
Sebuah mobil berjalan menembus malamnya kota dengan kecepatan sedang, mobil putih mewah itu di kendari oleh Zaed.
Nina yang hanya terdiam saat di antar pulang hanya memandang pemandangan jalanan di malam itu yang hanya dapat dia lihat adalah pemandangan lampu-lampu jalan yang kota yang memghiasi jalanan.
"Nin... kenapa diam ajah? " tanya Zaed.
"Eh... nggak apa-apa kak" Nina menoleh ke arah kanannya melihat Zaed yang sedang mengemudi.
Nina teringat perkataan Aslan tadi saat di rumah sakit bahwa dirinya pasti akan merasa sedih bila Nina mati karena menyelamatkan nyawanya.
apa sebenarnya dia itu tidak membenci ku ya?
Fikir Nina.
"Oia kak aku mau tanya sesuatu boleh? " tanya Nina.
"Tanya ajah silahkan" ucap Zaed masih fokus mengemudi.
"Apa sebenarnya kak Aslan itu tidak membenci ku? "tanya Nina polos.
" Hemftpt... hahaha"Zaed malah tertawa mendengar pertanyaan Nina.
Nina malah terlihat bingung dan memiringkan kepalanya saja.
"Hihi maaf abis pertanyaan elu lucu sih"
"Lucu dari mananya kak? " tanya Nina bingung.
"Hemmm hehehe kalo menurut elu gimana? dia benci apa nggak sama elu? " Zaed malah bertanya balik.
"Nggak tahu soalnya sifat dan sikapnya suka berubah-ubah kadang baik kadang galak kadang nyebelin banget" Nina menjabarkan sikap Aslan kepadanya selama ini.
"Ya begitulah Aslan susah di tebak, kadang gue ajah pusing sama sifatnya dia yang suka berubah-ubah hehehe"
"Oo...begitu" Nina hanya manggut-manggut saja.
"Ya kalau dia lagi ngeselin jangan di ambil hati ya... dia memang begitu orangnya"
Nina lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela lagi.entah kenapa dia tersenyum sendirian.
__ADS_1
Zaed menyadari itu dia melihat Nina yang tersenyum sendiri.
Mobil yang di kendarai Zaed pun akhirnya tiba di depan pintu gerbang kost, mobil berhenti Nina langsung melepaskan Seat belt nya dan membuka pintu mobil, sebelum keluar dari dalam mobil Nina tak lupa mengucapkan Terima kasih pada Zaed dan Zaed hanya tersenyum saja.
"Gue yang seharusnya berterima kasih Nin, karena elu udah banyak nolongin gue sama Aslan" ucap Zaed saat Nina akan keluar dari mobil.
"Sama-sama Kak, kakak hati-hati ya... " ucap Nina sebelum Zaed meninggalkan dirinya sendiri.
Nina masuk kedalam kostan nya bibirnya entah kenapa selalu tersenyum hingga dirinya sampai di dalam kamarnya bibir itu tak berhenti merekah, Wiwid yang melihat itu merinding sendiri karena melihat ke anehan. kawannya.
"Elu kenapa sih pulang-pulang senyum-senyun sendirian begitu? " tanya Nina sedikit takut.
"Nggak apa-apa kok" Nina masih tersenyum.
"Elu nggak jadian kan sama Zay? " tanya Wiwid penuh selidik.
Nina hanya menggeleng saja.
Dirinya merasa senang karena dia merasa saat ada orng yang masih perduli dengan nya meski orang itu galak dan sifatnya aneh.
"Nin elu nggak kesambet kan? elu dia ajak sama Zaed kemana sih pulang-pulang kaya orang gila gini" Wiwid terus mengoceh karena takut sahabatnya kenapa-napa.
"Wid eli sedih nggak kalo gue mati" Tiba-tiba Nina mengajukan pertanyaan yang lebih menakutkan dari sikapnya malam ini.
"Nggak" jawab Nina polos.
"Terus kenapa elu mau mati? " tanya Wiwid cemas.
"Gue nggak pengen mati Wiwid gue cuma nanya kalo gue mati elu sedih nggak? " tanya Nina.
"Ya sedih lah Nin... nanti gue nggak punya temen lagi di kamar ini, elu nggak kenapa-kenapa kan beneran? " Wiwid sedih.
"Bener gue nggak apa-apa kok, Terima kasih ya Wid karena udah jadi temen baik gue dan selalu peduli sama gue" Nina memeluk tubuh Wiwid.
Wiwid pun membalas pelukan Nina.
Terima kasih kawan Terima kasih Kak Aslan karena kalian peduli dengan ku.
Bukan tanpa sebab Nina sangat senang hanya karena kepedulian seseorang dan teman nya itu semua karena ayahnya yang sudah tidak peduli dengannya bahkan seolah membuang dirinya hanya demi istri barunya itu, oleh karena itu bagi Nina sedikit kepedulian dari orang lain sangat berarti baginya.
__ADS_1
Keesokan harinya Nina bekerja seperti biasa tapi Aslan dan Zaed belum masuk juga, hanya Nina yang tahu apa penyebab mereka berdua tidak bekerja hari ini, namun Nina masih belum tahu kalau Aslan adalah calon CEO di perusahaan tempatnya bekerja.
"Si Zaed sama si Aslan nggak masuk lagi? " ucap Wiwid yang melihat meja mereka kosong.
"Iya " jawab Nina singkat.
Wiwid pun tak mau ambil pusing dengan ketidak hadiran kedua orang yang menurut Wiwid tidak penting itu.
Sementara di rumah sakit.
Seorang pria paruh baya berjalan di lorong rumah sakit dengan pakaian formal semua orang. yang berpapasan dengannya memberi menundukkan kepalanya saat pria paruh baya itu lewat.
Pria paruh baya itu pun berjalan ke lorong yang menuju ruang VVIP hentkan sepatu pantopel yang seharga puluhan juta itu pun menggema di lorong tersebut.
Pintu ruang VVIP pun dia bjka, Zaed yang sedang duduk di sofa langsung bangkit saat melihat sosok yang muncul dari balik pintu tersebut. pria tersebut menghampirinya.
dan....
Plak... bugh.
Tapak lima jari dan bogem mentah langsung mendarat di pipi dan perut Zaed.
"Apa yang kau kerjakan hah?! sampai hal sebahaya ini terjadi pada tuan muda bodoh" bentak pria paruh baya itu.
"Maaf ayah... ini semua di luar dugaan aku sudah berusaha menjaga dia tapi kecelakaan itu tak bisa di hindari" Jawab Zaed pelan.
"Diam kau bodoh, sekarang kau ikut aku tuan besar ingin bertemu dengan mu sialan" omelnya.
Yang datang ini adalah ayah Zaed yang bernama Zainur dia adalah asisten pribadi tuan besar Herald ayah dari Aslan dan Ryan.
"Tapi paman kenapa Zaed harus bertemu papah ku? " Aslan menghentikan langkah mereka berdua yang ingin meninggalkan ruangan itu.
"Maaf tuan muda karena kelalain anak saya anda jadi mengalami hal buruk begini" ucap Tuan Zainur sopan.
"Tidak apa-apa paman tapi kalian tidak akan menghukum Zay kan? dia tidak bersalah paman ini semua kecelakaan" Aslan berusaha membela temannya.
"Maaf tuan muda tapi ini sudah perintah tuan besar yang ingin bertemu dengan Zay, permisi tuan muda" Paman Zainur pun pamit dan Zaed mengikuti di belakangnya.
"Ini pasti kelakuan abang nih yang lapor ke papah kalau aku seperti ini huh dasar pengadu" gerutu Aslan yang kesal karena kakaknya.
__ADS_1
Padahal bukan dokter Ryan yang melaporkan keadaan Aslan tapi orang-orang suruhan tuan besar Herald lah yang melaporkan semua kejadian itu, tapi yang Aslan tahu dokter Ryan lah yang melaporkan ini semua pada papah mereka.
Bersambung