Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
96 : Jodohnya Mas Aidan


__ADS_3

Keadaan Excel beranjak membaik. Walau Excel benar-benar melupakan apa yang membuatnya berakhir koma, semua keterangan dari Azzura berikut orang-orangnya, ditambah bukti rekaman CCTV, sudah membuat Excel percaya.


Excel langsung maju memperjuangkan keadilan yang selama ini sudah sangat ia perjuangkan. Mengurus segala sesuatunya dengan dukungan penuh karena sampai detik ini, masyarakat luas juga masih mengawal kasus yang bergulir.


Jagat internet sudah telanjur ramai menjadi saksi sekaligus menghakimi perbuatan keji Angel sekeluarga. Tak jarang, jari-jari mereka meninggalkan komentar yang membuat Angel ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Terlebih wanita manja itu terbiasa diagung-agungkan, tapi mendadak terus dise*rang. Meski tentu saja, alasan itu terjadi karena bor*ok Angel di masa lalu dan memang sampai disertai jejak. Sebab saat Angel tengah kebut-kebutan dalam keadaan mabu*k, sebelum akhirnya menabrak ayahnya Excel, juga masih abadi di i*nstagram pribadi. Adegan itu sungguh ada, walau adegan menabraknya, Angel tulis sebagai lelucon. “Nyeruduk bakso satu gerobak! Hahaha!” tulisnya hingga jemari masyarakat yang menyaksikannya dan menjadikannya sebagai salah satu alat bukti, benar-benar geram.


“Kalau memang butuh apa-apa, kabari saja yah. Kalau memang masih lama di Jakarta, nginep di rumah orang tuaku saja. Atau kalau kalian sungkan gara-gara hubungan kalian dengan Chiko, ya sudah senyamannya. Menginap di hotel apa bagaimana. Namun kalau memang butuh bantuan kabari.” Hari ketiga menemani Azzura dan Excel di markas, Chole memutuskan untuk pamit. Ia sudah dijemput oleh Chalvin. Kakaknya itu baru saja turun dan sudah langsung memeluknya erat, mengaku rindu karena selama Chole pergi, rumah bahkan hatinya jadi sepi.


“Chole terbiasa diperlakukan lembut selembut-lembutnya, Mas Helios. Namun bukan berarti dia enggak tahu diri. Buktinya tadi, mas Chalvin ngaku gitu. Tapi aslinya mas Chalvin memang sering bilang gitu. Andai Chole bukan adiknya, sudah langsung dia nikahin, katanya,” ucap Azzura sambil melepas kepergian mobil sport berwarna hitam di hadapan mereka. Chalvin sendiri yang langsung mengendarai mobil gede tersebut.


“Ini maksudnya apa?” sergah Helios dingin.


“Siapa tahu jodoh,” ucap Azzura langsung blak-blakan.


Ketika Helios sudah langsung kebingungan, Excel yang masih diinfus tapi sudah bisa berjalan kaki dengan leluasa, berkata, “Kebagusan sih. Masa pemarah seperti Helios dapat Chole?”


“Justru ini yang dinamakan paket komplit, Mas. Biar enggak spaneng. Yang satu tukang marah, satunya lagi tukang meredam marah karena wanitanya memang susah marah,” balas Azzura.


“Aku tetap enggak setuju. Yang ada nanti Chole jadi korban KDRT. Kecuali kalau yang jodoh sama Chole itu Heri. Atau Helios jadi sosok yang lebih manusiawi. Tiap saat hanya marah-marah. Chole sekadar napas di sebelahnya saja, buat Helios itu salah!” sewot Excel.


Helios makin tidak mengerti, kenapa dirinya mendadak dijadikan terdakwa tunggal di sana?

__ADS_1


Azzura yang masih mendekap lengan kanan Excel menggunakan kedua tangannya, menjadi tertawa. Ia melongok Helios yang berdiri di sebelah Excel. “Jujur yah, Mas. Sebagai wanita yang jauh lebih paham perasaan, sebenarnya bagiku Mas sudah ada rasa ke Chole. Chole geser dikit saja sudah langsung diam-diam Mas amati. Chole enggak ada sudah langsung Mas cari. Dalihnya karena Mas khawatir dia bikin rusuh, padahal—”


“Rindu!” ucap Excel sengaja melanjutkan ucapan istrinya.


Helios yang gerah dengan sindiran pasutri di sebelahnya berangsur menghela napas dalam. “HAH!” kesalnya memutuskan pergi dari sana, tapi tetap saja kedua sahabat yang ia tinggalkan rutin meledeknya. Seolah semua tentang Chole sudah menjadi nyanyian wajib untuk Helios dengarkan.


Hari ini juga, mereka memang akan langsung ke Jakarta. Keluarga besar Azzura sudah menunggu di kediaman paman Lim. Karena demi mendukung Excel dan Azzura dalam menghadapi kasus, mereka sengaja meluangkan waktu khusus.


“Chole sudah pergi?” ujar mas Aidan yang baru saja keluar dari markas.


Mas Aidan melangkah dengan sangat buru-buru, tapi Azzura dan Excel langsung menatapnya dengan tatapan miris. Karena yang mereka tahu, dari tadi mas Aidan terlalu sibuk menghadapi kemarahan Divani yang rindu, meminta waktu mas Aidan secara khusus.


“Kalau Mas memang enggak bisa didik Didi, sudah putusin saja. Beban banget soalnya. Aku enggak tega lihatnya!” sergah Azzura yang sudah langsung merasa sangat sesak hanya karena membahasnya.


“Wajib mas Azzam sih yang ceramah ke Mas. Sekalian ceramah ke Didi juga!” sebal Azzura, tak rela kakaknya yang sangat baik sampai mirip kacun*g bahkan penjahat di mata seorang Divani. Hingga tiap saat berkomunikasi nyaris selalu saja wajib ada bentakan.


“Mas harus cari yang seperti Mbak Azzura bahkan bila perlu lebih sabar,” ucap Excel sambil menatap teduh sang kakak ipar.


“Eh, Sayang, ... kok kamu bilang begitu berarti bagi kamu, aku kurang sabar?” heran Azzura.


“Sudah ... sudah, yang ada nanti kalian malah ikut berantem,” ucap mas Aidan langsung menegur.

__ADS_1


“Bukan gitu, tapi mas Aidan memang butuh pendamping yang super sabar, enggak banyak omong dan penyayangnya paling enggak bisa seperti mamah Arum. Dia harus dewasa, tahan ban*ting, ... apalagi adik-adik Mas banyak. Ibaratnya dia juga bisa jadi ibu. Chole emang lumayan masuk, tapi kalau buat seberat kriteria yang harus Mas punya, sekelas Chole pun belum masuk karena Chole ibarat tuan putri yang baik hati. Kasihan kalau Chole harus menahan beban sebanyak itu,” jelas Excel.


Mas Aidan mesem. “Jadi, jadi istri Mas ibarat beban di mata kamu, yah, Mas?”


Excel menelan cairan yang harusnya ia ludahkan, kemudian mengangguk mantap di tengah keseriusan tatapannya yang masih fokus menatap mas Aidan. “Kata kasarnya begitu, Mas. Karena wanita itu juga harus seperti Mas yang serba sabar, serba dewasa. Dewasa enggak harus usianya sudah matang, ya. Buktinya kan Didi saja nyaris sebaya Mas, tapi mohon maaf cara pikirnya lebih mirip anak SMP.”


“Anak SMP saja enggak selabil itu, Sayang!” sergah Azzura.


Detik itu juga mas Aidan langsung kicep. “Kalau mikir ke situ aku sadar, Didi memang bukan wanita tepat. Apalagi sampai sekarang, diajak nikah pun atau tunangan dulu, dia belum mau.”


“Nah iya ... dia kan maunya cuma marah-marah ke Mas. Bikin susah Mas. Bakat itu, enggak tahu keruru*pan apa bagaimana padahal orang tuanya baik banget!” sela Azzura.


Karena ponsel mas Aidan berdering, pria itu sengaja izin untuk menjawabnya. Itu telepon masuk tapi mas Aidan sengaja menjawabnya tanpa pergi dari sana.


“Assalamualaikum? Benar ini nomornya Mas Aidan yang pengacara itu? Halo, Mas. Maaf mengganggu, ... saya Arimbi. Ini dari tadi bos saya coba menghubungi nomor Mas tapi dari tadi nomor Mas enggak bisa dihubungi ....”


Suara lembut dari seberang dan terdengar sangat santun, sudah langsung membuat mas Aidan merinding. Excel dan Azzura juga langsung tenang, tak lagi emosional hanya karena membahas Divani dan cara pikirnya.


“Adem banget suaranya,” ucap Azzura.


Mas Aidan refleks berdeham, kemudian membalas telepon masuk dari wanita bersuara lembut bernama Arimbi. “Waalaikum salam Mbak Arimbi. Iya, saya Mas Aidan dan Mbak enggak salah nomor. Terima kasih banyak karena telah menghubungi saya. Namun mohon maaf, saat ini saya ada di Jakarta dan belum pasti kapan pulangnya. Kalau Mbak minta saran nomor pengacara terdekat, ini paling dekat sudah di luar kota. Coba tolong tanyakan ke bos Mbak. Atau kalau tidak, biarkan beliau bicara langsung dengan saya.”

__ADS_1


“Suara mereka cocok,” komentar Excel berbisik-bisik ke Azzura.


Azzura langsung mendelik bingung menatap sang suami. Masa dari suara saja bagi Excel sudah cocok? Namun, kisah mas Aidan dan mbak Arimbi memang sudah ada di novel : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan)


__ADS_2