My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Mata Jahat


__ADS_3

Siang hari di saat mentari terik dengan panasnya hingga orang-orang di siang ini pun memilih berteduh di bawah atap atau bawah pohon agar terhindar dari teriknya mentari siang ini.


Seorang wanita paruh baya berjalan di lorong rumah sakit, dia adalah kepala perawat di rumah sakit ini, rumah sakit tempat Nina di rawat rumah sakit tuan Herald, sudah dua tahun ini dirinya menjabat sebagai kepala perawat di rumah sakit ini, dan hari ini setelah beberapa hari dirinya cuti dirinya baru kembali beraktifitas kembali dan dia saat ini mengunjungi ruang perawat VVIP yang di mana jarang ada pasien disana namun siang ini dirinya tahu ada seorang pasien disana dan kabar yang tersebar adalah kalau pasien tersebut adalah calon istri tuan muda pemilik rumah sakit ini. hingga membuatnya penasaran dan ingin tahu siapa dan seperti apa calon istri tuan muda mereka.


Dirinya pun memeriksa data kesehatan pasien tersebut dan membaca nama yang tertera di depan kertas tersebut, matanya terbelalak saat melihat deretan huruf disana.


Karinina Van Sanders.


"Apa ini benar-benar nama pasien itu? " tanyanya penasaran.


"Iya bu itu nama aslinya" jelas ketua perawat ruang VVIP ini.


"Bisa aku melihat nya? " tanya wanita itu.


"Bisa bu kebetulan saat ini ada visit dokter yang akan mengoperasi kakinya" jelas perawat tersebut.


"Memangnya kenapa kakinya? " tanya wanita itu lagi.


"Dia mengalami. kecelakaan hingga tempurung lututnya pecah dan akan di operasi besok oleh dokter Calvin untuk mengganti lututnya"jelas perawat.


"Astaga kenapa tidak di amputasi saja kakinya itu dan pasti tuan muda pun tak akan mau dengannya lagi" gumam wanita tersebut.


"Baiklah antar aku melihat nya" ucap wanita itu tegas.


Dia seorang kepala perawat yang cantik. meski di usianya yang sudah cukup tua.


Mereka pun berjalan ke ruang rawat VVIP dan mereka memang melihat ada dua orang perawat yang mendampingi dua orang dokter yaitu dokter Alice dan dokter Calvin.


Wanita itu hanya memgintip dari celah pintu dia belum masuk keruangan tersebut, perawat yang mengantarnya bertanya bingung kenapa dirinya hanya diam saja di depan pintu dan kenapa dirinya tidak masuk.


"Nanti saja aku masuknya tidak enak mengganggu visit dokter, ayo kita kembali" ajak wanita itu.


Nina yang merasa ada yang berdiri di depan pintu ruangannya pun melihat kearah celana pintu yang kebetulan brankar dirinya benar-benar menghadap pintu, dia melihat dua orang wanita disana keduanya berpakaian perawat dan yang satu nya memakai masker namun Nina. melihat senyuman di wajah yang tertutup itu.


Nina mengenali mata itu, tangannya langsung gemetar saat itu dan dia pun mencengkram sprei kasurnya, dan itu dapat dilihat oleh Alice dan dokter Calvin kalau Nina saat ini gemetar.


"Nina ada apa kenapa kau terlihat seperti ketakutan begitu? " tanya Alice lembut.

__ADS_1


"Itu... itu... dok tadi aku melihat orang disana" jawab Nina terbata.


Alice dan Calvin pun langsung menoleh kearah pintu yang terbuka sedikit dan mereka berdua tak. melihat apa pun disana.


"Tidak ada apa-apa Nina mungkin itu hanya halusinasi kamu saja" jelas Alice.


"Ah... iya aku berharap ini memang hanya halusinasi aku saja dok, aku berharap ini bukan kenyataan" ucap Nina cemas.


"Sudah ya... kau jangan takut disini ada kami kok" Alice berusaha menenangkan Nina.


Aku harap itu memang halusinasi aku saja, karena kalau itu benar dia, dia pasti akan memanfaatkan keadaan ku yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, ya Allah lindungi aku dari orang-orang jahat itu. atau jangan-jangan dia lah yang menyuntikan racun waktu itu, tapi bagaimana dia bisa tahu aku ada disini.


Nina jadi bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.


"Semua keadaan nya normal dan besok kita bisa langsung mengoperasi kamu, jadi jangan banyak fikiran ya... Aslan kan akan selalu menemani mu Nin" Alice berusaha menghibur Nina.


Calvin melihat ke arah Alice dia kagum pada wanita ini dirinya begitu bijak dan dewasa menghadapi pasiennya.


Hanya saja wajah Calvin itu selalu tak pernah berekspresi hingga tak ada yang menyadari kalau Calvin itu mengagumi Alice.


Alice menitipkan Nina pada Wiwid yang memang bertugas untuk menjaga Nina dirumah sakit ini bila Aslan sedang bekerja.


Sombong sekali dokter ini.


Batin kepala perawat ituitu, saat melihat ekspresi dokter Calvin yang tidak ada reaksi sama sekali.


Alice mengajak dokter Calvin makan siang di kantin, karena hari memang menunjukkan jam makan siang.


Saat dikantin Alice membahas maslah opi Nina tapi Calvin hanya diam saja dia malah asik mengamati buku menu karena dirinya akan memesan makanan,Alice melihat kelakuan Calvin seperti itu hanya bisa menghela nafasnya saja karena baginya ini bukan pertama kali dirinya di acuhkan oleh dokter Calvin, kakak seniornya di kampus dulu.


Dan Alice pun terdiam dan ikut memilih menu makanan di buku menu.


Namun Alice tak menyadari kalau senyum tipis terukir di wajah dokter tampan tersebut, bahkan tak ada yang menyadari hal itu, mungkin hanya dokter Calvin dan Tuhan saja yang tahu kalau dirinya saat ini sedang tersenyum menatap gadis yang kesal berada di hadapan nya saat ini.


Pesanan yang mereka pesan pun sudah di antarkan ke meja mereka, dokter Alice memesan sup daging sapi dan Dokter Calvin memesan soto ayam, mereka pun bersiap makan dan saat melihat mangkuk sambal di dekat dokter Alice dokter Calvin langsung mengambil nya.


"Kak aku mau pakai sambal" protes Alice.

__ADS_1


"Sup mu sudah pedas tercuim aroma merica dari kuahnya, jadi jangan tambah sambal lagi nanti perut mu sakit, seperti waktu itu akhirnya kamu diare karena makan pedaspedas"jelas dokter Calvin.


Eh dia ingat hal itu.


Batin Alice, dirinya tak menyangka kalau sifat Calvin yang cuek pada dirinya selama ini ternyata dia masih bisa mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu di kampus nya.


"Kakak ingat saja aku pernah diare karena makan pedas, tapi kalau hanya sedikit nggak apa-apa kali kak... ya... ya... ayolah kak... " rayu Alice dia memasang wajah bagaikan anak kucing yang menggemaskan di mata dokter Calvin.


Calvin mengalihkan pandangannya ke arah lain dia tak tahan melihat wajah menggemaskan itu dan menutupinya dengan cara menyembunyikan nya di balik botol air mineral yang sedang dia angkat dan dia berpura-pura minum saat ini padahal dirinya saat ini menyembunyikan wajah merona nya karena melihat kelakuan adik kelasnya ini yang sungguh menggemaskan baginya.


"Huh... payah" Alice kesal pada Calvin karena dirinya tidak bisa menikmati sup daging kesukaannya dengan rasa yang sangat membuatnya lebih meningkatkan selera makannya.


Hingga waktu terus berlalu dan malam pun akhirnya tiba, Aslan malam ini menginap kembali di ruang rawat Nina, dan malam ini saat dirinya sedang memeriksa pekerjaan di laptopnya, dan Nina sudah telelap tidur karena dirinya habis minum obat hingga dia pun akhirnya tertidur.


Namun saat Aslan sedang bekerja dia mendengar Nina yang terhibur dengan gelisah.


"Egh... egh.... pergi pergi kau pergi" Nina menjerit tapi matanya masih terpejam.


Aslan khakhawatir dia langsung mendekat pada gadis itu dan mencoba membangunkan nya.


"Sayang... sayang... " Aslan menggoyagkan bahu Nina.


Dan Nina pun langsung membuka matanya dan saat membuka mata Nina langsung memeluk tubuh Aslan hingga Aslan tersungkur di atas tubuh Nina.


"Sayang kenapa apa kau mimpi buruk? " tanya Aslan lembut.


"Heehhhheehhh" Nina ngos-ngosan dadanya naik turun keringat membanjiri wajahnya.


"Kak... kun mohon jangan tinggalin aku, aku takut" Nina merengek.


"Iya aku nggak akan ninggalin kamu kok aku ada disini tenang ya... memang apa yang membuat mimpi mu seburuk itu Hem" Aslan mengelus kepala Nina sementara Nina masih memeluk tubuh Aslan.


Nina melonggarkan pelukannya dari Aslan dan akhirnya dirinya menceritakan tentang kejadian tadi siang dan dia menghubungkan semuanya dengan kasus dirinya, tapi dirinya juga bingung kenapa orang itu bisa berasa disini dirumah sakit ini, kenapa dirinya baru melihat nya sekarang ini kenapa waktu dulu dia merawat Aslan dan dirinya juga di rawat disini dirinya tidak berjumpa dengan orang itu, tapi kenapa tadi siang dirinya seolah melihat mata jahat itu.


"Apa ini benar hanya khayalan ku saja kak? atau orang itu memang bekerja disini? " tanya Nina.


"Kau tunggu ya nanti akan aku coba selidiki orang yang kamu maksud itu, bila dia terbukti memang yang memasukan racun itu maka akan lebih mudah untuk kita menjebloskannya ke penjara dengan pasal berlapis" jelas Aslan yang geram saat mendengar cerita calon istri nya ini yang ketakutan dengan seseorang yang dia lihat tadi siang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2