Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
84 : Pertama Kali LDR


__ADS_3

Beres salat subah rasanya menjadi makin sesak, berat. Azzura dan Excel yang merasakannya menjadi kerap menghela napas pelan, guna meredam rasa menyiksa tersebut di, tengah kenyataan dada mereka yang bergemuruh.


LDR pertama, rasanya benar-benar menyiksa padahal mereka baru akan menjalaninya, batin Azzura maupun Excel.


“Seumur hidup Papah, jarang banget dimasakin Mbak Azzura,” ucap pak Kalandra untuk pertama kalinya merasa cemburu. Baginya, Excel sangat beruntung karena telah sangat diperhatikan oleh Azzura. Azzura yang kurang mahir dalam memasak, terlihat sangat bekerja keras demi menghasilkan masakan terbaik.


Excel yang sudah langsung tersipu, tak segan memuji sang istri. Mereka sudah sibuk beraktivitas karena keluarga Azzura memang tipikal aktif sekaligus sibuk. Di dapur, ibu Arum juga sudah sibuk menyiapkan sarapan sekaligus bekal untuk anggota keluarga.


“Nasi goreng dan mi goreng, nanti ya minum terus, Mbak. Kasih nasi putih sama lauk. Itu kan Mamah siapin banyak,” tegur ibu Arum menyaksikan kesibukan putrinya.


“Tenang, Mah. Nanti aku juga minta bekal buatan Mamah buat mas Excel. Gitu-gitu, mas Excel makannya enggak kalah banyak dari Akala!” balas Azzura berbisik-bisik juga, tapi malah menjadi alasan ibu Arum sibuk menahan tawa.


Setelah sarapan bersama, Excel benar-benar pergi. Masih sekitar setengah enam pagi ketika Azzura mengantar Excel hingga mobil. Azzura bahkan sampai duduk di tempat duduk sebelah setir, hingga Excel menertawakannya.


“Mau sekalian ikut ke Jakarta?” tanya Excel masih belum bisa mengakhiri tawanya. Padahal jauh di lubuk hatinya, LDR yang akan mereka jalani sudah membuatnya menangis.


Azzura yang sempat ikut tertawa geli berangsur mendekap tengkuk sang suami. “Kangen terus ke aku yah, Mas!”


“Pasti!” balas Excel yang detik itu juga sudah langsung melow.


Azzura berangsur menarik wajahnya, menatap wajah Excel dari jarak yang begitu dekat. “Mas beneran enggak mau cerita? Aku lihat, Mas ada yang perlu diceritakan.”


“Semuanya sudah baik-baik saja. Kamu seaktif ini. Mana bisa aku pusing apalagi punya beban,” yakin Excel.


Azzura sudah langsung tersipu kemudian mengangguk-angguk. Ia mengecu*p lembut, mengabsen wajah sang suami dengan sangat hati-hati.


“Hati-hati di Jalan. Langsung kabari kalau sudah sampai!” sergah Azzura seiring kedua matanya yang sudah langsung berembun.

__ADS_1


Excel juga sudah berkaca-kaca. Dadanya bergemuruh hebat. “Besok mau hadiah apa?”


“Wajib Mas yang pilihin. Aku beneran nunggu!” ucap Azzura.


Excel sudah langsung mengernyit sekaligus merenung serius. “Kamu maunya apa?”


“Apa pun pilihan Mas, aku pasti terima!” sergah Azzura.


“Yakin ...? Jangan-jangan kalau aku salah bawa, aku malah enggak dibukain pintu?” Excel jadi takut sendiri.


“Asal bukan bawa wanita lain, aku pasti terima. Pintunya aku buka lebar!” yakin Azzura.


Excel sudah langsung geleng-geleng. “Sekarang LDR, tapi pergi selanjutnya kamu ikut, ya?” ucapnya sengaja meminta, tapi Azzura malah menertawakannya.


“Aku kan mau urus resepsi kita,” balas Azzura.


“I love you,” ucap Azzura dan Excel sudah sigap membalas. Termasuk ketika Azzura mengec*up bibir Excel, Excel juga sudah langsung mengerucutkan bibirnya.


“Sehat-sehat yah, Mas. Aku doakan, semua yang berniat jahat ke kamu bakalan masuk neraka!” batin Azzura tersedu-sedu melepas kepergian suaminya. Lebih parah dari ketika ia melepas kepergian orang tuanya untuk pertama kalinya setelah menikah dengan Excel.


Excel yang tidak tega sampai mundur, mobilnya berhenti di depan Azzura.


“Ya Alloh, andai ada wanita kegenitan yang goda-goda apalagi berniat jahat ke suamiku, langsung cabut saja nyawanya. Aku ikhlas!” doa Azzura tersedu-sedu di hadapan sang suami.


“Amin,” sambut Excel yang juga sudah langsung meminta Azzura untuk tidak menangis lagi.


Tanpa menjawab, Azzura memutari mobil bagian depan yang masih penyok, kemudian mendekap tengkuk sang suami. Sekali lagi, ritual pamit mereka jalani dengan susunan acara sekaligus kalimat yang sudah di luar kepala seorang Excel.

__ADS_1


***


Perjalanan yang Excel jalani kembali jauh lebih cepat dari perjalanan manusia normal pada kebanyakan. Penuh keseriusan, Excel tengah berbincang melalui headset yang tersambung telepon suara dengan Helios.


“Aku sengaja mengantar Cinta mengunjungi makam mamahnya karena dia bilang, dia kangen mamahnya. Selebihnya, Cinta bilang ingin menenangkan diri di rumahnya yang ada di kampung, untuk beberapa hari,” ucap Helios dari seberang sana.


Excel yang baru sampai tempat parkir bagian depan parik tahu dan tempenya, berangsur mematikan mesin mobil, kemudian mencabut kuncinya dari mobil.


“Jangan diperpanjang karena walau aku akan tetap merebutnya dari Akala, aku tidak akan menyentuh apalagi melukai Akala,” ucap Helios lagi.


Sikap Helios yang menjadi posesif kepada Excel, juga cara Helios sibuk meyakinkan Excel, menegaskan pria itu sangat khawatir Excel meninggalkannya.


“Aku lebih suka jika kalian jujur ke Akala,” tegas Excel.


“Nanti, kalau semuanya benar-benar sudah jelas!” tegas Excel dari seberang.


“Ya sudah, sebentar lagi aku harus menemui tamu,” sergah Excel sambil menurunkan kaca mata hitam yang dikenakan. Ia melongok suasana luar melalui kaca jendela di sebelahnya.


Suasana luar sedang silau sekaligus panas-panasnya. Karena selain waktu yang menunjukkan tepat pukul setengah tiga sore, matahari kali ini benar-benar terik. Sang mentari seolah marah hanya karena Excel dan Azzura harus LDR.


“Bisnis ...?” tebak Helios dari seberang dan terdengar sangat penasaran.


“Iya. Ya sudah, aku mau siap-siap dulu,” sergah Excel. Tanpa menunggu balasan atau setidaknya persetujuan Helios, Excel sudah langsung mengakhiri sambungan telepon mereka.


Jujur, Excel masih marah kepada Helios bahkan Cinta. Sebab kenyataan Cinta yang mau diantar Helios dan mereka mengabiskan waktu bersama, itu sungguh membuat perasaan Excel sebagai sesama laki-laki layaknya Akala, juga sebagai kakak untuk Akala, hancur.


Demi menyembuhkan keadaan mood-nya yang tidak baik-baik saja, Excel sengaja menghubungi sang istri. Wanita itu paling paham mengenai cara membahagiakannya dan Excel bisa mengandalkan Azzura. Ditambah lagi, Excel juga baru akan menelepon Azzura lagi walau hampir di beberapa kesempatan sepanjang.

__ADS_1


Sekitar tiga puluh menit kemudian, rekan bisnis yang akan bekerja sama dengan Excel datang. Seorang ibu-ibu sebaya ibu Arum, tapi gayanya glamor. Rambut pirangnya disanggul mirip pramugari, benar-benar rapi. Selain sampai dikawal dua ajudan, wanita itu ditemani oleh seorang perempuan muda cantik, dan sejak awal pertemuan dengan Excel, sudah selalu salah tingkah.


__ADS_2