My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Ada Hantu


__ADS_3

Di sebuah taman di rumah sakit seorang pria sedang menatap lurus ke arah air mancur kecil yang ada di tengah-tengah taman tersebut, melihat beberapa anak kecil yang sedang di gendong oleh orang tuanya karena sedang sakit.


Pemuda itu duduk melamun sendirian setelah di tinggal oleh orang yang di cintainya saat tadi sahabatnya datang menengok nya dia kembali ke ruang rawat inap nya di ruang VVIP tak jauh dari taman tersebut.


Pemuda itu menghela nafas dalam dan megusap wajahnya saat mengingat bagaiamana gadisnya mengatakan sesuatu padanya.


"Benarkah kita sering begini dulu? " tanya Nina pada Aslan yang sedang memegang tangannya.


"Hem... " jawab Aslan dengan tersenyum.


"Tapi maaf... tapi aku merasa sangat asing dengan semua ini, seolah aku baru mengenal mu" ungkap Nina pada akhirnya.


Selama ini dirinya meski diperlakukan oleh Aslan dengan sangat lembut dan baik tapi Nina merasa asing dengan Aslan.


"Apa karena gue dulu suka marah-marah sama dia ya... jadi dia merasa asing sama gue, tapi kan nggak mungkin sekarang ini gue ngomelin dia kaya waktu dulu, yang ada dia tambah bingung dengan perubahan sikap gue" gumam Aslan yang berbicara sendirian di taman.


Sedang kan di ruang rawat Nina yang sedang di kunjungi Wiwid sedang berbicara dan mengobrol seperti biasa.


"Wid... aku mau tanya sama kamu? " tanya Nina yang duduk di samping Wiwid.


"Tanya Apan? " tanya Wiwid santai sambil menikmati somay kesukaannya.


"Apa benar aku dan Aslan bertunangan? "


"Uhuk... uhuk... " Wiwid langsung tersedak somay.


Nina langsung memberikan segelas minuman pada Wiwid agar tenggorokan Wiwid terasa lega.


"Kamu nggak kenapa-kenapa? "tanya Nina cemas.


" Hem... nggak gue nggak kenapa-napa kok makasih ya airnya"Wiwid menaruh gelas minum tersebut di atas meja.


"Kenapa elu nanya begitu Hem? " tanya Wiwid balik kepada Nina setelah dia merasa tenggorokannya lega.


"Itu karena? " Nina ragu untuk menjelaskan pada Wiwid.


"Elu ragu sama Aslan setelah selama ini dia nemenin elu disini apa elu masih kurang yakin dengan ketulusan cinta dia? " tanya Wiwid lembut.


Nina tertunduk dan meremas jari-jarinya.


"Bukan begitu Wid aku hanya merasa semua yang dia lakukan sama aku itu terasa asing Wid" ucap Nina tertunduk.


"Wid... sebenarnya aku ini siapa sih Wid? kenapa nggak ada keluarga aku yang dateng kesini apa mereka nggak mengkhatirkan aku Wid? kenapa hanya kalian yang selalu ada di samping ku dan sebenarnya aku ini punya keluarga atau tidak Wid? " rentetan pertanyaan terlontar dari mulut Nina hingga Wiwid bingung menjawabnya.

__ADS_1


"Wid... Wiwid kenapa kamu diam? " tanya Nina yang menggoyang lengan Wiwd karena kebingungan menjawab pertanyaan Nina yang sangat banyak.


Wiwid mengehela nafasnya dalam sebelum berbicara dengan Nina, dia ingin mengatakan hal yang sejujurnya pada Nina sebuah kenyataan yang mungkin akan mengejutkan untuk Nina.


"Nin... elu mau tahu semua nya dan yakin nggak bakaln nyesel saat tahu semua kebenarannya? "tanya Wiwid ragu.


Nina hanya mengangguk saja.


" Katakan lah Wid, masa kau tega dengan aku kata mu aku ini sahabat mu"ucap Nina yakin.


Wiwid pun akhirnya menceritakan semuanya pada Nina menceritakan semua yang dia tahu tentang Nina terutama tentang keluarga nya, tentang ayahnya yang mengusirnya sejak dirinya duduk di bangku akhir saat dirinya masih SMA, hingga Nina harus berkerja keras untuk membiayai sekolahnya dengan hasil keringat nya sendiri meski dirinya waktu itu tinggal bersama kakaknya tapi sang kakak juga perekonomiannya cukup sulit hingga Nina tak mau membebani sang kakak dan akhirnya menjadi buruh konveksi di sekitar rumahnya setiap habis pulang sekolah, dan uang yang dia dapat dari hasil bekerja dia tabung agar bisa membiayai sekolahnya.


"Begitu lah kisah mu dimasa lalu Nina, dan cerita itu juga aku dapat dari kamu" jelas Wiwid.


Mata Nina berkaca-kaca saat mengetahui sebuah kebenaran yang dia dengar saat ini.


"Jangan nangis Nin... gue mohon elu harus kuat karena elu memang wanita kuat" Wiwid memegang tangan sahabatnya mencoba memberikan suportnya.


Tak lama Aslan masuk ke ruang rawat Nina di lihatnya gadis nya yang nampak tertunduk dan menangis Aslan panik dan langsung mendekat pada Nina.


"Sayang.... kenapa? " tanya Aslan lembut.


Grab.


Nina menangis tersedu di dada Aslan hingga baju Aslan basah karena air mata Nina, Aslan melirik kearah Wiwid dan memberikan isyarat seolah bertanya kenapa kekasihnya menangis seperti ini.


Wiwid bingung harus menjawab bagaiamana dia hanya menggaruk kepala nya saja yang tidak gatal.


"Gue balik dulu ya Nin... " Wiwid mencoba menghindar dari Aslan.


Sebenarnya Aslan ingin mencegah Wiwid pergi tapi Nina masih memeluk dirinya hingga dia tidak bisa bergerak apa lagi menggeretak Wiwid, Aslan hanya melotot ke arah Wiwid seolah ingin membelah tubuh gadis itu.


Wiwid yang merasa dirinya terancam saat ini langsung lari secepatnya mungkin meninggalkan ruang perawatan itu.


Kabooorrrr.....


batin Wiwid yang berhasil menghindar dari ancaman bahaya, saat Wiwid berlari di lorong rumah sakit dirinya tak sengaja menabrak troli yang berisi sprei dan pakaian kotor yang sedang di bawa oleh petugas laundry, Wiwid terjatuh saat menabrak troli tersebut hingga bokongnya terasa sakit.


"Aw... " keluar Wiwid.


"Eh... kau tidak apa-apa? " tanya pemuda yang membantu nya berdiri.


Pemuda tersebut mengulurkan tangannya di depan Wiwid untuk membantu Wiwid berdiri. tapi ukuran tangan itu tak di sambut oleh Wiwid dia malah berdiri sendiri tanpa bantuan pemuda tersebut.

__ADS_1


"Eh... iya mas makasih maaf saya tadi buru-buru sampe nggak liat ada troli yang lagi diem di tabrak hehe" Wiwid malah cengar-cengir.


Pemuda itu melihat kebingungan.


"Memangnya kenapa buru-buru? " tanya pemuda hitam manis tersebut.


"Tadi saya lihat hantu mangkanya saya buru-buru" bisik Wiwid bohong.


"Hah hantu? " pemudanya itu terlihat bingung.


"Iya hantu disana ada hantu menyeramkan saya hampir dimakan hidup-hidup" cerita Wiwid yang seolah benar-benar meyakinkan pemuda tersebut.


"Mba serius ada hantu yang mau makan manusia? " tanya pemuda itu dengan polosnya.


"Iya masa gue bohong hantunya ada disana" tunjuk Wiwid ke arah dia tadi berlari.


Pemuda itu memegang tengkuk lehernya dia merasa merinding mendengar cerita Wiiwd, sementara Wiwid menahan tawanya karena melihat reaksi lucu dari pemuda tersebut.


"Serius mba... masalahnya saya juga harus bertugas mengganti seprei di ruangan yang ada disana" ucap pemuda hitam manis itu dengan polosnya.


Tak lama Wiwid melihat Aslan yang berjalan ke arah nya.


"Astaga tuh hantunya lagi jalan kesini" Wiwid langsung kabur sebelum Aslan mendekat padanya.


Pemuda hitam manis itu terlihat kebingungan saat melihat Wiwid lari terbirit-birit.


"Mana hantunya? " ucap pemuda itu bingung tak lama dia berpapasan dengan Aslan.


Aslan bingung karena di tatap oleh pemuda yang sedang mendorong troli berisi seprei untuk ruangan pasien.


"Kenapa? " tanya Aslan ketus.


"Eh... nggak mas... mas bukan hantu kan? " tanyannya polos.


Aslan langsung melotot pada pemuda itu.


"Apa gue kelihatan kaya hantu di mata lu?! " sentak Aslan.


"Nggak sih kalo si mas hantu cewe tadi pasti nggak ketakutan karena mas ini ganteng" jelas pemuda itu dengan polosnya.


Dia pasti anak baru nih jadi belum tahu siapa gue.


"Ya udah kerja lagi sana, elu di bohongin sama cewe gila percaya ajah disini nggak ada hantu hantu itu cuma ada di fikiran elu" ucap Aslan ketus dan dia pun pergi meninggalkan pemuda hitam manis yang polos itu di Koridor rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2