Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
86 : Sebelum Pulang Menemui Istri


__ADS_3

Hari terakhir di Jakarta sebelum Excel pulang bertemu sang istri, rasanya seperti sudah bertahun-tahun lamanya mereka berpisah menjalani LDR yang penuh rasa.


Lampu I ❤️ Azzura yang sempat menghiasi kebun kedelai, sudah Excel boyong ke bagasi mobilnya. Dua kardus berisi tempe dan satu ember berisi tahu, juga sengaja ditaruh di sana untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Semua persiapan nyaris beres dan Excel siap pulang.


“Mobilmu sudah diperbaiki?” tanya suara bariton seorang pria dan sudah langsung Excel kenal sebagai suara Helios.


Excel yang awalnya melakukan segala sesuatunya dengan cepat, menjadi tidak bersemangat. Bagasi yang awalnya akan ia tutup juga nyaris kembali terbuka karena kelengahannya. Namun ia yang menyadari itu segera menguasai diri. Excel menutup pintu kemudian menghadap Helios tanpa minat. Sebab sekadar melirik wajah Helio saja, Excel tak melakukannya.


“Aku pastikan, aku tidak akan pernah mengusik apalagi menyentuh Akala,” tegas Helios yang memang paham, alasan Excel mendiamkannya karena hubungannya dan Cinta.


“Sama saja dengan aku yang dengan sengaja mendekati kekasih kamu. Aku tidak peduli kepada apa pun, bahkan kepada kamu. Sementara sebelum ini, kamu pernah sangat mencintai kakak perempuanku,” ucap Excel sengaja menyindir.


“Memangnya, walau hanya masa lalu, rasa sayang kamu ke Akala sebagai adik Azzura, beneran enggak tersisa?” Excel menatap Helios dengan tatapan yang benar-benar dingin. Sekelas Helios langsung tidak berani menatapnya.


Helios sudah langsung tidak bisa berkomentar, kemudian menunduk dalam. Setelah menelan cairan yang hadir membasahi tenggorokannya, ia berangsur menghela napas pelan. “Kasusnya sudah beda Cel.”


Mendengar itu, Excel Sudah langsung mengangguk-anggukan. “Aku doakan, apa pun hasilnya nanti, semoga itu yang terbaik. Aku juga berharap, Akala mendapatkan wanita baik-baik. Minimal Akala mendapatkan wanita berkualitas seperti kakak perempuannya.”


Ucapan Excel tersebut sudah langsung menyinggung Helios. “Wanita baik-baik? Wanita berkualitas?” lirihnya sengaja memastikan.


“Enggak usah tersinggung karena aku bicara apa adanya. Pacarmu, mau diajak jalan laki-laki lain. Memangnya kamu pikir, sebutan apa yang pantas untuk wanita seperti itu?” Excel yang sadar kedua tangan Helios yang ada di sisi tubuh langsung mengepal kencang, sengaja berkata, “Kalau kamu merasa aku terlalu ikut campur urusan pribadi kamu, terserah. Aku peduli ke kamu, bahkan ketika kamu berada di titik paling renda*h. Selebihnya untuk urusan kamu dan Cinta, aku beneran enggak peduli karena semenjak tahu hubungan kalian, aku sudah langsung mendoakan semoga Akala menemukan jodoh yang tepat!”

__ADS_1


Helios kembali tak bisa berkomentar dan langsung memilih pamit karena orang yang sangat ia benci datang. Chole, wanita muda yang begitu cantik mirip barbie hidup itu datang bersama Chalvin sang kakak.


“Aku baru tahu kalau ini punya kamu,” ucap Chalvin sudah langsung mengobrol dengan Excel.


Berbeda dengan Chalvin yang biasa saja tanpa terlihat terbebani, Chole justru sudah langsung berkeringat parah, panas dingin dan memang tidak berani sekadar melirik Helios.


“Tuh orang seram banget, sih? Anehnya lagi, akhir-akhir ini aku jadi makin sering bertemu dia!” batin Chole sambil terus mendekap erat sebelah lengan Chalvin menggunakan kedua tangannya. “Garang banget, terus wajahnya jugamirip karakter hasil eksperimen yang gagal!” batin Chole.


“Tuh wanita belum tahu rasanya buta, makanya lihat orang seenaknya. Sinis banget!” batin Helios masih bertahan dalam kebenciannya kepada Chole. Ia memilih buru-buru masuk mobil kemudian mengemudikannya sendidi.


“Bibi Widy mengutus kami untuk mengambil tahu dan tempe titipan beliau,” jelas Chalvin.


“Iya, tadi Bibi Widy sudah bilang ke aku. Bentar, ya.” Excel langsung mengangguk-angguk paham. Karena biar bagaimanapun, paman Lim yang menikah dengan ibu Widy memang paman dari Chalvin dan Chole.


“Tuh orang beneran serem, Kak. Ngeri, terlebih kesannya dia benci banget yah, ke aku” balas Chole berbisik-bisik juga.


“Mungkin kamu punya banyak dosa ke dia dan kamu belum menyadarinya. Dia si Helios yang akhir-akhir ini sering datang ke rumah buat ketemu kak Cinta, kan?” balas Chalvin langsung terusik lantaran Excel mengajak mereka masuk ke dalam pabrik untuk sekalian lihat-lihat.


“Oh, oke. Makasih banyak Mas. Dengan senang hati kami melihat-lihat!” ucap Chalvin bersemangat dan memang menyambut hangat sikap hangat Excel.


Excel memimpin langkah, tapi sampai detik ini, Chole yang memakai terusan panjang lengan pendek warna pink hingga kulit putihnya terlihat makin cerah, masih mendekap lengan Chalvin menggunakan kedua tangan. Efek rasa takutnya kepada Helios masih belum bisa Chole sudahi. Tak terbayang jika Chole jadi Cinta yang sering berinteraksi dengan Helios.

__ADS_1


“Kak Chalvin,” panggil Chole lirih.


Tanpa menjawab, Chalvin yang masih menuntun Chole, langsung menoleh sekaligus menatap sang adik.


“Kak Azzura hoki ya enggak jadi sama kak Cikho!” ucap Chole berbisik-bisik.


“Alasannya?” balas Chalvin berbisik-bisik juga.


“Penggantinya dikasih berkali-lipat lebih bagus. Dari fisik, wajah, pekerjaan, termasuk penghasilan!” balas Chole.


“Semoga kamu juga seberuntung kak Azzura!” balas Chalvin.


“Amin!” balas Chole yang langsung tersenyum manis, menyambut bahagia doa baik kakaknya dan tengah ia tatap dengan ceria. Hanya saja, benak Chole tiba-tiba dipenuhi sosok Helios, hingga walau hanya bayangan, Chole mendadak nyaris terkena serangan jantung. “Innalilahi, kok pria itu lagi? Bisa-bisanya aku teringat wajahnya ketika Kak Chalvin sedang mendoakan jodoh baik juga buat aku?” pikirnya bingung sendiri.


“Chole, kok Excel beda banget dengan Rere padahal mereka saudara? Mereka kakak adik,” bisik Chalvin lagi.


“Faktor lingkungan bisa bikin seseorang berubah, Kak. Lingkungan Rere kan masih spesies sama lingkungan kak Cikho. Enggak jelas pokoknya. Aku sih berharap, mereka tetap jodoh, sama-sama belajar, mau itu anak kandung kak Cikho atau bukan, ya ... kak Cikho kan laki-laki dan sudah sewajarnya enggak boleh plin-plan.”


Meski kedua sejoli di belakangnya berbicara dengan berbisik-bisik, Excel yang indera pendengarnya tak kalah tajam dari ketajaman pendengaran kelelawar, bisa mendengar. “Rere dan Cikho ... aku juga berharap mereka bisa memperbaiki diri kemudian menjalani hidup dengan lebih baik lagi,” batin Excel yang juga langsung mengaminkan harapannya sendiri.


Beres mengajak Chole dan Chalvin keliling pabrik, Excel juga ikut serta memboyong pesanan tahu dan tempe ibu Widy yang jumlahnya memenuhi bagasi mobil Chalvin.

__ADS_1


“Takut Bibi Widy lupa, nanti tempenya jangan dimasukkan kulkas, ya. Cukup di taruh, dijejer saja di lantai apa meja. Jangan ditumpuk atau dibungkus kain karena tanpa begitu, fermentasinya akan sempurna. Ini besok sudah siap masak. Terus kalau tahunya, cukup masuk kulkas karena setiap kotak sudah kami bersihkan esktra. Namun biar lebih segar, besoknya kalau sudah dibagikan suruh langsung cuci, terus rebus bentar pakai air dan sedikit garam,” jelas Excel dan kedua sejoli yang menyimak langsung mengangguk-angguk.


Excel pikir, kepergian Chole dan Chalvin akan menjadi awal dirinya bernapas lega kemudian pulang. Namun nyatanya ada yang datang. Mobil sedan mewah warna hitam yang begitu mengkilap itu berhenti tepat di hadapannya. Kemudian, kaca pintu penumpang sebelah belakang mobil tersebut perlahan terbuka. Angel, wanita itu tersenyum ceria kepadanya setelah melepas kacamata tebal warna hitamnya. Senyum yang sudah langsung membuat seorang Excel paham maksudnya.


__ADS_2