
Beres acara ijab kabul, kebersamaan mereka dilanjutkan dengan acara sungkem sekaligus foto-foto. Tak lupa, mereka juga menikmati sajian prasmanan yang sudah Excel siapkan.
Sebenarnya tak hanya tempat ijab kabul lengkap dengan prasmanan yang biayanya ditanggung Excel. Karena biaya penginapan hotel pihak Azzura dan itu sampai besok malam, masih ditanggung Excel. Semua itu Excel lakukan bukan karena permintaan dari pihak Azzura. Excel melakukannya atas inisiatif sendiri. Terlebih selain untuk acara pernikahannya dan Azzura, adanya mereka di sana juga gara-gara tragedi di rumahnya. Ibaratnya, Excel melakukan semua itu sebagai wujud dari rasa tanggung jawabnya.
“Kamu lagi ngapain, sih?” bisik Excel lantaran Azzura yang ada di sebelahnya, sibuk dengan ponsel. Azzura sampai lupa dengan makanan di piringnya, padahal yang lain sudah nyaris menghabiskan makanan di piring masing-masing, walau mereka juga sibuk mengobrol.
“Pesan beberapa keperluan kesehatan khususnya buat Mas. Stok infus aku sama kapas, terus perban kan habis,” lirih Azzura tetap fokus ke ponselnya.
Excel yang telanjur curiga karena cemburu, sampai melongok. Tak peduli walau ulahnya itu sudah langsung membuat Azzura menatapnya dengan tatapan aneh.
“Bayarnya pakai uangku saja,” ucap Excel setelah menyaksikan dengan kepala dan matanya sendiri, bahwa alasan sang istri sibuk dengan ponsel memang untuk memesan keperluan kesehatan yang wanitanya itu butuhkan.
Tentunya, alasan Excel sengaja meminta Azzura membayar segala belanjaan perlengkapan kesehatan dengan uangnya, agar Azzura tidak curiga, bahwa sebenarnya Excel cemburu. Rasa cemburunya yang juga merupakan bagian dari sikap posesifnya.
Azzura langsung tersenyum manis sambil mengangguk. Meski ia sadar, suaminya tidak bisa sepenuhnya melihat senyumnya yang masih terlindungi cadar.
“Oh iya, Cel ... rumah kamu di mana? Jadi dijual?” sergah Sekretaris Lim.
“Masih dalam proses, Paman. Sekalian, ini masih minta Papah Kala cari rumah di kampung yang dekat rumah Papah Kala. Biar kalau ada apa-apa juga dekat,” balas Excel yang sudah langsung fasih memanggil pak Kalandra papah. Ibu Widy sampai menyinggungnya dan sudah langsung membuat semuanya tertawa termasuk Excel maupun Azzura.
“Kalau enggak kepepet banget, jangan dijual dulu, Cel. Hitung-hitung buat investasi. Makin ke sini kan, makin mahal. Dikontrakkan juga enggak ada salahnya,” balas Sekretaris Lim sambil menghabiskan sisa makanan di piringnya.
__ADS_1
“Harusnya, mas Heri enggak mempersulit Mas. Harusnya,” lirih Azzura sambil mendekap sebelah lengan Excel menggunakan kedua tangannya.
Azzura sengaja mendekap lengan Excel menggunakan kedua tangannya. Karena selain untuk membantu Excel yang sudah sempoyongan, Azzura juga melakukannya sebagai wujud dari perhatiannya kepada Excel.
“Harusnya,” lirih Excel yang kemudian berhenti untuk membuka kamar hotel mereka akan menginap. Ia sengaja menyewa kamar khusus pengantin untuknya dan Azzura.
“Kok Mas terdengar putus asa begitu?” lirih Azzura kemudian melongok wajah Excel.
Excel balas menatap Azzura, membiarkan pintu yang ia buka, terbuka begitu saja. “Memang enggak mudah. Rumit,” balasnya lirih sekaligus lembut.
“Wajib kasih kompensasi buat denda?” balas Azzura, tapi Excel menggeleng.
“Khusus buat aku sepertinya sulit. Apalagi setelah Heri, aku punya tanggung jawab enggak kalah besar. Soalnya tanpa aku, di sana juga jadi kurang pertahanan. Karena sekelas kami, saingannya juga banyak. Jadi memang bukan hanya di pekerjaan mentereng yang penuh saingan. Di dunia kami pun begitu. Di pekerjaan kamu, sama-sana bidan saja, pasti ada saja kan yang main senggol? Baik di depan kamu, tapi masih saja jatuhin kamu di belakang?” Excel masih berucap lembut, alasan yang juga sudah langsung membuat Azzura langsung merasa sangat nyaman.
Kebersamaan mereka di tengah suasana yang benar-benar senyap, membuat Excel merasa hubungan mereka sangatlah dekat. Excel sudah langsung terbawa suasana setelah keluh kesah sekaligus obrolan dalam yang Azzura lakukan. Ia refleks menempelkan bibirnya di kening Azzura yang masih menunduk, mengecu*pnya lembut, selain sebelah tangannya yang bebas yang juga sudah langsung membingkai sebelah wajah Azzura.
Bibir Excel berangsur turun, mengabsen wajah Azzura yang masih tertutup cadar dengan kecu*pan lembut. Tangan yang awalnya membingkai wajah Azzura perlahan menyibak cadar Azzura, terlepas dari Azzura yang tidak melarangnya karena Azzura juga tidak menolak setiap sentuhan yang ia lakukan.
“Assyyyikkk!”
Namun suara girang dari belakang barusan langsung mengusik Excel maupun Azzura. Kedua mata mereka refleks bertatapan tegang, selain Excel yang buru-buru menarik bibirnya dari bibir Azzura meski bibir mereka baru saja menempel. Selain itu, Excel juga langsung memasang cadar sang istri dengan benar.
__ADS_1
“Aaaaaah, kamarnya keren!” seru suara pria itu lagi dan tidak lain pak Haji Ojan.
Excel dan Azzura yang menjadi kikuk sekaligus gugup, juga mendengar suara Sepri yang mencari-cari Ojan. Sepri lari-lari dan terdengar sangat ngos-ngosan.
“Ayo kita bantu Mas Sepri dulu. Kasihan, Ojan beneran jadi beban hidupnya,” lirih Excel dan Azzura sudah langsung mengangguk setuju, walau wanita itu tampak jelas masih gugup dan belum berani menatapnya terang-terangan.
Sepri sudah langsung sibuk meminta maaf kepada Azzura maupun Excel. Di ranjang pengantin yang sampai dihiasi kelopak bunga, pak Haji Ojan sudah sibuk loncat-loncat. Kali ini pria itu sampai salto dan berakhir terbanti*ng di lantai depan tempat tidur.
“Nah, kan ... kan!” Sepri berteriak frustrasi. Di depan sana, pak Haji Ojan mendelik nyaris tak berkedip.
“Pri, Pri ... aku enggak bisa ngomong, Pri!” keluh pak Haji Ojan benar-benar lirih.
“Lah itu barusan ngomong!” sewot Sepri telanjur kesal. Ia sungguh merasa tak enak hati kepada Azzura dan Excel. Terlebih walau keduanya tidak marah, apa yang pak Haji Ojan dirasanya sudah sangat mengganggu. Benar-benar keterlaluan.
“Badanku beneran enggak bisa gerak, Pri. Napas saja susah,” rengek pak Haji Ojan yang perlahan menangis, merengek manja layaknya bocah.
“Ya kamu, kepala saja masih dibungkus gitu mirip oncom berjamur, lah sekarang malah begini! Ya Alloh, kenapa Engkau enggak cabut nyawa Ojan sekalian sih!” keluh Sepri yang kemudian berusaha memboyong tubuh pak Haji Ojan.
Di waktu yang sama, Azzura yang sudah kembali mendekap sebelah lengan Excel menggunakan kedua tangan, juga mendapat pesan pemberitahuan bahwa semua pesanan obatnya sudah tiba di depan pos hotel keberadaannya.
“Mas, pesanannya sudah sampai,” lirih Azzura sambil menunjukkan pesannya kepada sang suami.
__ADS_1
“Kita urus Ojan dulu. Bilang ke yang antar obat, tolong tunggu bentar. Gampang nanti dikasih tips buat ganti waktunya,” sergah Excel yang tetap membantu pak Haji Ojan, walau ia sendiri masih sakit dan memang sudah sangat ingin istirahat. Meski jika diberi kesempatan untuk mengabiskan malam dengan sang istri, tentu saja ia akan tetap melakukannya. Bahkan andai tadi tidak ada gangguan dari pak Haji Ojan, Excel yakin ia juga sudah memulai malam pertamanya dengan Azzura.