My CEO Is Ketua Geng Motor

My CEO Is Ketua Geng Motor
Melahirkan


__ADS_3

Siang hari Aslan berkunjung ke rumah sakit untuk menemui sahabatnya, Saat dirinya sampai di ruang VVIP dia melihat sahabatnya sendirian di ruangan tersebut.


"Sendirian lu? " tanya Aslan ketika masuk.


"Ya mau sama siapa ayah gue kan kerja ibu gue juga udah nggak ada, pacar nggak punya ya udah sendirian" gerutu Zaed.


Aslan tersenyum mendengar gerutuan sahabatnya.


"Kan ada Aletta" singgung Aslan.


"Ck masih kecil Lan... " keluh Zaed.


"Hahaha kecil umurnya tapi reproduksinya sudah bisa kok" Aslan asal bicara.


Zaed melotot mendengar ocehan sahabatnya itu.


"Sialan lu gue bukan elu ya yang kebelet kawin, gue tunggu dia sampe umurnya pas baru lah... "


"Baru lah diambil orang hahaha kelamaan lu, kalo udah di ambil orang ajah tinggal gigit jari ajah lu" singgung Aslan.


"Ck orang mah do'ain biar dia nggak kemana-mana biar hatinya tetap sama gue malah ngomong begitu" Zaed kesal.


"Yakin dia suka sama lu? " ledek Aslan.


"Nggak tahu juga sih dia suka apa nggak sama gue, tapi dia selalu memperlakukan gue special lebih dari elu kan? " jawab Zaed.


Aslan membenarkan perkataan Zaed namun dia masih ragu karena Aletta memang menyukai Zaed atau hanya menganggap Zaed sebagai kakaknya saja.


Hingga akhirnya Aslan tak mau memikirkan masalah antara Aletta dan Zaed, dia ingin segera memberitahu Zaed berita yang kurang baik pada sahabatnya itu, tentang pelaku penabrakan nya.


"Zay... pelakunya udah ketangkep dan sekarang sudah di penjara" ucap Aslan serius.


"Siapa pelaku nya Lan... karena yang gue lihat awalnya dia mau nabrak elu sama Nina, ada orang yang masih nggak suka dengan hubungan kalian ya? " tanya Zaed penasaran.


"Ya... elu bener ada yang nggak suka sama hubungan gue dan Nina" Ucap Aslan serius.


"Zay... dia Gio temen lu, dia nggak suka lihat gue dan Nina bahagia sedangkan pacar nya di penjara" jelas Aslan.


Zaed langsung membelalakan matanya karena terkejut mendengar siapa pelaku penabrakan tersebut,dia lalu mengepalkan tangannya kuat hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat mononjol.


"Dasar bego" geramnya.


Aslan menepuk pundak sahabatnya itu agar Zaed merasa kalau dirinya tidak sendiri saat ini.


"Lan... maafin gue ya" ucap Zaed.


"Kok elu yang minta maaf yang salah ajah nggak minta maaf" singgung Aslan.


"Bukan begitu tapi karena gue kenal sama mereka hingga elu dan Nina jadi korban kegilaan mereka, gue nggak nyangka kedua orang itu bisa segila itu" Zaed seolah menyesal telah mengenal Laura dan Gio kedua orang yang di anggap sahabat olehnya bisa setega itu pada orang lain yang tidak di kenal demi ke egoisan mereka.


"Ya sudah lah yang penting sekarang elu udah tahu kalau mereka itu seperti itu orangnya nggak mikirin orang lain cuma mikirin diri sendiri ajah" jelas Aslan.


Zaed pun hanya terdiam mendengarkan perkataan Aslan.


"Lan... thanks banget elu udah mau jadi sahabat gue" ucap Zaed tiba-tiba.


"Gue juga Terima kasih banget sama elu karena udah mau jadi sahabat gue selama ini, elu yang paling ngertiin gue selama ini" ucap Aslan menepuk pundak Zaed.


Mereka berdua pun akhirnya tertawa bersama setelah mereka mengutarakan isi hati mereka sebagai seorang sahabat.

__ADS_1


...🌞🌞🌞...


Hingga waktu pun berlalu.


Tak terasa sudah Lima bulan berlalu dan kandungan Nina sudah memasuki bulan kelahirannya.


Siang ini Nina mengantar makanan ke kantor Aslan yang sudah sibuk dengan tugasnya sebagai seorang CEO.


"Tuan ada istri anda" beritahu sekertaris pada Aslan.


"Biarkan dia masuk kenapa kau masih bertanya dulu" ucap Aslan ketus.


Nina pun melangkah masuk keruangan suaminya, Aslan langsung mendekat pada istrinya dan membantu Nina untuk duduk di sofa di ruangannya.


"Kenapa repot-repot datang? " tanya Aslan lembut.


"Anak mu tidak bisa diam sejak tadi sepertinya ingin bertemu dengan mu kak" jelas Nina sambil mengelus perutnya yang sudah besar itu.


"Hei... Anak-anak ayah... kenapa apa kalian rindu dengan ayah? " tanya Aslan.


Aslan menyebutkan anak-anak karena Nina mengandung anak kembar hingga perutnya lebih besar dari orang hamil kebanyakan.


Saat Aslan berbicara dengan perut besar Nina kedua anak yang masih di dalam perut itu pun bergerak gerak hingga ibunya menggigiu bibir nya sendiri karena menahan linu di sekitar perutnya.


"Sayang kau tidak apa-apa? " tanya Aslan cemas.


Nina menggeleng dan tersenyum, tak lama ada yang mengetuk pintu ruangan Aslan dan Aslan berbicara masuk, dan pintu ruangan Aslan pun terbuka ternyata itu adalah Marni sang OB di kantornya.


Marni yang dulu memusuhi Nina sekarang merasa malu pada Nina karena Nina dulu membelanya agar Zaed tidak memecatnya di tambah lagi sekarang Nina adalah istri dari CEO itu dan sekarang Marni sangat menghormati Nina.


"Tuan... Minuman anda" Marni meletakkan secangkir teh hangat di meja sofa karena Aslan sedang duduk di sofa bersama Nina.


Saat Marni pergi entah kenapa tiba-tiba Nina merasakan perutnya mulas, namun masih bisa dia tahan, namun di menit berikutnya rasa mulas itu semakin menjadi hingga dia tak bisa menahannya lagi.


"Kak... perut ku mulas sekali" ucap Nina menahan rasa sakit.


"Hah... sakit? apa kau akan melahirkan? " tanya Aslan panik.


"Sepertinya begitu seehhhh" Nina menehan sakit.


"Astaghfirullah untung kamu disini, ayo kita ke rumah sakit" Aslan langsung menggendong istrinya dan langsung berjalan cepat ke arah lift.


Saat di lorong kantor Aslan bertemu dengan Zaed dan meminta Zaed untuk menghendle semua pekerjaan karena istrinya mau melahirkan.


Zaed pun hanya menurut saja.


Aslan membawa Nina sampai ke lantai bawah dan menuju mobilnya, Aslan meminta supir untuk turun karena Aslan tahu kalau supir pribadinya yang membawa mobil pasti akan lambat sampai rumah sakit hingga dia memang minta Beni salah satu anggota geng motornya dulu untuk mengendarai mobil nya.


Beni yang kebetulan sedang berada di lobi kantor karena sedang menyerahkan laporan pengeluaran barang yang akan dia serahkan ke atasannya.


"Ben cepet Ben... istri gue mau lahiran"teriak Aslan yang sedang menggendong istrinya menuju ke pintu luar kantor.


Beni yang mendengar istri bosnya ingin melahirkan langsung berlari mendekati mobil bosnya dan langsung mengambil posisi di belakang kemudi.


Setelah Aslan masuk dengan Nina Ben langsung tancap gas menuju rumah sakit.


Nina yang merasakan sakit di perut nya sudah tak perduli dengan kendaraan yang membawanya dengan kecepatan bagai seorang pembalap.


Nina terus menggenggam tangan suaminya erat karena menahan rasa sakit, Aslan pun mengelap keringat yang menetes di kening istrinya dengan kelembutan.

__ADS_1


"Sakit banget ya sayang? " tanya Aslan lembut.


Nina hanya mengangguk saja karena menahan rasa sakit nya.


Dan tak lama mobil yang membawa Aslan dan Nina pun tiba di rumah sakit Aslan langsung menurunkan istrinya dari dalam dan menggendong Nina ke ruang IGD disana dia berteriak bahwa istrinya ingin melahirkan, semua orang yang berada di IGD langsung membantu Aslan dan membawa Nina ke ruang bersalin.


Di depan ruang bersalin Aslan menunggu dengan cemasnya dia bahkan tak bisa duduk dengan tenang, Beni yang menemaninya pun tak bisa berbuat apa-apa karena kalau dia menyuruh Aslan untuk tenang dan duduk bisa-bisa dia yang kena semprot oleh Aslan.


Lima belas menit kemudian terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin Aslan langsung mengusap wajahnya, dan lima menit kemudian terdengar lagi tangis bayi yang kedua dan tak lama keluarkan seorang perawatan dari ruang bersalin.


"Tuan muda selamat anak anda kembar laki-laki dan perempuan, bayi dan ibunya sehat" ucap perawat tersebut.


"Boleh saya masuk saya ingin melihat mereka" pinta Aslan.


"Ya silakan tuan" perawat tersebut mempersilahkan Aslan masuk ke ruang bersalin.


"Sayang.... Terima kasih ya... kau telah berjuang untuk melahirkan anak kita,lihat mereka lucu-lucu ya... "


Nina hanya tersenyum saja pada suaminya.


"Aku sudah mempersiapkan nama untuk mereka" ucap Aslan.


"Kakak mau memberi nama apa pada mereka? " tanya Nina.


"Oliver dan Olivia" ucap Aslan.


Nina pun setuju dengan nama tersebut.


Hingga sore menjelang Nina yang sudah di pindahkan ke ruang VVIP pun sore ini banyak yang mengunjungi, termasuk kedua ayah yaitu papah Herarld dan ayah Sanders dan juga sahabat dan keluarga Aslan.


Alice datang bersama suaminya Calvin dan Aletta yang datang bersama dengan kedua orang tuanya, bahkan beberapa anak geng motor yang ingin menjenguk dan melihat bayi bos mereka pun ikut hadir dalam ruangan tersebut.


"Ayo Lice buruan nyusul" goda Aslan oada Alice.


"Oke... ini juga lagi proses kok heheh ya kan sayang" ucap Alice manja pada dokter Calvin.


Tak lama dokter Ryan pun hadir dalam ruangan tersebut dan semakin menjadi saja papah Herarld memintanya untuk segera menikah dengan Vena tunangannya.


"Bukan Ryan tak mau segera menikah pah tapi Vena masih belum siap" jelas Ryan malas.


"Kalau tidak kau dengan Aletta saja dia sudah cukup umur kan" tuan Herarld mengeluarkan ide gila.


Yang membuat Zaed seolah ingin pingsan bagaimana tidak pujaan hatinya di jodohkan di depan matanya.


"Letta nggak mau sama Bang Ryan" Aletta langsung mengeluarkan suaranya.


"Apa kau sudah punya pacar? " tanya Tuna Herald.


"Belum sih... tapi Aletta tak mau menikah muda Aletta masih ingin jadi chef profesional paman" Aletta berbicara dengan bibir yang mengerucut hingga semua orang yang melihat itu tersenyum.


Zaed terlihat bernafas lega karena Aletta menolak perjodohan ini dan yang menyadari itu hanya Aslan dan Alice saja yang mengetahui apa yang ada di hati dan fikiran Zaed selama ini pada Aletta.


Namun apakah Aletta juga punya perasaan yang sama pada Zaed? atau Aletta hanya menganggap Zaed hanya sebagai kakak saja?.


Cerita Zaed dan Aletta akan saya buat sendiri ya kawan... biar lebih fokus pada cerita mereka ya....


Terima kasih semuanya sudah mengikuti kisah Aslan dan Nina sampai selesai, happy Reading....


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2