
“Rere juga sedang sakit. Dia keracunan dan keadaannya ....” Tuan Maheza bermaksud menjelaskan secara baik-baik, tapi mas Aidan yang sedari awal sudah emosional langsung memotong penjelasannya.
“Di luar sana masih banyak yang mengalami keracunan lebih parah. Di luar sana juga banyak wanita hamil yang bahkan jauh lebih ringkih. Walau setiap daya tahan orang memang berbeda, bukan berarti saya tidak boleh menemuinya untuk menanyakan, kenapa pria itu menyebut nomor ponselnya sebagai klien yang mengharapkan nyawa mbak Azzura!” ucap mas Aidan cepat dan benar-benar tegas.
“Hah?!” Tuan Maheza dan ibu Aleya sudah langsung tidak bisa berkata-kata. Mereka bahkan membiarkan mas Aidan menerobos masuk ke ruang rawat Rere. Yang mana ulah anak pertama dari ibu Arum itu sudah sampai membuat pintu terbanting.
Rere yang awalnya masih bernapas “ngik ... ngik”, sampai lupa dengan sandiwaranya karena biar bagaimanapun, wanita itu menjadi salah satu orang yang terkejut akibat ulah mas Aidan.
Sebagai suami yang tengah merasa sangat bersalah akibat keadaan sang istri, Cikho langsung marah kepada ulah mas Aidan. Ia tak terima dengan cara pria itu bersikap. “Mas, ini rumah sakit!” sergahnya yang juga sudah sampai berdiri, menatap marah yang juga langsung ia hampiri. Ia tidak akan membiarkan mas Aidan melukai Rere karena dari tampang dan sikapnya saja, mas Aidan jelas akan melakukannya. Lihatlah, dari tatapan mas Aidan saja terlihat jelas betapa pria itu langsung ingin menerk4mnya hanya karena ia menghalangi langkah mas Aidan mendekati Rere.
Mas Aidan mengangguk-angguk di tengah tatapan marahnya kepada Cikho. “Sekarang aku tahu, kenapa kamu dengan begitu mudah dikelabuhi. Ya karena kamu memang sangat b0doh! Sekadar bedain mana yang benar-benar sakit sama yang hanya sandiwara saja kamu enggak bisa!”
Mendengar ucapan mas Aidan, Rere yang tetap lupa dengan sandiwaranya, mendadak melanjutkan sandiwaranya. Jadi, ketika akhirnya tatapan marah mas Aidan tertuju kepadanya, ia sudah kembali lemas tak berdaya. Karena jangankan berbicara, sekadar bernapas saja ia kesulitan.
Menatap marah Rere, mas Aidan berkata, “Kamu masih belum paham kegunaan rumah sakit buat apa? Rumah sakit buat orang yang benar-benar sakit, agar mereka bisa menjalani pengobatan dengan intensif. Bukan tempat untuk orang yang hanya pura-pura sakit seperti kamu, meski sebelum ini, kamu memang sempat sakit!”
__ADS_1
“Eh, nih orang kur4ng ajar banget yah!” batin Rere sudah langsung ketar-ketir.
Cikho sudah langsung menoleh ke belakang, menatap khawatir sang istri yang menjadi terlihat makin tak karuan. “Mas, jangan bikin aku kasaar ke Mas!”
“Kalaupun kamu mau kasaar, aku tetap bisa meladeni. Karena sikapku memang tergantung sikap kalian!” sergah mas Aidan sengaja menantang.
Mas Aidan berangsur menatap Rere. “Sekarang aku tanya ke kamu, Re. Kenapa kamu bisa begitu yakin, mbak Azzura menjadi dalang dari musibah yang kamu alami? Karena itu juga yang kamu usahakan menimpa mbak Azzura? Kamu bahkan paham mbak Azzura ada di Jakarta, seolah kamu memang punya CCTV khusus untuk mengawasi mbak Azzura!” ucapnya lantang sekaligus cepat, masih tegas pada keadaan di sana. “Pantas mafia itu dengan tegas menyebut namamu ketika mbak Azzura memaksanya menyebutkan pemesan jasa maf1a itu!”
“Hah ...?!” batin Rere sudah langsung terkejut, tapi ia tetap dengan sandiwaranya.
“Bila perlu dicek tuntas sekarang juga. Urusan biaya karena aku pribadi yang usul, aku siap tanggung. Biar semuanya jelas enggak hanya asal tuduh seperti yang istrimu lakukan. Karena andai dia yakin mbak Azzura yang melakukannya kepada dia, ayo buktikan di pengadilan. Aku siap kawal sampai titik darah penghabisan. Enggak sudi aku adikku yang jelas-jelas korban masih saja kalian fitnah dengan kejam.”
Mas Aidan sama sekali tidak memberi Cikho apalagi Rere kesempatan untuk menghentikannya. “Termasuk kasus sewa-menyewa maf1a juga tetap akan aku usut sampai tuntas. Tanpa pandang siapa yang aku hadapi bahkan itu kalian, aku akab tetap maju. Andai kalian yakin kuasa om Maheza bisa bikin kalian aman, ... jangan lupa, hukum sosial berkali-lipat jauh lebih kejam. Karena cukup menyebar fakta pengkhianatan kalian ke mbak Azzura ke sosial media saja, kalian sudah bisa langsung jadi almarhum dan almarhumah walau kalian belum benar-benar meninggal!”
Sadar mas Aidan sudah diam, Cikho berangsur menghela napas dalam. “Sudah bicaranya?” Ia sengaja memastikan.
__ADS_1
“Tentu, ... tinggal dibuktikan!” yakinnya.
Cikho mengangguk sanggup di tengah tatapan penuh keseriusannya kepada mas Aidan. “Baik! Ayo kita buktikan agar semuanya tidak berlarut-larut!”
“Oh noooooo ... Chiko, ngapain sih kamu malah setuju. Begooo bangetttt!” batin Rere sudah langsung kacau. Ia yang awalnya kegirangan dalam hatinya, kini sudah nyaris menangis. Sebegitu cepat takdir dalam hidupnya berubah. Ia benar-benar tak percaya dan memang sangat membencinya. Padahal, ia sudah melakukan sekaligus menghalalkan segala cara, tapi tetap saja ia terluka dan lagi-lagi berakhir dengan kecewa.
Di lain sisi, apa yang Cikho lakukan juga membuat darah mas Aidan seolah didihkan. Kedua tangan mas Aidan berangsur mengepal sangat kencang dan perlahan gemetaran akibat amarah yang ia tahan. Pelan tapi pasti, ia maju, membuat tubuhnya nyaris tak berjarak dengan Cikho. Wajah mereka bahkan hanya berjarak kurang dari satu jengkal. “Caramu begini ... dengan kata lain, kamu membenarkan bahwa adikku benar-benar meracuniii istrimu!” lirihnya tapi sangat menusuk.
Cikho langsung tidak bisa menjawab karena baru ia sadari, keputusannya begitu peduli kepada Rere juga telah dengan gamblang mengorbankan Azzura. Padahal ia sadar, muslimah tangguh sekelas Azzura yang kepada binat4ng saja sangat sulit melukai, tak mungkin tega melukai orang lain bahkan itu Rere yang sudah membuat hubungan mereka retak bahkan ... berakhir.
“Ke mana pun kalian lari, ... bahkan ke neraka sekalipun, ... akan aku kejar sampai kalian mendapatkan balasan setimpal!” lirih Mas Aidan benar-benar geregetan. Suaranya sampai gemetaran sedangkan tangan kanannya bergerak naik bermaksud mengubahnya menjadi bogem mentah, tapi ia sadar itu hanya akan memperburukk keadaan.
“Karena meski kamu bukan pelaku fitnah kepada mbak Azzura, kenyataan kamu yang membiarkan, membenarkan bahkan mendukung, ... kamu,” lanjut mas Aidan yang kemudian berangsur balik badan, membuat mata sendunya yang kini menjadi sangat tajam, menemukan kedua sosok yang ia cari. Tuan Maheza dan ibu Aleya, kedua orang itu orangnya. “Termasuk Om dan Tante, ... kalian juga harus mendapatkan balasan setimpal!”
Tepat di saat itu, benar-benar tanpa direncanakan, Azzura yang tertatih membawa botol infusnya, berhenti melangkah tepat di depan pintu. Alasan yang juga sudah langsung mengusik perhatian semua yang ada di sana. Semuanya sudah langsung menatap Azzura tanpa terkecuali Rere. Azzura datang tanpa cadar. Wajah cantiknya yang tak tersentuh rias, tampak pias. Tidak ada yang aneh dari penampilan Azzura yang memang tampak layaknya orang sakit pada kebanyakan. Namun, kenyataan wanita itu yang hanya memakai satu alas kaki layaknya sandal di rumah sakit pada kebanyakan, menegaskan bahwa Azzura datang ke sana dalam suasana hati sangat kacau.
__ADS_1