Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
85 : Kangen!


__ADS_3

“Dia sudah pakai cincin, di jari manis kanan. Cincinnya emas dan polos. Masa iya dia sudah menikah? Kok enggak ada tanda-tanda dia sudah menikah? Ganteng banget, ... sekeren itu sumpah! Aku beneran mau dia! Pokoknya aku mau!” batin Angel, wanita muda yang menjadi bagian dari tamu terhormat Excel di pabrik. Calon rekan bisnis yang sedang meninjau keadaan pabrik Excel.


Selanjutnya, setelah melihat keadaan di sana, mereka baru akan menentukan kesepakatan. Namun khusus kepada Excel, Angel tak akan mempertimbangkan apa pun. Malahan, Angel akan menjadikan kerja sama mereka untuk mengikat Excel.


Sampai detik ini, kedua mata Angel tidak bisa berhenti mengawasi Excel. Dari penampilan, termasuk setiap gerak Excel khususnya bibir berisi pria itu. Pesona seorang Excel benar-benar telah mengalihkan dunia Angel. Angel begitu menginginkan Excel menjadi miliknya, walau kini menjadi pertemuan pertama mereka. Iya, Angel mengalami cinta pada pandangan pertama.


“Nanti aku bilang ke Mamah. Pokoknya Mamah harus bisa bikin dia sama aku. Aku mau langsung nikah sama Excel!” Angel yang masih berbicara dalam hati benar-benar bersemangat. “Paket komplit ih ini. Ganteng, cool, beneran irit bicara tapi sekali bicara sangat berkualitas. Langsung masuk ke hati dan juga ingatan, jadi sulit lupa!” batin Angel lagi.


Nyonya Cici yang tak lain merupakan mamah Angel, sampai menyikut Angel lantaran sang putri tak kunjung merespons pertanyaannya. Hingga yang ada, mata tajamnya berakhir menghakimi kedua mata sang putri yang terlihat jelas tidak fokus.


“Jika kerja sama ini masih berlanjut, di pertemuan selanjutnya aku wajib bawa Azzura sekaligus mas Ojan. Azzura buat jaga-jaga ke aku, sementara mas Ojan buat jagain si Angel biar matanya enggak terus bergerilya ke aku,” batin Excel yang paham, nyonya Cici sudah langsung marah kepada Angel.


“Kita lihat-lihat dulu, nanti baru kami kabari jadi tidaknya, ya!” ucap nyonya Cici benar-benar cerewet.


“Benar-benar baru ditinjau ...,” batin Excel sampai menahan napas saking tak habis pikirnya. Begitu sulit mengajak salah satu orang kaya di negaranya itu bekerja sama. Namun demi mengumpulkan pundi-pundi untuk kehidupan bahagia keluarga kecilnya, Excel akan berjuang. Excel akan makin bekerja keras termasuk itu bersabar menghadapi nyonya Cici.


“Mah, aku yes!” lirih Angel merengek-rengek. Berharap, sang mamah akan segera mewujudkan impiannya dalam memiliki Excel.


Namun, nyonya Cici yang murni berniat bisnis, langsung menggeleng tegas. Ia mengabaikan rengekan sang putri dan memilih fokus kepada Excel. “Suami saya seorang jendr*al, Anda tahu, kan? Jadi, andai nanti kita jadi bekerja sama, semuanya akan di bawah pengawasan orang-orang suami saya agar di antara kita tidak ada yang merasa dirugikan.” Nyonya Cici wanti-wanti dan Excel langsung mengangguk paham.


Pertemuan mereka terbilang singkat. Tak sampai ada tiga puluh menit karena nyonya Cici dan Angel sungguh hanya melihat-lihat. Mereka memang sudah sepakat, nyonya Cici mau bekerja sama dengan Excel. Masalahnya, kesepakatan tersebut belum ada hitam di atas putih lengkap dengan materai. Alasan yang membuat Excel tidak mau terlalu berharap. Karena yang sudah ada kekuatan hukum saja, bagi sekelas nyonya Cici andai Excel sampai menyalahi aturan, bisa dipermasalahkan.

__ADS_1


Semuanya terlalu berisiko, meski hasil dari kerja sama mereka akan sangat menguntungkan bagi Excel.


“Kalau dipikir-pikir, wajah Angel enggak asing. Kayak pernah lihat bahkan kenal,” batin Excel tetap cuek meski di tempat duduk penumpang mobil mercedes-benz hitam mewah nyonya Cici, Angel terus tersenyum manis kepadanya. Dari jendela pintu yang setengah diturunkan, wanita itu melakukannya.


Setelah pertemuan tersebut, Excel tak lantas pulang. Excel kembali keliling, tapi kali ini pria itu melakukan pemeriksaan secara rinci. Dari pemilihan bahan, proses pengolahan, hingga akhirnya setiap olahan kedelai menjelma menjadi tahu maupun tempe berkualitas. Terakhir, Excel juga mengikuti pemboyongan ampas menuju kandang sapi sekaligus kebun kedelainya.


“Ladang masa depan keluargaku. Sukses-sukses, yah, kita. Biar keluargaku enggak merasakan sulit bahkan kejamnya hidup seperti apa yang pernah aku rasakan,” batin Excel sengaja melakukan telepon video kepada sang istri. Sebab senja di seberang kebun kedelainya benar-benar indah. Ditambah lagi semilir angin yang sepoi-sepoi membuat suasana di sana benar-benar romantis.


“Aku kangen!” ucap Excel langsung merengek tanpa terlebih dulu melayangkan salam padahal Azzura sudah lebih dulu melakukannya.


“Walaikum salam dulu, Mas sayang ...,” tegur Azzura dari seberang sambil melepas cadarnya.


“Istrinya siapa dulu?” balas Azzura dari seberang.


Excel kian tersipu. “Asli, jarak dan waktu yang menghasilkan rindu, beneran jadi bumbu luar biasa dalam sebuah hubungan. Rasanya, level rasa sayang sekaligus cintaku ke kamu jadi menggebu-gebu!”


“Hahaha, Masya Allah ini suamiku manis banget?” sambut Azzura kegirangan dari seberang.


“Serius aku kangen banget. Pengin cepat-cepat pulang,” lanjut Excel.


“Masih dua apa tiga hari lagi, kan?” balas Azzura.

__ADS_1


Excel mengangguk-angguk pasrah. “Kalau gini caranya aku wajib beli helikopter biar bisa pulang pergi setiap hari. Doakan aku, ya? Biar kita bisa jalan-jalan rasa beda juga!”


“Amin!” sergah Azzura benar-benar bersemangat. Kemudian, ia segera menunjukkan desain undangan resepsi pernikahan mereka di layar laptop. Ia membuatnya sendiri dan tinggal cetak.


“Tadi mas bahas senja. Aku mau lihat dong. Sekalian bikin video, tapi sebelum itu mas tulis namaku terus kasih tulisan romantis. Nah, nanti aku unggah tuh video, seolah-olah itu murni hasil keromantisan Mas! Hahahaha!” Azzura yang ada di dalam kamar benar-benar heboh.


Excel tetap anteng memandangi wajah sang istri berhias senyum penuh rasa kagum yang masih menghiasi wajah tampannya. “Sekarang aku tahu apa mau kamu!” ucap Excel.


Azzura segera tersenyum ceria, kemudian menggunakan jemari tangan kirinya untuk membentuk hati.


Setelah sambungan telepon video mereka berakhir, bukan hanya suasana senja di kebun kedelai yang Excel rekam lengkap dengan secarik kertas bertuliskan kalimat romantis dan itu ditujukan kepada Azzura.


Karena setelah sampai belanja keperluan di sebuah toserba terdekat, Excel dengan cekatan menyiapkan kejutan lanjutan.


Azzura I ❤️ U


Merupakan rangkaian tulisan yang Excel buat menggunakan lampu. Excel memasang lampu tersebut di tengah-tengah kebun. Lampu yang makin terang seiring malam yang makin larut berteman hembusan angin sepoi-sepoi.


Azzura sudah langsung menghubungi Excel melalui sambungan video, setelah Excel mengirimkan video lampu tersebut. Video yang juga sampai disertai Excel. Dalam video, Excel tersenyum sambil menggerakkan kedua jemari tangannya menjadi hati.


“Semoga helikopternya cepat kebeli. Kangeeeeen, asli ini kangen tingkat akut!” rengek Azzura, tapi Excel yang menjadi kerap membenarkan rambutnya akibat terpaan angin, hanya tersipu. Excel masih menjadi penyimak baik.

__ADS_1


__ADS_2