Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
79 : Kamu Enggak Sendiri


__ADS_3

“Mah ... aku ke sini meski kali ini, aku hanya sendiri.” Air mata Cinta luruh di tengah kenyataan dada sekaligus pikirannya yang bergemuruh. Rasa sesak yang mendadak hadir membuatnya makin tak berdaya. Hingga yang ada, ia berakhir bersimpuh, mendekap batu nisan di hadapannya.


Batu nisan bernama Resty tersebut merupakan batu nisan almarhumah mamah kandung dari Cinta. Tersedu-sedu Cinta di sana. Tangisnya pecah sepecah-pecahnya, merindukan sang malaikat tak bersayap yang tak lagi ada di dunia. Karena semenjak wanita tangguh itu terbunuh, menjadi korban kekejian sang papah bersama sang selingkuhan, ibu Resty menjadi hanya hidup di kenangan. (baca novel : Pembalasan Istri yang Terbunuh (Suamiku Simpanan Istri Bos) )


Ibu Resty meninggal ketika Cinta masih bayi. Kala itu, Cinta tak hanya masih sangat membutuhkan ASI, tetapi juga sangat membutuhkan sosok ibu yang sering kali menjadi pahlawan wanita bagi anak-anaknya. Walau setelah itu Cinta dan Cikho justru menjadi anak angkat Tuan Maheza padahal istri muda Tuan Maheza telah selingkuh dengan Tomi papah Cinta, Cinta tetap merasakan kurangnya kehidupan. Rasa yang benar-benar menghancurkan hati bahkan mental seorang Cinta, semenjak wanita berwajah tegas pemberani itu akhirnya mengetahui, statusnya dalam kehidupan Tuan Maheza dan selama ini ia ketahui sebagai papahnya, tak lebih dari anak adopsi.


“Bahagia di Surga sana, Mah. Bahagia lah terlebih Mamah orang yang sangat baik. Di sini, aku juga akan bahagia. Aku akan memperjuangkan nasib Kak Cikho. Karena tak beda dengan Tomi yang sampai kapan pun tak pantas kami sebut papah, kak Cikho juga berakhir menghabiskan sisa waktunya di penjara!”


“Namun, aku sangat berharap kak Cikho akan belajar dari kesalahannya. Aku ingin kak Cikho hidup normal layaknya manusia pada kebanyakan.” Sampai detik ini, Cinta masih tersedu-sedu, merasakan sesak luar biasa di dadanya dan sampai membuatnya perlahan merasa kebas.


“Aku kangen Mamah ... aku ingin dipeluk Mamah. Kangen banget, Mah ....”


Apa yang Cinta harapkan memang terkabul. Seseorang memeluknya dari samping, tak lama setelah ia mengutarakan keinginannya untuk dipeluk sang mamah.


Sempat Cinta takut lantaran tadi, dirinya datang bersama Helios. Namun dari aroma tubuh beserta kelembutan dari pelukan tersebut, Cinta sudah langsung paham. Cinta benar-benar merasa nyaman. Akala, pria yang sudah menjadi kekasihnya itu hadir, memeluknya penuh ketenangan.


“Kamu enggak sendiri!” ucap Akala.


Cinta yang langsung terenyuh berangsur membenamkan wajahnya di dada Akala. Bersamaan dengan itu, kedua tangannya juga mendekap tubuh Akala yang memang besar. Akala memang memiliki bobot di atas rata-rata. Akala bahkan gendut, tapi pria itu sangat paham Cinta. Akala selalu membuat Cinta nyaman, meski usia menjadi perbedaan mencolok dari mereka. Cinta enam tahun lebih tua dari Akala.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Akala menyeka sekitar mata sekaligus setiap air mata Cinta menggunakan tisu kering yang ia keluarkan dari tas pinggangnya. Selanjutnya, Akala juga dengan sengaja membenarkan pasmina hitam Cinta. Akala menutup sempurna kepala Cinta hingga penampilan wanita itu menjadi sangat bersahaja.


Akala menggunakan stok peniti di dalam tas pinggangnya untuk membuat pasmina Cinta jauh rapi sekaligus terpasang dengan sempurna.


“Begini jauh lebih cantik. Dan aku yakin, kamu akan merasa jauh lebih tenang!” ucap Akala lembut dan sengaja memuji penampilan terbaru sang kekasih.


Cinta yang awalnya tersedu-sedu, telah sepenuhnya menepi. Karena kini, Cinta malah menjadi tersipu malu. Cinta menjadi tak berani menatap Akala terang-terangan.


Akala yang sadar pakaian Cinta belum sepenuhnya cocok dengan pasmina yang sudah membuat kekasihnya itu bersahaja, sengaja melepas sweater warna hitamnya. Akala memakaikan sweater miliknya ke tubuh Cinta.


Detik itu juga ketenangan yang Cinta rasa menjadi bertambah. Walau ketika Cinta tak sengaja menoleh ke jalan, ia juga sudah langsung bengong. Helios dan mobil pria itu benar-benar tak lagi di sana.


“Mobil hitam bagaimana? Sejak aku datang, di sana enggak ada siapa-siapa, apalagi sampai ada mobil. Paling ya itu, motor atau sepeda yang lewat!” yakin Akala masih lembut.


Cinta makin bingung. “Loh, si Helios ke mana? Masa mendadak pergi tanpa pamit, padahal Helios sendiri yang memaksa Cinta mau diantar pulang kampung oleh Helios. “Terus nanti aku pulangnya sama siapa?” pikir Cinta waswas, tapi melihat wajah Akala, ia sudah langsung meminta diantar kepada Akala.


“Memangnya kamu mau pulang kapan? Biar nanti aku atur jadwalku,” sanggup Akala benar-benar sabar.


Akala membawa Cinta pergi dari sana. “Tadi aku ke sini pakai motor, jadi sampainya juga cepat. Sekarang, kita cari makan sama minum dulu, yuk. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh,” ucapnya.

__ADS_1


Cinta yang menjadi cenderung menunduk berangsur mengangguk-angguk. Demi mencairkan rasa gugup yang sudah telanjur menguasai dada hingga yang di sana berdebar-debar, ia sengaja menanyakan kabar Azzura dan Excel. Terlebih yang Cinta tahu dari Akala, hari ini pengantin baru itu juga pulang kampung.


Cinta : Helios, kamu di mana? Kok asal ninggalin aku begitu saja?


Cinta sengaja mengirimi Helios pesan meski ia masih aktif mengobrol dengan Akala. Kekasihnya itu membawanya motoran.


“Sudah sore, nanti habis makan sekalian lihat sunset, ya!” seru Cinta yang sudah langsung ceria.


Naik motor layaknya sekarang ditemani embusan angin yang terasa jauh lebih kencang pergerakannya akibat motoran itu sendiri, membuat Cinta merasa sangat bebas. Cinta menemukan kebahagiaannya dan lagi-lagi dari hal paling sederhana yang Akala berikan kepadanya.


Padahal di tempat berbeda, di tanggul yang benar-benar sunyi seolah tidak ada kehidupan lain selain dari mereka sendiri, seorang Helios baru saja keluar dari mobilnya. Mobil yang juga sempat Cinta tanyakan kepada Akala.


Bersamaan dengan itu, dua sosok pria bertubuh kekar juga keluar dari mobil jeep hitam yang ada di depan mobil Helios. Seperti yang Excel maupun Helios curigai, penumpang mobil tersebut memang Jay dan Cobra. Keduanya sudah langsung tersenyum mengejek.


“Jay, kenapa manusia ini terus memakai kacamata? Apakah ketua mafia yang digadang-gadang sangat hebat itu memang buta?” ucap Cobra, si pria bertubuh hitam dan di kedua sisi wajahnya dihiasi tato ular kobra.


“Lalu, kenapa wajahnya selalu dibungkus rapat mirip makanan fermentasi? Ah iya ... dunia kan tahu bahwa wajahnya memang bur*uk rupa!” lanjut Cobra kali ini sengaja tertawa lepas lantaran hina*an yang ia lakukan kepada Helios juga sangat membuatnya puas.


Cobra dan Jay tak hentinya tertawa puas sambil menatap sarkas. Keduanya paling paham kelemahan seorang Helios yang akan langsung kehilangan kepercayaan diri ketika pria itu disinggung kebutaan mata kanan sekaligus wajahnya yang bu*ruk rupa.

__ADS_1


__ADS_2