
“Waktu kamu memohon izin menikah kemudian mengabarkan kehamilan Rere, kamu sampai menyembah bahkan menyentuh kedua kakiku!” tegas Excel dingin. “Aku enggak akan pernah lupa itu.”
Excel memiliki alasan tersendiri, kenapa ia begitu marah kepada Cikho. Tak semata karena Rere, melainkan karena ternyata, Cikho begitu kurang 4jar, tega menjadikan Azzura olok-ol0kkan. “Aku akui adikku salah, adikku bobr0k. Namun aku sangat bersyukur karena keputusanmu menceraikannya juga menjadi keputusan paling tepat agar dia terbebas dari salah satu sumber pengaruh bur*uk terbesar dalam hidupnya.”
Setelah menjeda sejenak ucapannya, Excel yang masih menatap marah Cikho berkata, “Satu lagi! Sekali lagi kamu berani menjadikan Azzura olok-ol0kkan, jangan salahkan aku jika kamu hanya tinggal nama!” Tak tanggung-tanggung, ia sengaja membant1ng Cikho hingga ibu Aleya yang menyaksikan semata-mata, langsung histeris.
Tuan Maheza sendiri tak berniat membela terlebih melindungi Cikho. Ia membiarkan Excel menghaj4r tuntas Cikho. “Biarin, Mah. Orang seperti Cikho memang harus diberi pelajaran oleh orang lain karena kalau kita yang melakukannya enggak pernah mempan.”
“Satu lagi. Anak Rere tidak butuh uang darimu! Jadi simpan saja uangmu dan jangan pernah muncul lagi dalam hidup mereka!” tegas Excel yang mengakhiri kebersamaannya di sana dengan menen*dang sekuat tenaga perut Cikho.
Cikho yang awalnya masih meringkuk, langsung menggeliat kesakitan.
“Malu-maluin!” kesal Cinta tak lama setelah kepergian Excel. Ia yang masih memakai setelan jas dipadukan dengan rok pendek warna abu-abu, melangkah kesal masuk rumah sembari terus bersedekap.
“Kalau kalian benar-benar masih punya hati, kalian enggak usah mengusik hidup mbak Azzura lagi karena mbak Azzura sudah jauh lebih tenang sekaligus bahagia. Malahan dalam waktu dekat, mbak Azzura akan menikah!” tegas mas Aidan. Ia sengaja memberi orang tua Cikho peringatan keras, selain ia yang langsung pergi begitu saja setelah ia juga mengingatkan untuk segera membereskan perceraian yang Cikho maksud kepada Rere.
Malam yang mulai menyelimuti kehidupan menjadi saksi, betapa hati mas Aidan apalagi Excel kalut gara-gara ulah Cikho. Keduanya kembali naik taksi dan sengaja langsung pulang ke hotel keluarga mereka menginap.
__ADS_1
Sekitar dua jam kemudian, Azzura menjadi gamang pada sikap Excel yang berdalih akan langsung istirahat di kamar hotel ibu Mira menginap. Kebersamaan mereka malam ini hanya diisi pertemuan kilat mengenai Excel yang menanyakan kabar Azzura. Dari apakah Azzura sudah merasa jauh lebih sehat, juga apakah Azzura sudah makan?
Keputusan Azzura menenangkan diri di balkon malah membuatnya memergoki Excel yang sibuk merok0k di sana. Sambil mondar-mandir, Excel begitu sibuk menghabiskan rokoknya. Seolah, pria itu sedang ikut lomba. Namun dari kenyataan tersebut pula, Azzura yang menyaksikannya diam-diam dan berniat tak menegur yakin, Excel sedang tidak baik-baik saja. Excel sedang sangat emosional hingga pria itu memilih melampiaskannya melalui setiap rok0k yang pria itu bakar sekaligus habiskan.
“Ini aneh, ... setiap mas Excel kenapa-kenapa, pasti selalu nyetrum ke aku. Selalu saja enggak bisa tenang di setiap mas Excel memang sedang ada masalah dan beban,” batin Azzura. Ia berniat menanyakannya kepada mas Aidan yang ia ketahu sempat menghabiskan waktu dengan Excel. Lebih kebetulannya lagi, mas Aidan masih di kamar hotel Azzura dan juga orang tua mereka menginap.
“Memangnya dia enggak bilang apa-apa?” tanggap mas Aidan santai sambil menyantap nasi pecel yang ia beli saat di perjalanan pulang.
Azzura yang baru duduk persis di sebelah mas Aidan, berangsur menggeleng. “Enggak, Mas. Dia cuma minta aku buat istirahat.”
“Nah, berarti memang enggak ada yang perlu dibahas dengan Mbak,” yakin mas Aidan yang kemudian mengeluhkan rasa pecel yang ia beli. “Rasanya aneh. Mirip kolak kacang tanah. Duh, lagi pengin makan pecel gini malah berasa makan kolak kacang tanah.”
Mas Aidan langsung sibuk menahan senyum. “Apa-apaan? Mana mungkin Didi mau jadi tukang pecel. Masak saja dia enggak bisa!” ucapnya.
Azzura langsung merenung serius. “Tapi feeling aku, kalian enggak jodoh, Mas. Soalnya kalau tetap dilanjut, rasanya kayak, ... Mas hanya momong atau itu mengasuh dia!”
Mas Aidan langsung menghela napas dalam sambil mencoba menghabiskan pecel yang ia beli. “Yang namanya manusia kan bisa berubah. Lagian Didi sudah janji mau berubah. Ya yang sabar, pelan-pelan.”
__ADS_1
“Namun sepertinya memang sudah salah didik dari awa deh, Mas! Efek terlalu dimanja, jadinya mbak Didi gitu!” tegas Azzura lagi dan ia mendapati mas Aidan yang menjadi agak murung. “Mas juga harus tegas, ya. Berubahnya dia kan butuh arahan tegas dari Mas juga!”
“Kalau gitu terus, hubungan kalian hanya menghasilkan beban dan dosa!” tegas Azzura. Ia yang tak tahan terus didiamkan Excel juga buru-buru pamit ke balkon lagi.
“Kalau papah sama mamah cari, aku ada di balkon, yah, Mas!” seru Azzura yang memang sampai berlari untuk ke balkonnya.
“Tadi papah sama mamah bilang, malam ini mereka mau ikut jaga Ojan. Jadi, Mas yang temenin kamu di sini.” Mas Aidan juga sampai berseru walau ia tak sampai melepas kepergian Azzura.
“Oh, oke!” Azzura mendadak berhenti lari kemudian balik badan menatap sekaligus menghadap mas Aidan. “Mas enggak undang mbak Didi? Dia tahu kan, kalau papah mamah, di sini?” Kali ini, ia bertutur dengan jauh lebih hati-hati. Takut makin melukai mas Aidan yang walau memiliki pasangan tapi masih kekurangan perhatian. Karena seperti yang ia katakan, hubungan mas Aidan dengan Didi, membuat mas Aidan lebih cocok jadi pengasuh kekasihnya sendiri. Selalu saja dimarahi, kurang ini, itu, walau sebenarnya jika dilihat dari usia Didi, dia memang bukan bocah. Usianya saja sudah dua puluh empat tahun, selain Didi yang juga sudah bekerja dan memang dasarnya manja.
“Dia sedang liburan ke Jepang bareng keluarga besarnya. Habis tahun baru, baru pulang,” ucap mas Aidan masih sabar dan kali ini sampai balas menatap Azzura.
Azzura yang tak mau memperpanjang obrolan mengenai Didi takut menambah beban mas Aidan malah merasa, perginya Didi liburan ke Jepang bersama keluarga besar, akan membuat mas Aidan merdeka.
Selanjutnya, yang Azzura hadapi adalah Excel, kekasihnya sendiri. Pria itu masih di balkon, masih dengan kesibukan sama yaitu mondar-mandir sambil menghabiskan rokok yang terus mengepulkan asap putih.
Azzura yang melangkah pelan, mendekat kepada Excel yang ada di balkon sebelah. Ia sengaja berdeham, dan memang sengaja mengusik kesibukan pria itu. Dan Excel yang seolah sudah langsung bisa mengenali suara deham Azzura langsung berhenti melangkah. Excel berangsur menoleh, membuat tatapan mereka bertemu. Alasan yang juga membuat dunia kedua sejoli itu seolah berhenti berputar. Dunia mendadak seolah hanya berisi mereka.
__ADS_1
“Nikah, yuk?” ucap Excel terdengar frustrasi.