
Yang langsung Excel lakukan adalah pergi, sama sekali tidak menanggapi. Membuat Angel yang awalnya mengumbar senyum langsung terdiam bingung.
“Pak Excel!” tentu saja Angel tidak tinggal diam. Setelah sempat berseru, ia kembali melakukan hal serupa. Buru-buru ia keluar, menghampiri sang lelaki pujaan.
Excel yang sudah hampir masuk mobil dan siap mengemudi, sengaja balik badan kemudian menghadap Angel. Walau hanya melalui lirikan, Excel masih bisa dengan leluasa mengontrol setiap gerak Angel. Termasuk kenyataan Angel yang sengaja membuat kedua kakinya saling menendang dan berakhir tumbang. Andai Excel tidak cekatan geser, pasti Angel sudah dengan leluasa mendarat di tubuh Excel. Tak menutup kemungkinan, wajah bahkan bibir mereka juga akan sampai menempel.
Sakit yang Angel rasa akibat mendarat di mobil Excel benar-benar luar biasa. Lipstik dan make up yang sengaja Angel tebalkan demi menarik perhatian Excel, malah berakhir menjadi no*da di mobil alphard hitam milik Excel yang masih sangat mengkilap.
“Ibu Angel, ... saya sudah terbiasa didekati wanita. Jangankan yang masih berpakaian lengkap, yang sama sekali enggak berpakaian, sekelas pelac*ur kelas kakap saja, bagi saya semua itu sudah terlalu biasa. Sejauh ini memang hanya istri saya yang luar biasa!” tegas Excel sambil menggeleng tak habis pikir. “Anda sudah tahu kan, kalau saya sudah menikah?”
Excel masih menjaga jarak dari Angel. Ia berdiri di sebelah belakang mobilnya, lurus menghadap Angel yang ia tatap penuh peringatan.
“Pak Excel ....” Angel pikir, dibiarkan jatuh oleh Excel akan menjadi hal yang paling menyakitkan di kedatangannya kali ini. Namun, nyatanya ada yang lebih menyakitkan lagi dan itu masih ia rasakan hingga detik ini.
“Nyonya Cici sendiri yang memberi saja peringatan agar saya tidak memanfaatkan Ibu Angel,” tegas Excel lagi.
Dua pria bertubuh tinggi tegap dan merupakan ajudan Angel, sudah langsung turun. Keduanya berbondong-bondong menghampiri Angel, membantu sang nona muda, sebelum akhirnya salah satu dari mereka juga sampai mendekati Excel.
“Anda tahu Anda sedang berhadapan dengan siapa? Anda ingin satu negara ini memusuhi Anda?!” ucap sang ajudan.
“Anda pikir hidup saya milik Anda apalagi bos Anda?!” sergah Excel santai tapi sudah langsung menusuk ulu hati si pria.
__ADS_1
Sang ajudan yang langsung tersulut emosi, refleks menggerakkan tangan kanannya untuk meraih pergelangan tangan kiri Excel. Ia bermaksud membuat Excel berlutut kepadanya, tapi yang ada malah dirinya yang melakukan itu kepada Excel. Gerakan Excel terlampau cepat, terlihat jelas Excel tak hanya terlatih, tapi juga sudah andal.
Angel dan ajudan yang satunya nyaris jantungan hanya karena menjadi saksi kejadian.
“Hubungan kita hanya untuk urusan pekerjaan sekaligus kerja sama. Tidak akan lebih dari itu apalagi sampai ada perbuda*kan hasra*t!” tegas Excel.
“Kalau begitu saya tidak mau melanjutkan kerja sama ini!” sergah Angel dengan suara lantang.
Angel yang tidak pernah diabaikan apalagi ditolak, benar-benar murka. Ia tidak terima, dan memilih Excel celaka ketimbang pria itu terus menolaknya.
Excel mengangguk tegas. “Baik. Dengan kata lain, Anda siap membayar denda sesuai kesepakatan yang ada di perjanjian kerja sama dan sudah sama-sama kita tanda tangani!”
Bukannya merasa takut apalagi bersalah, Angel justru langsung tersenyum sarkas hingga tampangnya tampak sangat keji. Dan Excel langsung berpikir, memang seperti itu watak asli seorang Angel.
“Kamu lupa saya siapa dan ayah saya siapa?” kesal Angel yang memang sudah terbiasa disegani. Kenyataannya yang merupakan putri dari jend*ral berbintang di negara mereka, memang membuatnya selalu mendapat segala sesuatunya yang level istimewa. Jadi, sebuah kekesalan tersendiri setelah Excel berani menolaknya secara terang-terangan. Karena itu sama saja dengan penghinaan.
“Bahkan walau kamu anak presiden di negara ini, kamu anak seorang Nabi yang memimpin kaum tertinggi,” ucap Excel sambil menggeleng tak habis pikir. “Saya sama sekali tidak takut!”
Angel kembali tersenyum sinis. “Cukup mengutus lima orang papah saya dan itu kelas paling ren*dah, pabrik dan kebun di sini sudah rata dengan tanah!”
Bersama tatapan tajamnya yang terus tertuju kepada Angel, Excel yang melangkah dengan langkah biasa, sengaja menghampiri Angel. “Ulangi sekali lagi!” tegasnya lirih.
__ADS_1
Bukan ucapan yang Excel dapatkan karena yang ada, Angel malah meluda*hinya. Tentunya, Excel yang memang bukan orang biasa, sudah langsung menghindar walau tangan kanannya juga dengan cekatan mence*kik Angel.
Angel yang tidak pernah diperlakukan kasar, langsung kewalahan. Hidup dan matinya seolah sudah ditentukan, di tangan Excel. Karena walau kedua ajudannya sudah langsung sibuk menye*rang Excel, membuat pria itu berhenti, yang ada Excel malah sampai membuat tubuh Angel terangkat hanya karena ceki*kkannya. Bisa dibayangkan, seperti apa sakit yang tengah nona muda manja nan arogan sekelas Angel rasakan.
“Wanita manja sepertimu sudah sepantasnya diberi pelajaran. Agar lidahmu tak seenaknya menghina apalagi menghakimi kehidupan orang. Kalau perlu, isi kepalamu juga wajib dikeluarkan!” tegas Excel.
Di tengah kesakitan yang harus ia rasakan dan itu sungguh untuk yang pertama kalinya, Angel juga merasa sangat heran. Kenapa Excel yang selain sangat cekatan, juga seolah kebal? Setiap pukulan, tendangan, bahkan tussukkan yang dilakukan oleh kedua ajudannya, sama sekali tidak mengusik Excel! Padahal, darah segar sudah mengalir dari setiap luka tusuk di tubuh Excel.
Lebih anehnya lagi, beberapa menit kemudian, Excel sudah justru memboyong Angel dan kedua ajudannya menggunakan mobil Angel. Excel yang mengemudi, tanpa ada adegan penyekapan kepada ketiga orang yang dibawa.
“Pastikan kedua orang tuamu ada di rumah. Biarkan mereka menghadapiku secara langsung jika mereka tidak ingin dianggap sebagai samppah!” tegas Excel. Ia berangsur menoleh, menatap Angel yang ada di sebelahnya. “Memang hanya sammpah yang bisa menghadirkan anak rasa kottoran seperti kamu, kan?”
Demi apa pun, rasa cinta yang sempat menggebu-gebu dalam diri Angel untuk Excel, sudah langsung berubah menjadi kebencian yang amat besar hanya karena ucapan Excel barusan. Rasa cinta yang memang terlalu cepat hadir sekaligus tumbuh. Terlalu instans, padahal sudah bukan rahasia jika segala sesuatu yang instan termasuk itu dalam urusan cinta, hanya akan menghasilkan luka.
“Kirim lima anggota ke pabrikku untuk jaga-jaga. Setelah itu, datang ke alamat ... aku tunggu kamu di sana karena aku butuh bantuan kamu.” Excel menghubungi Helios melalui sambungan telepon suara. Ia berbicara mengandalkan sambungan headset bluetooth.
“Sepertinya Excel memang bukan orang bisa. Dia ...?” Dalam hatinya, Angel menjadi menerka-nerka status Excel dan baginya bukan orang biasa. Excel bukan pengusaha biasa.
Tak sampai satu jam, akhirnya Excel sampai di depan rumah yang sekitar gerbangnya saja dijaga oleh tiga satpam sekaligus. Belum lagi yang tengah berjalan kaki dan tampaknya tengah berpatroli. Excel total, di bagian luar rumah megah tersebut dan ia ketahu sebagai rumah orang tua Angel, ada enam orang satpam yang mengamankan.
“Pikirkan lagi sebelum kamu memutuskan suatu hal. Jangan gegabah karena yang kamu hadapi bukan orang sembarangan. Lupakan apa yang terjadi sebelum ini, dan jadilah milikku jika kamu ingin baik-baik saja. Karena bagiku apalagi papahku, membuatmu sekeluarga dipenjara sangatlah mudah. Atau memang, aku harus membuat istrimu menyesal, baru kamu akan menyesal juga?” tegas Angel.
__ADS_1
“Kata-katanya ...?!” batin Excel yang lagi-lagi merasa tidak asing. Awalnya, ia merasa wajah Angel tidak asing. Dan baru saja, ia juga merasa tidak asing kepada kata-kata Angel.