bantuan pakde Andri. Kok aku lupa kalau kita bisa mengandalkan Pakde Andri!” Azzura bawel mengikuti Excel masuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi yang luas dengan penerangan penuh dan sepanjang dindingnya merupakan kaca sekaligus marmer, Excel menghentikan langkahnya. Ia yang awalnya melangkah di depan berangsur balik badan hingga selain menghadap Azzura, ia juga menatap wanita itu.

__ADS_1


“Mau mandi bareng?” tanya Excel masih dengan suara lirih sekaligus santai.


“Hah?” Tiba-tiba saja, Azzura merasa dirinya menjadi manusia paling bo*doh. Bahkan Azzura yakin, tampangnya sudah sangat membuatnya terlihat bo*doh. Barulah ketika Excel tersenyum lepas, ia mendengkus sebal kepada suaminya.


“Ya enggak apa-apa, sudah menikah. Bahkan memang bagian dari ibadah, kan, ya?” ucap Excel bersemangat.


Azzura sudah langsung menatap tak habis pikir sang suami. Ia bahkan menertawakan pria ya g baru menikahinya itu. “Giliran urusan begitu, bilangnya ibadah. Nah giliran jalan, masih sering ditinggal!”


“Namanya juga laki-laki!” lirih Excel sambil tersenyum pasrah. “Serius, aku masih normal. Walau kalau sudah kerja, aku sendiri sadar, aku mirip robot yang mewajibkan diri menjadi yang terbaik!”


Azzura tahu Excel jujur. Karena selama mengenal Excel, pria itu memang akan mirip robot jika sudah bekerja. Sangat tanggung jawab. Alasan yang juga membuat kedua tangannya membingkai wajah Excel. Ia masih menengadah hanya untuk menatap wajah tampan suaminya, tanpa bisa menyudahi senyumnya.


“Aku merasa sangat beruntung punya Mas, yang memang sangat tanggung jawab,” ucap Azzura lembut. Berkaca-kaca ia menatap setiap inci wajah sang suami sebagai wujud dari rasa syukurnya.


Menggunakan kedua tangannya, Excel meraih kedua tangan Azzura. Ia mengusapnya lembut. “Aku pastikan, semuanya akan seperti maumu. Walau mungkin tidak bisa sepenuhnya bebas, aku pastikan akan mencari pekerjaan halal untuk kita. Aku akan bilang ke Helios, bahwa aku hanya akan ikut membantu seperlunya karena aku ingin fokus ke kita.”


Apa yang Excel katakan sudah langsung mengaduk-aduk emosi Azzura. Hati Azzura terenyuh dan bersamaan itu, air matanya lolos tanpa bisa ia tahan.


Setelah Excel menyeka sekitar mata Azzura dengan sangat hati-hati, pria itu berangsur melepas cadar yang melindungi wajah sang istri. Excel menatap setiap inci wajah sang istri penuh rasa kagum. Tak beda dengan Azzura, ia juga menatap wajah itu penuh rasa syukur.

__ADS_1


“Cantik banget!” lirih Excel yang benar-benar ingin menjerit saking bahagianya.


Azzura yang masih berlinang air mata langsung tersenyum bahkan tersipu.


__ADS_2