My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Di Minta Kembali


__ADS_3

Waktu terus berlalu tak terasa sudah tiga bulan sejak. kehamilan Nina sekarang usia kandungan nya sudah memasuki 4bulan.


Dan sejak tiga bulan selama mengidam Nina memang sedikit manja dan aneh permintaannya aneh-aneh, minta di belikan rujak bebeg tengah malam, minta Aslan jangan bekerja, meminta jalan-jalan dengan Aslan berjalan kaki keliling komplek bergandengan tangan, dan kejadian aneh lainnya.


Dan malam ini Aslan mendapatkan telpon dari Alice yang memberi tahukan pada Aslan kalau dirinya akan segera menikah minggu depan.


Aslan yang mendengar hal itu hanya tertawa saja.


"Serius ada yang mau sama elu Lice hihi? " ledek Aslan sambil cekikikan.


"Aslan beneran Aslan gue mau nikah minggu depan elu dateng ya sama istri elu, sekalian kita reunian" jelas Alice.


"Reunian apa maksud elu? " tanya Aslan dengan nada ketus.


"Ck elu masih marah sama Zaed? " tanya Alice yang seolah tahu isi fikiran Aslan.


"Apaan sih gue nggak kenal sama orang itu" jawab Aslan malas.


"Lan.... kita bersahabat lama loh masa iya hanya masalah salah faham hubungan kita jadi renggang begini? " Alice berusaha membuka fikiran Aslan.


"Ya dah nanti gue dateng ke pernikahan elu" Aslan langsung memutuskan sambungan telponnya setelah mengatakan itu.


Alice yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari sepupunya hanya bisa menghela nafasnya saja.


"Aslan... Aslan.... gue tahu sebenarnya elu kehilangan Zaed juga kan, elu kesepian kan tanpa dia" cuman Alice setelah menelpon Aslan.


Nina yang melihat suaminya kesal langsung memeluk tubuh Aslan dari arah belakang, dan mengelus dada suaminya.


Aslan lalu membalikkan tubuhnya dan sekarang berhadapan dengan istrinya.


"Kakak rindu dengan sahabat kakak? " tanya Nina pelan.


Aslan hanya menggeleng saja.


"Kapan kita akan kesana? " tanya Nina lagi sebenarnya Nina sangat tahu isi hati suaminya ini Aslan begitu merindukan persahabatannya dengan Zaed, namun ego membuat nya mengatakan tidak karena rasa kesal dan kecewa ketika mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Nanti saja aku fikirkan ada waktu atau tidaknya" ucap Aslan kesal.


"Kak... aku juga rindu dengan sahabat ku Wiwid" ucap Nina pelan.


"Tapi dia tidak mungkin di undang ke pesta pernikahan Alice sayang" jelas Aslan pelan.


"Tapi kita bisa kan menemuinya disana? " ucap Nina lirih dirinya seolah ingin menangis saat ini saat mengatakan kata-kata itu.


"Jangan menangis sayang... apa kau tertekan setelah menikah dengan ku? apa kau tidak bahagia? apa kau menyesal hem? " Aslan mengajukan rentetan pertanyaan pada istrinya.

__ADS_1


Nina hanya menggeleng pelan dengan air mata yang menetes di pipinya.


"Tidak aku tidak pernah menyesal menikah dengan mu kak... aku bahagia menjadi istri mu tapi aku merasa bersalah karena aku persahabatan mu dengan kak Zaed... " Aslan langsung menghentikan ucapan istrinya dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Nina.


"Stop sayang ini semua bukan salah mu, ini salahnya sendiri, dia lebih membela wanita itu dari pada aku sahabatnya, aku tahu wanita itu juga sahabatnya tapi seharusnya dia tidak menutupi kesalahan sebesar itu ya kan" ucap Aslan.


"Kak.... tapi sampai kapan kau seperti ini? dia sahabat mu kak"


"Sayang bisa kita tidak membahas ini?" Aslan berusaha menahan emosi nya agar tidak marah pada istrinya dan memperburuk suasana hati istrinya yang sangat sensitif sejak hamil.


Aslan memeluk tubuh Nina dan membawanya ke tempat tidur agar mereka tidak membicarakan tentang Zaed lagi, baginya sungguh hal yang menyakitkan mengingat tentang penghianatan yang di lakukan sahabatnya itu hingga dirinya pun saat ini membutuhkan sandaran hati untuk menenangkan hatinya dan itu hanya bisa dia lakukan bersama istrinya saja.


Hingga pagi menjelang.


Aslan yang baru terbangun dari tidurnya mendapati istrinya sudah tidak ada di sampingnya.


Aslan segera bangkit dari kasur dan mencari keberadaan istrinya yang tidak tahunya berada di dapur, sedang membuat sarapan untuk mereka berdua.


"Sayang... kenapa bangun tidak membangunkan aku? " tanya Aslan manja. dia bahkan memeluk tubuh Nina dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Nina.


"Aku lihat kakak sangat terlelap, aku tahu semalam kakak tidak bisa tidur jadi aku tidak tega membangunkan kakak" jelas Nina lembut.


"Nah sarapannya sudah jadi kakak mandi dulu ya setelah itu kita sarapan bersama"ucap Nina lembut dia membalik badannya ke arah Aslan dan membelai pipi suaminya lembut.


" Mandi bareng yuk"bisik Aslan nakal.


"Ck nggak seru ah... kamu mah" Aslan cemberut.


Begitulah Aslan mode manjanya keluar hanya pada istrinya.


Nina tergelak melihat gaya manja suaminya ini sungguh menggemaskan.


"Ayo mandi sayang.... nanti keburu siang loh..." bujuk Nina pada Aslan.


"Tapi maunya mandi sama kamu" rengek Aslan.


"Sebentar lagi jadi ayah tapi manjanya nanti sama seperti anaknya" ucap Nina lembut.


"Biarin" Aslan masih cemberut.


"Baiklah tapi beneran mandi ya... jangan mainan di kamar mandi" pinta Nina.


"Ya... nggak seru dong... " Aslan cemberut lagi.


Nina lalu menarik tangan suaminya ke kamar mandi agar mereka secepatnya mandi dan membersihkan diri, melayani kemanjaan Aslan pagi ini.

__ADS_1


Karena memang sebenarnya setiap pagi mereka selalu mandi bersama tapi pagi ini karena Nina bangun lebih dahulu maka dia pun mandi lebih dari dahulu dan menyiapkan sarapan.


Tapi tak disangka kalau Aslan tetap meminta mandi bersama meski Nina sudah mandi duluan.


Di sisi lain.


Tuan Herald yang tengah di periksa oleh dokter Ryan karena kondisinya kurang sehat sejak semalam,karena terlalu lelah dan banyak fikiran juga bahkan dia selalu menanyakan Aslan pada dokter Ryan.


Hingga akhirnya pagi ini dokter Ryan mencoba menghubungi Aslan dan meminta Aslan kembali secepatnya ke kotanya karena kesehatan papah nya memburuk.


Namun saat dokter Ryan menelpon tak kunjung di angkat oleh Aslan.


"Sedang apa anak itu Pagi-pagi apa dia masih tidur, tapi apa kalau tidur tidak mendengar suara ponsel berdering sebegitu nyenyak nnya kah tidur nya" gerutu dokter Ryan yang kesal dengan adiknya.


setengah jam kemudian Aslan dan Nina yang baru selesai mandi pun bersiap-siap berpakaian dan setelah selesai berpakaian Aslan melihat ponselnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari kakaknya.


"Ada apa abang telpon sampai berkali-kali begini? " fikir Aslan.


"Kak ayo sarapan dulu" ajak Nina.


"Eh... iya" Aslan menaruh ponselnya di atas meja kecil di kamar nya dan pergi untuk sarapan terlebih dahulu.


Mereka pun sarapan pagi ini dengan roti bakar buatan Nina, Aslan menyuapi Nina padahal Nina sudah makan rotinya sendiri, tapi Aslan iseng saja menyuapi istrinya roti miliknya, alasannya agar Nina dan dedek bayi mereka kenyang.


Setelah Nina dan Aslan menghabiskan roti bakar mereka Aslan kembali memeriksa ponselnya dan mencoba menghubungi kakaknya.


Sambung telpon pun tersambung dan langsung dijawab oleh dokter Ryan yang langsung menyemprot Aslan.


"Hei... kau ini kemana saja sih Pagi-pagi di telpon tak kunjung di angkat" semprot dokter Ryan.


"Aku sedang mandi bang ada apa sih? " Aslan balik marah.


"Mandi lama sekali" gerutu Dokter Ryan.


"Hehe biasalah oia ada apa abang telpon tumben? " tanya Aslan.


"Pulang lah papah sakit dan menanyai mu terus, mungkin dia rindu pada mu" jelas dokter Ryan.


"Mana mungkin dia rindu pada ku" elak Aslan.


Aslan memang telah melupakan papahnya yang membela Laura tapi dia tidak mau kembali lagi ke perusahaan karena dia malas berhubungan dengan Zaed lagi. Tapi dia juga tak mau Zaed keluar dari perusahaan papahnya.


Aneh memang tapi itulah Aslan suka aneh tidak mau kembali karena tidak mau bekerja sama dengan Zaed tapi tidak tega bila Zaed menganggur, padahal Zaed bisa saja mendapatkan pekerjaan di luaran sana tapi entah kenapa Aslan seolah tak rela di tinggal oleh Zaed.


"Lan... Aslan... kamu mendengarkan abang... cepat balik kasihan papah sejak semalam kondisinya menurun dia juga ingin melihat menantunya yang sedang mengandung sekarang" jelas dokter Ryan.

__ADS_1


Namun Aslan masih terdiam membisu saat mendengar perkataan kakaknya.


Bersambung.


__ADS_2