Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
111 : Aurora Bilqis Lucas & Sabiru Muhammad Lucas


__ADS_3

Aurora Bilqis Lucas dan Sabiru Muhammad Lucas, dipilih Azzura maupun Excel menjadi nama anak kembar mereka. Nama tersebut sudah langsung mendapat persetujuan penuh dari keluarga besar mereka.


“Kok bisa semirip itu, ya?” Dari seberang, Helios terheran-heran. Mereka tengah terhubung melalui sambungan telepon video.


“Sudah, enggak usah heran. Kamu cukup proses juga istrimu biar kalian cepat nyusul!” canda Excel yang mengarahkan kameranya pada kedua anak kembarnya yang tengah tidur di ranjang bayi.


“Mohon maaf yah, bapaknya Rora dan Biru, istriku juga sedang hamil, tapi aku memang sengaja enggak kabar-kabar!” balas Helios dari seberang berusaha elegan.


Excel langsung terkejut dan buru-buru menatap layar ponselnya hingga ia berhadapan langsung dengan Helios.


“Bikinnya saja diam-diam, masa udah jadi langsung kabar-kabar? Hahahaha!” Helios tertawa lepas selepas-lepasnya.


Excel geleng-geleng, menatap sang sahabat penuh arti saking gemasnya.


“Asli, Chole sudah isi lagi. Bismilah ya ... bismilah pokoknya!” balas Helios.


“Bismilah, pasti dikasih yang terbaik!” ucap Excel meyakinkan.


“Amin. Amin ya Robbal Alamin!” balas Helios yang kemudian berkata, “Ya sudah, Pak. Selamat ronda lagi. Biarkan istri Bapak tidur dengan tenang biar ASI juga lancar!” Kali ini ia sengaja menggoda sang sahabat.


“Oh iya, tentu! Dengan senang hati! Saking semangatnya, ini lima tahun lagi kami bakalan program lagi!” balas Excel sengaja pamer.


“Lanjut terus sampai benar-benar udah enggak bisa pokoknya, ya?” Di seberang sana Helios kembali tertawa. Membuat sang istri yang terbangun, ikut nyempil kemudian kepo pada wajah si kembar secara langsung.


“Ya sudah, makasih banyak sudah nemenin kami ronda. Jam berapa ini, eh serius. Udah pukul dua pagi! Wah keren, Rora sama Biru ditemani Aunty dan Uncle selama ini!” Heboh Excel walau sampai detik ini, ia masih berbisik-bisik demi menjaga suaranya dari sang istri yang tidur pulas.


“Eh Rora sama Biru kok diam-diam bae, nangis dong ngamuk apa gimana. Masa papah rondanya cuma ngawasin kalian yang sedang tidur?” Komentar Helios dan langsung membuat Excel tertawa.

__ADS_1


Excel yang sampai detik ini masih tinggal di rumah orang tua Azzura hendak keluar dari kamar. Ia bermaksud menyiapkan tim-timan daging atau ayam kampung, untung sang istri. Namun di hadapannya sudah ada istri mas Aidan yang membawa nampan berisi satu mangkuk tim-timan daging, satu mangkuk nasi, dan juga satu poci teh yang semuanya tampak masih panas.


“Mbak Mbi, jam berapa ini, kok Mbak lagi yang urus? Mbak Mbi lagi hamil besar loh!” tegur Excel.


“Ya enggak apa-apa, Mas. Di dapur kan mas Aidan juga lagi makan. Kebetulan mas Aidan lapar, jadi tadi sekalian bikin buat Mbak Azzura,” balas istri mas Aidan.


“Oh iya, mas Aidan baru pulang dari Jakarta, ya? Terus dari tadi, Mbak sama siapa? Ini Mbak ada keluhan?” tanya Excel khawatir. Pekerjaan mas Aidan memang membuat pria itu kerap dinas ke luar kota hingga istri yang sedang hamil juga kerap ditinggal. Malahan daripada Azzura, istri mas Aidan jauh lebih sering ditinggal dalam waktu terbilang lama. Namun jika melihat istrinya mas Aidan, wanita berhijab dan mirip ibu Arum itu tampak layaknya wanita sehat pada kebanyakan, seolah memang tidak hamil hingga tak ada sedikit pun tanda-tanda dirinya merasa terbebani.


Mbak Arimbi yang ditodong pertanyaan khawatir oleh mas Excel langsung tersenyum. “Dari tadi ditemani mamah di kamar. Sekarang mas Aidan sudah pulang, ya tinggal sama maa Azzam. Soalnya di dapur, mas Azzam sedang ikut makan juga.”


“Oalah mas Azzam beneran jadi pria yang mengidam tanpa kehamilan!” ucap Excel yang tertawa gara-gara ucapannya sendiri.


“Efek dikelilingi orang ngidam kali yah, Mas. Jadi mas Azzam ikut-ikutan!” Arimbi juga jadi susah payah mengontrol tawanya.


“Bener juga sih, Mbak. Tapi ini makasih juga sudah disiapin ini! Makasihnya dari mamah Azzura sama Rora dan Biru juga!” ucap Excel benar-benar manis.


“MasyaAlloh, Mbak. Yang buat nanti juga sudah siap?” Excel sampai tidak bisa berkata-kata. Kenyataan mereka yang masih tinggal satu atap, membuat perhatian demi perhatian nyaris tidak pernah putus. Ibaratnya, mereka tidak pernah berjuang sendiri karena anak-anak pak Kalandra selalu peduli satu sama lain.


Anak-anak pak Kalandra dan ibu Arum, tidak ada yang gagal. Mereka terdidik sekaligus memiliki empati tinggi apalagi kepada keluarga. Dan Excel berharap, anak-anaknya akan mengikuti jejak anak-anak keluarga pak Kalandra dan ibu Arum.


***


Setelah Aurora dan Sabiru berusia empat bulan, keduanya baru diizinkan bepergian jauh. Excel memboyongnya berkunjung sekaligus menginap di Jakarta, ke rumah lamanya yang kini juga ditinggali oleh Rere beserta sang putra.


Rere sudah Excel dan mas Aidan keluarkan dari penjara. Status Rere menjadi tahanan kota yang wajib lapor. Kini, Rere sudah menjadi sosok yang jauh lebih baik. Sosok alim yang juga sangat menjaga penampilannya walau Rere tidak sampai bercadar.


Anak Rere yang sempat diragukan statusnya bahkan oleh Rere sendiri, merupakan anak Cikho. Hasil tes DNA juga memperkuat kenyataan tersebut selain wajah bocah laki-laki itu yang memang sangat mirip Cikho. Kendati demikian, Rere tak pernah menuntut apa pun kepada pihak Cikho. Wanita itu juga sudah ikhlas diceraikan oleh Cikho dan kini mantap menjadi orang tua tunggal.

__ADS_1


Rere menjadi janda yang menolak pinangan setiap yang mendekat termasuk itu pinangan pak Haji Ojan yang paling tidak bisa melihat janda nganggur.


“Hallo, selamat datang Mbak Rora dan Mas Biru. MasyaAlloh, ini yang Rora yang mana, yang Biru yang mana? Mirip banget ya Alloh, jadi pengin lagi ini punya yang begini.” Rere sudah langsung menyambut hangat. Ia mengambil bayi yang diemban Azzura.


Walau masih agak canggung karena masa lalu mereka, Rere masih berusaha menjadi adik yang baik. Begitu juga dengan Azzura yang sudah langsung diperlakukan layaknya ratu di sana.


“Mana cucu Oma, mana? Sini gabung sama kakak Adam!” ucap ibu Mira bersemangat dari kursi rodanya. Ia melangkah beriringan dengan Elena yang mengemban Adam putra Rere.


“Mah, Rere ingin bayi kembar juga. Sudah kita restuin sama mas Ojan saja, ya?” izin Excel sangat lembut kepada sang mamah.


“Iya enggak apa-apa. Gitu-gitu kan, Mas Ojan sangat baik,” balas ibu Mira santai sambil memangku bayi berbaju pink dari Excel dan tentu saja itu Aurora.


“Ih, apaan sih?” Rere tersenyum geli dan perlahan tertawa gara-gara sekelas Azzura juga sampai menggodanya, menjodohkannya dengan pak Haji Ojan.


“Ayo kita makan dulu, aku sudah masak banyak buat kalian. Bikin es buah juga, sama es krim. Kata Lena sama Adam sih, enak. Ya lumayan lah maksudnya.” Rere menertawakan dirinya sendiri, sadar, masakannya tak seenak keluarganya Azzura.


“Ini berarti kami jadi bahan percobaan?” tanya Excel sambil menggandeng Azzura. Karena jika ada yang membantu mereka mengasuh anak-anak mereka, itu akan menjadi kesempatan emas mereka menjalani quality time.


“Wah, meja sampai penuh. Ini kamu masak dari jam berapa, Re? Dari subuh, ya?” ucap Azzura sengaja memuji kerja keras Rere. Alhamdullilah, Rere sudah menjadi sosok yang berkali lipat lebih baik dari Rere ketika wanita itu masih terobsesi memiliki Cikho.


“Sebagian ada yang aku bumbui dari kemarin terus masuk kulkas. Sesuai arahan mamah Arum!” balas Rere masih mendekap gemas Sabiru.


Kini, adik-adik Excel juga sudah menganggap orang tua Azzura sebagai orang tua mereka. Termasuk Rere, dia sering minta diajari masak kepada ibu Arum maupun Arimbi, walau keseharian Rere bukan menjalani usaha kuliner. Karena sejak Adam tak lagi ASI eksklusif, Rere sudah turun membantu Excel mengurus pabrik sekaligus kebun.


“Ini beneran jadi nginep agak lama kan? Apa mau di sini saja?” ucap Elena yang menyusul duduk di sebelah Azzura. “Yang lama ya, gantian. Biar di sini juga makin rame. Biar Adam ada temen main, bukan hanya Aunty. Ih asli, Adam udah makin aktif. Kemarin minggat dia ke rumah tetangga. Aku cari-cari sampai keluar kompleks. Tahu-tahunya lagi diajak kasih makan ikan. Padahal cuma aku tinggal ambil minum buat dia.”


“Udah makin pinter ya Dek Adam. Sini ikut Tante,” ucap Azzura tak segan memangku Adam. Padahal dulu, hadirnya Adam menjadi keretakan hubungannya dan Cikho. “Enggak apa-apa, sekarang sudah hidup masing-masing. Alhamdullilah, hubungan kami juga makin baik. Rere juga jauh berkali lipat lebih baik. Semuanya beneran sudah menemukan jalan sekaligus kebahagiaan masing-masing. Beneran alhamdullilah!” batin Azzura yang merasa kasihan kepada nasib Adam. Beruntung, Adam laki-laki yang tak butuh wali saat nikah nanti.

__ADS_1


Sebenarnya, Tuan Maheza sekeluarga menerima Adam dengan tangan terbuka. Hanya saja, Rere yang tak enak hati apalagi Cikho hanya anak angkat, hanya sesekali berkomunikasi. Sampai detik ini, Rere belum berani berkunjung ke kediaman Tuan Maheza. Hanya pihak Tuan Maheza yang sesekali ke sana menemui sekaligus memberi Adam hadiah.


__ADS_2