My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Bingung


__ADS_3

dokter Calvin memandang dingin pada Aslan saat Aslan berkata seperti itu padanya.


"Aku melihat luka di kakinya bukan melihat, kakinya yang menurut mu mulus itu tuan muda" ucap dokter Calvin dingin.


Alice kebingungan karena sepertinya akan ada peperangan setelah ini, sebab Alice sangat mengenal kedua pria di hadapan nya ini. keduanya memiliki sifat yang sedikit arogan oh tidak bukan sedikit tapi memang arogan.


"Apa kata mu?! " Aslan kesal.


"Alice elu nggak ada apa rekomendasi dokter lain selain dokter sombong ini? " ucap Aslan kesal sambil menatap kesal pada dokter Calvin.


dokter Calvin hanya tersenyum sinis dan seolah meremehkan Aslan membuat Aslan semakin kesal saja.


"Aslan... jangan begitu, dokter Calvin ini profesional dia juga ahli, lagi pula dia itu cuma mau periksa luka di kaki Nina bukan lihat kulit mulus Nina" Alice mencoba menerangkan pada Aslan.


"Terus nanti pas dia operasi kan pasti dia pegang-pegang kaki calon istri gue, gue nggak Terima kalo begitu, gue nggak suka laki-laki lain pegang-pegang calon istri gue" Aslan sewot.


"Terus kalo nggak di pegang gimana mau pasang alatnya bodoh... " Alice kesal, dia bahkan sampai ingin mencakar wajah sepupunya itu karena kesal.


"Lagi pula nanti saat operasi juga dia pasti pakai sarung tangan jadi nggak langsung kena kulit calon istri lu kok" Alice berusaha membujuk Aslan.


Aslan mendelik kesal pada Calvin sedangkan Calvin tersenyum sinis saat mendengar Alice membelanya terutama saat mendengar Alice mengatakan kalau Aslan itu bodoh.


"Pokoknya gue nggak Terima cari dokter perempuan lah" Aslan masih keras kepala.


"Aslan Nina harus cepat di operasi kalau nggak luka di kakinya akan membusuk dan Nina akan kehilangan kakinya Aslan, kita nggak punya waktu lagi untuk cari dokter ortopedi yang hebat seperti kak Celvin" jelas Alice sebenarnya lebih menakut-nakuti Aslan agar Aslan tidak banyak menawar lagi untuk mengganti dokter yang akan mengoperasi Nina.


"Elu serius itu bakalan terjadi? " tanya Aslan seolah tak percaya.


Aslan melihat ke arah Nina dan wajah Nina terlihat bersedih saat mendengar penjelasan Alice kalau kakinya tidak segera di operasi dia akan kehilangan kakinya.


Aslan langsung mendekati Nina berusaha menenangkan Nina.


"Aku nggak mau kehilangan kaki ku kak" ucap Nina lirih.


"Iya... iya... kamu nggak akan kehilangan kaki mu kok, tenang ya... " ucap Aslan lembut.

__ADS_1


"Lan.... jadi gimana mau mengundur waktu atau... " ucap Alice terhenti saat Aslan melihat ke arahnya.


"Diem lu ?!" sentak Aslan.


"oke gue percaya sama elu asalkan Nina bisa berjalan lagi gue serahkan semua sama elu" ucap Aslan dingin dan dia pun melirik sinis pada dokter Calvin sementara yang di lirik hanya menatap meremehkan saja.


Alice dan dokter Calvin pun pamit meninggalkan ruangan Nina dan mereka berdua berjalan beriringan bersama keruangan Alice, mereka tak berbicara satu sama lain, karena Calvin memang seorang yang pendiam dan tak banyak bicara, bahkan tadi Alice sempat kaget saat Calvin meladeni Aslan saat di ruangan Nina.


"Kak... mohon bantuannya ya... dan maafkan saudara sepupu ku dia memang begitu maklum lah bucin jadi begitu hehe" ucap Alice.


dokter Calvin hanya tersenyum miring saja.


"Tak apa tak masalah bagi ku"Ucao Calvin dingin.


Mereka berdua pun sampai keruangan Alice dokter Calvin duduk di depan kursi meja Alice dia lalu melihat bingkai foto yang terpajang di meja tersebut.


"Ini? " tanya Dokter Calvin menunjuk foto yang ada di bingkai tersebut.


"Oo ini aku dan Aslan saat baru lulus SMA" jelas Alice.


"Hah apa kak? kaka ngomong apa barusan? " tanya Alice.


"Tidak itu tidak penting, oia aku lihat kaki gadis itu sudah mendingan dan memang segera bisa di operasi kenapa kau bilang, pada saudara sepupu mu gadis itu akan kehilangan kakinya bila tidak segera di operasi? " tanya dokter Calvin.


"Hehehe kak dia itu kalau tidak di takut-takuti seperti itu akan terus keras kepala meminta ganti dokter, aneh memang tapi itulah dia kalau sudah bucin" jelas Alice.


dokter Calvin yang mendengar itu hanya mengulum senyum saja.


dokter Calvin pun pamit pada Alice dan meninggalkan ruangan Alice juga meninggalkan rumah sakit itu, dalam perjalanannya menelusuri lorong rumah sakit dirinya melihat mata Alice sangat berbeda bila membicarakan Aslan, Alice terlihat selalu bersemangat bila membicarakan Aslan.


"Apa dia menyukai saudaranya sendiri? " gumam dokter Calvin yang berjalan ke area parkir untuk mencari mobil nya.


sementara itu di ruang rawat VVIP.


Aslan pamit pada Nina karena harus kembali. ke kantor, karena ini masih jam kerja kantor.

__ADS_1


"Nanti sore aku akan kembali lagi kesini, dan menemani mu malam ini, jadi Wiwid bisa beristirahat di kostan" ucap Aslan lembut.


"Wah bisa bahaya kalau cuma kalian berdua saja" celetuk Zaed.


"Jangan ngaco gue nggak mungkin ngapa-ngapain dia elu lupa apa dia seminggu loh jagaian gue waktu itu dan nggak terjadi apa-apa kan? " tanya Aslan.


"Ya karena waktu itu elu yang habis di operasi dan nggak mungkin juga Nina mau ngapa-ngapain elu yang ada di ngerusak masa depannya sendiri ngaco?! " jelas Zaed.


"Sialan lu, elu fikir gue mau gituin dia sebelum kita nikah ya nggak lah?! " Aslan sewot.


"Lagi pula masa iya gue tega gituin dia pas kakinya dia ajah lagi kaya begini peak lu" Aslan terus nyerocos.


Sementara Zaed dan Wiwid hanya tergelak saja mendengar ocehan bos mereka.


"Udah hayo ke kantor, kata elu masih banyak kerjaan" Aslan masih sewot.


"Sayang aku ke kantor dulu ya" ucap Aslan lembut.


"Wid jagain Dia yang bener jangan kecolongan lagi kaya semalam" kembali sewot saat berbicara dengan orang lain.


"Iya tuan muda" Wiwid berusaha sabar bila yang dihadapi nya itu adalah Aslan yang dulu bekerja di pabrik pasti Wiwid sudah ikut sewot dan akhirnya bertengkar mulut dengan Aslan tapi diriya masih membutuhkan pekerjaan hingga dia tak berani melawan Aslan yang sekedar menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan tempatnya bekerja.


Aslan dan Zaed pun berjalan keuar ruangan tersebut dan menuju area parkiraan para petinggi rumah sakit.


Mereka berdua pun masuk kedalam mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh supir kantor.


Saat di dalam mobil dan mobil pun mulai berjalan menuju keluar area rumah sakit Aslan menanyakan perkembangan kasus Nina kembali pada Zaed, namun Zaed masih belum memberikan jawaban.


"Ck gimana sih penyelidikan seperti itu saja kenapa harus selama ini sih? " keluh Aslan.


"Maaf tuan muda" ucap Zaed yang merasa bersalah karena dia masih menutupi kesalahan Laura dan kebenaran yang telah dia ketahui.


"Semoga teman papah segera menemukan pelakunya, gue nggak sabar lihat siapa pelakunya, dan apa motif sebenarnya yang membuat orang itu sekejam itu sama Nina" Aslan geram bahkan dia sampai mengepalkan tangannya kencang hingga urat-urat di tangan nya mucul.


Maafin gue ya Lan... tapi gue memang nggak bisa bilang sekarang ke elu, gue nggak bisa ngebayangin kemurkaan elu ke Laura karena biar bagaimana pun juga Laura itu adalah sahabat kecil gue. dan kalian berdua sama-sama berarti buat gue jadi gue bingung harus bela yang mana, elu atau Laura.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2