
“Jadi, ... bagaimana? Ada perubahan? Mas merasa lebih baik?” tanya Azzura yang kali ini memakai setelan warna cokelat tua, tapi untuk jilbab dan cadarnya, ia memilih warna hitam. Di sebelahnya, Excel yang melangkah santai juga menyeimbangi langkahnya, langsung mengangguk-angguk.
“Alhamdullilah,” lanjut Azzura langsung berucap lembut, tapi di sebelahnya, Excel sudah langsung sangat serius, diam mirip tembok. Excel menatap serius sekitar, seolah di sebelahnya tidak ada Azzura yang sedang mengajaknya berbicara.
“Mungkin karena terbiasa sedingin itu semasa ia menjadi mafi4, hingga mas Excel belum terbiasa bersikap manusiawi apalagi manis,” batin Azzura langsung berhenti melangkah bahkan membeku ketika dengan sigap, tangan kanan Excel ada di depan dahinya. Sesuatu telah pria itu tangkap dan itu ... cecak. Jantung Azzura seolah langsung lepas dari posisi semestinya seiring ia yang juga langsung sempoyongan.
Azzura yang memang takut cecak, langsung mundur seiring ia yang juga menjadi agak sesak napas. “A-aku takut cecak, Mas. Mending aku diguyur ribuan kecoa ketimbang harus melihat apalagi berurusan dengan cecak!” ucapnya cepat dan memang berkeluh kesah.
Excel yang menyimak serius sambil menatap Azzura, malah maju mendekati Azzura sambil mengangsurkan cecak di tangan kanannya. Kenyataan Azzura yang terus menjerit sambil sibuk mundur, sampai membuat mereka kena tegur.
“Ini rumah sakit, jangan berisik!” omel ibu-ibu yang sampai keluar dari ruang rawat.
Jika melihat dari penampilannya, Azzura maupun Excel yakin, wanita tadi merupakan keluarga atau sekadar sedang menjaga pasien. Dan setelah menyimak ucapan si wanita, baik Excel maupun Azzura, kompak bertatapan. Azzura sudah langsung melakukan gerakan kuda-kuda depan.
“Enggak usah takut. Kamu enggak boleh takut pada apa pun, meski kamu punya aku dan kamu bisa mengandalkan aku!” ucap Excel masih lirih sekaligus dingin. Wajahnya saja masih tidak berekspresi.
Azzura sudah langsung menggeleng cepat.
“Pelan-pelan jangan takut,” bujuk Excel.
“Enggak. Pokoknya kalau menyangkut cecak beneran enggak ada toleransi!” tegas Azzura. “Awas itu nanti ekornya putus, kruget-kruget! Ih, pokoknya Mas juga enggak boleh dekat-dekat denganku kalau Mas masih pegang cecak!” tegas Azzura lagi yang langsung lari. “Merinding disko begini, mirip kalau didekati Ojan!” keluh Azzura lirih.
__ADS_1
“Loh ....” Excel menatap bingung kepergian Azzura yang memang sudah langsung lari melewati lorong rumah sakit menuju keberadaan lift di depan sana.
Buru-buru Excel menyusul. Ia berlari sangat cepat, menyelinap masuk ke dalam lift yang nyaris membawa Azzura pergi, tepat di detik-detik terakhir pintu lift tertutup. Mirip adegan drama romantis yang karakter prianya begitu dingin mirip robot. Tak hanya dunia Azzura yang seolah berhenti berputar, tapi kenyataan tersebut juga Excel alami hanya karena tatapan keduanya bertemu cukup lama.
“Belum cuci tangan, kan?” tanya Azzura, tapi Excel hanya menatanya datar mirip orang terlalu banyak beban pikiran.
“Kalau belum cuci tangan, jangan dekat-dekat dulu!” tegas Azzura buru-buru mundur ke sudut belakang, sengaja menjaga jarak.
Walau berat, Excel berangsur masuk. “Nanti aku cuci tangannya di ruang rawat Ojan.” Ia menatap berat Azzura, bermaksud meminta maaf untuk kejadian yang ia memberikan cecaknya kepada Azzura.
“Itu semacam terapi, biar kamu enggak takut lagi,” ucap Excel.
“Terapi apaan, Mas? Yang ada aku malah latihan serangan jantung!” balas Azzura sengaja menarik ujung jaket kuning bagian depan milik Excel, lantaran pria itu teta berdiri di tengah pintu lift.
“Nah, angkat terus begit Pokoknya sebelum Mas cuci tangan, Mas jangan pegang aku bahkan sekadar pakaianku. Ngeri aku!” tegas Azzura masih gara-gara cecak.
Excel tetap diam, paham dengan permainan yang Azzura katakan.
Sementara itu, di tempat berbeda, Pak Haji Ojan mengalami amnesia sebagian. Pria itu melupakan kejadian selama dua puluh tahun terakhir. Hingga setelah ingat dirinya siapa, yang dicari juga langsung sang kakek, pak Haji Abdul Kodir yang saat itu masih hidup.
Nuansa haru seketika menghinggapi setiap hati dari mereka yang ada di sana. Karena biar bagaimanapun, almarhum pak Haji Abdul Kodir memiliki peran sangat penting dalam hidup mereka. Boleh dibilang, almarhum ibarat orang yang mereka tuakan sekaligus sangat hormati. Mantan musafir cinta, pemuja janda yang setiap berbicara terlebih jika berbalas dengan ibu Septi dan juga nenek Kalsum, akan menghasilkan kata ajaib yang membuat pendengarnya sulit untuk berhenti tertawa.
__ADS_1
“Janda mana, janda?” tanya pak Haji Ojan yang sudah langsung berusaha duduk, sudah langsung tidak bisa diam.
Ibu Septi apalagi Sepri langsung kompak istighfar sambil menghela napas dalam. Keduanya tak hanya terlihat lelah, tapi juga frustrasi.
Di ruang rawat barunya, pak Haji Ojan sudah langsung pecicilan. Jumpalitan tidak jelas hingga selang infusnya lepas.
“Itu kepala kamu masih dibungkus, Jan! Innalilahi, kenapa enggak langsung bablas saja sih. Ini alamatnya balik momong bayi!” keluh Sepri yang kemudian mengacak frustrasi.
“Sabar, Mas. Sudah, sekarang Mas istirahat saja di hotel bareng mamah. Ini kuncinya, biar Papah yang jaga Ojan,” ucap dokter Andri masih sangat sabar sambil memberikan kunci hotelnya kepada Sepri.
“Eh, Mbak Septi! Kok Mbak pecicilan di sini? Yang urus Sundari siapa?” tanya pak Haji Ojan sambil duduk sila di tengah-tengah ranjang rawatnya.
Ibu Septi langsung menghela napas jauh lebih dalam dari sebelumnya hingga dokter Andri makin mantap meminta Sepri untuk membawa ibu Septi istirahat di hotel.
“Bi-da-da-ri ...?” lirih pak Haji Ojan yang kali ini sudah langsung ngiler, hanya karena melihat Azzura yang baru datang.
Belum apa-apa, Azzura sudah langsung takut. Karena jika diberi pilihan, Azzura jauh lebih memilih adu tiinju dengan mafi4 ketimbang harus menghadapi pak Haji Ojan yang sudah setengah gil4. Namun yang membuat Azzura jauh lebih terkejut, tak lain karena tangan kanan Excel yang belum dibersihkan, justru menggandeng pergelangannya. Memang gerakan refleks Excel melindunginya dari kejaran pak Haji Ojan, tapi Azzura yang membayangkan tangan kanan Excel memegang cecak saja, langsung merasa sangat geli.
Teriakan histeris Azzura mengusik kebersamaan di sana, termasuk orang tuanya. Semuanya kompak menatap Azzura, termasuk juga Excel yang detik itu juga langsung melepas gandengannya.
“Eh, kamu jangan macam-macam ke istri saya, ya!” tegas pak Haji Ojan benar-benar jantan sekaligus gagah. Ia marah bahkan sangat marah kepada Excel. Tanpa tahu, semuanya terpesona kepadanya yang terlihat normal layaknya manusia pada kebanyakan.
__ADS_1
“Itu si Ojan, jadi waras apa gimana? Kok jadi gagah gitu?” pikir Sepri yang juga langsung syok lantaran Ojan dengan cekatan berusaha mengambil Azzura. Namun, wanita bercadar hitam itu buru-buru bersembunyi di balik punggung Excel.