Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
66 : Manis Dan Romantis


__ADS_3

Azzura lebih dulu terbangun. Pandangannya mengawasi suasana kamar keberadaannya yang temaram. Terdengar dengkuran halus dari sebelah kanannya, dan ketika ia pastikan, itu memang suaminya. Excel tampak sangat pulas, benar-benar lelap, tak ada tanda-tanda pria itu akan bangun meski ia mengganggunya.


Sejak menikah walau belum ada satu minggu, ini menjadi kali pertama Azzura mendapati Excel tidur sambil mendengkur. Selain itu, biasanya Excel juga akan langsung terusik walau hanya diperhatikan melalui tatapan layaknya sekarang.


“Oh iya ... walau pekerjaannya sebagai mafi*a memang sangat melelahkan. Pada kenyataanya, hubungan se*ks yang sampai klim*aks dan memang tak kalah melelahkan, akan membuat seorang pria jauh lebih bisa tenang. Termasuk untuk urusan tidur, mereka juga bisa jauh lebih lelap,” pikir Azzura yang langsung tersenyum ceria kemudian menggerakkan kedua jemari tangannya membentuk hati lantaran Excel masih Excel yang memang kaku, tepat waktu, benar-benar disiplin. Dipandangi tanpa bersuara, selain Azzura juga sampai mengatur napasnya agar tidak menerpa wajah Excel saja, Excel tetap terusik.


“I love you!” bisik Azzura masih memasang wajah menggemaskan kepada Excel yang memang sengaja ia goda.


Excel yang memang tengkurap langsung tersenyum pasrah dan berakhir mend*esah. Ia menepis tatapan Azzura karena memang tak berani menatapnya bersama rasa malu yang tiba-tiba menyelusup masuk ke dalam dada, dan sudah langsung menguasai kehidupannya.


Melihat Excel yang sampai menahan tawa, dan pria itu tak berani menatapnya, benar-benar membuat Azzura bahagia. Azzura merasa menang karena perlahan, ia mampu mencairkan dinginnya sang suami.


Ketika akhirnya Excel menatap Azzura, wajah bersihnya sudah sangat merah, khas orang malu tapi mau. Karenanya, Azzura sengaja kembali membisikan kata-kata manis sambil memasang wajah gemas. Terlebih ternyata, bagi seorang Excel, kata manis dari bibirnya hanya akan terucap setelah bibir itu mengh*isap bibir sang istri.


“Aku juga sayang banget ke kamu,” ucap Excel lirih. Tangan kirinya membingkai wajah Azzura.


“Ini bibir baru bisa ngomong romantis, kalau sudah ke bibir aku dulu?” tanya Azzura sengaja memastikan dan menatap sang suami dengan sangat penasaran. Sambil tersipu, di hadapannya dan wajah mereka nyaris menempel, Excel mengangguk-angguk.


“Can-du banget soalnya!” ucap Excel yang mengakhirinya dengan tawa. Ia tak lagi memalingkan tatapannya atau memilih membenamkan wajahnya ke bantal. Sebab ia memilih membenamkan wajahnya di wajah Azzura.


“Mas enggak lupa kan, kalau kaki kanan aku sakit dan sampai diperban?” ucap Azzura sengaja mengingatkan. Sebab mungkin efek terlalu banyak pikiran sekaligus belum terbiasa, Excel kerap melupakan apa yang ada dalam hubungan mereka.


“Ouh ... iya, kaki kanan kamu. Gimana? Tadi, aman, kan?” tanya Excel sudah langsung khawatir. Ia yang sempat menindih tubuh Azzura, terlebih dulu duduk kemudian memastikan kaki kanan Azzura.


“Besok pagi jemur. Jemur di depan kolam saja. Enggak usah pakai baju sekalian biar lebih sehat.” Refleks mengatakan itu, Excel juga refleks berucap, “Kamu ya sehat, aku ya sehat. Apalagi enggak ada yang lihat selain kita.”

__ADS_1


“Eh ...?” Azzura yang terkejut dengan balasan Excel juga langsung tertawa.


“Memangnya tadi aku ngomong apa?” Excel terheran-heran lantaran setelah menegur, Azzura malah menertawakannya. Azzura sampai tidak bisa berhenti tertawa.


“Aku yakin, tadi yang itu beneran jujur,” ucap Azzura di sela tawanya.


“Serius, sebenarnya tadi aku ngomong apa?” tanya Excel makin penasaran dan sampai mengungkung tubuh Azzura.


Azzura menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya dan memang belum bisa menyudahi tawanya.


***


“Nanti sore Kakak jemput. Sekalian kenalan dengan Kak, ... Azzura.” Excel melirik Azzura dengan lirikan yang sangat teduh. Di pinggir kolam renang, Azzura yang sudah berjemur layaknya rencana mereka dini hari tadi, langsung membalasnya dengan senyum yang begitu hangat. Kehangatan yang seketika membungkus seluruh tubuh Excel. Matahari pagi saja kalah.


Pertemuan yang sedang Excel sampaikan kepada Elena sang adik membuat keyakinan Azzura jika pria itu tak lag diawasi mafi*a tempat Excel sempat bekerja, seolah memang nyata. Excel sudah berani terang-terangan tampil tanpa bersembunyi lagi.


Byurrr ....


Setelah menyuguhi Azzura dengan keindahan otot di tubuhnya, tanpa tahu dosa, Excel juga asal loncat ke kolam. Azzura yang kuyup akibat terciprat air dari kolam Excel loncat, terpejam sebal.


“Mas kamu bikin aku basah loh. Gini-gini aku sudah mandi!” omel Azzura.


Sayangnya Azzura lupa, suaminya sedang renang dan baru akan sampai kepadanya.


“Apa?” tanya Excel sambil tersenyum tak berdosa. Tangan kanannya yang tidak berpegangan di pinggir kolam menyibak wajahnya yang kuyup.

__ADS_1


“Ih, untung ganteng, ... suami sendiri! Hihhh!” keluh Azzura masih mengomel dan menjadi benar-benar gemas kepada Excel yang malah menertawakannya. “Suamiku waras, kan? Jangan-jangan ketularan Ojan?” batin Azzura sembari menyelinapkan anak rambutnya yang tergerai dan memang masih setengah basah, ke belakang telinganya.


“Andai kakimu enggak sakit, sudah aku ajak terjun ke sini!” ujar Excel masih menekan-nekan gemas kaki kiri Azzura yang tidak sakit. Ia masih di dalam kolam, sementara dagunya bertumpu ke punggung telapak kaki Azzura. Jujur, ia benar-benar tak tahan, dan sudah sangat ingin menarik Azzura, membawanya ikut serta ke dalam kolam, agar mereka bersenang-senang, segera.


“Memangnya mau ngapain ajak aku terjun ke kolam?” tanya Azzura pura-pura tak tahu maksud suaminya. Ia sampai menunduk agak jongkok hanya untuk menyelaraskan wajah mereka.


Excel sudah langsung tersipu kemudian menengadah hanya untuk menatap wajah Azzura. Istrinya itu sudah langsung mengerucutkan bibir, dan ia segera mengec*upnya.


“Besok kalau kaki kamu sembuh, kita bisa benar-benar bulan madu,” ujar Excel.


“Mas ngomong romantisnya jadi langsung lancar kalau habis nyetrum ke bibir!” ucap Azzura yang lagi-lagi menjadi tertawa. Terlebih lagi-lagi, Excel berdalih bahwa bibirnya sudah menjadi can du untuk suaminya itu.


Azzura menggunakan kedua tangannya untuk membingkai gemas kedua sisi wajah sang suami.


“Jalan-jalan, aku gendong mau? Masa iya di kamar terus? Kasihan banget,” ucap Excel.


“Mau banget!” balas Azzura sambil tersenyum ceria.


Excel langsung tersipu. “Aku ngaku kalah kalau kamu sudah senyum begitu.”


Azzura tersenyum lepas merayakan kemenangannya atas pengakuan sang suami yang sudah menegaskan kekalahannya hanya karena senyumnya.


“Panggilnya jangan kamu, kamu. Sekarang aku istrimu loh!” ucap Azzura masih mengelus gemas wajah sang suami yang ia bingkai menggunakan kedua tangan.


Sadat, Excel langsung gugup bahkan bingung, tak bisa berucap, Azzura sengaja merapatkan wajah mereka. Memberi sang suami cium man manis yang memang sudah langsung membuat suaminya lancar berbicara manis bahkan romantis.

__ADS_1


“S-sayang?” ucap Excel sambil tersenyum manis memandangi wajah istrinya yang juga sudah menatapnya sambil menahan tawa. “Aku mau pura-pura susah ngomong lah, biar dapat ciu*man terus!” keluh Excel yang pada akhirnya tertawa dan juga membuat Azzura mengikutinya.


__ADS_2