Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
72 : Drama Pagi-Pagi


__ADS_3

“Ini jam berapa? Mas mau ke mana, kok sudah rapi?” Azzura tak hanya bingung karena ia juga mendadak linglung.


Selain merasa sudah tidur terlalu lama, suaminya juga sudah rapi. Kini saja, Excel buru-buru pergi dan hanya pamit ala kadar.


“Eh, Mas. Tunggu ih. Pamit kok begitu?” Azzura menyingkirkan selimut hangat berwarna cokelat dari tubuhnya kemudian menghampiri Excel yang sudah ada di depan bibir tempat tidur.


Azzura langsung mendelik ketika mendapati beker di meja nakas sudah menunjukkan nyaris pukul enam. “Sudah jam segini? Ini aku beneran kesiangan? Bukannya aku pasang alarm, ya?”


“Tadi aku sengaja matiin alarm kamu. Aku enggak tega bangunin kamu,” ucap Excel.


“Enggak tega gimana, aku kan belum salat subuh, Mas!” balas Azzura mulai panik.


“Sudah, tadi. Sudah aku wakilin. Biar aku saja,” yakin Excel.


Tanggapan jujur sang suami yang terdengar sangat polos membuat Azzura kesal tapi juga gemas. “Kata siapa salat bisa diwakilin?”


“Aku kan suami kamu dan otomatis kamu tanggung jawab aku,” balas Excel dan baginya benar, tapi Azzura sudah langsung menggeleng.


“Tetap enggak boleh begitu, Mas. Duh gimana ya, jelasinnya. Gini loh, Mas.”


“S-sayang, jelasinnya nanti saja kalau aku sudah pulang kerja karena ini saja aku nyaris telat.” Excel sengaja memotong penjelasan sang istri.


“Tapi Mas sudah sarapan?” Azzura sengaja agak berlari hanya untuk cepat sampai di hadapan sang suami. Ia sudah langsung memeluk manja punggung Excel.


Excel yang walau sudah gelisah dan memang buru-buru langsung membalas Azzura. “Sudah, tadi aku bikin mi rebus.”


“Kenapa enggak bangunin aku biar aku bisa siapin?!” sergah Azzura benar-benar geregetan.

__ADS_1


“Dibilangin aku enggak tega bangunin kamu.” Excel langsung membopong Azzura, membuat wanita itu kembal tidur ke posisi sebelumnya.


“Jangan lari-lari lagi karena kaki kanan kamu masih sakit. Nanti jangan lupa di kompres, ya?” balas Excel setelah menyelimuti tubuh Azzura dan ia melakukannya dengan sangat cepat.


Saking sayangnya kepada Azzura, Excel melakukannya dengan cara yang melenceng. Azzura ingin menjelaskan lagi, tapi sang suami terlihat benar-benar tidak memiliki banyak waktu.


“Jangan pergi dulu, Mas!” Azzura meraih tangan kanan Excel kemudian menyalaminya dengan takzim. Kemudian, kedua tangannya membingkai wajah Excel, sementara bibirnya maju mengabsen wajah Excel dan yang paling terakhir itu bibir. Azzura menghadiahi sang suami ciu*man dalam dan itu membuat Excel mengeluh.


“Benar-benar cobaan. Masih pagi, sudah panas dingin begini!” Excel terus mengeluh dan Azzura tak hentinya menertawakannya.


“Makanya cepat pulang!” balas Azzura masih menertawakan sang suami. “Bentar Mas, aku mau antar Mas sampai depan.”


“Pakai gamis dulu jangan hanya begitu ih!” Kali ini Excel benar-benar panik.


Baru Azzura sadari, dirinya masih memakai gaun malam transparan yang juga membuat suaminya tidak mengizinkannya keluar dari kamar.


“Sepagi ini sudah rempong. Kalau begitu tunggu aku pakai gamis dulu, Mas.” Keadaan seperti kini membuat Azzura menyadari, setelah menikah memang akan jauh lebih bebas tinggal di rumah sendiri. “Pantas banyak yang bilang, kalau sudah menikah bakalan lebih enak tinggal di rumah sendiri, meski rumahnya hanya kontrakan kecil!” pikir Azzura.


Excel yang menyimak dari kaca jendela pintu kemudi lantaran ia menyetir sendiri, mengangguk-angguk. “Jangan nangis lagi karena aku akan menepati janji. Kalau mau pergi-pergi ajak Elena takutnya kamu nyasar. Kunci mobil ada di laci atas nakas sebelah kamu tidur. Dua hari lagi kita pulang kampung, ya!” ucap Excel benar-benar lembut.


Azzura yang belum rela ditinggal Excel sengaja merapatkan wajah mereka. Kedua tangannya membingkai wajah Excel, sementara bibirnya melu*mat rakus bibir suaminya.


Satpam yang berjaga di sana dan masih berdiri di belakang mereka karena gerbang rumah masih dibiarkan terbuka, buru-buru menunduk tanpa berani menyaksikannya.


“Dadah! Jangan lupa kabari aku karena sekarang Mas sudah punya istri! WA aku, oke! Wajib kabar-kabar! Assalamualaikum!” Azzura sadar, apa yang ia lakukan sudah sangat berisik, agresif, bahkan berlebihan. Namun, semua itu merupakan cara Azzura dalam mencairkan sikap Excel yang terlalu dingin sekaligus kaku. Lihat saja, Excel yang biasanya datar benar-benar diam, kini sibuk tersipu memandanginya sambil mengangguk-angguk.


Walau ketika Azzura membentuk jemari kedua tangannya menyerupai bentuk hati, Excel sudah langsung bingung. Terlebih ketika Azzura membuat jemari mereka menempel sama-sama membentuk hati.

__ADS_1


“Ini kalau gini caranya, aku enggak pergi-pergi!” keluh Excel yang akhirnya tertawa.


Azzura bahagia melihat perubahan suaminya yang menjadi jauh lebih ceria.


Tak lama kemudian, Azzura yang sengaja menyiram taman depan rumah, dikejutkan oleh kehadiran sang mamah mertua.


“Kamu siram taman, Ra? Jangan capek-capek loh.”


“Biar ada kegiatan, Mah.”


“Tapi kaki kanan kamu masih sakit, kan?”


“Ini mau sekalian berjemur pagi-pagi, Mah. Yuk Mamah juga sekalian ikut!” Azzura langsung bersemangat merapikan selang airnya ke tempat semula.


“Biar pak satpam yang bantu Mamah, kamu jangan sampai angkat-angkat Mamah. Berat,” ucap ibu Mira yang walau sadar menjadi cerewet, maksud cerewetnya baik agar menantunya tidak merasa diperlakukan tidak adil.


“Suamimu ke mana?” tanya ibu Mira setelah mereka sama-sama berjemur di depan gerbang bagian luar.


Azzura tetap berdiri, sementara ibu Mira tetap di kursi rodanya. Tak jauh dari mereka, sang satpam juga selalu siaga.


“Mas Excel sudah berangkat kerja Mah, tadi,” balas Azzura, masih canggung jika hanya berdua dengan sang mamah mertua.


“Oh, kirain masih tidur.”


Mendengar itu, dalam hatinya Azzura berujar, tak mungkin seorang Excel masih tidur. Karena sebelum matahari terbit, Excel selalu sudah bangun. Biasanya sebelum menikah dengan Azzura dan masih tinggal di rumah orang tua Azzura, alasan Excel bangun pagi adalah untuk olahraga kemudian dilanjutkan dengan bersih-bersih sekaligus beres-beres rumah. Namun sekarang setelah menikah, hal yang langsung Excel lakukan setelah bangun adalah bersiap salat subuh. Kemudian pria itu akan mengganggu Azzura dengan segala drama mereka, jika memang tidak ada pekerjaan mendesak layaknya beberapa saat lalu.


“Lusa kalian akan pulang kampung?” lanjut ibu Mira.

__ADS_1


“Mamah ikut, ya?” balas Azzura berangsur jongkok dengan hati-hati di depan ibu Mira.


Azzura tersenyum manis menatap ibu Mira. Senyum manis yang juga langsung dibalas dengan senyum serupa. Selain itu, ibu Mira juga langsung mengangguk. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa bagi Azzura. Azzura merasa menjadi menantu yang dihargai karena ibu Mira juga peduli kepadanya, walau mereka belum mengenal lama


__ADS_2