My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Aslan Bercerita


__ADS_3

Aslan langsung menghubungi dokter Ryan, untuk mencari tahu kebenaran yang telah di ceritakan oleh Nina.


Tak lama dokter Ryan pun datang ke ruangan Nina karena menurut nya ini adalah masalah serius, ada seseorang yang melakukan tindakan kriminal di rumah sakit yang di pimpinannya dan Aslan curiga kalau itu adalah salah satu karyawan yang bekerja di rumah sakit ini.


dokter Ryan pun bertanya pada Nina siapa nama orang yang dia curigai.


"Namanya Fita dok, ibu Fita kira-kira usianya 45 tahunan" jelas Nina.


"Fika? " dokter Ryan mencoba mengingat seseorang.


"Apa kau tidak salah? " tanya dokter Ryan lagi.


"Nama panjang nya Fika Utari dok dia adalah ibu tiri saya, memang setahu saya dia tidak bekerja di rumah sakit ini tapi di rumah sakit lain dok, tapi saya hafal betul mata itu mata jahat itu tadi siang dia ada di ambang pintu melihat keadaan ku" jelas Nina.


"Apa ada bang karyawan disini yang bernama Fika? " tanya Aslan.


"Ya kebetulan abang kenal dia adalah kepala perawat di rumah sakit ini" jelas dokter Ryan.


"Apa?! " Aslan dan Nina terkejut berbarengan.


"Tapi abang ragu kalau dialah yang menyuntikan racun itu karena beberapa minggu yang lalu ibu Fika cuti karena harus keluar kota"jelas dokter Ryan.


Nina langsung terlihat sedih dan menatap ke arah Aslan, dokter Ryan yang juga belum tahu perkembangan kasus Nina akhirnya mencoba menghubungi papahnya untuk menanyakan perkembangan kasus Nina.

__ADS_1


Dan saat papahnya menjelaskan semuanya pada dokter Ryan, dokter Ryan pun terkejut dan langsung menutup mulutnya karena dirinya terkejut dengan kenyataan yang dia tahu saat ini.


Aslan menatap wajah kakaknya yang nampak terlihat tegang saat menelpon papahnya.


"Ada apa Bang? apa pelaku sebenarnya sudah tertangkap? " tanya Aslan.


"Hem sebentar ya Aslan abang lagi bicara dengan papah dulu" dokter Ryan selembut mungkin berbicara dengan adiknya ini.


Aslan yang penasaran akhirnya bertindak tidak sopan dia lalu merebut ponsel kakaknya dan berbicara pada papahnya.


"Apa pelakunya sudah tertangkap pah? siapa dia yang berani mencemarkan nama baik rumah sakit ini pah? " tanya Aslan penasaran.


Tuan Herald bingung ingin menjelaskan seperti apa pada anaknya. dan akhirnya memilih untuk tetap merahasiakan ini pada Aslan, dia menjelaskan pada Aslan sudah ada titik temu tapi masih belum menemukan pelaku sebenarnya, tapi yang jelas pelaku bukan orang yang bekerja di rumah sakit tersebut.


"Papah nggak. merahasiakan sesuatu pada ku kan? " tanya Aslan penasaran.


"Baiklah tapi bisakan penyelidikan ini secepatnya diselesaikan, aku benar-benar penasaran apa tujuan sebenarnya pelaku berbuat jahat pada Nina" Aslan berbicara serius.


"Ya tim penyidik. sedang berusaha secepatnya untuk memecahkan kasus ini nak kau tenang saja, fokus menjaga Nina dirumah sakit, setelah dia sembuh kita akan melamarnya secara resmi pada ayahnya dan secepatnya kalian menikah" tuan Herald berusaha mengalihkan pembicaraan agar Aslan tidak terus mendesak mencari tahu siapa pelaku kejahatan tersebut.


Sambungan telepon pun berakhir dan Aslan memberikan ponsel ke pada dokter Ryan, Aslan mendekat pada Nina dan menjelaskan pada Nina kemungkinan, pelaku yang meracuni Nina itu bukan ibu tirinya tapi orang. lain, tapi Aslan tetap akan selalu waspada karena biar bagaimana pun Nina sangat tidak nyaman berasa di sini saat tahu kalau ibu tirinya juga bekerja di rumah sakit ini.


"Bisakah aku pindah rumah sakit kak? aku tidak nyaman berasa di sini, aku tidak nyaman mengingat dirinya kak" pinta Nina memelas.

__ADS_1


"Tapi besok kau akan di operasi sayang" jelang Aslan lembut.


"Tapi aku takut kak, aku takut dia akan melakukan hal yang buruk pada ku" Nina ketakutan jelas sekali terlihat dirinya ketakutan di wajah nya.


"Kak bisa kau memecat kepala perawat itu, aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada calon istri ku" ucap Aslan dingin.


"Tapi Aslan kita tidak bisa memecat seseorang begitu saja tanpa alasan"


"Aku tak perduli pokoknya aku tak ingin orang itu bekerja di rumah sakit kita, dan berada disini, Nina besok akan di operasi dan itu bisa berakibat buruk bila orang itu masih ada disini" ucap Aslan dingin.


Hingga akhirnya Aslan dan Dokter Ryan berdebat dan akhirnya Aslan menceritakan semuanya pada dokter Ryan, kalau dulu ibu Fika menjadi perawat dirumah Nina dan merawat ibu Nina tapi ternyata dirinya bukan. merawat ibu Nina tapi malah membuat ibu Nina mati pelan-pelan dan merebut ayahnya Nina dari ibunya.


Aslan masih mencoba menyelidiki kasus ini, dia meminta bantuan seseorang detektif untuk menyelidiki kasus yang telah lama ini, karena butuh persetujuan ayah Nina untuk membongkar kuburan ibu Nina untuk mengetahui penyebab kematian sebenarnya ibu Nina, tapi ayah Nina menolak untuk membongkar kuburan ibunya hingga penyelidikan mengalami kesulitan, karena detective tersebut harus mencari bukti kuat yang lain untuk memasukkan ibu Fika ke penjara dan membuktikan pada ayah Nina kalau istri barunya itu bersalah.


Dokter Ryan termenung saat mendengar ceria Aslan tentang Nina, dirinya tidak menyanhka kalau kepala perawat yang profesional seperti ibu Fika bisa sekejam itu, dokter Ryan pun tak ingin membiarkan orang jahat seperti itu berada di rumah sakit nya dia juga takut kalau nantinya ada pasien yang menjadi korban Fika karena kejahatan nya, karena papah nya mendirikan rumah sakit ini untuk menolong orang yang tidak mampu bukan untuk bisnis semata apa lagi sampai menghilai nyawa orang lain dengan cara sengaja.


"Akan abang fikirkan lagi untuk mengeluarkan perawat itu, untuk sementara dirinya aku rumahkan dahulu setelah itu barulah aku kan mengeluarkan surat pemecatan dari rumah sakit ini" jelas dokter Ryan.


Aslan tersenyum pada Abangnya dia senang mendengar abangnya akan bertindak pada ibu Fika.


"Dan agar operasi Nina besok berjalan lancar kau sebaiknya menemaninya sepanjang hari besok, karena mulia besok aku akan memberi perintah pada ibu Fika untuk tidak bekerja sementara waktu dulu, karena aku tak mungkin memecat secara tiba-tiba begitu saja tanpa mencari kesalahannya kan? " jelas dokter Ryan.


"Hem... abang benar juga, tapi kalau bisa secepatnya lah kakak pecat. orang seperti dia karena dia itu orang jahat bang" pinta Aslan.

__ADS_1


Dokter Ryan tersenyum pada Aslan dan juga Nina dia tak menyanhka kalau adiknya ini sangat mencintai gadis ini, bahkan boleh dibilang diri nya pun kalah dirinya sendiri pun tidak seperti itu pada tunangan nya Vena, dan Vena pun rasnya tidak akan bisa menjadi Nina yang rela berkorban dua kali untuk Aslan.


Bersambung.


__ADS_2