
“Namun saya juga ingin tahu, kenapa suami saya sampai harus menjalani pengawasan secara khusus? Kesannya, justru suami saya penjahatnya ....” Azzura menatap serius wajah polisi yang ia hadapi. Tak hanya yang sempat bicara dengannya, tapi juga kedua polisi yang menjadi bagian dari kebersamaan mereka.
Baru Azzura sadari, ada yang aneh. Kenapa sang suami akan diboyong ke rumah sakit khusus, untuk menjalani pemeriksaan secara khusus? Kalaupun untuk pengobatan yang lebih baik, harusnya tidak sampai ditempatkan secara khusus.
“Tunggu!” tegas Azzura yang kemudian segera menelepon mas Aidan. Wawasannya tentang hukum tak seluas sang kakak. Ia tak mau gegabah asal mengambil keputusan. Toh andai memang untuk keperluan kasus, harusnya polisi dan aparat mana pun, juga siap menunggu.
“Kami hanya akan memastikan keadaan suami Anda—”
“Memastikan bagaimana lagi? Dikiranya suami saya pura-pura? Dikiranya yang di video hanya bercanda? Kalian ini polisi, masa kalah dengan masyarakat awam? Atau jangan-jangan, kalian disuruh—?” Yang Azzura khawatirkan, dugaan terakhirnya memang benar. Bahwa ketiga polisi yang datang malah bukan polisi yang menangani kasus Excel. Ketiganya hanya oknum tertentu yang sedang berusaha menyingkirkan suaminya.
“Cepat, Ra. Cepat, jangan takut! Kalau memang sudah begini memang hanya masyarakat yang bisa menolong kamu!” batin Azzura menyemangati dirinya sendiri.
Tak peduli walau sebelumnya dilarang membuat apa-apa serba jadi viraal, Azzura sudah buru-buru melakukan siaran langsung di akun pribadinya. Setidaknya, mereka yang sudah mengetahui kasus Excel juga sebagian besar sampai mengikuti akunnya. Dengan kata lain, Azzura bisa jauh lebih leluasa meminta bantuan. Ia pasti akan mendapat dukungan asal ia benar.
Tak disangka, ketiga polisi tadi khususnya polisi bertubuh kuning langsat yang sejak awal terus berbicara lantang, mendadak pamit.
“Loh, loh, kok pamit, Pak? Katanya tadi mau bawa suami saya pindah ke rumah sakit khusus agar kalian bisa melakukan pemeriksaan sekaligus memberikan pengobatan lebih intensif?” Azzura terus mengejar ketiganya yang buru-buru keluar. Ia masih melakukan siaran langsung, selain ia yang tak sendiri karena Syam juga masih aktif mengikuti sambil merekam menggunakan ponsel pribadi.
“Mas, jangan sampai lepas! Tahan dan baru bisa lepas setelah mereka—” Azzura tak lagi berteriak setelah dirinya mendadak ditodong pistol. Dalam sekejap, tangan kanannya yang memegang ponsel juga ditempeleng. Ponsel di sana langsung terjatuh dan Azzura juga meringis kesakitan akibat dampaknya.
Syam pun tak luput jadi sasaran. Ketiganya menodongkan pistol ke Azzura dan Syam, silih berganti.
__ADS_1
“Kita bisa membicarakan ini secara baik-baik!” ucap polisi berkulit kuning langsat dan sedari tadi terus melakukan perlawanan. Bahkan, dia juga yang menodong Azzura lebih dulu, kemudian menghantam tangan kanan Azzura.
Kini, polisi tersebut hendak menginjak ponsel Azzura yang masih terkapar di lantai, tapi dengan sigap Azzura menyeruduknya layaknya banteng. Azzura menggunakan kemahiran bela dirinya, mengamankan sang polisi tanpa senjata.
Syam juga sudah langsung mengeluarkan senjatanya. Seketika itu juga, ia menjadi sosok bengis, tak segan mendekat tanpa benar-benar menggunakan senjata di kedua tangannya. Tangan kanan memegang pistol, sementara tangan kiri memegang celurit.
Sebelumnya, Syam dan Azzura sudah sepakat untuk mengamankan lawan tanpa melukai. Sebab lawan mereka kali ini nyata, bukan target pesanan yang cukup membuat mereka menghilang setelah menghabisinya.
“Ya Alloh, sekarang aku tahu, kenapa dari dulu, aku begitu tertarik dengan dunia bela diri. Ternyata karena aku akan ada di titik ini,” batin Azzura.
Setangguh-tangguhnya Azzura, bahkan walau dirinya masih bisa loncat, melayang di udara kemudian menggunakan kaki dan tangannya dengan leluasa dalam melumpuhkan musuh, wanita itu tetap bersedih. Air matanya beberapa kali berlinang karena ia terus teringat keadaan sang suami.
Kejadian di CCTV saat Excel ditodong, ditembak oleh sang jendraal kemudian dihujani peluru oleh ajudan atau itu satpam, tak hentinya terputar di ingatan Azzura. Dan itu sangat melukainya.
Azzura bekerja sama dengan Syam. Tentu gerak mereka jauh lebih lincah ketimbang ketiga polisi yang mereka hadapi. Setelah ketiga lawan mereka tumbang, mereka mengikat tangan maupun kedua kaki ketiga polisi tadi menggunakan tali sekuat mungkin. Bersamaan dengan itu, mobil mas Aidan dan mobil Helios menepi. Keduanya datang dan langsung syok melihat pemandangan yang terjadi.
“Ini yang tadi?” sergah mas Aidan buru-buru memastikan.
Berbeda dengan Helios yang sudah langsung memanjat gerbang, mas Aidan memilih tetap di luar sambil menunggu dibukakan pintu. Ketiga polisi yang mas Aidan maksud sudah babak belur. Pemandangan yang jujur saja tidak begitu membuat pria itu terkejut. Tak semata karena aksi teror sudah biasa ia terima karena beberapa kali, ia juga akan mengalami gangguan serupa di setiap kasus besar yang ia hadapi. Melainkan mengenai Azzura yang memang sudah terbiasa membuat lawannya babak belur.
“Dikiranya markas ini playground!” kesal Helios. Ia sengaja melepas masker dan juga kacamata hitamnya, memberikan penampilan paling menyeramkannya kepada ketiga polisi yang sudah membuat keributan di markasnya.
__ADS_1
Ketiga polisi itu sudah langsung ketakutan. Karena ketika seorang Helios membuka topeng, tidak ada yang tidak langsung takut kecuali jika mereka sudah terbiasa. Sebab walau hanya diam, sebenarnya Azzura juga sangat terkejut—takut, padahal sebelumnya Azzura sudah pernah melihat wajah Helios yang sekarang.
“Ini belum apa-apa. Perjalanan ini masih sangat jauh, jadi kamu harus lebih kuat,” batin Azzura lagi-lagi menyemangati dirinya sendiri. Azzura merasa sakit di kedua pergelangan kakinya yang memang terkilir. Ia sampai meminta gedong ke mas Aidan setelah kakaknya itu dibukakan gembok gerbangnya oleh Helios.
Mas Aidan membawa Azzura masuk, mengantarkannya ke ruang rawat Excel. Sementara Syam dan Helios yang mereka tinggalkan masih berjaga-jaga di tempat. Keduanya memperlakukan ketiga polisi tadi layaknya tawanan perang.
“Mereka pikir, aku bisa dibodohi. Walau jujur, aku hampir tertipu, aku hampir menyerahkan mas Excel kemudian mengikuti arahan mereka,” lirih Azzura.
“Enggak apa-apa, Mbak. Mbak sudah melakukan yang terbaik. Mbak juga jangan sampai kelelahan. Mbak tetap wajib istirahat,” lirih mas Aidan yang kemudian membantu Azzura duduk dengan hati-hati.
“Aku kangen dan kamu sedang di Jakarta, tapi kita tetap saja enggak bisa ketemu, Mas!” Dari seberang, suara Didi terdengar sangat emosional.
Azzura yang baru saja mas Aidan dengan buru-buru masih bisa mendengar keluh kesah kekasih mas Aidan tersebut, dengan leluasa.
“Sini, kalau kamu mau ketemu ayo, aku jemput. Namun kalau buat main apalagi kencan jalan-jalan, aku beneran lagi enggak bisa, Sayang. Aku kan sudah jelasin ke kamu, Azzura dan Excel sedang dapat musibah. Kamu bahkan tahu kasus yang sedang mereka hadapi. Mohon pengertiannya Sayang!” mohon Mas Aidan benar-benar sabar membalas setiap keluh kesah sang kekasih.
“Mohan mohon terus! Kamu selalu begitu, Mas! Kamu selalu punya banyak waktu buat orang lain, tapi buat aku kamu selalu minta aku buat menunggu!”
“S-sayang, Azzura itu adik aku, adik kamu juga—”
“Sudahlah, kalau gini terus, udahan saja. Muak lama-lama kembung gara-gara diminta sabar terus!”
__ADS_1
Didi atau Divani benar-benar mengakhiri sambungannya secara sepihak. Azzura yang diam-diam mengikuti dengan langkah tertatih, sudah langsung emosi. Kedua tangan Azzura mengepal kencang di sisi tubuh.
“Didi lama-lama kok nyebelin sih. Bikin emosi. Untung dia enggak marah-marah di depan aku, kalau sampai iya, sudah langsung aku bantting dia!” batin Azzura.