Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
88 : Dendam yang Menemukan Tuannya


__ADS_3

Excel memang tidak pernah bertemu dengan penabrak sang ayah atau sekadar pihak penabrak, secara langsung. Karena selain pihak penabrak sangat sulit ditemui, kala itu, ibu Mira juga selalu pasang dada, menyembunyikan anak-anaknya termasuk juga Excel, di balik punggung wanita itu yang sebenarnya sangat rapuh.


Namun, kata-kata ancaman Angel yang sangat kontras dari arti arti nama wanita muda itu, itu benar-benar mirip dengan ucapan pihak penabrak ayah Excel.


Excel yakin dirinya tidak salah mengira karena sejauh ini, dirinya selalu menjadi pengamat yang baik. Kalaupun ia hanya bisa melihat pembunuh ayahnya dari kejauhan, baik rupa apalagi suaranya, tetap bisa ia kenang walau tidak sepenuhnya


Tanpa direncanakan, lirikan tajam Excel sudah langsung mengunci sosok Angel akibat kecurigaan yang tengah ia rasa. “Berapa usianya? Sepertinya sebaya dengan Azzura atau Rere. Jika dicocokkan, saat belasan tahu lalu ketika ayahku kecelakaan, berarti usianya masih di bawah umur. Mungkin dia masih SMA, sama dengan penabrak ayah,” pikir Excel. Setelah menatap saksama Angel yang menjadi duduk ketakutan menatapnya, ia berkata, “Belasan tahun lalu, saat kamu masih di bawah umur dan kamu mengemudi sambil mabuk, kamu menabrak tukang bakso hingga meninggal?!”


Tak ada yang namanya serba kebetulan apalagi jika itu lebih dari sekali. Excel juga yakin dirinya tidak mungkin salah mengenali. Ia bukan Helios yang masih saja gegabah dan sampai detik ini selalu menambah lukanya sendiri akibat kecerobohannya.


“Hah ...?” batin Angel yang sudah langsung kebas. “Bahkan Excel tahu itu? Sebenarnya dia siapa? Polisi? Mata-mata, ... apa detektif? Namun kenapa dia masih berani kepadaku padahal harusnya tahu jika papahku pimpinan tertinggi kekuatan militer di negeri ini ...,” batin Angel lagi yang tentu saja tidak berani mengabarkannya kepada Excel.


“Namun jika Excel juga tahu semuanya, kenapa dia sampai berani menantang bertemu orang tuaku? Dia bahkan tetap maju walau harusnya dia juga tahu, masuk ke rumahku sama saja menyetorkan nyawa!” Angel buru-buru lari, meninggalkan Excel yang tengah diperiksa sebelum pria itu diizinkan masuk.


Bisa dipastikan, tidak ada benda apalagi senjata membahayakan yang akan Excel bawa masuk ke dalam.

__ADS_1


Melangkah berat karena dendam yang seketika meluap dan selama ini ia simpan rapat-rapat, Excel menatap saksama rumah di sana. Itu merupakan rumah pribadi. Terbilang tidak begitu mewah, yang menonjol di sana hanyalah segi keamanannya. Excel memperhatikan setiap keadaan di sana melalui lirikannya. Banyak CCTV dan lampunya dalam keadaan menyala, menandakan alat perekam itu masih berfungsi dengan baik. Tidak bisa disabotase kemudian menyalahkan sekelas petir sebagai perusakknya, seperti kejadian yang sempat viraal di bumi pertiwi kita ini.


“Mungkin ini yang dinamakan, ... semua yang kita miliki, semua yang kita lakukan, pada akhirnya juga akan kembali menjadi bagian dari kita.” Excel hanya diizinkan memasuki ruang tamu. Seorang ajudan bertubuh tegap berkulit hitam berperut buncit, menatapnya dengan sopan.


Pria tersebut berdiri membelakangi pintu ruang tamu di sana. Pintu yang juga akan membuat Excel bisa masuk ke ruangan rumah bagian dalam jika Excel berhasil melaluinya.


“Silakan duduk,” ucap si Ajudan karena Excel yang menyikapinya dengan sangat dingin apalagi cara Excel menatapnya, masih saja berdiri mirip patung.


Tanpa permisi, Excel bahkan masuk. Membuat sang ajudan segera bergerak cepat. Menyusul, sambil menegur dengan tatapan santun. Namun karena Excel terus abai, ia terpaksa menahan pergelangan tangan kiri Excel. Awalnya sang ajudan berniat menahan Excel. Walau yang ada, gerak Excel yang begitu cepat malah dengan sangat mudah membuat tubuhnya terban*ting.


Terengah-engah si ajudan melepas kepergian Excel yang benar-benar masuk ke dalam. Langkah Excel tidaklah beringas mirip maling yang haus sasaran benda-benar berharga mahal. Malahan, Excel mirip orang linglung. Excel juga tak hentinya mengawasi suasana rumah termasuk mengawasi setiap dinding maupun langit-langit rumah. Kendati demikian, sang ajudan yang sudah langsung mengabarkan ulah Excel melalui hate, yakin, Excel bukan orang biasa.


“Sementara saat itu, semesta alam juga tak kalah kejam. Mereka dengan sadar terus menekan kami walau nyawa ayah kami sudah dirampas dengan keji.”


“Jadi, jika penegak hukum bahkan sekelas semesta alam tak mampu memberi keluargaku keadilan, biarkan aku yang memberi semua itu. Benar-benar dengan caraku!” batin Excel. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh seiring air matanya yang berlinang. Kini, ia tengah berdiri di depan bingkai foto berukuran besar yang ada di ruangan luas setelah ruang tamu.

__ADS_1


Excel yakin, itu ruang keluarga. Layaknya ruang keluarga pada kebanyakan, di sana juga dihiasi beberapa foto keluarga dengan gaya sekaligus pakaian berbeda.


Fokus Excel sudah langsung tertuju kepada wajah si pria berseragam cokelat gelap dan memiliki segudang pangkat yang menempel di seragamnya. Pria itu tampak sangat gagah, berwibawa, sekaligus garang. Wajahnya benar-benar tidak asing bagi Excel. Bukan karena pria tersebut memiliki posisi penting di negara Excel tinggal, melainkan memang sosok itu yang Excel lihat saat kejadian.


Sosok yang belasan tahun lalu dengan keji menghampiri kontrakan Excel sekeluarga tinggal. Malam-malam saat kejadian berlangsung, hujan turun terbilang deras. Penuh penghormatan pria gagah itu yang bahkan masih memakai seragam kehormatan layaknya di foto yang kini ada di hadapan Excel, melangkah dipayungi oleh para ajudan. Pria itu sangat disegani karena dari ketiga ajudan yang mengawal saja, tidak ada satu pun yang berani melirik apalagi menatap. Semuanya cendrung menunduk.


Excel yang saat itu nekat menerobos keluar rumah dari samping sang mamah yang berdiri di depan pintu, sempat bertatapan dengan si pria. Walau hanya sekejap karena ibu Mira yang menyadarinya buru-buru memboyong Excel masuk. Saat itu, ibu Mira sampai mengunci Excel dan kedua adik perempuannya di kamar.


“Siapa?!” lantang suara seorang pria dari lantai atas sana. Suara berat, tegas, dan benar-benar gagah.


Excel langsung terkesiap, begitu paham dengan suara tersebut. Suara yang juga langsung menariknya kembali menjadi bagian dari kenangan masa lalu yang benar-benar kelam. Iya, suara itu pun masih sama. Suara laki-laki yang Excel yakini sebagai pria gagah berseragam penuh kehormatan di bingkai foto yang ada di hadapannya.


“Siapa yang berani kepadamu bahkan sampai melukaimu!!! Lehermu benar-benar terluka, Njel?!” lanjut suara tadi.


Suara yang juga membuat kedua tangan Excel kian mengepal kencang. Saking kencangnya, tubuh Excel sampai gemetaran. Bersamaan dengan itu, air mata Excel menjadi makin sibuk berlinang.

__ADS_1


“Orangnya di bawah, Pah. Dia ingin bertemu Papah! Dia beneran enggak takut walau aku bilang, aku siapa dan Papah punya kuasa penuh di negara ini!”


Dendam itu sungguh berkobar-kobar, mirip sebuah larva pijar yang menjadi penghuni dari gunung berapi aktif, dan siap disemburkan. Hanya dalam hitungan detik, benar-benar tak sampai menunggu lama lagi, dendam itu akan menemukan tuannya.


__ADS_2