
Cincin maupun perhiasan lain telah mereka beli. Dan lagi-lagi, kejadian Azzura tertinggal karena Excel berpikir calon istrinya sudah mengikuti, kembali terjadi.
“Dari tadi kita mondar-mandir, memangnya Mas enggak capek? Aku saja yang sehat capek, masa Mas enggak?” tanya Azzura yang membiarkan tangan kirinya kembali digandeng Excel daripada ia tertinggal lagi dan membuat Excel mondar-mandir mencarinya di tengah keramaian.
“Enggak selamanya kita begini. Nanti kalau sudah beres, kita juga bisa istirahat. Sambil beli minum, ya. Sama makanan sekalian karena kita pasti bakalan sibuk.” Excel berangsur mengambil tas dari pundak kanan Azzura. Tas yang di dalamnya ada perhiasan yang baru mereka beli. Dan Azzura memberikannya, membiarkan tas yang ternyata berat itu berpindah ke pundak kanannya. Wanita itu terus mengawasinya.
“Kan, ... hati Mas Excel lembut banget. Dia bahkan rela melakukan apa pun demi orang yang dia sayangi,” batin Azzura.
Di tengah keramaian pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi, sikap siaga seorang Excel yang terus melindungi sekaligus memberikan yang terbaik untuknya, membuatnya merasa sangat spesial.
“Maaf ngerepotin lagi,” ucap Excel kepada orang tua Azzura yang juga dilengkapi oleh mas Aidan.
Mereka memang janjian untuk mempersiapkan pakaian sekaligus penampilan di acara ijab nanti malam. Ibu Arum sudah langsung tersenyum hangat menatap wajah Azzura dan Excel silih berganti. Terlebih sebelum masuk ke kafe mereka menunggu, ibu Arum, pak Kalandra, ibu Mira, dan juga mas Aidan, melihat dengan kepala dan mata mereka sendiri. Walau dari kejauhan, mereka melihat Excel begitu menjaga Azzura. Excel dengan sabar mengikuti ke mana Azzura pergi. Excel terus memastikan Azzura melangkah dengan aman sambil terus mendekap tote bag hijau milik Azzura yang memang besar.
“Dek Azzam sudah sampai Bandung, mabook katanya!” cerita mas Aidan sambil menatap ponsel ia berkirim pesan dengan sang adik.
Azzura yang duduk di sebelah Excel dan tengah meminum milkshake yang dipesan, langsung mesem. Walau terkenal berisik, tukang nyinyir, Azzam kembarannya memang anti perjalanan jauh-jauh menggunakan mobil. Karena hasilnya pasti mabook kendaraan seperti yang sedang diceritakan.
“Kamu gimana, Cel? Kamu juga sakit loh. Parah,” ucap pak Kalandra setelah menyeruput kopi panasnya. Ia menatap khawatir calon menantunya.
Excel tersenyum hangat kemudian mengangguk-angguk. “Aman, Om.”
__ADS_1
“Aman gimna? Wajah kamu saja masih pucat,” ucap mas Aidan yang kemudian meminum milk tea-nya.
Mendengar itu, Azzura refleks menoleh, kemudian menatap wajah Excel. Benar, pucat sekaligus berkeringat. Khas orang yang sengaja menahan rasa sakit. Ia berangsur melepas topi Excel kemudian mengecek denyut nadi Excel yang memang lemah, selain Excel yang memang demam.
“Minum air putih hangat ya, Mas. Soalnya kalau diinfus lagi, ya Alloh ... kasihan pembuluh darahnya diceplus terus bolong ....” Azzura menghela napas pelan. Merasa frustrasi, tapi memang tak ada pilihan lain selain memberi calon suaminya itu infus. Karena harusnya pun, Excel masih menjalani perawatan intensif. Ia menggunakan tisu kering dari dalam tasnya untuk mengelap keringat di wajah maupun leher Excel.
“Kalau begitu, mending sekarang kita istirahat ke hotel. Sudah, enggak usah beli apa-apa lagi. Kalian sudah beli perhiasan, kan? Itu sudah cukup buat emas kawin, yang penting niatnya. Semacam pakaian dan bawaan lain, gampang nanti saat resepsi buat isi baki. Soalnya kalau dipaksakan, takutnya kamu yang drop,” ucap pak Kalandra.
“Iya, gitu saja sih, Mas!” sergah Azzura langsung setuju.
Walau pada akhirnya, Excel masih menemaninya menjalani perawatan di salon yang mereka kunjungi. Mereka mempersiapkan penampilan terbaik di sana setelah sebelumnya sampai membeli pakaian pengantin. Excel menunggu di ruang tunggu sambil menjalani infus. Ia tak sendiri karena di sana ada mas Aidan dan juga pak Kalandra. Sementara di dalam, di ruang khusus di salon terbilang mewah kunjungan mereka, Azzura menjalani rias bersama ibu Arum dan juga ibu Mira. Sebagai mamah dari calon pengantin, ibu Arum dan ibu Mira juga menjalani rias, selain warna pakaian mereka yang tadi dibelikan sama. Karena walau hanya ijab kabul, seperti niat Excel, pria itu ingin yang terbaik.
Dalam diamnya, mas Aidan yang duduk di sofa tunggal sebelah Excel tidur di sofa panjang di sana, benar-benar bersyukur. Azzura menemukan Excel sebagai ganti Cikho. Excel benar-benar tanggung jawab, terlihat jelas keseriusannya kepada Azzura. Dan bayangkan andai Azzura masih dengan Cikho, apalagi mau dipoligami? Mas Aidan sampai merinding.
“Sakit banget berarti itu. Dehidrasi. Mas bisa ganti infusnya, kan?” balas pak Kalandra yang duduk di sofa tunggal persis di hadapan mas Aidan. Kebersamaan mereka hanya dipisahkan oleh meja kaca panjang di sana.
“Bisa dong, Pah!” Mas Aidan bersemangat. Ia sudah langsung berdiri kemudian meraih tas Azzura yang ada di tengah-tengah meja. Ia mengeluarkan stol infus dari sana. Alasan yang juga membuat tas Azzura selalu berat karena sang adik memang selalu menyetok perlengkapan kesehatan ke mana pun sang adik bepergian.
“Terus Didi bagaimana?” tanya pak Kalandra yang masih mengawasi mas Aidan walau awalnya ia tengah membaca koran yang tersedia di sana.
Kenyataan mas Aidan yang langsung diam, membuat pak Kalandra berkata, “Sambil diarahkan yah, Mas. Dididik, biar ke depannya, Mas apalagi anak-anak kalian enggak ... terlantar. Harus ada timbal balik karena sebuah hubungan kan berisi perempuan dan laki-laki yang otomatis, kedua orang ini harus bekerja sama buat menjalani sekaligus memperjuangkan hubungannya. Bukan hanya mas saja yang berjuang.”
__ADS_1
Mas Aidan yang sempat menahan napas, berangsur mengangguk kemudian mengembuskan napasnya pelan melalui mulut.
“Iya, Pah,” sanggup mas Aidan sambil menatap sang papah yang langsung mengangguk-angguk.
Sekitar satu jam kemudian, Excel benar-benar terkejut ketika sesosok wanita bercadar putih, memakai pakaian pengantin warna putih, membangunkannya sangat lirih. Excel hanya diam, menatap heran wanita di hadapannya dan memang sampai jongkok hanya agar posisi wajah mereka selaras. Padahal, tentu itu Azzura.
Mas Aidan dan juga para orang tua sampai menertawakan reaksi terkejut sekaligus bingung Excel.
“Bingung, yah, Xel? Pangling, ... cantik banget?” ucap mas Aidan di sela tawanya.
Excel sungguh nyaris jantungan karena penampilan Azzura yang sekarang. “Aku nyaris istighfar. Ini kenapa ada bidadari ke sini padahal aku sudah mau nikah,” ucapnya. Keluarga mereka yang kompak berdiri, kembali menertawakannya.
“Memangnya sebelum dandan begini, di mata Mas Excel, aku ... aku buuuriiikkkk banget? Begitu?” tanya Azzura sengaja protes, tapi ulahnya justru membuat tawa di sana makin pecah.
“Y-ya ... ya cantik. Cantik banget!” Excel meyakinkan seiring ia yang berangsur mencoba duduk.
“Lah, terus ...?” Azzura yang masih jongkok, masih protes sembari membenarkan mahkota kecil yang menyempurnakan penampilannya.
“Maksudnya Mas Excel, penampilan Mbak yang sekarang cantiknya kebangetan ngalahin kecantikan bidadari, Mbak.” Mas Aidan sengaja membantu Excel yang pendiam, memberi alasan. Lihat, Excel langsung menatapnya sambil mengangguk-angguk.
“Tapi aku tetap lebih cantik dari bidadari, kan, Mas Excel?” rengek Azzura sengaja membuat calon suaminya makin bingung sekaligus gugup. Terlebih, ulahnya mendapat dukungan tawa lepas dari anggota keluarga. Bisa jadi, pengunjung salon yang di luar ruangan mereka, juga merasa terganggu oleh tawa dalam kebersamaan mereka.
__ADS_1
“Bidadari ini, calon istriku? Cantik banget sumpah. Mmm, apa sih kalau bahasanya versi Azzura? MasyaAlloh!” batin Excel, diam-diam tersipu.