Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
55 : Suka Duka Dan Kehampaan


__ADS_3

“Kita pergi, Mah. Pah. Urusan kita di sini benar-benar sudah selesai. Malahan, mereka yang berhutang kepada kita dan warasnya, kita yang harusnya balas dendam!” tegas Cinta sambil menatap marah wajah Syam atau itu Shine.


Cinta memboyong orang tuanya, tanpa membawa Cikho. Namun karena ibu Aleya terus merintih pedih memanggil nama Cikho, Cinta terpaksa kembali. Ia menghadap Shine karena dari awal pun Shine yang menatap sekaligus menanggapinya.


“Apa lagi yang akan kalian lakukan kepada kak Cikho? Apakah menurut kalian orang seperti dia masih berguna?” ujar Cinta. “Aku benar-benar minta kepastian.” Dan tiba-tiba saja ia memiliki ide. “Kalau tidak, masukkan dia ke pesantren yang sistim keamanannya terjamin agar dia tidak bisa seenaknya melarikan diri lagi.”


“Kita tahu dia enggak berguna, tapi bukan berarti kita benar-benar membuatnya jadi makin tidak berguna.” Cinta berbicara dengan nada yang jauh lebih tenang. Ia melirik Helios karena mendadak ingat pria itu. “Jika sudah ada waktu, kita bisa bicara baik-baik. Karena memang enggak ada gunanya menyelesaikan masalah dengan keadaan sama-sama emosi.”


“Secara pribadi, aku benar-benar minta maaf. Aku juga minta maaf atas nama kakakku, keluargaku, untuk semua kesalahan yang telah melukai kalian.” Cinta sampai membungkuk sangat dalam. “Walau aku tahu kata maaf tak mampu menghapus luka, walau kata maaf juga tak mungkin bisa membuat keadaan baik-baik saja. Dan hukuman untuk kak Cikho juga tidak ada yang layak, setidaknya, tolong beri solusi untuk keadaan ini.”


Bersama hatinya yang terenyuh di setiap membahas keluarga yang selalu membuatnya sensitif, Cinta menatap Syam. “Tolong, biarkan kak Cikho menghabiskan sisa waktunya menjadi lebih baik lagi. Biar bagaimanapun, dia satu-satunya keluargaku dalam kehidupan ini. Dan kalian juga tahu, kan? Papah mamah kami hanya orang tua angkat. Mereka sudah sangat berbaik hati, ibaratnya mereka hanya menolong kami. Jadi tolong, jangan mengusik mereka lagi karena kerugian yang harus mereka pikul akibat ulah kak Cikho dan itu masih karena tipu daya kalian, juga sangat besar. Malahan kalau kalian terus mau balas dendam, aku juga bisa balas kalian. Namun buat apa, dan mau sampai kapan?”


“Dibeginikan saja sudah sangat mengganggu kesehatan orang tuaku.” Cinta benar-benar sedih. Karena tegarnya dirinya selama ini tak semata ia tidak mau menjadi beban keluarga Tuan Maheza. Namun Cinta yakin, kasus Cikho sudah menjadi sumber penyakit orang tuanya.


Karena tidak ditanggapi, Cinta tak memiliki pilihan lain selain pamit kepada Cikho yang masih meringkuk di lantai. Selain babak belur dan sekujur tubuhnya juga tampaknya penuh luka, basahnya tubuh Cikho juga disertai aroma bensin yang begitu kuat.

__ADS_1


Melihat keadaan seperti itu, Cinta sudah sangat kacau. Terlebih jika pada kenyataannya, kejadian Cikho begitu disaksikan oleh orang tuanya secara langsung. Orang tua mana yang tidak terluka bahkan stres menyaksikan anaknya dihaj*ar sampai mirip he*wan yang tinggal menunggu detik-detik kematian?


Cinta yang sudah sampai merengkuh tubuh Cikho berangsur menghela napas dalam.


“Maaf ...,” lirih Cikho walau kedua matanya yang kelopaknya bengkak sekaligus berdarah, tetap terpejam.


“Mas percaya? Mamah sudah nangis darah gara-gara ini!” isak Cinta hanya mampu berucap lirih. Ia dapati, dari kedua ujung mata Cikho menjadi dihiasi cairan berwarna putih kemerahan yang perlahan berlinang. Ia menghapusnya dengan hati-hati menggunakan tangan kosong di antara aroma anyir yang menyertai aroma bensin.


“Ta, tolong. Mas janji ini yang terakhir. Bahkan Mas enggak yakin, Mas masih bisa hidup enggaknya. Mata Mas saja enggak bisa dibuka.” Cikho masih berucap lirih.


“Ketua, aku pastikan dia akan menemuimu setelah dia menyelesaikan pengobatannya,” ucap Cinta masih memangku Cikho. Ia melongok Helios yang masih saja betah berbaring. Tak ada tanda-tanda pria itu akan duduk apalagi membuka topengnya. Ia pun menunduk dalam, merasa dilema bahkan kegamangan yang begitu besar. Terlebih, orang tuanya kembali datang. Ibu Aleya tersedu-sedu dan tampak sangat tersiksa. Lebih tersiksa dari luka-luka yang tertinggal di tubuh Cikho.


“Bawa manusia tidak berguna itu pergi!” tegas suara berat seorang Helios.


Merinding, Cinta sampai tidak bisa berkata-kata. Ia menatap tak percaya sosok Helios yang perlahan duduk. Pria itu juga perlahan membuka topengnya hingga wajah menyeramkannya akhirnya terlihat.

__ADS_1


“Kamu juga harus mulai perawatan, loh. Meski itu memang fatal, tapi kalau kamu mau perawatan, setidaknya itu akan membuatmu jauh lebih baik,” ucap Cinta kepada Helios.


“Pergi sekarang juga sebelum aku berubah pikiran!” Sampai detik ini, Helios tak sedikit pun melirik Cinta. Namun ia tahu, kedua adik perempuan Cikho sama-sama cantik, walau keduanya tidak berhijab layaknya Azzura.


“T-terima kasih banyak! Aku janji, setelah dia sembuh dengan pengobatannya, aku akan mengirimnya ke sini!” sergah Cinta tak mau lama-lama lagi di sana karena Helios sampai membentaknya, mengusirnya untuk segera pergi membawa Cikho dari sana.


Penuh suka cita, Cinta dan orang tuanya memapah Cikho yang sekarat. Melalui mata kirinya yang masih berfungsi, Helios menyaksikannya. “Dia sangat pemberani mirip Azzura. Bedanya, Tuhan menganugerahi dia saudara bereeengsek, beda dengan Azzura. Oh iya aku lupa, ibunya saja mati karena dibunuh ayahnya yang saat itu menjadi simpanan istri muda Tuan Maheza! Cinta mirip ibunya, dan Cikho mirip ayahnya!” batin Helios. Hatinya benar-benar terasa hampa. Sebab dendam dan pembalasan yang ia lakukan tetap tidak menghasilkan kebahagiaan walau itu kebahagiaan yang singgah sebentar.


Meninggalkan Cinta sekeluarga yang tengah bersuka cita walau setelah ini, mereka harus membiarkan Cikho kembali menemui sekaligus menyelesaikan urusannya dengan Helios, pemandangan tak kalah membahagiakan juga tengah menyelimuti kebersamaan keluarga pak Kalandra dan Excel. Semuanya telah berkumpul di ballroom tempat ijab kabul akan digelar.


Lokasi ijab kabul memang berubah karena sebelumnya akan dilangsungkan di masjid raya. Namun karena waktu pelaksanaan ijab kabul bentrok dengan acara di masjid, Sekretaris Lim dan Widy yang bertugas menyediakan tempat, sengaja memilih hotel tempat Excel dan Azzura sekeluarga menginap, sebagai lokasi terbarunya.


Dari pihak Excel hanya diwakili oleh sang mamah, lain dengan pihak keluarga Azzura yang nyaris terbilang lengkap. Termasuk pak Haji Ojan yang sudah pecicilan tidak mau diam, membuat Sepri kewalahan.


Sampai detik ini, Azzam yang masih merasakan efek mabukk kendaraan juga terus memeluk Azzura. Azzam menjadi satu-satunya orang yang belum rela melepas Azzura menikah dengan Excel. Tak semata karena Azzam trauma dengan pernikahan Azzura yang sebelumnya, tetapi juga kenyataan Azzam yang belum bisa percaya kepada Excel.

__ADS_1


__ADS_2