Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
102 : Pengakuan Dari Cinta


__ADS_3

“Aku terjebak di antara cinta dan balas budi. Aku tahu apa yang aku lakukan salah. Namun, aku tak bisa menolak ketika mas Helios memberikan bantuan dana hingga perusahaan papah keluar dari kebangkrutan.”


“Kesalahan kak Chiko benar-benar fatal. Papah masuk rumah sakit dan nyaris stroke gara-gara perusahaan bangkrut, sementara rumah hampir dijual untuk menutupi gaji karyawan sekaligus hutang perusahaan.”


“Sebagai gantinya, aku dengan sadar berusaha mengatasi kekacauan ini. Karena sebagai adik kandung dari kak Cikho, aku merasa bertanggung jawab!”


“Di lain sisi, walau aku bersedia mengorbankan diri karena mas Helios menginginkanku menjadi istrinya, ada Akala yang harus terluka.”


“Akala orang yang sangat baik. Dia selalu menjadi pelangi dalam hidupku yang sudah langsung menjadi kelabu semenjak aku tahu, jati diriku yang sebenarnya. Aku dan kak Cikho tak lebih dari anak adopsi. Ayah kandung kami telah menghancurkan keluarga kami, semenjak ayah dengan tega membun*uh mamah kami.”


“Karena semenjak itu juga, kami yang saat itu masih balita, bahkan aku masih harus menerima ASI eksklusif, sudah langsung menjadi yatim piatu. Kami dibesarkan oleh keluarga papah Maheza dan mamah Aleya. Mereka memperlakukan kami dengan sangat baik. Hanya saja, semenjak tahu bahwa kami tak lebih dari adopsi sekaligus riwayat kehidupan kami, Kak Cikho memang sudah langsung menunjukkan tanda-tanda mencurigakan.”


“Semenjak itu, Kak Cikho menjadi pendiam. Kak Cikho menjadi kerap mengurung diri. Awalnya aku berpikir itu hanya efek karena kak Cikho terlalu terpukul. Terlebih, kak Cikho juga masih beraktivitas seperti biasa. Namun, nyatanya aku salah karena kak Cikho justru lebih dari yang aku khawatirkan.”


“Sementara untuk hubunganku dengan Akala maupun mas Helios, ... sekarang aku tanya ke Mas. Menurut Mas, apa yang akan terjadi andai aku langsung jujur?” Cinta menutup ucapan panjang lebarnya sembari menatap tegas Excel di tengah kenyataan kedua matanya yang basah.


“Mas Helios sepakat, dia mau menerima hubunganku dan Akala, sebelum akhirnya kami menikah. Dan aku akan mengabarkan ini kepada Akala setelah aku dan mas Helios tunangan. Agar semuanya terkesan serba tiba-tiba karena andai aku jujur dari sekarang, sebagai pasanganku, Akala pasti akan merasa tidak berguna. Akala pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.”


“Pelan tapi pasti, aku akan menjauhi Akala agar dia terbiasa tanpa aku. Agar dia juga bisa menemukan penggantiku.” Cinta menyeka setiap air matanya menggunakan ujung jilbab merahnya.


“Berapa uang yang sudah Helios berikan kepada keluargamu?” tanya Excel masih duduk di hadapan Cinta yang sampai detik ini juga masih ia sikapi dengan sangat dingin.

__ADS_1


“Enggak terhitung. Ibaratnya, mas Helios sudah membeli perusahaan maupun rumah orang tuaku,” balas Cinta.


“Itu karena dia juga yang telah membuat Cikho terlilit banyak hutang!” balas Excel sewot.


“Entahlah, di sisi ini aku mengakui bahwa kak Cikho juga sudah melakukan kesalahan fatal.”


“Jika aku memintamu tetap bersama Akala, kemudian aku akan menyelesaikan urusanmu dan Helios, kamu mau menerimanya?” tanya Excel.


“Aku percaya pada apa itu karma. Aku telanjur berjanji kepada Mas Helios. Aku tidak mau termakan janjiku sendiri,” balas Cinta.


“Akala tidak lebih penting dari semua itu? Justru di sini, aku merasa kamu sama sekali tidak menganggapnya,” ucap Excel sambil menatap sinis Cinta yang masih saja membuatnya kecewa.


Padahal, Cinta sudah menceritakan semuanya, sejelas-jelasnya. Namun Excel tetap saja tidak bisa sepenuhnya iba. Sempat tersentuh, tapi ketika mendengar penjelasan terakhir Cinta yang sama sekali tidak mempertimbangkan Akala, Excel sudah tidak mau kompromi lagi.


“Karma tidak hanya ada di janji. Semuanya selalu ada karmanya. Walau jika ditelisik lagi, hubunganmu dan Akala walau kalian belum menikah juga sudah terikat janji setia!” Excel mengakhiri ucapannya sambil berdiri. Ia meninggalkan tempat duduk di kafe tak jauh dari pantai.


Setelah di paginya Cinta langsung pergi demi menghindari pertemuan antara Excel, Akala dan Helios, wanita itu mendadak menghubungi Excel. Cinta mengajak Excel berbicara empat mata karena Cinta yakin, Excel tahu mengenai hubungan Cinta dengan Akala, maupun hubungan Cinta dengan Helios.


“Dia ketua mafia, Mas!” sedih Cinta. “Aku takut dia macam-macam ke Akala bahkan keluarga kami!”


“Ada berbagai cara, ada berbagai alasan bagi mereka yang memang niat. Ya memang enggak apa-apa, karena Akala memang terlalu baik buat kamu!” balas Excel yang kemudian mendukung keputusan Cinta. “Aku dukung keputusanmu yang baru akan mengabarkan hubungan kamu dan Helios kepada Akala setelah kalian bertunangan. Dan semoga, Akala lebih dulu mendapatkan penggantimu karena jika itu yang terjadi, kamu akan merasakan bagaimana luka tak berdarah karena dibuang oleh pasangan!”

__ADS_1


Excel yang terlanjur muak, memilih pergi meninggalkan Cinta. Tak peduli walau karenanya, wanita berkerudung merah itu langsung tersedu-sedu.


“Enggak apa-apa. Akala enggak akan rugi karena orang baik, jodohnya pasti juga orang baik. Wanita sebaik Azzura saja jodohnya seperti aku. Apalagi Akala yang sangat baik dan selalu membuat orang yang bersamanya nyaman?” pikir Excel. Makin ia melangkah, makin dekat juga ia dengan bibir pantai pasir putih di pantai Pangandaran Jawa Barat.


Di daratan tak jauh dari bibir pantai, rombongan Azzura sudah kompak bersiap-siap. Semuanya benar-benar tinggal menunggu Excel karena Ilham yang dari awal kedatangan sudah sibuk surfing, juga sudah siap bantu-bantu acara foto prewedding.


“Mas, Mass, aku jadi mirip Sepri, ya?” tanya Azzam refleks berbisik-bisik kepada mas Aidan yang kembali sibuk dengan ponsel.


Mas Aidan langsung mengernyit bingung kemudian menatap Azzam dan memang sengaja memastikan.


“Sama-sama gelap, Mas. Kulitnya. Eh tapi ya tetap gelap Sepri. Si Sepri kan ibarat pangeran matahari. Setiap saat dipanggang matahari jadilah segosong itu! Tapi kayaknya si Sepri memang sudah gosong sejak dari adonan, deh!” ucap Azzam.


Mas Aidan yang mesem sudah langsung geleng-geleng. Ia yang sudah kembali fokus menatap layar ponselnya berkata, “Enggak kebayang kalau kalian lagi bareng apalagi sampai jadi keluarga!”


Azzam tertawa lepas layaknya orang yang tak memiliki beban. “Jadi keluarga sih gimana ceritanya? Masa iya aku nikah sama Ojan. Ojan jadi bapak rumah tangga yang baik, sementara aku jadi suami perkasa? Hahahaha, innalillahi kok gokil! Ih tapi amit-amit ih! Masa iya aku sama Ojan!” rengek Azzam yang juga menjadi uring-uringan sendiri.


“Kamu tungguin Sundari gede saja. Tunggu dia sampai jadi dokter, baru kalian nikah!” ucap mas Aidan yang pamit karena akan menerima telepon Divani.


“Oalah aku lupa kalau Sundari adiknya Sepri. Ya gimana ya, mereka ibarat langit dan awan, agak beda gitu walau ternyata masih saudara bahkan satu kesatuan!” pikir Azzam yang langsung baper melihat interaksi manis antara Azzura dan Excel.


Melihat Excel yang baru datang, Azzura sudah merengek manja ingin memeluk sekaligus dipeluk. Dengan sabarnya, Excel juga langsung menyanggupi. Excel memeluk Azzura penuh kelembutan di depan semuanya. Pandainya Akala, pemuda itu juga langsung mengabadikan momen tersebut.

__ADS_1


“Mbak Azzura lagi hamil apa gimana, ya? Manjanya beda loh. Tapi kok enggak kabar-kabar, ya? Atau memang baru mau kasih kabar? Asli sih, manjanya Mbak Azzura beda!” batin Azzam segera bergabung dengan kebersamaan di daratan sana.


Di antara pepohonan yang membuat suasana di daratan jauh lebih teduh, Azzam juga menggunakan kamera ponselnya untuk mengabadikan momen kebersamaan Azzura dan Excel. Karena Azzam yakin, hasil bidik kameranya akan jauh lebih berguna bahkan berharga untuk masa depan hubungan Azzura dan Excel.


__ADS_2