Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
61 : Dini Hari yang Mendebarkan


__ADS_3

Dini harinya, Excel yang hanya memakai celana boxer, mondar-mandir di depan kolam renang hotelnya menginap. Tangan kanan Excel masih menempelkan ponsel ke telinga kanan. Azzura yang baru keluar dari kamar mandi sambil menyeka wajah menggunakan handuk kecil, sudah langsung khawatir. Ia tak segan menghampiri sang suami yang mirip seterika ketiga dipakai untuk kejar target.


Azzura tahu, posisi Excel membuat suaminya itu bekerja tanpa kenal waktu. Termasuk juga sekarang, walau sudah pukul dua pagi. Masih saja ada yang dihubungi dan bagi Azzura lebih membahayakan dari pelak*or.


Sadat sang istri yang mendatangi sengaja menghakiminya lewat tatapan serius, Excel sengaja menyudahi kesibukannya. Ia menghampiri Azzura. “Aku, pergi sebentar, ya?”


“Aku ikut!” Azzura sungguh tidak menerima penolakan, bahkan walau sang suami sudah langsung memberinya tanggapan penolakan.


“Mas bilang, Mas percaya ke aku? Aku beneran enggak akan merepotkan Mas.” Azzura menatap sedih Excel.


Excel menghela napas dan berusaha jauh lebih rileks, sabar menghadapi sang istri. “Ini masih yang tadi. Aku ingin membahasnya dengan Helios, tapi semua pesan dan juga teleponku enggak ada yang diangkat. Aku khawatir!”


“Ke Syam!” balas Azzura.


“Sudah, Sayang!” Excel meyakinkan.


Azzura tak kehabisan akal. “Ke anggota yang lain.” Karena Excel berdalih sudah melakukannya juga, Azzura curiga, “Jangan-jangan, mereka sudah membuang Mas.”


Excel langsung menggeleng. Sambil melangkah meninggalkan Azzura, ia berkata, “Selama aku hidup dan aku masih bisa dimanfaatkan, mereka enggak akan membuangku. Bagaimanapun hubungan kami sebelum ini. Ya sudah kamu ikut. Pakai pakaian tertutup jangan itu.”


Disindir pakaian, Azzura refleks menatap dadanya. Walau sebenarnya, tatapannya sudah langsung mengawasi penampilannya. Ia masih memakai gaun malam tidak begitu panjang warna putih dan memang transparan. “Yang benar saja aku keluar dari kamar masih begini. Ke Mas saja sebenarnya aku masih malu.” Kali ini ia mengomel kepada sang suami yang langsung ia susul, tapi Excel malah menertawakannya.


“Aku juga enggak mungkin biarin kamu keluar kamar, atau sekadar biarin orang lain lihat kamu seperti itu!” ucap Excel di sela tawanya. Ia sampai merangkul gemas tubuh Azzura, meski dering telepon masuk dari Syam sudah langsung membuatnya terusik.

__ADS_1


“Shine,” ucap Excel membaca nama kontak yang menelepon dan memang menghiasi layar ponselnya.


“Mas Syam?” tanggap Azzura memastikan bahwa orang yang mereka maksud masih sama.


Excel mengangguk-angguk dan langsung izin menjawab telepon Shine atau itu Syam, meski ia menjawabnya tetap di hadapan Azzura.


“Shine ...?”


“X-xel, markas dikepung! Ketua ... dia disandera di dalam. Aku sengaja kabur buat hubungin kamu dan tunggu anak-anak datang!”


Suara Shine yang menahan ketakutan mendalam, sudah langsung membuat jantung Excel bahkan Azzura kacau.


“Aku mau langsung balik ke dalam buat bantu Ketua. Aku mohon, cepat datang, Xel!”


“Pegangan yang kenceng, sekencang-kencangnya!” tegas Excel sampai berseru lantaran kini ia sudah membuat motornya melaju dengan kecepatan penuh.


Suasana jalan dini hari yang cenderung sepi membuat Excel menerobos keheningan jalan dengan leluasa. Walau di beberapa kesempatan, pengemudi lain juga langsung memberinya klakson keras dan Excel sadar, semua itu karena dirinya mengemudikan motor mirip kilat, benar-benar cepat. Sesekali, Excel akan meraba kedua tangan Azzura yang mendekap pinggangnya sangat erat dan selalu ada di perutnya. Jika kalian bertanya bagaimana keadaan Azzura dibawa naik motor rasa terbang layaknya sekarang, wanita itu mengakui, perutnya mendadak mual mirip diaduk-aduk.


“Mungkin seperti ini yang mas Azzam rasakan ketika dia mabook kendaraan!” batin Azzura. Demi keamanan bersama, ia sampai menduduki jilbab dan juga sebagian pakaiannya, selain ia yang sampai memakai celana panjang menutupi mata kaki, sebagai **********.


“Sepertinya yang dari tadi mengawasi sengaja memantau, aku ke sana enggak dan ... akhirnya kejadian,” pikir Excel.


“Mas, sepertinya mereka tahu kalai mas Heri sedang sakit dan memang belum pulih!” seru Azzura. Ia sampai berteriak di sebelah telinga kanan Excel yang tertutup rapat oleh helem. Namun, Excel berangsur mengangguk-angguk.

__ADS_1


“Pasti ... pasti mereka tahu. Namun yang terpenting sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa secepatnya sampai!” balas Excel.


“Bismillah, Mas!” sergah Azzura seiring ia yang mengeratkan dekapannya. Baru saja, mereka menerobos lampu merah dan Excel nyaris menabrak ambulans yang sedang beroperasi. Pengemudi di ambulans yang mereka lewati sudah langsung melongok dari jendela pintu sambil mencaciii.


“Ini, ... sebenarnya apa yang aku dan mas Excel lakukan, kurang ajjar banget, tapi kok seru, ya?” lirih Azzura dan tak sampai terdengar oleh Excel.


“S-sayang, apa pun yang terjadi nanti, kamu harus bisa melindung diri!” tegas Excel masih berseru.


Walau sadar sang suami tak mungkin melihat, Azzura sudah langsung mengangguk-angguk. “Kita lewat depan?”


“Kalau kita lewat depan namanya bunuh diiri. Kita lewat pintu rahasia. Aku targetkan, enggak sampai setengah jam lagi kita sampai.”


“Semoga semuanya baik-baik saja, Mas!”


“Kalau Helios hanya dis*andera, berarti yang mereka incar bukan dia, melainkan aku!”


Apa yang baru saja Excel katakan sudah langsung membuat hati Azzura kacau. Lebih kacau lagi, setelah sampai lokasi, Excel tak segan memanjat gedung. Suaminya itu mirip pasukan ninja yang dengan cekatan bisa melangkah di udara. Excel sudah ada di genteng gedung markas mafi*anya. Dan sesuai rencana, mereka tidak lewat pintu depan, melainkan belakang gedung yang berupa sedikit pekarangan sementara di bawahnya merupakan sungai. Ke sana saja, mereka tak memakai motor. Mereka menyeberang menggunakan perahu kayu kecil, mirip adegan petualang di sebuah drama aksi.


Azzura membekap mulutnya yang tertutup cadar, menggunakan kedua tangan. Ia berlinang air mata melepas Excel. Di atas sana, sang suami menatapnya sambil mengangguk-angguk, memintanya menjadi wanita tangguh karena menjadi istri Excel sang mafi*a, juga merupakan keinginan Azzura.


Menahan sesak di dadanya yang sudah sangat bergemuruh, Azzura akhirnya mengangguk-angguk. Ia memberikan sepasang hati yang ia bentuk menggunakan kedua tangannya, sebagai bentuk dukungannya kepada sang suami.


Di atas sana, masih berdiri sekaligus berpegangan di genteng mirip ninja, Excel mengangguk-angguk. Ia melakukan gerakan dagu agar Azzura masuk lewat pintu rahasia yang ada di hadapan wanita itu. Pintu rahasia yang kuncinya juga sudah ia serahkan kepada Azzura.

__ADS_1


__ADS_2