
Terbangun karena alarm, Azzura masih malas-malasan merasakan keletihan luar biasa. Namun di sebelahnya sudah langsung sigap melebihi pasukan pengamanan. Excel, pria itu sudah memaksa kedua matanya untuk terbuka sempurna, kemudian duduk dan berakhir mematikan alarm dari ponsel Azzura.
Tepat pukul lima pagi, Excel dapati waktu di layar ponsel sang istri. Kemudian, melalui ekor pandangannya ia terusik pada kenyataan Azzura yang malah menutup kembali tubuhnya menggunakan selimut. Ia segera mendekat, mengungkung tubuh itu yang langsung ia tatap lekat. Dari ekspresi apalagi tatapannya, Azzura tampak tidak baik-baik saja. Kali ini wanita itu menatapnya. Kedua tangannya berangsur terulur berusaha merengkuh tubuhnya. Alasan yang membuat Excel merapatkan jarak tubuh mereka.
“Kenapa?” tanya Excel lirih.
Hal terakhir yang Azzura ingat, mereka masih di mobil. Namun kini, alarm ponselnya sudah bunyi dan bertanda waktu sudah pagi lagi. Entah bagaimana prosesnya hingga ia sampai di kamar. Apakah Excel yang gagal membangunkannya, terpaksa memboyongnya masuk ke hotel? Atau ...?
“Dari kemarin kamu tidur pulas banget, makanya aku enggak berani bangunin. Malah alarm tega bangunin kamu.”
“Terus, aku bisa di sini, bagaimana?”
“Ya aku bopong, masa iya nyuruh orang apalagi diseret?”
Balasan pasrah nan lirih dari seorang Excel membuat Azzura cekikikan. “Diseret, ... kesannya aku ini karungan.”
“Tubuhmu demam loh. Ini demam efek aku deketin, apa memang ...?” Excel menatap serius wajah Azzura.
“Aku enggak enak badan,” rengek Azzura benar-benar manja.
Mendengar itu, Excel sudah langsung siaga. “Jangan-jangan yang terkilir kemarin?” Segera ia memastikan, menyibak selimut yang menutupi kaki Azzura. Bengkak! Nyawa Excel seolah langsung dicabut paksa hanya karena mendapati kenyataan tersebut. Kebas ia rasa dan ia sudah langsung tidak bisa berkata-kata menatap wajah istrinya penuh rasa bersalah.
“Wah, bengkak parah? Ligamennya putus kayaknya, tapi aku enggak punya perban elastis,.” lirih Azzura sambil mengawasi kaki kanannya.
“Kita ke rumah sakit!” sergah Excel buru-buru turun dari tempat tidur.
Azzura berangsur meraih sebelah tangan Excel dan hanya mampu menyentuh ujung jemarinya. Kendati demikian, Excel sudah langsung menoleh, menatapnya sangat peduli.
__ADS_1
“Subuhan dulu, baru ke rumah sakit,” lembut Azzura sambil mengusap ujung jemari tangan sang suami yang masih ia genggam.
Walau masih tampak sangat khawatir, Excel berangsur mengangguk-angguk paham. Gayanya masih mirip robot yang melakukan segala sesuatunya dengan cekatan.
“Mau sekalian check-out, Mas?” tanya Azzura.
“Mending kamu menginap di sini daripada menginap di rumah sakit. Jangan sampai menginap, ya. Enggak tega rasanya lihat kamu harus diinfus apalagi menjalani serangkaian pemeriksaan,” ucap Excel mendadak melow.
Keadaan Excel yang menjadi melow, dirasa Azzura bahwa suaminya itu sangat perhatian. Dari berangkat sampai kembali lagi ke hotel pun, Excel terus membopong Azzura. Selain tidak mengizinkan Azzura melakukan aktivitas kaki kanan berlebihan layaknya saran dokter karena terkilir yang Azzura alami memang fatal, Excel juga tak membiarkan orang lain menyentuh Azzura bahkan walau itu untuk membantunya. Hanya dokter wanita saja yang menangani Azzura dan Excel perbolehkan menyentuh Azzura.
“Mau makan apa?” tanya Excel yang mendadak menjelma menjadi perawat Azzura.
“Apa saja boleh, Mas. Yang penting jangan terlalu pedas. Terus, ... aku juga mau salad buah,” balas Azzura masih duduk selonjor sambil bersandar pada sandaran tempat tidur king size mereka. Sementara di sebelahnya, Excel yang tengah merapihkan asal tempat tidur mereka agar jauh lebih rapi, segera mengangguk paham.
“Mas, sini, deh.” Azzura kembali merengek tak lama setelah sang suami beres memesan makanan untuk mereka. Excel yang ada di sisi seberang tempat tidur mereka sudah langsung kebingungan sambil mendekat menghampirinya.
“Gimana?” tanya Excel yang langsung Azzura tuntun duduk di sebelahnya.
“Aku enggak capek, tapi kalau kamu sampai kenapa-kenapa, ... aku beneran enggak bisa tenang,” ucap Excel lemas.
“Aku hanya terkilir. Walau memang parah, kan sudah mendapatkan penanganan tepat,” yakin Azzura masih merengek manja.
“Tetap saja beda apalagi yang sakit kamu. Kalau aku yang sakit sih enggak apa-apa,” ucap Excel.
Mendengar itu, Azzura menjadi berkaca-kaca menatap suaminya yang jadi tak berani menatapnya. Namun, Excel mengalihkannya dengan mengunci ubun-ubun Azzura menggunakan bibir. Sesekali, jemari tangan Excel juga akan membelai kepala Azzura yang tak lagi tertutup kerudung. Excel menjadi kerap membelai lembut kepala Azzura kemudian mengendus dalam kepala sang istri.
“Mas, aku juga wanita biasa. Harusnya kalau Mas sayang banget ke aku, Mas juga bilang!” rengek Azzura. Membuat manusia kutub yang masih merengkuh tubuhnya, hanya berkedip-kedip kebingungan menatapnya. Dengan kata lain, Excel tipikal yang memang tidak bisa mengungkapkan rasa sayang sekaligus cinta menggunakan kata-kata, meski pria itu sudah sangat bertanggung jawab, memperlakukannya penuh keromantisan.
__ADS_1
“Iya, aku sayang kamu,” ucap Excel setelah Azzura rempong, menggunakan kedua jemari tangannya untuk menggerak-gerakkan bibirnya, agar ia berbicara. Tentu saja, berbicara mengatakan bahwa dirinya menyayangi sekaligus mencintai Azzura.
“Sayang banget?” manja Azzura sambil membelai bibir Excel yang kemudian ia kec*up mesra.
Excel tetap diam kemudian mengangguk pasrah.
“Ngomong ... cuma berdua, enggak ada yang dengar,” rengek Azzura.
“Iya ....” Lagi-lagi hanya itu yang bisa Excel katakan.
Azzura tersenyum ceria kemudian mendekap erat punggung Excel. Ia sengaja agak geser agar sang suami benar-benar tidur di sebelahnya. “Kita quality time dulu, Mas. Mas jangan capek-capek. Ini beneran waktu buat kita tanpa pergi-pergi,” lirih Azzura yang memang berbisik-bisik.
Tangan kiri Azzura masih mendekap punggung suami yang benar-benar kokoh, sementara tangan kanan sibuk membelai pipi maupun bibir Excel dan kerap Azzura ke*cup mesra.
“Cepat sembuh,” ucap Excel yang sudah langsung menatap Azzura sendu.
Azzura kembali tersenyum ceria sambil mengangguk di tengah tatapannya yang terus inten*s menatap kedua mata Excel. Azzura mulai merasakan hasil dari usahanya dalam meluluhkan dinginnya sang suami. Kini saja, tatapan Excel sudah langsung beda kepadanya. Tatapan yang awalnya dipenuhi kepedulian itu menjadi intens. Tatapan yang menegaskan bahwa Excel tak hanya menyayanginya, tapi juga menyayanginya.
“I love you,” lirih Azzura yang perlahan menarik tangan kirinya dari punggung Excel. Tangan itu berangsur membingkai wajah kanan Excel.
Excel tidak menjawab, tapi ia sudah langsung usaha menempelkan bibirnya ke bibir Azzura. Hanya saja, ujung jemari Azzura sudah langsung menjadi benteng untuk bibir wanita itu sebelum Excel membalas ucapan i love you.
“I love you!” rengek Azzura lagi benar-benar manja sambil menekan-nekan gemas bibir suaminya.
Excel langsung tersenyum pasrah dan berakhir tersipu. Harus ia akui, Azzura sangat tahu bagaimana caranya membahagiakannya sebagai suami. “I ....”
Menunggu bibir berisi Excel akhirnya akan mengatakan kata-kata cinta yang benar-benar romantis, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk seorang Azzura. Azzura tak lagi membutuhkan drama atau pun novel romantis lagi karena kini ada yang lebih menarik dari semua itu, yaitu keromantisan dari suaminya sendiri.
__ADS_1
“I ...!” ucap Excel masih kesulitan. Namun ia nekat menerobos pertahanan bibir sang istri, melu*matnya dengan agak kasar, dan berakhir bisa mengucapkan balasan yang wanitanya itu inginkan. “I love you too!”
Azzura langsung tersipu. Ia membiarkan kedua jemari tangannya untuk melepas setiap kancing kemeja sang suami sebagai bonus tambahan yang akan ia berikan, meski kaki kanannya masih diperban dan ia diwajibkan istirahat total.