Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
60 : Kencan


__ADS_3

“Mulai sekarang, Mas harus pakai yang berwarna. Jangan hanya serba gelap.” Azzura bertutur sangat manis. Kedua tangannya bertahan di kedua sisi dada sang suami.


Excel yang masih menyimak, menatap Azzura penuh cinta bertanya, “Dari dua hari lalu, sudah, kan?”


“Itu juga masih aku yang memaksa!” ucap Azzura sengaja mengingatkan, meski ulahnya membuat dirinya terkesan bawel.


Excel sudah langsung mengangguk-anggukan. Mengenal Azzura memang membuat dunianya berwarna. Bukan hanya pakaian yang ia kenakan, tetapi memang semuanya karena perasaan dan hatinya juga. Bahkan mengenal Azzura, ia menjadi berani keluar dari kegelapan tempatnya selama ini bersembunyi.


Azzura melarang Excel memakai topi. Wanita itu segera meletakan topi Excel di meja nakas sebelah tempat tidur. Tempat tidur yang juga sudah rapi dan tadi mereka bereskan bersama, secara bekerja sama. Sudah cantik, pintar, tangguh, dan juga rajin, benar-benar paket komplit.


“Mulai sekarang, jangan jadi orang lain lagi. Mulai sekarang, Mas wajib jadi diri Mas. Karena meski akan jauh lebih mudah dikenali, mereka pasti akan takut kalau mereka tahu siapa Mas.” Azzura mengakhiri ucapannya dengan senyum yang masih sangat manis. Ia hanya meninggalkan masker di wajah sang suami sebelum akhirnya ia fokus mengurus dirinya sendiri.


Sekitar setengah jam kemudian, mereka bertemu di lobi. Keluarga Azzura maupun ibu Septi memutuskan untuk tidak menginap di hotel lagi karena mereka akan menginap di rumah Sekretaris Lim. Semuanya sudah langsung memboyong ransel masing-masing karena setelah jalan-jalan, mereka akan langsung pulang ke rumah Sekretaris Lim.


“Besok Mas Ojan harus kontrol, kan?” ujar Excel sambil menatap wajah-wajah keluarga pak Haji Ojan. “Kalau memang tidak ada yang mengantar, besok saya saja yang mengantar,” lanjutnya yang sampai detik ini masih merasa sangat bersalah karena gara-gara ada di rumahnya, pak Haji Ojan sampai jadi korban tem*bak.


“Iya, besok siang kami kontrol. Sudah daftar online juga, sekalian besok mau minta surat rujuk karena memang mau pulang ke kampung juga. Biasa enggak kontrolnya di kampung saja? Namun kalau memang enggak bisa, berarti memang enggak ada pilihan lain selain tinggal di sini sampai waktu yang ditentukan,” balas dokter Andri benar-benar sabar.


“Ya sudah, besok saya saja yang antar kontrol.” Excel mantap dengan keputusannya, dan semuanya sudah langsung mendukung melalui senyum sekaligus anggukan.


Acara jalan-jalan ke pusat perbelanjaan sekaligus pusat keramaian terdekat, sudah langsung membuat keluarga Azzura maupun pak Haji Ojan, sangat bahagia. Pada kenyataannya, di tempat tinggal Azzura memang belum ada pusat perbelanjaan maupun pusat keramaian layaknya yang sudah menjadi warna mencolok di ibu kota. Termasuk sekadar bioskop, di tempat Azzura juga belum ada. Wajib ke kabupaten paling kota, baru ada. Jadi, acara menonton bioskop yang tengah mereka jalani juga bagian dari liburan mewah.


Senyum lembut menjadi ekspresi pokok Azzura sore ini. Walau ketika ia menoleh dan menatap wajah Excel, ia jadi kehilangan senyumnya. Termasuk juga, rasa nyaman dari hasil kencan halalnya dengan sang suami. Kenyataan Excel yang terlihat sangat terjaga, seperti memang ada yang tengah diawasi atau malah membuat suaminya itu merasa diawasi, membuat Azzura khawatir. Azzura sampai tidak jadi memakan popcorn di tangan kanannya dan memilih mengembalikannya ke wadah yang memang Excel pangku.

__ADS_1


“Mas kenapa?” lirih Azzura yang kemudian mengawasi sekitar. Padahal semua yang ada di dalam bioskop, fokus menonton layar lebar di hadapan mereka.


Excel yang awalnya sedang melirik ke belakang samping kirinya.berlawanan dengan keberadaan Azzura, sudah celingukan. Ia tidak begitu mendengar pertanyaan Azzura hingga ia memastikannya.


“Tadi kenapa?” tanya Excel sampai merapatkan jarak wajah mereka lantaran mereka memang harus menjaga suara mereka hingga berbicara saja harus sangat lirih, berbisik-bisik.


“Mas kenapa?” tanya Azzura.


Walau sempat terdiam, Excel berangsur jujur. “Aku merasa ada yang mengawasi.”


“Orang naksir ke Mas, ... apa, mafi*a?” Azzura menebak karena biar bagaimanapun, dari tadi Excel dan pesonanya yang memang sangat tampan, selalu menjadi fokus perhatian. Meski jika melihat dari cara Excel yang begitu serius, Azzura lebih yakin bahwa yang telah membuat suaminya waspada memang kemungkinan kedua.


“Yang kedua.”


“Nempeleng itu apa?” tanya Excel berbisik-bisik kemudian hendak menyeruput lemon tea di tangan kirinya.


“Muk*ul tapi pakai gaya dan hasilnya enggak jauh sakit dari hasil ton*jokkan, Mas. Bahasa daerahku!” Azzura sudah langsung mengambil alih gelasnya, kemudian membantu sang suami minum melalui sedotan.


Excel menggeleng sembari menyudahi minumnya. “Kalaupun memang yang nomor dua, belum tentu dari pihak sama. Bisa jadi dari pihak lawan yang memang enggak mau banyak saingan, atau malah mereka mau, aku gabung sama mereka biar mereka lebih kuat.”


“Ih ....” Azzura menatap sebal sang suami.


“Asli ...,” bisik Excel benar-benar sabar masih di depan wajah sang istri sambil kembali menyeruput lemon tea. Sesekali, ia juga kembali mengawasi sekitar.

__ADS_1


“Bahkan walau di tempat umum begini? Mereka tetap beraksi?” tanya Azzura yang kemudian menyeruput lemon tea juga dan itu memang masih bekasnya Excel.


Excel mengangguk-angguk. Tangan kirinya meraih popcorn, tapi tangan kanan Azzura langsung menahan. “Jangan dibiasakan makan atau minum pakai tangan kiri yah, Mas. Mulai sekarang, wajib pakai tangan kanan. Wajib lebih sopan, dan memang sudah aturannya. Biar aku yang suami Mas. Mas cukup awasi maf*ia-nya. Nanti kalau sudah ketahuan, kabar-kabar biar aku bisa ikut haj*ar.”


Mendengar itu, Excel sudah langsung mesem. Azzura istrinya memang beda. Ia yang sempat khawatir bahkan takut jadi lega karena istrinya bisa diajak kerja sama.


“Aku janji enggak akan ikut penuh. Aku beneran hanya akan bantu Helios. Aku juga mau fokus urus bisnis,” yakin Excel.


“Bisnis?” lirih Azzura yang langsung menyikapi Excel dengan serius.


Excel yang kembali meminum lemon tea dan dibantu Azzura, mengangguk-angguk. “Besok, Bu Azzura mau cek lokasi bisnis suami Ibu?” tanya Excel sengaja menggoda istrinya. Lihatlah, istrinya sudah langsung tersipu tapi perlahan mengangguk-angguk.


Di sebelah Azzura dan terpaut tiga tempat duduk karena di sebelah Azzura persis ada pak Kalandra, ibu Arum, dan juga mas Aidan, Azzam langsung geleng-geleng. “Pengantin baru, minum berdua, ngomong bisik-bisik, bukannya nonton malah tatap-tatapan ketawa ditahan. Nanti yang ada keluar dari pantat dan baunya dibagi-bagi!” cibirnya sambil melirik sinis pengantin baru di sebelah sana.


“Kenapa, Mas?” tanya Akala yang sibuk memenuhi mulutnya dengan burger. Ia melihat apa yang Azzam lihat, tapi baginya tidak ada yang aneh. Bahkan walau Azzam berdalih ada penampakan, ia tetap tidak bisa melihatnya. “Mahluk halus berarti, yah, Mas?”


“Ya halus, habis diblender! Dunia hanya milik berdua, pokoknya!” balas Azzam sewot dan kembali fokus menonton sambil menikmati popcorn.


“Oalah ... berarti makhluk halusnya pasangan, yah, Mas?” tanya Akala masih penasaran.


“Bukan pasangan lagi, ... sudah nikah!” Azzam makin sewot.


“Oh, berarti mirip mbak Azzura sama mas Excel!” ucap Akala yang kemudian memilih menghabiskan burger jumbonya sambil melanjutkan menontonnya.

__ADS_1


“Ih, ... si Akala beneran enggak berubah-berubah. Polos sama beggonya bedanya tipis banget!” batin Azzam, jadi tantrum dadakan.


__ADS_2