
Beberapa bulan telah berlalu.
Tak terasa sudah tiga bulan sudah sejak. kejadian Aslan membawa kabur Nina dari rumah sakit.
Kini Aslan mempunyai usaha mandiri dia mempunyai usaha bengkel motor, dia menggunakan modal usaha hasil dari uang yang dia kumpulkan saat dirinya masih bekerja sebagai buruh pabrik.
Menggunakan pengalamannya bekerja di pabrik spare part membuatnya bisa mendapatkan suplier barang dengan harga pabrik, sehingga keuntungan yang di dapatkan nya lumayan besar.
Bahkan sekarang Nina pun sudah bisa berjalan. dengan normal dan selalu ikut membantu suaminya bekerja di bengkel, meski bengkel kecil dan baru tapi banyak juga langganan nya, karena mereka puas dengan pelayanan yang di lakukan bengkel Aslan ini.
Aslan pun memanggil Kodok untuk menjadi mekanik utamanya bila dia kesulitan dalam memperbaiki mesin motor, karena yang Aslan mengerti hanyalah tingkat dasar saja dalam memperbaiki mesin otomotif seperti ini, tapi kalau Kodok kemampuannya tidak bisa di ragukan lagi, Aslan selalu membagi hasilnya dengan Kodok bila ada orang atau pelanggan nya yang memperbaiki motor di bengkel nya, namun Kodok yang merasa Aslan selalu membantunya dalam segi apa pun tidak mau menerima uang dari Aslan, bisa mendampingi Aslan meniti usaha dari bawah saja dirinya sudah sangat bangga.
Namun Aslan tak mau memakai jasa Kodok dengan percuma tetap saja Aslan memberinya upah, meski Kodok menolaknya tapi dengan ancaman dan tatapan tajam Aslan pada Kodok hingga Kodok pun akhirnya mau menerima upah dari Aslan.
"Otak elu dan bakat elu itu harus di hargai lah Dok... enak ajah gratisan, itu ilmu Dok Ilmu itu mahal ngerti lu" oceh Aslan pada Kodok saat dirinya di paksa menerima upah dari Aslan.
Dan pagi ini saat Aslan membuka bengkel nya, sementara Nina masih di rumah sewa mereka menyiapkan makanana untuk di bawa ke bengkel nanti siang.
Tiba-tiba ada seorang anak kecil berusia kisaran 10tahunan datang dengan wajah cemas ke bengkel Aslan yang letaknya memang tak jauh dari rumah sewa Aslan.
"Om... om... itu tante om... tante" ucap Anak itu dengan cemas.
"Tante kenapa? " Aslan panik baru saja dia membuka pintu bengkel nya.
"Tante jatuh om kakinya berdarah kena pecahan beling, sekarang di bawa ke klinik sama ibu saya om" jelas anak itu.
"Astaghfirullah Nina, Dok gue lihat istri gue dulu ya gue titip bengkel" ucap Aslan sebelum pergi dari bengkel.
"Siap bos" ucap Kodok.
Aslan berjalan dengan cepatnya bersama anak kecil itu menuju klinik yang dekat dengan daerah rumah mereka.
Saat Aslan tiba di klinik tersebut Aslan melihat istrinya sedang berbaring di atas brankar dengan kaki yang di balut perban.
"Sayang... kamu kenapa bisa jatuh? " tanya Aslan panik.
"Ehm.... kepala aku pusing kak" jelas Nina.
__ADS_1
Ibu tetangga yang menolong Nina tersenyum pada Aslan dan menjadi colek Aslan, hingga pria itu menoleh ke arah ibu tersebut.
"Di jagain mas istrinya dan calon anaknya" bisik ibu tersebut.
"Heh... " Aslan bingung dengan perkataan si ibu dia lalu menoleh ke arah istrinya dan Nina hanya tersenyum malu-malu saja.
Tak lama seorang perawat datang.
"Ini suami ibu? " tanya perawat itu.
"Iya Sus" jawab Nina pelan.
"Pak selamat ya... kandungan ibunya sudah berusia 6minggu, dan tolong di jaga ya istrinya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, biasanya trimester pertama kondisi ibu dan bayi memang agak lemah, jadi perlu, perhatian yang lebih" jelas perawat tersebut.
Aslan diam dan bengong saja mendengar penjelasan perawat tersebut, dia masih tak percaya kalau dirinya sebentar lagi m m jadi seorang ayah. Nina yang menyadari suaminya bengong saja akhirnya mengguncangkan tangan suaminya agar terbangun dari lamunan nya.
"Kak... kakak kenapa? " tanya Nina pelan.
"Eh... maaf tapi aku nggak salah dengar kan, kamu hamil? " tanya Aslan seolah tak percaya.
Aslan mengusap wajahnya karena masih tak percaya dengan berita pagi ini, dan tak lama dia mengecup kening istrinya, ibu tetangga yang melihat itu langsung menutup mata anaknya agar tidak melihat adegan live ini tapi si anak tidak mau di tutupi matanya oleh ibunya dan akhirnya tetap melihat adegan live tersebut.
Perawat yang melihat itu pun tersenyum melihat keharmonisan pasangan suami istri ini.
"Sayang.... kenapa kamu nggak bilang sudah telat hem?" ucap Aslan pelan.
"Aku juga tidak menghitung kak, dan ini kan yang pertama bagi ku jadi aku tidak mengerti" jelas Nina.
"Baiklah mulai sekarang jangan terlalu lelah ya... dan kalau ingin sesuatu bilang saja ya... " Aslan memeluk istrinya.
"Cie.... om dan tante.... " ledek bocah ingusan itu hingga membuat Nina malu dan malah menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
...🌞🌞🌞...
Di sisi lain.
Seorang dokter muda sedang berjalan ke arah mobilnya yang sedang terparkir di basement apartemen nya, di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang bersandar di pintu mobilnya.
__ADS_1
"Kak Calvin sedang apa disini kenapa tidak ke unit ku saja? " tanya Alice pada dokter Calvin.
dokter Calvin hanya tersenhum saja pada gadis itu, dan itu berhasil membuat seorang Alice gugup setengah mati karena boleh di bilang selama beberapa bulan ini, setelah Aslan menikah dengan Nina, Alice dan Calvin semakin dekat saja.
"Aku menjemput tuan putri" ucap dokter Calvin bahkan dia berlagak seperti seorang pangeran yang mempersilahkan seorang putri untuk menaiki kereta kuda.
Alice tersipi malu dengan perlakuan Calvin yang seolah memang menjadikan dirinya seorang putri kerajaan.
"Kakak apaan sih? " Alice malu-malu.
Meski belum ada ikatan resmi diantara keduanya tapi Calvin selalu memperlakukan Alice seperti seorang putri dan kekasih nya.
"Ayo silahkan tuan putri" Calvin membuka pintu mobilnya sehingga Alice tak jadi memakai mobil pribadinya dan akhirnya menaiki mobil Calvin.
Mereka berdua pun akhirnya berangkat bersama menuju rumah sakit, Calvin mengantar Alice terlebih dahulu ke rumah sakit tuan Herald sebelum menuju rumah sakit tempat nya berkerja.
Calvin melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pagi ini tidak terlalu ramai pengguna jalan karena hari ini adalah akhirnya pelan, namun pekerjaan sebagai seorang dokter tidka lah ada pernah ada libur, kecuali memang mereka mengambil cuti dan ada dokter pengganti yang menggantikan dinas mereka.
Mobil yang di kendarai Calvin pun tiba di depan rumah sakit tuan Herald, Alice pun melepaskan seat belt nya sebelum turun, tapi sebelum dirinya membuka pintu mobil, Calvin berbicara dengannya sehingga menghentikannya untuk membuka pintu mobil tersebut.
"Alice... " ucap dokter Calvin lembut.
"Ya... kak" Alice menghentikan tangannya untuk membuka pintu mobil tersebut.
"Nanti malam ada waktu? " tanya Calvin.
"Hem... ada kenapa memangnya? " tanya Alice santai.
"Nanti malam aku jemput kamu di apartemen ya... berhiaslah yang cantik meski pun kamu sudah cantik sih hihi"
Alice bingung dengan perkataan Calvin pasalnya baru kali ini dirinya mendengar seorang dokter Calvin menggombal seperti ini.
"Oke nanti malam aku jemput ya... sekarang kau bekerja lah dahulu, dan rawatlah pasien-pasien mu dengan baik, see you" ucap dokter Calvin.
Alice pun tersenyum canggung pada dokter Calvin, karena dirinya tak biasanya berhadapan dengan Calvin yang seperti ini, biasanya si gunung es ini sangat lah sulit berbicara apa lagi untuk bercanda seperti ini, namun Alice berusaha berfikir positif untuk menanggapi sikap Calvin, dia tidak mau berharap terlalu lebih pada hubungan nya dengan Calvin, meski tak bisa di pungkiri hatinya mulai menaruh harapan pada kakak seniornya itu.
Bersambung.
__ADS_1