
Wiwid berjalan santai ke ruang rawat Nina dan saat dirinya muncul di ambang pintu dia melihat Nina sudah terlihat tenang dan Aslan masih setia di sampingnya, Wiwid tersenyum melihat itu dia senang temannya saat ini sudah tidak histeris lagi.
Zaed yang mendapatkan laporan dari pihak. kepolisian dan menerima rekaman CCTV jalan yang ada di dekat kampus Nina dan sempat merekam kejadian tersebut, mencoba memberi tahu pada Aslan.
"Wid jaga Nina dulu gue mau ngomong sebentar sama tuan muda" pinta Zaed.
Aslan menloleh ke arah Zaed dengan tatapan bingung.
"Ada apa? " tanya Aslan.
"Sebentar tuan muda ada yang ingin saya tunjukan pada anda" ucap Zaed dengan sopan pada Aslan.
"Ya sudah tunjukan saja" Aslan masih tidak mau mengikuti Zaed.
"Maaf tuan muda tapi sebaiknya kita keluar sebentar" Zaed berbicara dan melirik ke arah Nina.
Aslan yang bisa memahami bahasa mata Zaed pun akhirnya berdiri dari kursi.
"Aku keluar sebentar ya... Wid titip dia ya" ucap Aslan dengan lembut pada Nina pandangannya hanya pada Nina.
astaghfirullah si Aslan beneran bucin sama Nina hihi gue jadi inget sumpah gue yang nyumpahin dia biar dia bucin sama Nina astagfirullah ternyata beneran kejadian ya hihi.
Aslan pun mengikuti langkah Zaed keluar dari ruang rawat Nina dan saat ini mereka berdua berada di lorong rumah sakit, Zaed mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menunjukan sebuah video yang baru saja dia Terima.
Aslan melihat video tersebut dan matanya langsung membulat, wajahnya memerah Zaed tahu sangat tahu kalau tuan mudanya ini sudah di kelilingi amarah.
Bagaimana tidak marah itu video yang menunjukan betapa gilanya pengendara motor tersebut menyeret Nina di jalanan.
"Apa pelakunya sudah tertangkap? " tanya Aslan geram.
"Sudah tuan muda saat ini orang tersebut sudah mendekam di penjara saat semua orang menolong Nina, dia pun sudah di pukuli habis-habisan oleh masa hingga hampir mati" jelas Zaed.
"Heuh kenapa tidak mati saja sekalian bedebah gila itu, kurang ajar lihat saja kalau sampai kaki kekasih ku cacat akan kubuat dirinya menderita seumur hidupnya" Aslan geram.
kekasih anda selalu saja mengaku kekasih ku tapi belum dikonfirmasi dengan pihak yang satunya.
Zaed memutar matanya malas saat mendengar ultimatum Aslan yang mengakui Nina sebagai kekasih nya.
Aslan melihat itu dan memukuk lengan sahabatnya itu dengan keras Aslan tahu Zaed tidak mendengarkan perkataannya dengan serius.
"Aw sakit Lan" keluh Zaed.
__ADS_1
"Kenapa elu pasang muka kaya begitu hem elu nggak suka gue bilang Nina kekasih gue? " sentak Aslan pelan.
"Bukan begitu tuan muda" dengan nada tidak serius.
"Tuh kan anjir lu nyet ngeledek ajah lu bisanya" Aslan kesal hingga berkata kasar namun itu sudah biasa bagi Zaed.
"Hihi lagian elu pede abis ngaku-ngaku kekasih, emang Nina dah nerima elu?! " Zaed meledek dan itu semakin membuat Aslan kesal dan memukuli Zaed semakin kencang.
"Aw... aw... aduh ampun Lan... ampun udah... udah... hihi tapi emang kenyataan nya begitu kan hihi" Zaed terus meledek Aslan.
Aslan akhirnya berhenti juga memukuli Zaed saat sadar ucapan sahabatnya ini memang benar apa adanya.
Aslan menatap Zaed kesal dan dia akhirnya meninggalkan Zaed sendirian di luar pintu ruang rawat Nina.
Zaed masih tertawa terkirim saja melihat kelakuan bosnya sekaligus sahabatnya.
Aslan mendekati Nina kembali, dan tak lama Zaed pun masuk ke ruangan tersebut, Zaed lalu berbicara pada Wiwid.
"Wid malam ini tolong jaga Nina ya... karena tuan muda tidak bisa menginap" pinta Zaed.
"Kata siapa gue nggak bisa nginap? " Aslan sewot.
"Sialan lu gue nggak mau balik gue mau nungguin Nina disini" Aslan sewot.
"Tapi tuan muda besok kita ada meeting di luar kantor dan itu membahas proyek pertama anda dan itu sangat penting" jelas Zaed.
"Kita kan bisa berangkat dari sini" Aslan masih sewot dan tak mau pulang.
"Tapi tuan nanti anda bisa kurang istirahat dan papah anda bisa bertanya-tanya nantinya" Zaed berusaha sesabar mungkin menghadapi kelakuan ke kanak-kanakan Aslan.
"Pokoknya aku mau nginap disini titik" Aslan kukuh.
Zaed menatap pada Nina dengan tatapan memohon agar mau menbujuk Aslan untuk pulang malam ini ke rumahnya.
Nina yang melihat itu langsung memegang tangan Aslan hingga Aslan terkejut dan melihat ke arahnya.
"Kak... pulang lah aku ada Wiwid disini, tenang saja aku sudah baikan kok" ucap Nina lembut.
"Tapi... " Aslan masih kukuh.
"Aku tak ingin menjadi penghalang untuk kakak, sebaiknya kakak kembali kerumah istirahat dan besok kakak bisa kesini lagi" bujuk Nina.
__ADS_1
"Nggak mau" Aslan cemberut.
Zaed yang melihat itu rasanya ingin tertawa terbahak-bahak karena wajah Aslan benar-benar seperti anak kecil yang tidak di belikan permen saja oleh orang tuanya.
"Katanya kakak sayang sama aku? " ucap Nina.
"Iya karena aku sayang sama kamu aku jadinya tidak ingin ninggalin kamu"
"Kalau kakak sayang sama aku sayangi juga diri kakak, kalau kakak lelah dan akhirnya sakit siapa nanti yang jagain aku? sedangkan aku saja sedang seperti ini saat ini" bujuk Nina.
Zaed mengepalkan tangannya karena sepertinya bujukan Nina akan berhasil.
"Kau ingin aku selalu ada di sisi mu? " tanya Aslan lembut.
"Hem... " jawab Nina malu-malu.
"Karena kakak adalah orang yang sangat berarti untuk ku" ucap Nina malu-malu.
Aslan melihat wajah Nina memerah karena malu dan itu membuat Aslan jari gemas dan sangat senang karena pengakuan Nina padanya saat ini.
Wiwid mendekat pada Zaed dan menyenggol lengan Zaed hingga Zaed menloleh kearahnya Wiwid hanya menunjuk pemandangan di depan mereka berdua dengan lirikan matanya dan Zaed pun hanya tergelak saja.
Dan akhirnya Aslan pun mau juga pulang bersama Zaed dan menitipkan Nina pada Wiwid dan semua perawat dan juga sepupunya Alice yang sangat di cereweti oleh Aslan sebelum dia meninggalkan ruang rawat tersebut, hingga membuat Alice pusing sendiri.
Saat Aslan dan Zaed pergi dari ruangan tersebut Nina, dokter Alice dan Wiwid pun mengobrol disana.
"Elu udah nerima Aslan Nin? " tanya Wiwid.
"Belum sih... aku belum menyatakan resmi padanya" Nina malu-malu.
"Kenapa tidak kau katakan saja tadi? " tanya Alice.
"Aku malu dokter" wajah Nina semakin merah.
Alice dan Wiwid jadi tertawa melihat itu.
Aslan benar-benar mencintai nya, tak pernah aku lihat dia seperti itu pada wanita mana pun bahkan dengan Laura saja dia tidak pernah sesebar dan selembut ini, kau benar-benar merubah Aslan Nina.
Batin Alice.
Bersambung.
__ADS_1