Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
107 : Melalui Luka


__ADS_3

Tuan Maheza apalagi ibu Aleya, tersedu-sedu di hadapan Azzura. Ibu Aleya yang menjadi sulit berucap, nekat memeluk Azzura. Pelukan yang makin lama makin erat.


Biar bagaimanapun, bagi ibu Aleya, sampai detik ini Azzura tetap menjadi menantu idaman, menantu perempuan terbaik walau semua itu tak mungkin terjadi.


“B-b-bahagia ... b-bahagia selalu, ya!” ucap ibu Aleya yang memang harus mengakhiri kebersamaan mereka karena Azzura harus menjadi ratu di resepsi pernikahannya.


Tangis Tuan Maheza dan sang istri berhasil mencuri perhatian semuanya. Terlebih, tangis tersebut juga turut membuat Azzura ikut tersedu-sedu. Hanya pak Haji Ojan yang tidak peduli setelah pria itu memergoki Divani.


“Siiit ... sssiiiiit. Didi mai ladi!” bisik pak Haji Ojan sengaja menggo*da Divani.


Divani yang masih menggandeng mas Aidan langsung menatap kesal pak Haji Ojan. “Aku colok matamu kalau kamu macam-macam!” bisiknya mendelik-mendelik kepada pak Haji Ojan.


Pak Haji Ojan masih menanggapi dengan santai. “Macam-macam bagaimana? Aku kan hanya satu macam. Hanya tercipta untukmu!”


Azzam yang awalnya ikut menangis karena terbawa suasana pertemuan Tuan Maheza dan ibu Aleya dengan Azzura, refleks ngakak. Azzam sengaja mendekati pak Haji Ojan. “Didi sayang banget ke kamu, Jan!”


“Oh pasti! Buktinya, tadi dia minta aku buat jangan macam-macam. Dia penginnya aku hanya tercipta untuknya dan jadiin dia mai lidi!” ucap pak Haji Ojan yang buru-buru mengoreksi ucapannya. “Lidi apa ladi, sih, Zam?”


“Lidi ... lidi! Biar bisa buat nyapu!” yakin Azzam berbisik-bisik tapi cekikikan.


“Azzam!” sebal Divani masih berbisik-bisik. Tak habis pikir olehnya, kenapa Azzam malah sengaja mendukung pak Haji Ojan.


“Tapi yah, Di. Kalau kamu jadi istriku, kamu enggak akan pernah nyapu. Nanti aku saja yang nyapu. Kamu cukup duduk syantik, aku liminatin kamu, terus masukin ke bangk-e, tempelin ke dinding. Dah, abadi selamanya!” yakin pak Haji Ojan masih berbisik-bisik.

__ADS_1


Azzam kembali menangis meski alasannya berbeda. Karena ketika tadi ia menangis gara-gara terenyuh melihat kebersamaan Azzura dengan mantan mertua, kini alasan Azzam tertawa gara-gara kegokilan pak Haji Ojan yang akan memasukkan Divani ke bangk-e, setelah sebelumnya sampai diliminatin.


“Mas, si Ojan ...!” rengek Divani.


Mas Aidan yang masih menitikkan air mata akibat kebersamaan di hadapannya, justru menuntun pak Haji Ojan untuk berdiri di sebelah Divani. Membuat Divani makin gelisah saking geregetannya kepada pak Haji Ojan. Lain dengan pak Haji Ojan yang makin kegirangan, tak kalah girang dari Azzam dan tampaknya menjadi satu-satunya saksi pak Haji Ojan dalam menggo*da Divani.


Resepsi pernikahan Azzura dan Excel berlangsung meriah dihadiri seribu undangan. Dari semua undangan tersebut, kebanyakan merupakan dari pihak keluarga Azzura. Baik itu dari pihak orang tua, pihak mas Aidan, juga teman-teman Azzura yang merupakan seorang bidan.


Hampir semuanya bahagia. Apalagi ketika pak Haji Ojan naik panggung menyumbangkan lagu Janji Suci dan itu ditujukan kepada Divani. Agenda andai Divani mau menjadi istri pak Haji Ojan dan akan diliminatin kemudian dimasukkan ke dalam bangk-e juga sukses mengocok perut hadirin di sana.


“Rujak ...,” ucap Excel tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya.


Adik-adik Azzura sangat baik sekaligus perhatian apalagi Akala. Bersama Azzam, Akala kerap mengirimi Excel dan Azzura aneka makanan sekaligus minuman dari prasmanan.


“Ini dulu. Rujak sama es campur cukup!” ucap Excel bersemangat. Tak sabar menyantap semangkuk rujak serut dan juga satu mangkuk es buahnya. Lain dengan Azzura yang siap menyantap bakso yang sudah ditemani satu gelas es jeruk.


“Kalau kalian capek, biar aku sama Akala saja yang gantiin kalian jadi pengantin. Dek, kita duduk di sini nyalamin tamu. Biar Mas Excel dan Mbak Azzura istirahat!” usul Azzam, tapi itu membuat kedua pengantin di hadapannya terkikik. Lain dengan Akala yang nurut-nurut saja.


“Sudah kalian istirahat saja. Satu jam lagi acaranya beres, kan?” ucap Azzura lembut. Sesekali, ia yang sudah menyantap bakso, juga tetap menatap lawan bicaranya.


“Iya sih ... ya sudahlah, aku mau bujuk Ojan biar dia mau nyanyi lagi biar suasananya makin rame. Soalnya dari tadi, ketimbang artisnya, Ojan lebih bikin heboh!” ucap Azzam.


“Kalau aku pikir-pikir mas Ojan itu mirip Mas Dodit yang tukang stand up itu. Stand up apa apa, sih?” ucap Excel yang jadi bingung sendiri.

__ADS_1


“Ciee, suamiku kenal artis!” ledek Azzura sambil tetap menikmati semangkuk baksonya.


Azzam dan Akala langsung menertawakan Azzura.


“Asli Yang, kenal. Pas aku jadi pengawal buat acara orang kaya, mas Dodit yang jadi salah satu pengisi acaranya. Ya lucu polosnya mirip mas Ojan!” balas Excel.


“Mas Excel, si Ojan itu enggak polos. Tuh orang memang dasarnya kebangetan! Amit-amit kalian, dari tadi ngetawain dia, takutnya pas keluar mirip!” balas Azzam dan lagi-lagi membuat kebersamaan mereka diwarnai tawa.


“Ya sudah, Mbak. Kami pamit. Mau bujuk Ojan buat nyumbang lagu lagi!” ucap Azzam bersemangat. Si paling jail yang paling tidak bisa tanpa tawa.


“Sekali lagi makasih banyak yah, Mas Azzam, Akala!” ucap Excel masih semangat menghabiskan rujaknya.


“Iya, nanti amplopnya jangan lupa yah, Mas Excel. Pokoknya, buat aku wajib amplop yang isinya obesitas!” balas Azzam sambil senyum-senyum penuh arti kepada suami dari kembarannya.


Mendengar itu, Azzura refleks menjerit dalam tertawanya. Lain dengan Excel yang walau tertawa tapi tidak bersuara, selain Excel yang menjadi terlihat lemas.


“Gimana, Mas? Sepertinya sekarang, Mas sudah terbiasa dengan selera makan orang sini. Gurih, pedas, asin, manis,” ucap Azzura yang baru saja menyuapi suaminya bakso.


Excel mengangguk-angguk sambil terus mengunyah, menikmati bakso berikut kuah yang ada di dalam mulutnya. “Tapi level pedas orang sini beneran di atas rata-rata sih. Pedas banget!” ucapnya dan sang istri langsung menanggapinya dengan tersenyum.


Ketika Excel dan Azzura menoleh ke kanan kiri mereka, di sana masih ada orang tua mereka. Di sebelah kanan merupakan pihak Azzura, berisi orang tua sekaligus kakek Azzura. Sementara di sebelah Excel hanya dihuni oleh ibu Mira dan Elena. Kendati demikian, bukan hanya Excel yang bahagia. Karena ibu dan adiknya juga mengaku sangat bahagia.


“Alloh kasih aku kebahagiaan sebanyak ini. Bismilah, aku akan menjadi lebih baik lagi. Aku akan menjaga semua amanat ini!” batin Excel yang berangsur mengusap-usap perut Azzura menggunakan tangan kanan. Namun, saking bahagia dan sayangnya ia pada janin pertama mereka, di saksikan semua mata yang ada di sana, ia jongkok di hadapan Azzura kemudian membenamkan wajahnya di perut sang istri.

__ADS_1


“Sekarang aku tahu, melalui luka Alloh berusaha membuat aku maupun umatnya yang lain, jauh lebih menghargai. Alloh ingin mengangkat derajatku agar aku introspeksi, agar aku menjadi orang yang lebih baik lagi. Karena setelah aku menjadi orang yang lebih baik lagi, pelan tapi pasti Alloh mulai kasih aku bahagia. Bahagia yang beneran terasa indah dengan orang sekaligus waktu yang tepat! Terbukti, andai aku masih dengan mas Cikho bahkan aku diam saja dijadikan istri kedua, belum tentu aku sebahagia ini!” batin Azzura, yang lagi-lagi merasa sangat bahagiagelisah


__ADS_2