
Excel tersenyum hangat sambil duduk di sebelah sang istri. Ia melepas peci hitam dari kepalanya yang masih agak basah, kemudian membiarkan sang istri untuk mengeringkan kepalanya menggunakan handuk.
“Besok sesar, ya? Besok tepat dua minggu dari HPL, kan?” lembut Excel. Ia menengadah hanya untuk menatap wajah Azzura, sementara kedua tangannya membingkai perut sang istri yang sudah sangat besar.
“Yang di perut masih sehat, Mas. Masih aktif, air ketuban masih cukup. Percaya deh, lusa, pagi-pagi anak kita keluar tanpa sesar. Percaya ke aku!” yakin Azzura tak kalah lembut.
“Masalahnya sama sekali enggak ada kontraksi,” bujuk Excel masih lembut.
“Lahirannya saja lusa. Kalau lahirannya lusa tapi sudah kontraksi dari sekarang, yang ada tersiksa, Mas. Percaya deh ke aku, Mas tenang saja. Aku sama kembar baik-baik saja!”
“Tapi kalau lusa pagi tetap belum, kita langsung ke rumah sakit buat sesar, ya?” Excel benar-benar memohon. Ia berangsur berdiri kemudian membingkai wajah sang istri menggunakan kedua tangan.
Azzura yang tak memakai cadar maupun jilbab, berangsur menunduk. “Doain biar enggak sampai sesar.”
“Selalu!” yakin Excel lembut kemudian mendekap sang istri penuh sayang. “Bagaimanapun proses kelahiran seorang bayi, seorang ibu pasti selalu berusaha memberikan yang terbaik. Enggak ada kasta-kastaan!”
“Bukan itu, Mas. Aku beneran pengin lahiran normal karena itu memang cita-citaku. Lahiran normal, didampingi Mas. Rasanya sempurna banget perjalanan hidup kita. Namun andai Mas merasa sesar lebih baik, ya sudah besok pagi kita ke rumah sakit. Aku buat pendaftaran dulu ke temenku yang kerja di sana.” Azzura mengalah, tak mau membuat sang suami makin mengkhawatirkannya.
Karena walau sudah menyanggupi mau menjalani sesar, nyatanya Excel tetap tidak tidur. Suaminya itu sama sekali tidak tidur. Mondar-mandir di sebelah tempat tidur, salat malam, kemudian mengaji dengan suara lirih sambil memegangi perut Azzura.
“Ya Alloh, hamba benar-benar sudah tidak pernah membunuh orang. Sekadar melukai pun, harusnya tidak. Tolong lancarkan, beri hamba dan keluarga hamba jalan menuju ridho-Mu,” batin Excel yang kemudian ketiduran, meringkuk mendekap perut Azzura.
Azzura yang hanya pura-pura tidur, menjadi berlinang air mata. Azzura menatap sedih keadaan sang suami yang tampak begitu frustrasi. Azzura yakin, lagi-lagi sang suami menyalahkan dirinya sendiri atas kesulitan maupun kesedihan yang menimpa mereka.
“Mmm, mules. Pengin BAB, apa ini kontraksi, ya?” pikir Azzura segera menyeka air matanya karena kepergiannya ke kamar mandi otomatis akan mengusik Excel.
“Kenapa?” lembut Excel yang akhirnya terbangun.
“Pengin BAB,” lirih Azzura merengek.
__ADS_1
Excel mengangguk-angguk dan langsung sigap membopong sang istri. Awal yang sebenarnya membuat mereka tak percaya lantaran tanpa sakit berarti, Azzura sudah mengalami pembukaan nyaris sempurna. Mules yang Azzura rasa bukan karena wanita itu mau BAB, melainkan karena kontraksi.
“Tolong bawa aku ke klinik, Mas. Ke klinik, sekarang!” girang Azzura sama sekali tidak merasakan sakit berarti dari sebuah kontraksi.
“Ke rumah sakit saja, malam ini enggak ada dokter jaga karena yang jaga memang kamu. Jadi memang hanya ada perawat!” sergah Excel.
“Ya sudah, Mas. Bangunin papah mamah.” Azzura Heboh saking bahagianya lantaran kenyataannya yang sudah mengalami pembukaan nyaris sempurna akan membuat kekhawatiran seorang Excel berangsur berkurang.
Tak lama kemudian, pintu kamar mas Aidan terbuka, kemudian pintu kamar Akala, disusul juga pintu kamar Azzam. Sebab kenyataan Azzura yang tak kunjung melahirkan memang membuat semuanya khawatir hingga tidur pun meraka tidak nyenyak bahkan tidak bisa.
“Ini mau lahiran?” Azzam sangat antusias. Lebih bahagia lagi lantaran Azzura begitu kegirangan, tampak sehat tak ada rasa sakit berarti. Akhirnya yang mereka tunggu-tunggu akan lahir juga!
“Sudah ... sudah. Kalian berdua enggak usah repot-repot. Biarkan Mas Bujang yang bantu-bantu!” Azzam benar-benar bersemangat, tapi ia langsung melow ketika istri kedua saudara laki-lakinya menyusul keluar dari kamar.
“Ya ampun, cuma dari kamarku yang enggak keluar istri,” keluh Azzam sambil melangkah lebih dulu mendahului Excel yang membopong Azzura.
Semuanya termasuk Azzura yang kadang meringis, kompak menertawakan Azzam. Dan walau hanya Azzam yang menemani Excel bersama para orang tua, saudara yang ditinggal yaitu mas Aidan dan Akala berikut istri mereka, kompak mengantar hingga depan gerbang.
Azzam dan Excel memang membawa mobil berbeda. Azzam ditugasi mengangkut kakek neneknya yang memaksa ikut karena ingin menyaksikan persalinan Azzura. Keduanya ingin mendukung Azzura secara langsung lantaran walau kehamilan Azzura yang sebelumnya keguguran, anak yang akan Azzura lakukan tetap menjadi buyut pertama mereka. Terlebih, usia kandungan Azzura yang sudah lewat HPL menjadi kecemasan tersendiri untuk mereka.
“Bismilah,” lirih nenek Kalsum yang sedari awal keberangkatan sudah sibuk berdzikir.
Sampai di rumah sakit, Excel meninggalkan mobilnya begitu saja di depan pintu masuk. Excel begitu bersemangat membawa Azzura langsung ke ruang bersalin. Azzam lah yang mengurus mobil dan juga keperluan lain termasuk menuntun kakek neneknya lantaran mereka tertinggal rombongan.
“Aku senang banget, Mas!” ucap Azzura.
Excel yang merebahkan tubuh Azzura dengan hati-hati, mengangguk-angguk. “Aku lebih dari bahagia. Bahagia banget!”
“Makanya Mas jangan khawatir lagi, ya!” mohon Azzura berkaca-kaca menatap suaminya.
__ADS_1
Excel tak kuasa menjawab dan malah tersedu-sedu. Ia membiarkan Azzura membingkai wajahnya kemudian mengabsen wajahnya melalui kecupan. Azzura melakukan itu di hadapan semuanya karena persalinan memang akan langsung dilakukan.
“Persis seperti Mamah mau lahirin Mas Azzam dan Mbak Azzura, Papah Kala juga gini. Sampai anak-anak sudah keluar pun, Papah kalian masih nangis!” kenang ibu Arum yang jadi bernostalgia lantaran pemandangan di hadapan mereka sangat mirip dengan masa lalunya dan sang suami.
Ibu Arum merangkul Excel penuh sayang. “Ayo, Mas. Semangat! Anak-anak sudah mau keluar. Dari kemarin sudah ditunggu-tunggu, kan! Ayo, anak-anak juga pengin dijagain sama papahnya!” Ia sengaja memberi semangat sebelum mundur dan membiarkan dokter berikut timnya, membantu Azzura menjalani persalinan.
“MasyaAlloh, kepalanya sudah keluar!” ucap dokter wanita yang membantu Azzura.
Mendengar itu, Azzura dan Excel refleks bertatapan, bertukar senyuman sekaligus kebahagiaan.
Hanya dalam hitungan menit, Azzura berhasil melahirkan anak pertamanya. Tangis bayi berjenis kelamin perempuan itu memecahkan ketegangan di sana. Yang di luar dan memang menunggu, sudah langsung tersenyum semringah. Ibu Arum dan keluarganya menebak-nebak perempuan atau laki-laki dulu yang keluar. Pak Kalandra dan ibu Arum menebak perempuan, seperti proses persalinan saat ibu Arum melahirkan Azzura dan Azzam. Sementara sisanya menebak, anak pertama Azzura dan Excel laki-laki.
Selang dua menit kemudian, tangis bayi lain kembali terdengar dari dalam. Menandakan si kembar yang mereka tunggu-tunggu sudah lahir semua.
Terlalu bahagia, Excel langsung mendekap erat sang istri. Ia yang belum bisa mengakhiri air matanya, mengunci ubun-ubun istrinya menggunakan ciuma*n dalam.
“Mas, adzani anak-anak,” ucap Azzara lembut. “Di dekat aku,” pintanya lagi dan langsung mendapat anggukan sanggup.
“Mah, Pah, kembarnya mirip banget,” lapor suster yang menunjukkan kedua bayinya.
“Tapi cewek cowok, kan, Sus?” tanya Excel memastikan.
Dua suster yang mengemban bayinya, mengangguk-angguk. Kedua bayi yang masih sibuk menangis itu memang sangat mirip walau jenis kelamin keduanya berbeda.
“Mirip kita yah, Mas!” lirih Azzura ceria.
Excel yang awalnya fokus memandangi wajah anak-anaknya, berangsur menatap sang istri. “Perpaduan banget!” balasnya lirih benar-benar merasa bahagia.
“Biar mamah papahnya enggak iri, jadi perpaduan!” balas Azzura yang kembali memeluk manja tengkuk suaminya.
__ADS_1
Bayi mereka akan langsung dibersihkan sebelum diadzani oleh Excel, selain Azzura yang juga langsung dibersihkan. Excel terus menemani Azzura sembari membisikkan kata terima kasih sekaligus sayang sebagai wujud dari rasa syukurnya atas hubungan mereka.