
Sore hari Aslan langsung terburu-buru untuk segera keluar kantor dan menuju rumah sakit, dia ingin segera menemui calon istri nya itu, entah lah baru berapa jam saja berpisah rasanya rindu itu sangat menghantui dirinya.
Zaed sebagai asisten hanya bisa menggeleng pelan saja, bahkan Aslan memintanya untuk tidak ikut kerumah sakit, dia meminta Zaed untuk membawa pakaiannya dan semua perlengkapannya ke rumah sakit karena malam ini dirinya ingin menjaga Nina dan menginap disana.
Zaed pun menuruti apa yang di mau oleh sahabatnya itu, dia pun pulang ke rumah tuan besar Herald untuk membawa beberapa helai pakaian Aslan, untuk malam ini, dan juga pakaian formal Aslan untuk besok dia gunakan ke kantor semua sudah di persiapkan oleh Zaed.
Meskipun negdumel nggak jelas saat mencari pakaian Aslan dan mempersiapkan nya dengan rapih agar si bosnya tetap keren meski hanya memakai piyama tidur nantinya saat menginap bersama calon istri nya nanti di rumah sakit, tapi Zaed akhirnya bisa tersenyum juga saat membayangkan kekonyolan Aslan saat menginap disana.
"Apa dia bisa tidur di sofa nantinya, dia kan kalau tidur kaya kuda liat, hahaha" Zaed membayangkan Aslan yang terjatuh saat tidur di sofa bukan karena apa selama bertahun-tahun dirinya tidur sekedar dengan Aslan hinga dia sangat hafal betul sahabatnya itu bila tertidur itu benar-benar menguasai kasur.
"Gimana nanti pas nikah ya? hahaha si Nina bisa jatuh terus darin ranjang karena di tendangin sama dia, astaghfirullah Aslan... Aslan hihi" Zaed berguman sendirian dan tertawa sendirian membayangkan kelakukan Aslan saat tertidur nanti dengan istrinya.
Sementara itu Aslan yang sudah tiba di rumah sakit langsung berjalan ke ruangan VVIP dengan langkah yang cepat Aslan melangkah kesana, dan ketika dirinya membuka pintu, dirinya di kejutkan oleh kehadiran seorang pria asing baginya.
Wajah Aslan langsung masam saat melihat kehadiran seorang pria asing disana, namun pria itu mengangguk hormat pada Aslan.
"Permisi Non... saya harus mengganti sprei dan sarung bantal di ruangan lain" ucap Ujang sopan pada Nina dan Wiwid.
Ujang pun melangkah ke arah pintu yang dimana di ambang pintu masih terdapat Aslan disana.
Aslan menghentikan langkah Ujang dengan menahan bahu Ujang, tatapannya tajam pada Ujang.
"Siapa lu? kenapa berani masuk kesini sembarangan?! " tanya Aslan tajam.
"Eh... saya petugas laundry tuan, ini pasti tuan muda Aslan dia kan cowo yang aku temui waktu itu di lorong, saat si mbak itu bohongin aku kalau dia ngeliat hantu"
"Eh... tuan muda dia itu beneran petugas laundry disini kok, dia kesini nganterin baju ganti pasien dan gantiin bantal ajah kok" jelas Wiwid yang melihat aura Aslan yang tidak bersahabat saat bertemu dengan Ujang.
Aslan menatap Ujang dari ujung kepala hingga ujung kaki, Aslan lalu mengenali pakaian yang di kenakan Ujang itu memang seragam petugas rumah sakit milik papahnya ini. Aslan pun melepaskan cengkraman di bahu Ujang dan tanpa dosa tanpa meminta maaf pada Ujang Aslan melangkah masuk ke dalam dan berjalan mendekati brankar Nina.
Tapi saat Aslan mendekat padanya Nina terlihat cemberut pada Aslan.
"Kenapa? " tanya Aslan lembut.
"Kakak seharusnya minta maaf padanya karena kakak tidak sopan padanya" ucap Nina manyun.
"Hah... " Aslan keki pasalnya baru kali ini dirinya melihat kekasihnya ini memasang wajah seperti itu, itu sangat imut dan menggemaskan bagi Aslan.
"Tapi apa salah ku? aku hanya mencoba menjaga mu sayang, aku tak ingin ada orang sembarangan masuk ke ruangan ini lagi" jelas Aslan dia masih merasa gengsi untuk meminta maaf pada Ujang.
Nina masih cemberut karena Aslan selalu begitu tak pernah mau mengakui kesalahan dan tak mau mengalah dan tak mau berbesar hati.
"Kakak egois kenapa kakak tidak pernah berubah selalu saja egois" Nina merajuk.
Aslan bingung harus bagaimana membujuk Nina.
__ADS_1
"Nona maaf bukannya saya mau ikut campur tapi tuan muda memang tidak salah kok, saya juga tak merasa keberatan di tegur oleh beliau" ucap Ujang yang melihat Nina sedang merajuk pada Aslan karena dirinya.
Ya ampun dia baik banget sih... Ujang...
Wiwid malah terkesima pada Ujang.
"Tuh kan dia ajah nggak kenapa-kenapa ayo dong... kamu jangan ngambek ya sayang... kan sebentar lagi kita akan menikah sayang" bujuk Aslan.
Eh mereka akan menikah wah... hebatnya tuan muda ini.
Batin Ujang.
Nina melihat Wiwid seolah terpesona oleh Ujang langsung tersenyum, dia bukan tersenyum karena di bujuk Aslan tapi karena melihat cinta di mata sahabatnya itu.
Tapi karena melihat Nina tersenyum Aslan jadi salah faham karena dia fikir Nina tersenyum padanya bukan pada Wiwid.
"Gitu dong kalau kamu senyum kan tambah cantik" rayu Aslan.
Nina hanya mendelik pada Aslan dan mencebik padanya karena sebenarnya dirinya masih kesal pada pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.
Aslan melihat ke arah Ujang yang masih berdiri di ambang pintu, dan dia melihat Ujang menatap ke arah Wiwid Aslan melihat bergantian ke arah Wiwid dan Ujang.
"Ya ampun... ternyata ada cinta disini hihi" gumam Aslan dan dia pun tertawa kecil.
"Heh... siapa nama mu? " tanya Aslan ketus pada Ujang.
"Ujang mau sampai kapan kamu disini? kata mu kamu mau mengganti spreindi kamar lain, terus mau sampai kapan pandang-pandangan sama temen gue" singgung Aslan.
"Eh... iya maaf tuan muda saya permisi dulu" Ujang pun langsung ngacir keluar dari ruang rawat Nina.
Nina yang mendengar kata-kata Aslan spontan langsung tertawa terbahak.
"Hahahaha" Nina terbahak.
Aslan langsung melihat kepadanya baru kali ini dirinya melihat wanitanya tertawa selepas itu.
Berbeda dengan Wiwid yang di tertawakan dan di singgung oleh Aslan Wiwid cemberut pada keduanya.
"Kalian ini apaan sih, kayanya seneng banget deh" gerutu Wiwid.
"Hahaha maaf Wid tapi kak Aslan ajah yang baru lihat kalian ajah langsung nebak begitu, berarti gue nggak salah kan kalau elu... " Nina tak bisa meneruskan kata-kata nya karena Wiwid memukul bahunya.
"Ish... elu mah... apaan sih baru juga kenal masa iya gue cinta sama dia ngaco lu mah" Wiwid mengelak.
"Cinta itu datang nggak pake permisi, nggak perlu kenal lama atau baru terus baru cinta" singgung Aslan.
__ADS_1
"Ye... tuan muda kok jadi ikut-ikutan sih" Wiwid kesal.
Nina semakin terbahak saat melihat reaksi sahabatnya itu seperti itu.
"Gue do'ain lah biar elu berdua langgeng" celetuk Aslan.
"Aamiin" dan di aminkan oleh Nina.
Aslan lalu tersenyum pada Nina dan Nina pun tersenyum pada Aslan dan seolah melupakan dirinya tadi sedang marah pada Aslan, tapi karena dirinya senang melihat sahabatnya yang sedang jatuh cinta pada seorang pria yang baru di kenalnya hingga dirinya pun akhirnya melupakan kemarahan pada Aslan.
"Gue balik dah... elu udah ada tuan muda ini lah Nin... dah ya... cepet sehat ya... dadah" Wiwid langsung mengambil tas slempang nya dan terburu-buru keluar dari ruangan Nina, dirinya sudah tidak tahan di ledekin terus oleh Nina dan Aslan.
Melihat gelegat Wiwid yang aneh sangat keki seperti itu membuat Aslan dan Nina tertawa berbarengan.
Aslan melihat pada Nina dan tersenyum pada gadis itu, Nina yang sadar di lihati oleh Aslan langsung menghentikan tawanya, dan berubah menjadi malu-malu.
"Kenapa kok terdiam? " tanya Aslan lembut.
"Nggak apa-apa kak hehe aku cuma malu saja" ucap Nina malu-malu bahkan dia tertunduk saat ini.
"Kenapa harus malu? ini pertama kalinya aku melihat kau sesenang ini loh, selain karena memacu andrenalin saat naik rollercoaster" ucap Aslan lembut.
Nina tersenyum saat mengingat kenangannya bersama Aslan saat mereka berdua menghabiskan waktu di taman hiburan waktu itu.
"Kakak ingat saja" ucap Nina pelan namun masih bisa terdengar oleh Aslan.
"Iya dong apa sih yang tidak aku ingat tentang dirimu, terutama tentang kita hihi" Aslan tettawa kecil.
Disisi lain Zaed yang mengendarai mobilnya untuk menuju rumah sakit, saat dirinya berhenti di lampu merah, dirinya melihat keluar jendela dan melihat seseorang yang dia kenal sedang mengendarai motor matic besar berhenti tepat di sisi mobilnya.
Zaed sangat mengenali jaket yang dikenakan oleh pria tersebut, meski pria tersebut memakai helm yang tertutup.
"Gio... " guman Zaed.
Saat lampu merah berubah menjadi lampu hijau, Zaed langsung mengejar laju motor Gio dan mencegatnya di tepi jalan.
Gio langsung menekan rem mendadak di stang kemudi nya, dia pun langsung membuka helm yang di gunakan nya dan berniat ingin mencaci maki pengendara mobil yang mencegatnya ini.
"Woi... apa maksud lu sih?! " sentak Gio.
Tapi wajah Gio langsung berubah saat melihat siapa orang yang berada di dalam mobil yang telah mencegatnya ini.
"Zay... " gumam Gio.
Gio menelan slivanya dengan susah payah saat melihat kemarahan di wajah sahabatnya itu, bahkan saat ini wajah Zaed berubah menjadi merah seperti tomat, bukan karena tersipu malu tapi karena marah, dan kemarahannya sudah memuncak saat ini bahkan rasanya kepalanya pun sudah mengeluarkan asap karena panas.
__ADS_1
Bersambung.