
"Gue pasti sedih kalo elu mati kemarin cuma karena mau nolongin gue"
Nina yang tertunduk langsung mengangkat kepalanya dan menatap Aslan.
Aslan menatap Nina dan pandangan mereka pun bertemu.
Saat mata mereka bertemu untuk beberapa saat, Zaed datang dengan suster hingga mereka pun sama-sama membuang pandangannya ke arah lain.
"Kenapa Tuan Muda? " tanya seorang perawat perempuan.
"Eh... ini luka ku terasa sakit tadi" ucap Aslan.
"Coba saya periksa ya tuan muda" perawat tersebut ingin memeriksa luka Aslan dan ingin membuka baju Aslan.
Saat melihat itu Aslan langsung menepis tangan suster tersebut.
"Mau apa Lu? " ucap Aslan ketus.
"Memeriksa luka anda tuan" terang suster tersebut.
"Ck.... nggak-nggak gue nggak mau di periksa sama cewe, udah sana lagi pula udah nggak sakit kok" tolak Aslan mentah-mentah.
Zaed menahan tawanya karena dia memang tahu betul sahabatnya ini sangat sulit di dekati oleh wanita meski wanita itu cantik bagai bidadari tapi bila wanita itu bukan tipenya maka jangan kan dilihat dilirik pun tidak.
Sementara Nina melihat heran tingkah laku Aslan yang memang aneh.
Kenapa sih dia itu selalu galak sama orang, padahal kan dia katanya sakit dan perawat itu ingin memeriksa nya aneh.
Perawat pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan dongkol dan kesal karena kelakuan tuan muda sang pemilik rumah sakit yang sangat judes.
Aslan melihat kearah Nina yang terdiam melihat tingkah lakunya.
"Aw... sshhh" keluh Aslan lagi.
"Elu kenapa lagi Lan? tadi di periksa nggak mau? " tanya Zaed bingung.
"Gila lu perut gue di pegang-pegang ogah ah..."oceh Aslan.
Zaed hanya menggeleng saja karena kelakuan sahabatnya ini.
" Jadi mau elu gimana? "tanya Zaed frustasi.
" Panggil abang gue ajah dah Zay... cepet sakit banget ini ssshhh"Aslan menahan sakit hingga dia menggigit bibir bawahnya.
Zaed langsung berlari keluar dari ruangan untuk memanggil dokter Ryan.
Nina yang melihat Aslan kesakitan langsung mendekat ke arah Aslan namun masih menjaga jarak.
"Sakit banget ya kak? " tanya Nina lembut.
Aslan hanya mengangguk saja sambil meringis kesakitan.
"Apa ada yang bisa aku bantu kak? " tanya Nina.
"Tolong kesini" pintar Aslan
Nina menggeser langkah nya.
__ADS_1
"Lebih deket lagi" pinta Aslan.
Nina menggeser kakinya lagi dan jaraknya masih terbilang jauh dari Aslan.
"Lebih deket cupu... " ucap Aslan menahan kesal.
Nina cemberut karena di katakan cupu tapi kakinya terus melangkah ke dekat brankar Aslan hingga kini dirinya sekarang berada tepat di sisi brankar.
Grep.
Nina terbelalak saat tangannya di pegang erat oleh Aslan.
"Diam plis.... ini sakit banget akh.... " Aslan mencengkram tangan kiri Nina dengan sangat kencang menahan rasa sakitnya.
Nina melihat peluh bercucuran di wajah Aslan entah kenapa tangan kanannya terulur untuk membasuh keringat yang bercucuran itu.
"Tahan ya kak... " ucap Nina lembut mengelus wajah Aslan.
Dan entah kenapa bibir itu tertarik ke atas Aslan tersenyum meski sambil menahan sakit.
Tak lama Zaed masuk keruangan bersama dokter Ryan.
Dan saat mereka masuk suatu pemandangan yang sangat langka dimata Zaed dan dokter Ryan, Aslan memegang tangan Nina dan Nina sedang membelai wajah Aslan sebenarnya bukan membelai Nina hanya mengusap keringat yang beruccuran di wajah Aslan 😁 tapi mereka berdua melihat itu dengan penilaian yang salah.
"Ehm... " Dokter Ryan berdehem dan mengalihkan pandangan kedua insan tersebut.
Aslan menoleh kearah kakaknya.
"Bang... ini sakit banget" Aslan mengadu tapi. tangannya terus memegang tangan Nina.
"Alesan" gumam Zaed.
Zaed hanya cengar-cengir saja mendengar sahabatnya marah-marah.
"Coba sini aku periksa" Dokter Ryan pun ingin memeriksa adiknya.
Tapi Aslan tak urung melepaskan tangan nya dari Nina. dokter Ryan melihat itu dan menghela nafas.
"Gimana mau di periksa kalau tangan mu seperti itu Adam... " ucap dokter Ryan memanggil nama depan Aslan.
"Abang kan bisa periksa disitu tinggal buka baju aku saja aduh... ayo sih bang ini sakit banget ini" Tangan Aslan terus memgang tangan Nina.
Dokter Ryan berdecak dan akhirnya membuka baju Aslan dan memeriksa luka adiknya itu setelah itu dia pun menyuntikkan obat pereda sakit karena seperti nya obat biusnya Aslan sudah habis hingga dia dapat merasakan sakit yang luar biasa pada lukanya.
"Sudah adik ku yang manja" ucap dokter Ryan.
Rasa sakit di luka itu pun perlahan hilang namun Aslan tak juga melepaskan tangannya dari Nina.
"Masih sakit memang nya? " tanya dokter Ryan.
"Udah nggak sih" ucap Aslan.
Zaed yang melihat itu menggaruk Kepalanya.
"Terus mau sampai kapan di pegang terus" dokter Ryan melirik tangan Aslan yang masih memegang tangan Nina.
"Wahaha" Zaed sudah tak tahan ingin tertawa sejak tadi dan akhirnya terlepas juga.
__ADS_1
"Modus banget ya... Lan... " ledek Zaed.
"Sialan lu siapa yang modus gue cuma lupa" Aslan langsung melepaskan tangannya dari Nina dan ngomel pada Zaed.
"Gadis manis kamu pasti di paksa datang oleh anak nakal ini ya, sampai kamu masih pakai baju tidur seperti ini" tegur dokter Ryan.
Nina yang baru sadar kalau pakaian nya belum ganti jadi tersipu malu.
"Zay... peak elu nggak biarin dia ganti baju dulu apa?! " omel Aslan lagi.
"Lupa tadi buru-buru" ucap Zaed santai.
"Eh... kak aku pulang dulu ya... besok aku balik lagi" ucap Nina malu-malu.
"Aish... jangan malu-malu begitu aku senang melihat mu pakai baju tidur begini jadinya makin manis dan imut gemes deh pokoknya" goda dokter Ryan.
Nina hanya berwajah datar saja saat di goda oleh dokter Ryan lain dengan ekspresi dan reaksi Aslan yang langsung ngotot saat mendengar kakaknya menggoda temannya.
"Bang... elu apa-apan sih godain dia, abang kan udah punya tunangan" Aslan sewot.
"Hemmm sepertinya ada yang cemburu" goda dokter Ryan.
"Cem... siapa yang cemburu coba aku hanya ngingetin abang ya... nanti kak Vena tahu bisa habis abang di pukuli loh" elak Aslan.
Zaed semakin keras tertawa saat Aslan berkilah.
"Elu bisa diem nggak nyet.... " Aslan kesal.
Bahkan sekarang bukan hanya Zaed yang tertawa tapi dokter Ryan juga ikut tertawa melihat reaksi adiknya yang sangat lucu menurut dokter Ryan pasalnya ini pertama kali sang kakak melihat sang adik di sentuh perempuan dan dia pun memegang tangan perempuan oleh karena itu dokter Ryan menggoda Nina untuk melihat reaksi adiknya ini dan ternyata berhasil.
Sepertinya kau suka dengan dia ya Lan...
batin dokter Ryan.
"Aku permisi dulu ya kak" Nina permisi ingin pulang tapi baru saja dia berbalik badan dia merogoh kantung bajunya yang baru dia ingat dia tak membawa uang atau dompet di kantungnya hingga dia menoleh kearah Zaed.
"Kak Zaed maaf bisa kau mengantar aku pulang, aku tidak bawa uang jadi tak bawa ongkos pulang" ucap Nina polos.
Aslan menepuk dahinya karena Zaed sungguh keterlaluan membawa Nina sampai tidak membawa uang sepeserpun.
"Zay... antar dia pulang Zay gila lu ya... kasihan anak orang elu seret kesini sampe nggak bawa dompet dan berpakaian begitu" omel Aslan.
Zaed pun mau akhirnya mengantar Nina pulang tapi saat mereka mau keluar dari ruangan Aslan menghentikan langkah mereka.
"Eh tunggu elu anter pake apa dia? " tanya Aslan penuh selidik.
"Ya pake motor, gue cuma bawa motor doang kesini"
"Motor? " Aslan lalu berfikir kalau Zaed pakai motor dan membawanya dengan kecepatan tinggi pasti Nina mau tak mau harus memeluk tubuh Zaed dari belakang.
"Dasar kunyuk sialan lu mau ambil kesempatan ya..." Aslan ngomel lagi
"jangan pake motor lu pake mobil abang gue ajah, bang pinjemin dia mobil abang ya... kalo naik motor kasihan takut teman ku ini jatuh pas di bonceng sama si kunyuk"Aslan beralasan.
dokter Ryan pun memberikan kunci mobilnya pada Zaed dan akhirnya Nina akan diantar pulang oleh Zaed menggunakan mobil dokter Ryan.
Sementara Nina bingung dengan sifat Aslan yang masih suka berubah-ubah.
__ADS_1
dia itu aneh kadang sewot, kadang perhatian, kadang manja, kadang aargghh aneh bener deh orang aneh yang baru pertama kali aku temui.
Bersambung.