
“Biar aku yang jadi mempelai prianya!” sergah pak Haji Ojan, masih menjadi yang paling sibuk sekaligus heboh.
“Mempelai prianya sudah ada. Tuh, setampan itu masa enggak kelihatan?!” Sepri masih menjadi orang paling sabar, mengawasi setiap tingkah pak Haji Ojan.
“Hah? Mana?” Pak Haji Ojan pura-pura tidak melihat Excel, padahal ia justru duduk di pangkuan Excel. Excel sudah duduk di tempat duduk khusus mempelai pria, siap menjalani ijab kabul.
“Sudah, Xel, lempar saja ke atap. Paling juga tetap selamat. Orang kayak Ojan kan punya banyak nyawa cadangan. Mirip kucing, soalnya kalau enggak ada dia, beban hidup yang waras berkurang!” ucap Sepri. Di hadapannya, pak Ojan pura-pura bingung ketika melihat Excel yang mengenakan pakaian pengantin warna putih, dan ia duduk di pangkuannya.
“Kamu siapa? Kok kamu di sini?” tanya pak Haji Ojan tak merasa berdosa.
Excel menghela napas pelan, menatap lelah wajah pak Haji Ojan karena ia memang sudah merasa sangat lelah akibat luka-lukanya. “Turun, ih.”
“Kamu yang turun, biar aku yang duduk di sini,” tawar pak Haji Ojan.
“Jan, ayo cepat. Kamu mau lihat janda cantik, enggak?” Sepri sengaja menarik perhatian pak Haji Ojan.
Seperti yang Sepri harapkan, pak Haji Ojan sudah langsung menoleh sekaligus menatapnya. “Di mana ada janda cantik?”
“Eh, ... di sini ya gudangnya janda cantik!” Sepri masih membohongi pak Haji Ojan.
“Lagi mandi di kali apa bagaimana?” tanggap pak Haji Ojan kali ini berangsur meninggalkan pangkuan Excel.
“Bukan di kali, tapi di kolam renang. Masa iya di hotel ada kali?!” balas Sepri sewot dan memang terbawa emosi.
__ADS_1
“Wah, pasti seksssi!” heboh pak Haji Ojan makin semangat. Ia sampai loncat-loncat, seolah mendapat sumbangan banyak nyawa di setiap ia mendengar kabar janda cantik apalagi sampai seksii juga.
“Sudah, sudah, cepat. Ayo, jangan di sini. Kacau kalau kamu di sini,” sergah Sepri kali ini agak memaksa pak Haji Ojan. Kedua tangannya sudah langsung meraih kedua tangan pak Haji Ojan yang memang menghampirinya.
“Eh, ... kayaknya aku mending jadi penghulu dulu, deh!” ucap pak Haji Ojan mendadak berubah pikiran lantaran tempat duduk untuk penghulunya masih kosong.
“Eh ... apaan? Ayo cari janda cantik dulu, syukur-syukur ada yang mau sama kamu, terus sekalian ijab kabul mumpung di sini ada penghulu!” ucap Sepri sambil mendekap paksa tubuh Ojan dari belakang.
Apa yang Sepri katakan sekaligus sarankan sudah langsung membuat Ojan bersemangat. Jadi, demi kebaikan bersama, Sepri rela tidak menjadi bagian dari acara sakral Azzura dan Excel. Pemuda itu sampai pamit secara khusus kepada semua yang ada di sana sambil menggendong pak Haji Ojan.
“Si Sepri saudara kamu bukan sih?” tanya Excel lirih kepada Azzura yang baru duduk di sebelahnya tak lama Pak Haji Ojan dibawa pergi.
Azzura langsung menata bingung Excel. Pria itu masih memperhatikan kepergian Sepri dengan tatapan penuh minat. Entah karena Excel cemburu, atau ada hal lain yang membuat calon suaminya itu menaruh perhatian khusus kepada Sepri.
“Oh, ... kamu sama mas Aidan, beda papah?” lirih Excel yang jujur saja syok. Namun dengan segera, Azzura mengangguk, membenarkan. “Enggak ada tanda-tanda kalian berbeda. Kalian dekat banget, walau garis wajah kalian memang agak berbeda. Namun mas Azzam. Itu kok bisa nempel gitu ke kamu? Interaksi kalian mirip pasangan. Tadi mas Azzam juga enggak segan ci*um-ci*um kamu!” lanjutnya sengaja berkeluh kesah karena jujur saja, ulah Azzam yang tak segan nempel sekaligus menci*um Azzura, sudah langsung membuatnya cemburu seperti yang tengah ia keluhkan.
Azzura menjadi menahan senyumnya, menatap Excel yang terlihat jelas cemburu. “Mas Azzam, galak-galak begitu memang paling manja, Mas. Dari aku, termasuk Akala yang paling bontot, mas Azzam tetap jadi yang paling manja sekaligus berisik. Nanti aku bilang ke dia biar enggak terlalu nempel ke aku,” lirihnya masih menahan senyumnya.
Excel tersenyum kecut. Ia menatap Azzura kemudian meminta maaf. “Andai mas Sepri belum ada jodoh, biar dia sama Elena saja. Laki-laki penyayang seperti dia, biasanya jauh lebih bisa dipercaya. Bisa jauh bisa bikin pasangan bahagia.”
Azzura yang menatap teduh Excel berkata, “Mas tahu, kaki kanan Mas Sepri, gitu ...?”
Excel mengangguk-angguk. “Tahu, tanpa dikasih tahu aku sudah lihat. Jujur aku kaget karena dia, begitu lincah urus ini itunya. Jadi merasa terta*mpar, aku langsung termotivasi buat jadi lebih baik lagi. Makanya langsung kepikiran buat jodohin dia dengan Elena karena aku yakin, pria seperti Sepri akan membuat Elena layaknya ratu.”
__ADS_1
Azzura langsung menatap Excel penuh arti. “Omong-omong mas Sepri, Mas Excel sendiri bagaimana? Maksudnya, kita kan sudah menikah, kita ....”
“Sudah jangan diragukan. Kamu dijamin bahagia kalau sama aku, walau di beberapa hal, mungkin aku masih kaku!” yakin Excel sengaja menahan pertanyaan Azzura yang jelas tengah berusaha meminta kepastian kepadanya.
Azzura sudah langsung tersipu. Ia mengangguk-angguk dan perlahan menatap Excel. “Mas wajib membebaskan diri dan menjalani kehidupan normal bersama keluarga kita.”
“Pasti. Bagaimana pun caranya, aku pasti akan mengusahakan itu!” yakin Excel yang kemudian membenarkan posisi duduknya karena gara-gara pak Haji Ojan, duduknya memang jadi agak geser.
Karena semuanya berangsur menempati posisi masing-masing baik rombongan penghulu maupun rombongan saksi yang tak lain keluarga mereka, Azzura sengaja membantu Excel.
“Beres ijab kabul, nanti kita langsung istirahat. Nanti Mas juga infus lagi, sekalian aku juga mau cek luka-luka Mas,” lirih Azzura. Ia sengaja membuka sebotol air minum yang sudah tersedia di meja mereka, kemudian memberikannya kepada Excel. “Minum dulu, Mas biar enggak gugup. Mas yang mau melafalkan ijab kabul, aku yang panas dingin.”
Excel menjadi tersipu memandangi wajah Azzura seiring ia yang menerima air minum pemberian Azzura.
“Sudah hafal lafal ijab kabulnya belum?” sergah Azzam dengan nada kesal kepada Excel yang tengah minum. Ia sengaja menghampiri karena memang belum yakin ke Excel.
“Bentar, Mas Azzam. Mas Excel kan masih minum,” balas Azzura mencoba memberikan pengertian.
Sekitar sepuluh menit kemudian setelah sampai diadakan doa bersama, akhirnya ijab kabul digelar. Ijab kabul tanpa adanya Sepri dan pak haji Ojan, berjalan dengan sangat lancar. Excel mengucapkan lafal ijab kabulnya dalam satu kali helaan napas. Mereka yang ada di sana sudah langsung memberikan kata SAH, sebagai tanggapan mereka untuk lafal ijab kabul yang Excel katakan.
Detik itu juga, baik jantung Azzura maupun jantung Excel seolah lepas dari posisinya. Selain itu, rasa gugup juga menyelinap masuk ke dada mereka, menimbulkan kecanggungan di setiap tatapan mereka bertemu. Baik yang sengaja, maupun tidak.
“Ya Alloh, kami benar-benar sudah jadi suami istri!” batin Azzura dan Excel nyaris bersamaan.
__ADS_1