
“Tubuh Mas bau minuman oplosan.” Azzura mengerutkan bibir sebagai bentuk protesnya kepada sang suami.
Seperti janjinya, Excel benar-benar kembali dalam waktu sepuluh menit. Entah gaya mengemudi macam apa yang pria itu pakai, hingga dengan begitu cepat sampai. Nasi Padang yang dibawa juga terbilang masih panas, sementara Excel yang tengah Azzura hakimi, langsung mengendus tubuhnya.
“Tadi ada anak punk ngamuk dan aku bantu urus. Kalau gitu aku mandi dulu.” Tanpa menunggu persetujuan Azzura, Excel sudah langsung pergi. Ia tak mau membuat Azzura muntah akibat aroma minuman oplosan anak punk yang memang tertinggal di tubuhnya karena kini saja, Azzura yang awalnya tidak memakai cadar, menjadi memakai masker lengkap dengan stiker aroma terapi.
“Tapi Mas enggak apa-apa, kan?” Azzura khawatir dan segera menyusul.
“Helios dan Jay saja kalah. Apalah mereka yang hanya anak punk dan bahkan nyaris teler,” ucap Excel tetap melangkah buru-buru.
Mereka memang tak lagi di hotel. Kini mereka tinggal di rumah Excel yang awalnya akan dijual setelah terjadi tragedi penembakan berdarah.
“Ya sudah, aku siapin nasi padangnya di dapur, ya.” Azzura sengaja berseru karena suaminya sudah telanjur jauh.
Excel tak menjawab, membuat Azzura merasa, dirinya memang menikah dengan robot.
Tak lama ketika Azzura mencicipi ayam bakar, Elena masuk ke dapur dan Azzura pikir, itu Excel. Dan kenyataan Elena yang sudah langsung terpaku menatap wajah Azzura, membuat Azzura bingung.
“Ternyata kak Azzura cantik banget,” ucap Elena langsung kagum. Di hadapannya, kakak iparnya yang memakai gaun malam panjang sekaligus masih memakai jilbab tanpa cadar, sudah langsung tersenyum kikuk.
“Makasih banyak, Dek.” Azzura malu-malu mengatakannya.
“Asli Kakak cantik banget. Pantes, Kak Excel langsung ... tapi, kok malam-malam, mau pukul sepuluh gini, makan nasi Padang. Kak Azzura ngidam ...?” tanya Elena masih lembut. Suara yang tercipta efek rasa kagumnya pada kecantikan kakak iparnya.
Di lain sisi, dikira sedang mengidam, langsung membuat Azzura panik. Azzura segera menggeleng. “Enggak ih, Dek. Baru juga kemarin, masa iya langsung jadi.”
“Ini memang kebetulan saja. Laper, pengin makan nasi padang biar cepat kenyang. Soalnya meski tubuh kecil, porsi makan kakak memang banyak!” lanjut Azzura yang juga langsung mengajak Elena untuk bergabung, apalagi Excel juga sudah datang.
Excel melangkah buru-buru sambil mengeringkan kepalanya menggunakan handuk kecil.
“Mumpung lagi bareng gini, aku mau jujur kalau aku enggak mau pindah. Aku mau tetap lanjut kuliah di Jakarta.” Melirik Azzura yang duduk di hadapannya takut-takut, Elena kemudian berkata, “Kak Azzura bilang, apa pun yang aku rasakan sekaligus aku mau, aku wajib bilang?”
__ADS_1
Azzura yang sudah makan karena ia memang kelaparan, segera mengangguk-angguk. Kemudian, lirikannya tertuju kepada suami yang duduk persis di sebelahnya.
Excel sudah merenung meski ia belum sempat diminta pendapat.
“Mamah bilang, rumah ini akan dijual?” tanya Elena hati-hati sambil menatap sang kakak. “Terus Kak Rere apa kabar? Mamah enggak pernah jawab di setiap aku tanya kak Rere. Aku telepon Kak Rere maupun suaminya, juga tetap enggak bisa. Nomor mereka enggak ada yang aktif.”
Membahas Rere dan Cikho, detik itu juga Azzura langsung kehilangan selera makan. Excel yang menyadarinya sudah langsung meminta Elena untuk tidak khawatir. Excel juga mengizinkan Elena tetap tinggal sekaligus kuliah di Jakarta. Rumah kebersamaan mereka dan awalnya akan Excel jual, tidak jadi dijual.
“Makan, habisin.” Excel menambah setiap lauk ke piring sang istri.
Azzura tersenyum singkat kemudian kembali makan dan memang tidak mau membuat sang suami khawatir. Namun ketika akhirnya mereka sampai kamar, Azzura kembali membahas Rere.
“Biarin saja. Biarkan hukum berjalan dengan semestinya,” balas Excel enteng.
“Mas yakin?” Azzura masih tak enak hati.
Excel sudah langsung menatap Azzura, meski kedua tangannya tengah mengunci pintu. “Dia salah. Biarkan dia belajar dari kesalahannya. Walau memang berat, membiarkan orang yang terus terbiasa bohong tanpa mau belajar dari kesalahan, juga hanya akan membuat orang itu, enggak lebih baik.”
“Bukan kamu yang meminta, jadi tolong jangan menyalahkan diri kamu untuk hukuman yang harus mereka jalani. Terlebih ketika melukai kamu saja, mereka tidak peduli.” Excel masih menatap Azzura penuh keseriusan, sementara Azzura yang awalnya menyimak, berangsur memeluknya. Azzura terlihat sangat sedih.
Excel berpikir, alasan sang istri begitu karena hubungan mereka dibalut dengan luka. Ada Rere dan Cikho yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Keduanya sama-sama melakukan kesalahan fatal dan menjadikan Azzura sebagai alasan. Namun hukuman yang harus keduanya jalani membuat keluarga mereka dilema, meski keduanya terbukti salah.
Keesokan harinya, Excel memboyong Azzura sekeluarga mengunjungi pabrik tahu dan tempe miliknya. Kunjungan mereka tersebut sudah mirip wisata dadakan. Kebersihan terjamin di sana hingga pemandangan terbilang menyeramkan dalam pembuatan tempe dan tahu, tak mereka jumpai.
“Aku pun baru tahu kalau Kak Excel punya ini,” ucap Elena yang kemudian menatap sang kakak.
“Kamu enggak pernah tanya,” ucap Excel.
Sebelum Elena menjawab, Azzura yang masih digandeng Excel berkata, “Kalian sama saja. Sudah enggak usah saling menyalahkan.” Azzura memberikan senyum terbaiknya dan sang mamah mertua yang masih duduk di kursi roda langsung tertawa. Tawa yang juga menular ke semuanya.
“Jangan-jangan, yang suka dimasak di rumah Paman, juga buatan pabrik kamu, Chel?” tanya Sekretaris Lim sambil tersenyum hingga matanya yang sipit nyaris tak terlihat.
__ADS_1
Excel bilang, pemasaran tahu dan tempenya, nyaris ke luar Jakarta. Bisa jadi, yang Sekretaris Lim curigai memang benar, bahwa ternyata selama ini, ia sudah mengonsumsi buatan pabrik Excel.
Excel sudah langsung tersipu. “Coba nanti Paman cek mereknya!”
“Nanti kalau iya, belinya dibanyakin bahkan langsung borong, yah, Paman!” ucap Azzura benar-benar manis karena memang sengaja promosi, tapi ia malah langsung memecahkan tawa dalam kebersamaan mereka.
“Aku mau main perosotan, dong!” ucap pak Haji Ojan bersemangat, naik ke salah satu mesin di sana.
“Perosotan gundulmu! Itu mesin tahu!” omel Sepri masih menjadi pengasuh idaman pak Haji Ojan.
Setelah sama-sama mesem melewatkan omelan Sepri kepada pak Haji Ojan, pak Kalandra membahas ampas tahunya.
“Enggak, Pah. Enggak dikasih ke orang apalagi dibuang. Soalnya ampasnya buat pakan sapi,” jelas Excel. Karena ia memang memiliki beberapa sapi di kandang khusus yang juga sudah menjadi bagian dari usahanya.
Setelah beres keliling pabrik, menyaksikan setiap kesibukan di sana, Excel juga memberi bingkisan berisi tahu dan tempe hasil pabriknya.
“Cel, Mamah juga mau. Nanti digoreng di rumah apalagi langsung dari pabrik gini dan masih fresh! ” protes ibu Mira dan membuat yang lain menertawakannya.
Wisata dadakan kali ini berakhir di peternakan sapi milik Excel. Sapi-sapi super yang memiliki daya jual tinggi dan sangat terurus kebersihan sekaligus kesehatannya, mereka jumpai di sana. Total ada dua ratus sapi yang diurus oleh sepuluh pekerja. Sepri sengaja memasukan pak Haji Ojan ke salah satu kandang. Namun bukannya takut, Pak Haji Ojan malah aji mumpung, naik ke sapi kemudian joged-joged.
“Heh, Jan. Hati-hati itu! Ngamuk, kamu digepak, langsung remuk!” omel Sepri menyesal, keputusannya memasukkan pak Haji Ojan ke kandang sapi malah membuatnya makin repot karena pak Haji Ojan makin berulah.
“Dua ratus sapi yang urus sepuluh orang. Ini normal, beda kalau Mas yang urus. Dua ratus sapi Mas sanggup,” ucap Azzura.
“Sanggup sih sanggup, tapi kalau aku terlalu sibuk dan enggak ada waktu buat kamu, kamu pasti teriak,” balas Excel lembut dan sudah langsung membuat semuanya menertawakan Azzura
Namun dalam diamnya, Akala yang pernah menyaksikan sendiri betapa seorang Excel sangat cekatan sekaligus kuat mirip gatotkaca, memang sudah langsung mengakui. Sekeren itu Excel suami Azzura.
“Tanah seluas ini, punya kamu juga?” tanya Sekretaris Lim penasaran.
Dokter Andri dan sang istri, sekaligus yang lainnya termasuk orang tua Azzura juga langsung menatap penasaran Excel. Mereka menunggu jawaban Excel. Terlebih luas tanah di sana ada sekitar tiga hektar. Sementara yang mereka tahu, Excel bukan dari keluarga berada. Kenyataan yang juga membuat mereka penasaran terhadap sumber penghasilan Excel dalam menciptakan bisnis.
__ADS_1
🔥Yang masih latah hobi kasih bintang satu tapi baca terus, mending udahan deh 🔥