My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Aslan Ngamuk


__ADS_3

Aslan yang di dorong oleh petugas keamanan ke ruangannya baru menyadari kalau kakaknya dan Nina tidak mengikutinya.


"Hei... kemana abang dan teman gue? " tanya Aslan pada petugas keamanan.


"Hem... tidak tahu tuan muda sepertinya pak dokter mengajak teman anda ke ruangan nya" ucap petugas keamanan.


"Apa?! bawa gue keruangan abang gue sekarang! " Aslan geram.


"Tapi tuan muda pak dokter menyuruh saya mengantar anda kesini anda harus istirahat" ucap petugas keamanan ramah dan sabar.


"Kalo elu nggak mau nganterin gue biar gue pergi sendiri" Aslan langsung berdiri dari kursi roda nya tapi saat dia mulai melangkah luka di perut nya terasa sangat sakit hingga dia akhirnya terjatuh.


Petugas keamanan yang ada disana panik dan meminta pertolongan pada suster jaga untuk membantu membawa Aslan ke kamarnya.


Tapi Si pasien yang keras kepala ini berontak padahal dirinya sangat kesakitan.


"Lepasin gue, gue mau ke abang gue sialan, akh" Aslan terus meronta dan dia semakin merasakan kesakitan di area lukanya.


Suster dan petugas keamanan hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala saja melihat tuan muda pemilik rumah sakit ini berontak tak mau mendengarkan.


"Panggil abang gue cepet sialan kurang ajar , mau apa dia bawa Nina ke ruangannya, dasar play boy nggak bisa lihat cewe bening dikit, akh... sial perut gue sakit banget" Aslan mengumpat dalam hatinya sambil menahan rasa sakitnya.


Suster yang membantu Aslan untuk masuk keruagannya akhirnya berlari ke ruangan dokter Ryan, memberi tahun kalau adiknya mengamuk hingga luka di perut Aslan mengeluarkan darah lagi.


tok... tok...


"Ya masuk" ucap dokter Ryan dari dalam ruangan.


Pintu terbuka muncullah seorang perawat wanita dari balik pintu.


dengan nafas yang terengah-engah suster tersebut memberitahu kekacauan yang di timbulkan oleh Aslan di ruang VVIP dan kondisi Aslan saat ini.


Mendengar laporan dari suster dokter Ryan dan Nina pun berlari ke ruangan Aslan dengan tergesa-gesa, dokter Ryan mengkhawatirkan kondisi adiknya.


Kenapa dia mengamuk segala sih dasar aneh.


batin dokter Ryan yang belum tahu alasan di balik amukan adiknya yang keras kepala itu.


dokter Ryan masuk keruang rawat Aslan dan melihat begitu kacau ruangan tersebut karena sperei dan selimut hingga bantal sudah berserakan di lantai.

__ADS_1


"Kenapa dia mengamuk? " tanya dokter Ryan pada petugas keamanan yang tadi mendorong kursi roda nya.


"Tadi tuan muda menanyakan temannya yang di bawa dokter ke ruangan anda pak, saat dia mengetahui itu dia minta di antar ke ruangan anda tapi tidak saya antar karena melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan tapi tuan muda memaksa dan terjatuh saat berdiri dari kursi roda dan tetap memaksa ingin keruangan anda hingga akhirnya mengamuk seperti ini"jelas petugas keamanan.


"Oh astaga Aslan... hehe ya sudah terima kasih atas bantuan kalian" Dokter Ryan menepuk bahu sang petugas keamanan.


"Maafkan adik ku karena membuat kalian repot" lanjut nya.


Aslan yang masih bersandar di brankarnya karena menahan rasa sakit di perutnya menatap tajam ke arah kakaknya.


"Abang ngapain bawa temen gue ke ruangan abang bang?! " Aslan sewot.


"Abang hanya ingin bicara sebentar dengan dia" jelas dokter Ryan sambil membantu adiknya agar kembali ke atas brankarnya yang sudah di rapihkan oleh perawat.


"Bicara kenapa harus di ruangan abang kan bisa disini! " Aslan masih sewot.


"Hehehe kamu cemburu? " bisik dokter Ryan menggoda.


"HAH apa?! " Aslan tambah kesal.


"Hem... adik ku yang nakal ini hehe" dokter Ryan mencibut pipi Aslan karena gemas.


"Sini aku periksa dulu luka mu ck dasar nakal, bisa-bisanya kau kabur disaat luka mu masih basah begini" omel dokter Ryan.


dokter Ryan hanya menggeleng pelan saja dan tersenyum saat tahu cerita dari Nina tadi, kalau Aslan datang menemuinya di tempat kostnya hanya untuk bilang maaf saja, dan Nina sendiri kurang faham dengan maksud kata maaf dari Aslan itu.


"Ck jahitannya ada yang terbuka lagi dasar nakal" omel dokter Ryan.


"Sebentar aku akan ambil peralatan, kau diam jangan banyak bergerak, oia gadis manis tolong kau jaga adik ku ini agar tidak kemana-mana ya" ucap dokter Ryan pada Nina sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Dan itu membuat Aslan semakin kesal.


"Abang! " Aslan sewot.


Tapi dokter Ryan malah tertawa melihat reaksi adiknya yang seperti itu.


Dokter Ryan pun keluar dari ruang rawat Aslan dan meninggalkan Aslan berdua saja dengan Nina.


Nina melihat Aslan yang kesakitan akhirnya mendekat pada Brankar Aslan.

__ADS_1


"Sakit banget ya kak? "tanya Nina lembut.


" Udah tahu sakit masih ajah nanya"jawab Aslan sewot.


Nina menghela nafasnya karena kelakuan Aslan yang sulit di tebak.


"Eh elu ngapain ke ruangan abang gue? " tanya Aslan pelan.


"Ehm... itu pak dokter" Nina ragu untuk menyampaikan apa yang terjadi di ruangan dokter Ryan.


"Elu nggak di apa-apain kan sama dia? " tanya Aslan penasaran.


Nina tersenyum dan menggeleng saja.


"Tidak" hanya itu jawaban Nina.


"Huft syukur deh" Aslan terlihat lega.


Sementara Nina bingung dengan kelakuan pria yang ada di hadapan nya ini, kadang baik kadang galak nggak jelas.


Tak lama dokter Ryan masuk keruang rawat Aslan bersama dua orang perawat laki-laki dokter Ryan tahun kalau adiknya itu paling tidak suka di sentuh wanita makan dari itu dia meminta perawat laki-laki untuk membantu nya.


dokter Ryan menyuntikan obat bius dan menjahit luka Aslan yang terbuka lagi dengan penuh ketelatenan Nina melihat dokter Ryan hingga tanpa sadar dirinya tersenyum dan seolah terkesima melihat aksi dokter Ryan yang sedang melakukan operasi kecil di ruangan tersebut.


setelah selesai dan membalut luka Aslan dokter Ryan pun memperingati adiknya untuk jangan banyak bergerak apa lagi sampai ber jalan-jalan sampai keluar rumah sakit segala hal gila memang yang di lakukan adiknya ini hanya untuk meminta maaf saja dia sampai harus seperti ini.


"Ehm... gadis manis maaf merepotkan mu tapi bisakah kau menjaga adik ku yang nakal ini malam ini di sini? "pinta dokter Ryan dengan lembut dan senyum menggoda.


" Abang apaan sih kenapa dia harus ngejagain gue?! "Aslan sewot.


" Karena abang takut kamu kabur lagi bodoh!"dokter Ryan geram.


"Tapi... "


"Sudah nggak usah tapi... tapi... apa kamu mau abang yang antar gadis manis ini pulang Hem? " dokter Ryan menggoda Aslan lagi kali ini malah merangkul bahu Nina hingga membuat mata Aslan terbelalak dan mengeluarkan protes.


"Abang tangannya nggak gitu juga sih bang... elu juga kenapa di pegang-pegang diem ajah sih?! " Aslan marah-marah.


dokter Ryan tersenyum pada Nina yang sulit di artikan oleh Aslan dan Nina.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2