
Sesampainya Zaed di rumah sakit dirinya berjalan santai menuju ruang rawat nina, sebelum masuk. seperti biasa dirinya mengetuk pintu terlebih dahulu setelah terdengar suara Aslan yang menyuruh masuk, Zaed pun mendorong pintu tersebut dan melangkah masuk ke ruang rawat tersebut.
Saat dirinya masuk Aslan langsung mengernyitkan matanya, karena melihat wajah Zaed yang lebam-lebam.
"Muka lu kenapa? " tanya Aslan.
Zaed baru menyadari kalau wajahnya lebam karena tadi habis baku hantam dengan Gio.
"Eh... Oh ini heheh biasalah tuan muda terjadi pertarungan saat dijalan tadi, saya nolongin orang kecopetan dan berkelahi dengan pencopet tersebut" Zaed berbohong.
"Ooo begitu pantes elu lama, nyampe ke sini, Hati-hati kalau di jalan itu, takutnya elu yang kena kasus padahal elu nggak salah" ucap Aslan bijak dia khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
"Iya tuan muda, Maaf ya Lan... gue bohong sama elu" Zaed merasa bersalah karena membohongi Aslan.
"Kak Zaed apa kakak perlu obat untuk mengobati luka kakak? kalau perlu aku panggil kan perawat ya untuk mengobati luka kakak" ucap Nina lembut.
Aslan menatap tidak suka pada Nina, karena Nina perhatian pada Zaed padahal bukan perhatian tapi lebih tepatnya Nina itu masih berjiwa kemanusiaan yang baik hingga dia akhirnya berkata seperti itu.
"Tidak usah sayang, Zay sudah biasa seperti ini, nanti juga dia obati sendiri" ucap Aslan kesal.
Zaed yang bisa membaca gelagat sahabatnya itu pun terdian saja dia tahu Aslan cemburu padanya bukan karena tidak perduli padanya, bila yang mengatakan itu bukan Nina pasti Aslan juga sudah memanggik perawat ke kamar ini untuk mengobati luka Zaed, tapi karena Nina yang mengatakan itu maka Aslan langsung tak menginginkan Zaed mendapatkan perawatan apapun dan kalau bisa Zaed sesegera mungkin meninggalkan kamar ini, agar brasa cemburu Aslan tidak semakin menjadi.
"Tuan muda ini pakaian anda dan semua kebutuhan Anda Saya permisi dahulu, karena anda pasti ingin beristirahat, permisi tuan muda...." Zaed pamit pada Aslan saja dia tidak pamit pada Nina karena nantinya Aslan pasti salah faham lagi padanya.
Zaed pun keluar sesegera mungkin dari ruangan tersebut, Zaed pun berjalan di lorong rumah sakit, saat dia berjalan melewati taman dirinya bertemu dengan Alice yang telah selesai memeriksa pasiennya.
Mereka pun bertegur sapa Alice melihat wajah Zaed lebam hingga Alice mengajaknya ke ruangan nya untuk mengobati lukanya.
Sesampainya di ruangan Alice mereka pun mengobrol, Zaed menolak dioleskan salep pereda nyeri oleh Alice dia mengobati lukanya sendiri, dan kemudian mencet hal yang sama pada Aslan tadi, dia mengarang cerita pada Alice, dia tak ingin Alice tahu hal yang sebenarnya karena Alice pasti akan mengadu pada Aslan karena Alice itu pendukung Aslan.
"Ya... ampun Zay... lagian elu ada ajah pake nolongin orang kecopetan segala"
__ADS_1
"Orang kalo lagi susah itu serahusnya kita bantu kan Lice masa kita diemin ajah kan kasihan Lice" protes Zaed.
"Hem... iya juga sih hehe gue salut sama elu, oia besok lusa mungkin Nina sudah di operasi pergantian lutut" jelas Alice.
"Jadi yang ngoperasi Nina itu dokter yang kemarin itu? " tanya Zaed.
"Iya dia senior gue dulu di kampus, orangnya emang kaya begitu jarang ngomong, tapi kemarin tumben loh dia ngeladenin Aslan hihi" Alice tertawa kecil.
Zaed pun ikut tertawa.
"Siapa sih yang nggak kepancing sama Aslan kalo sifat ngeselinnya keluar, Nina ajah yang pendiam dan slow refleks ajah bisa berkicau kalau udah berhadapan sama Aslan" jelas Zaed.
"Masa sih? " Alice seolah tak percaya.
"Ye... elu kalo tahu Aslan sewaktu jadi butuh pabrik bener dah ngeselin banget, dulunya Nina tuh di katain cupu... terus sama dia eh akhirnya tuh anak ke makan omongan nya sendiri akhirnya dia jatuh cinta juga sama Nina cewe cupu yang dia benci" jelas Zaed.
"Serius? bukan benci kali Zay Aslan sebenarnya suka tapi ya... elu tahu lah Aslan kaya apa dia kann gengsinya gede banget hahaha" Alice tertawa lepas.
"Oia Lice elu kenapa nggak jadian ajah sama dokter ortopedi itu? " tanya Zaed.
"Ck apaan sih lu Zay" Alice berdecak kesal.
"Elu berdua cocok loh Lice nggak sadar ya... kalian tuh terlihat saling melengkapi gitu" jelas Zaed.
Alice lalu terdiam saja.
Zaed tahu apa yang di fikiran Alice, dia tahu Alice masih mencintai sepupunya sendiri.
"Lice buka hati lu untuk yang lain, tata masa depan elu sendiri oke, raih kebahagiaan elu sendiri karena elu pun berhak bahagia" ucap Zaed yang berdiri dari duduk nya dia ingin segera pergi dari ruangan Alice dan segera pulang kerumah untuk beristirahat karena hari ini sungguh hari yang melelahkan untuknya.
Alice menatap Zaed dan tersenyum pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Thanks Zay... elu emang sahabat terbaik buat gue dan Aslan" ucap Alice tersenyum.
Zaed pun hanya tersenyum dan mengangguk saja kemudian dia pun melangkah keluar dari ruangan Alice. Meninggalkan Alice seorang diri di ruangannya.
Sementara Aslan yang sudah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian nya dengan piyama tidur nya pun keluar dari kamar mandi dan mendekat pada brankar Nina.
Nuna terseyum pada Aslan dia menghirup wangi sampo dan juga sabun yang Aslan gunakan, sungguh menyegarkan wangi maskulin sangat cocok untuk Aslan yang memang cowo banget di mata Nina.
"Kenapa tersenyum-senyum seperti itu? " tanya Aslan lembut.
"Eh... tidak apa-apa kak aku hanya canggung saja karena berduaan seperti ini dengan mu" jawab Nina malu-malu.
"Kenapa harus canggung bukan kah sebelumnya kamu juga pernah menemani aku selena seminggu di ruangan ini hem? " goda Aslan.
"Ish... ya beda lah kak, waktu itu kan aku dan kakak belum punya perasaan"
"Kata siapa aku belum punya perasaan saat itu pada mu? "
Nina menatap Aslan menatap mata Aslan secara dalam, dia mencari kebenaran di mata itu.
"Masa iya waktu itu kakak? " Nina menggantung kata-katanya.
"Hem... sebenarnya aku sudah menyukai mu sejak awal aku bertemu dengan mu di pabrik, oleh karena itu aku tak rela kau di godain oleh si Bahar waktu itu, hingga aku memilih bertengkar dengan Bahar untuk melindungi mu" jelas Aslan.
Nina menutup mulutnya yang spontan terbuka saat mendengar perkataan Aslan.
"Apa kau lupa saat pertama kali kau menempati meja di depan meja ku, diam-diam aku selalu mencuri-curi pandang pada mu, tanpa kamu sadari, dan tanpa aku sadari juga aku pun mulai jatuh cinta pada mu dan tak bisa berpaling dari mu" jelas Aslan.
Terdengar seperti gombalan memang tapi itulah kenyataan nya itulah kebenarannya dan itukan perasaan yang sebenarnya Aslan rasakan pada Nina selama ini, hanya saja dia selalu menyembunyikan perasaannya itu dari Nina dengan cara selalu bersikap ketus dan kasar pada Nina, sebenarnya dia tak ingin Nina mengetahui perasaan nya padanya, tapi saat tahu Nina banyak berkorban untuknya Aslan akhirnya tidak bisa menyembunyikan perasaan itu terlalu lama lagi, bahkan dia rela di tolak berkali-kali oleh Nina, tapi rasa itu tak kunjung berhenti malah semakin menjadi.
Bersambung.
__ADS_1